Tuesday, January 16, 2007

Balada Bapak dan Anak Perempuannya


Pic from The Ballad Jack and Rose, Daniel Day Lewis and Camila Belle

“Buat saya bapak udah mati.” Pernyataan itu terlontar dari narasumberku, sebut saja noni, korban perkosaan oleh bapak kandungnya sendiri, yang kuwawancarai siang tadi di tanjung priok Jakarta. Saat rekanku memberitahu dia bahwa bapaknya itu kini harus mendekam 10 tahun di penjara Cianjur sana dan membayar denda 60 juta, wajah gadis manis yang baru 17 tahun itu tiba-tiba bersinar puas.

Dalam kasus noni, sejak umur 8 bulan, dia berganti-ganti ikut bapak dan ibunya yang telah bercerai. Ibunya seorang TKW di Arab Saudi dan bapaknya, bekerja sebagai buruh tani di salah satu daerah di Cipanas, Cianjur. Entah apa yang mendorong bapaknya, untuk memperkosa noni sampai tiga kali. Saat kutemui di penjara Cianjurpun, bapaknya noni tak mau mengaku dan malah menyalahkan anaknya yang menurutnya memang nakal. Masyarakat malah sempat mengira kalau noni menggoda ayahnya sendiri. Untungnya hakim merasa, bukti dan rangkaian kejadian cukup kuat untuk mengirim bapaknya noni ke penjara. Bagiku, apa yang menimpa noni, adalah satu dari sekian banyak cerita kelam dari hubungan anak perempuan dengan bapaknya yang sangat jauh dengan apa yang kualami.

Dua hari sebelum bertemu noni, aku bertemu dengan ‘bapak spiritualku’ dengan anak-anak perempuannya. Kami punya banyak cerita dan lika-liku dalam beberapa tahun terakhir ini, sampai akhirnya aku mengerti, bapakku itu lebih terasa sebagai bapak spiritual daripada hubungan antara perempuan dewasa dan laki-laki dewasa. Saat bersamanya, rasa nyamannya terasa seperti bapak pada anak-anak perempuannya, seperti apa yang kurasakan pada bapakku dulu. Bapak selalu membawa rasa nyaman yang penuh bagiku.

Setelah bertemu ‘bapakku’, aku juga ketemu sama sundea, temanku si anak bapak. Kami membicarakan rencana kompilasi tulisan kami yang akan di terbitkan beberapa bulan kedepan, mengenai hubungan anak perempuan dan bapaknya. Aku cukup surprise ketika sundea bilang, di ilmu psikologi pun, hubungan bapak dan anak perempuannya tidak di bahas secara mendalam. Tidak seperti hubungan anak laki-laki dengan ibunya. Ketika aku menbicarakan hal ini lebih jauh dengan dame, temanku yang lain, dame bilang “mungkin karena hubungan itu lebih dilihat sebagai hubungan laki-laki dan perempuan.”

Aku jadi ingat salah satu adegan di film Balad Jack and Rose, film kesukaanku yang diperankan oleh Daniel Day Lewis (Jack) dan Camila Belle (Rose), tentang ayah dan anak perempuannya. Saat itu, Jack mengusap lembut bibir Rose dan menatapnya lekat-lekat. Pada saat itu Jack melihat dan merasakan Rose secara berbeda. Ada kesadaran kontrakdiktif yang menyeruak sekaligus membingungkan dalam diri Jack. Disatu sisi Rose telah tumbuh sebagai perempuan dewasa yang mengisi kekosongan hatinya selama ini setelah istrinya meninggalkannya bertahun-tahun lalu. Di sisi lain, Rose tetap gadis kecilnya yang membutuhkan sebuah pelukan ayah, dikala gundah.

Aku teringat, suatu saat ayah kandungku menatapku lekat-lekat waktu aku hendak brangkat kuliah. Kemudian dia bilang, “ kamu cantik sekali.” Entah kenapa saat itu aku merasa senang sekaligus GR. Ke Ge-eRan yang aneh menurutku. Mungkin karena itu pujian yang paling tulus yang pernah kuterima dari laki-laki dewasa yang adalah ayah kandungku sendiri. Beberapa tahun kemudian setelah kejadian itu, bapak spiritualku, menatapku lekat. Tatapannya, terasa seperti laki-laki dewasa jatuh hati pada seorang perempuan. Dia bilang padaku, “aku tuh kagum banget sama kamu.” Dan entah kenapa, saat itu yang aku rasakan bukan perasaan senang yang GR. Aku justru menerima perkataan bapak spiritualku itu seperti pujian bapak pada anaknya. Aku ingat, saat itu aku menjawab omongan bapakku itu “aku bisa begini karena dukungan kamu juga, pak.” Karena bapakku yang membentuk kembali diriku, setelah kehilangan ayah kandungku. Hanya saja, pujian itu kemudian terasa aneh. Karena bapakku itu tidak memujiku sebagai bapak pada anaknya, tapi sebuah pujian laki-laki dewasa pada perempuan dewasa.

