Friday, February 02, 2007

Bacalah Atas Nama Keberanianmu Sendiri


photo by tarlen

Dua hari lalu, aku diundang rapat sama kepala Dinas Pendidikan TK dan SD kota Bandung. Di undangannya tertulis, karena keprihatianan mereka atas kondisi Indonesia yang ada diperingkat 38 dari 39 negara yang minat bacanya rendah. Yeah, itu berarti Indonesia ada di peringkat kedua paling bawah. Dari daftar undangan yang dilampirkan, aku liat ada beberapa dinas terkait, kalangan akademisi, penerbit dan toko bukunya. Hanya dua toko buku yang diundang, salah satunya tobucil. Dengan naifnya aku mengira, pertemuan itu akan dengan serius membahas bagaimana meningkatkan minat baca dikalangan siswa SD dan TK. Ternyata aku 'ketipu'. Gara-gara salah satu koran terbesar di Jawa Barat, menyumbangkan 50 buah mading buat SD-SD di Bandung, Dinas Pendidikan, sibuk pengen bikin acara seremonial dengan tajuk 'Meningkatkan Gerakan Membaca'. Aduhhhh plis deh.. padahal itu koran yang katanya udah menyebar mengakar pengen aja brandnya masuk ke SD-SD.

Sepanjang rapat, aku diem aja. Pertama, karena ngerasa aneh di antara orang-orang tua, para birokrat itu. Kedua, aku mencoba menyimak apa yang sesungguhnya diinginkan oleh orang-orang yang membuat kebijakan pendidikan ini. Alhamdulillah, sampai rapatnya selesai, aku ga dapet tuh penjelasan yang mengupas sebab musabab dari perspektif mereka, kenapa Indonesia bisa sampai ada diperingkat kedua dari belakang, kecuali masalah keterbatasan fasilitas. Orang-orang itu bilang, bahwa selama ini kita ga punya fasilitas baca yang memadai, perpustakaan ga punya buku-buku baru yang bisa menarik minat siswa-siswa. Untuk itu, kepada seluruh elemen di masyarakat diharapkan dapat memberikan bantuan untuk melengkapi fasilitas tersebut. Yeah, setelah rapat selesai, baru tau aku, kalo ternyata tujuan mereka ngundang adalah minta sumbangan. So tipikal pemerintah.

***

Ngomongin tentang minat baca, sebagai pedagang buku, aku kadang merasa sangat muak. Muak, karena setiap kali banyak orang ngomong minat baca rendah dan memprihatinkan, tapi tetep aja diskriminasi bacaan diberlakukan. Kenapa aku bilang diskriminasi bacaan?
Dalam rapat kemaren juga disinggung, soal bacaan untuk anak SD yang harus sesuai dengan kaidah moral bangsa dan agama. Emang yang sesuai dengan moral bangsa itu seperti apa? Aku beneran tambah muak dengan itu. Bagiku, ketika pikiran orang-orang seperti itu, mengkelompokan ini ada bacaan yang bermoral dan tidak, kukira mereka telah melakukan diskriminasi itu. Aku percaya, tak ada bacaan yang buruk, yang kemudian membedakan yang ini lebih baik dari yang baik, adalah kemampuan seseorang memahami dan menyerapnya dalam kehidupan sehari-hari.

Kukira, salah satu akar persoalan rendahnya minat baca negara ini, karena orang-orang 'yang membaca' seringkali dengan sangat kejam 'mengitimidasi' orang-orang yang baru mau membaca. Bentuk intimidasi yang seringkali tak disadari adalah diskriminasi bahan bacaan. Pembedaan sikap, bahwa yang baca buku-buku filsafat atau wacana besar, derajatnya lebih tinggi dari orang-orang yang memilih baca komik Jepang, Nick Carter, Chicklit atau Teenlit.

Dalam kenyataan, buku-buku yang 'derajatnya' lebih rendah itu justru jauh lebih menyenangkan daripada buku-buku serius itu. Hal-hal yang seringkali dianggap ga penting, justru memberi pengalaman tak terlupakan saat usia SD, kita mulai belajar membaca. Aku ga pernah bisa lupa, betapa menyenangkannya membaca Mimin, Drakula Cilik, Komik Petruk Gareng (yang semi porno itu), Tiger Wong, Crazy Guy, Ko ping Hoo, tumpukan komik yang selalu jadi musuh para orang tua, justru pengalaman berharga pada masa kecil kita. Aku ga bisa ngebayangin, kalo masa kecilku ga mengalami bacaan-bacaan ga penting itu. Ketidak pentingan bacaan itu lah yang seringkali menjadi pintu masuk, untuk eksplorasi kehidupan yang lebih luas. Fantasi dan imajinasi yang terbentuk karenanyalah yang akan menjelajahi dunia dan segala kemungkinan-kemungkinannya. Imajinasi seperti kendaraan yang akan membawa kita menggali kedalaman ke mengurai kompleksitas kehidupan.