Dan hubunganku dengan bapakku itu jadi fase yang cukup membingungkanku. Aku bilang pada salah satu sahabatku bahwa ini adalah fase elektra kompleks yang cukup membingungkan. Bisakah, seseorang yang terasa seperti bapak, benar-benar menjadi bapak tanpa ada getaran-getaran lain seperti halnya laki-laki dewasa dan perempuan dewasa?. Kukira, kerinduan abadi anak perempuan yang kehilangan ayahnya, sampai perempuan itu dewasa bahkan berkeluarga sekalipun, dia selalu merindukan bapaknya.

Ku kira kerinduan ini bukan sekedar ketertarikan perempuan dewasa pada sosok yang lebih matang dan dewasa, atau ketertarikan perempuan muda pada ‘om-om’ belaka. Kerinduan ini lebih pada kerinduan emosional dan spiritual. Hubungan bapak dan anak perempuan selain hubungan yang fungsional juga sangat emosional. Secara konstruksi sosial, bapak memang selalu dituntut untuk bertanggung jawab penuh pada keluarganya, menafkahi dan menjamin kesejahteraan keluarganya. Tapi secara emosional, bapak adalah tiang yang menjadi pegangan seluruh anggota keluarga. Ketika tiang itu tidak tertancap dengan kuat, sulit bagi anak perempuan, untuk merasa aman dan nyaman dengan dirinya sendiri. Bukan hanya itu, namun juga ttitik pusat, ketika garis dilingkarkan dan menjadi sebuah lingkaran yang utuh. Bapak adalah rasa nyaman yang bisa membuat anak perempuannya merasa penuh dan utuh.

Menurut psikolog temenku, tanpa kehadiran bapak seorang anak perempuan akan mengalami cacat psikologis yang menyebabkan dirinya tak merasa utuh. Dan cacat itulah yang biasanya akan jadi kegelisahan abadi dalam diri seorang anak perempuan. Dia akan terus dan terus mencari sosok ‘bapak’ yang hilang itu dalam berbagai macam cara dan pendekatan.

Bagiku, bapak spiritualku itu adalah role model yang membantuku mendefinisikan kembali siapa ayahku dan apa artinya dalam hidupku. Bapakku itu tanpa ia sadari, mengajarkanku banyak hal dalam beberapa tahun terakhir ini. Mungkin dia tak menyadari betul betapa penting artinya dalam hidupku. Tanpa bapakku, aku tak bisa ‘mengenali’ ayahku yang hidup bersamaku hanya sampai 18 tahun usia kehidupanku. Ya, mungkin itulah maksud keberadaannya untukku. Yang hilang itu (ayahku) ternyata ga benar-benar hilang, tapi dia kembali dalam sosok yang berbeda (bapakku).

kgu, 17 Jan 07

Sunday, January 14, 2007

Last Time I Commited Suicide

Foto by tarlen

Secara ga sengaja, pam, cerita tentang enam orang temannya yang dalam 4 bulant terakhir ini mencoba bunuh diri tapi gagal. Cerita ini kemudian mendorongku, cici, pam, dan dame membahas tentang hal ini dalam perjalanan menuju pertemuan spirituality anonymous siang tadi di Selasar Sunaryo. Meski belum pernah mencobanya, namun kami berempat ternyata pernah terpikir untuk bunuh diri, di masa-masa kegelapan kami masing-masing.

Pertanyaan paling mendasar muncul, 'apa sih yang mendorong masing-masing dari kami sempat terbersit pikiran untuk bunuh diri?' jawabannya ternyata hampir sama. Pada satu titik, kami ternyata pernah mengalami kondisi, dimana kami tak tau lagi bagaimana kesedihan, tekanan, persoalan, kekosongan, kesepian bla..bla..bla.. itu harus diatasi. Itu puncak keputus asaan manakala, kami tak tau lagi bagaimana harus menyikapi kehidupan ini.

***

Aku sempat terpikir untuk bunuh diri, saat aku mengalami kerinduan yang teramat sangat pada bapakku beberapa tahun yang lalu. Saat itu, aku merasa ada kekosongan yang amat sangat dalam diriku, karena perasaan kehilangan itu. Dan kian hari, kekosongan itu bertambah besar dan menelan diriku. Aku merasa, dunia begitu sepi, karena tak ada lagi orang yang paling bisa mengerti aku seperti bapak. Aku menutup diri dari kemungkinan untuk menemukan orang lain yang bisa mengisi kekosongan itu. Akibatnya, aku ditelan oleh kekosongan yang kubuat sendiri.

Aku memang belum pernah mencoba secara serius untuk bunuh diri pada saat itu. Tapi bangun jiwaku, saat itu memang runtuh perlahan-lahan. Hampir dua tahun, aku tak bisa melepaskan diri dari segala macam obat tidur, penenang sampai relaksan otot, karena psikosomatis yang kian hari kian akut. Dokter langgananku terpaksa menambah dosisnya. Dari dua macam racikan sampai enam macam obat racikan dosis tinggi. Namun tetap saja, aku tak menemukan ketenangan ketika aku mengalami kekosongan itu. Yang ada, fisikku malah semakin kacau dan kondisi psikologisku semakin buruk. Alih-alih membuatku lebih baik, kondisi ini malah membuatku semakin buruk dan putus asa. Pada titik ini, beberapa kali aku terpikir untuk bunuh diri. Pertimbangannya sangat-sangat konyol, karena aku pikir kalo aku mati, aku bisa bertemu bapakku dan selesailah semua kekosongan yang menggelisahkan ini.

Beruntung, karena disaat klimaks kegelisahan itu aku menemukan kesadaran untuk 'menyerah'. Menyerahkan seluruh kekosongan ini pada si EmpuNya hidup. Meski berat, namun kesadaran, bahwa hidup tidak hanya berputar di sekeliling kesedihanku saja, lambat laun, membantuku melalui klimaks itu. Aku seperti dipaksa untuk melihat hidup yang lain. Melihat kekosongan-kekosongan lain yang juga dirasakan orang lain. Yeah, ternyata aku bukan satu-satunya orang yang termalang di dunia. Aku punya teman. Punya banyak teman yang mengalami kemalangan yang jauh lebih dasyat dariku. Penyerahanku kemudian menjadi kekuatanku untuk melawan kekalahan dan keputus asaanku. Seperti taichi, keputus asaan dan kekosongan itu menguras energiku begitu besar. Titik klimaks keputus asaan itu, sebenernya disisi yang lebih positif, jadi turning point, ketika energi negatif yang menguras fisik dan jiwaku itu, bisa berubah jadi energi positif yang juga sama besarnya. Mungkin seperti kekuatan dendam yang bisa berubah jadi kekuatan cinta.

Yang kemudian menjadi luar biasa, adalah ketika energi negatif itu bisa kuubah menjadi energi positif, dia menjadi magnet yang sedemikian dasyat, dan bisa menarik energi positif lain untuk mengisi kekosongan yang pernah aku rasakan. Toh hukum energi pun mengatakan, bahwa energi itu tak bisa dimusnakan, tapi dia bisa berubah bentuk. Manusia dan kemanusiaannya dalam keseharian menjalani hidup adalah persoalan bagiamana manusia itu mampu mengubah energi itu.

Saat memasuki usia 27 tahun, aku terserang vertigo akut. Dunia berputar begitu dasyat dan tubuhku ga bisa menerima itu, sampai aku muntah-muntah terus selama 3 hari. Serangan itu terjadi empat hari sebelum hari ulang tahunku. Saat itu aku berpikir, kematianku sudah sedemikian dekat. Aku sampai mengirimkan personal message untuk beberapa orang yang begitu penting dalam proses transformasi energiku (dari negatif ke positif), bilang pada mereka, seandainya aku mati dalam 30 menit kedepan, aku sangat beruntung dan berterima kasih, karena aku pernah mengenal orang-orang yang begitu berarti, seperti mereka. Personal messageku ini sempat membuat panik beberapa orang. Disangkanya itu adalah pesan terakhirku sebelum aku memutuskan bunuh diri. Padahal saat vertigo menyerangku itu, yang ada saat itu adalah kepasrahan pada skenario hidupku yang hanya bisa kujalani, tapi tak pernah bisa kuketahui. Aku hanya menduga-duga saja, bahwa aku akan mati dalam waktu dekat dan ga mungkin hidup lebih dari 27 tahun. Namun lagi-lagi, itu adalah titik nadirku yang lain, saat penyerahan diri pada kehendak yang lebih besar itu, justru memberiku titik pencerahan baru.

***

Sekarang, kalo aku takut menjalani hidupku.. menjalani kesedihanku, menjalani kekosonganku, menjalani kegelisahanku dan yang lain-lain, aku berusaha mencari teman.. karena aku yakin, di dunia ini sesungguhnya banyak orang yang sama takutnya seperti aku..

Beruntung sekali aku, karena bertemu dengan teman-teman yang mau