Ketika beranjak dewasa, kita seringkali lupa nikmatnya mengalami 'ketidak pentingan' itu. Dengan dalih, buat apa buang waktu, pendidikan yang semakin tinggi (baca: malu kalo baca, bacaan ga penting takut dianggap ga intelek), diskriminatif terhadap bacaan mulai muncul dalam diri kita. Menganggap bahwa buku-buku sastra derajatnya lebih tinggi daripada teenlit atau chicklit. Atau menganggap buku-buku bergambar depan kyai kondang yang heboh kerena poligami itu, lebih baik dan bermoral daripada kumpulan cerita Oh Mama, Oh Papa. Dan kukira, ini bukan masalah motivasi seseorang membaca. Siapapun bisa membaca dengan motif apapun. Banyak sedikitnya bacaan seseorang pun, tergantung dari persoalan motivasi itu.

Lalu imajinasi terbentur-bentur pada batasan-batasan yang dibuat oleh orang-orang dewasa. Kita dipaksa untuk melihat segala sesuatu dari konvensi yang telah disepakati, sesuatu yang kemudian menjadi mapan. Sudut pandang yang dianggap keluar dari kesepakatan dianggap bid'ah dan patut dicurigai. Dunia menjadi begitu kecil dan terlalu sederhana, ketika semua terpatok pada definisi si A, si B, si C.. atau kata si ini kata si anu. Kita lupa untuk membaca dan membuat definisi menurut diri kita sendiri.

***

Aku sempat lama memikirkan apa yang dimaksud Paulo Coelho dengan menemukan legenda pribadimu sendiri (dalam Sang Alkemis). Apakah legenda pribadi itu berhenti, pada saat kita menemukan definisi hidup menurut si A, si B, si C dan berhenti pada titik itu saja. Ataukah legenda pribadi itu lebih jauh dari itu. Ketika kita membaca semua definisi hidup versi si A, B, C.. sampai akhirnya kita bisa menemukan definisi kita sendiri? jadi semua kata para ahli itu seperti potongan-potongan pesan yang harus kita susun, kita pahami, kita kritisi, sampai akhirnya kita bisa menemukan kata kita sendiri, definisi kita sendiri.

Untuk menemukan definisi itu, tentunya ada ruang-ruang toleransi untuk sesuatu yang selama ini dianggap ga penting, ga bermoral, ga intelek itu. Karena hal-hal itulah yang akan menguji dan membentur-benturkan bacaan-bacaan yang mapan itu. Sampai kita percaya bahwa si A, si B, si C itu bukanlah satu-satunya definisi. Ya, kadang kita sendiri juga lupa, sama proses orang-orang ini menemukan 'definisi' itu. Mereka pada mulanya juga mengambil resiko dianggap bid'ah, dianggap menyimpang dan dimusuhi sekelilingnya karena memilih berbeda.

Kukira, jika kita memang orang-orang yang merasa dirinya 'membaca', menghargai perbedaan-perbedaan itu menjadi penting. Sikap seperti itu membuat kita, sadar bahwa sebuah pemikiran yang ada dibuku-buku itu tak lahir begitu saja. Kita lantas bisa menghargai prosesnya. Karena setiap pemikiran selalu punya pesan dan maksudnya sendiri. Dan apakah bisa memperkaya definisi kehidupan kita sendiri, kukira juga butuh keterbukaan dan keberanian untuk mengakuinya.

Dalam konteks yang lain, setelah semua gerakan-gerakan membaca itu berhasil 'menggerakan', beranikah pemerintah menanggung resikonya? Karenanya kupikir, membacapun butuh keberanian. Ketika kita menemukan banyak kebenaran atas apa yang kita baca, beranikah kita untuk menerimanya? kukira hal itu tak pernah diajarkan pada saat pertama kali kita belajar membaca.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails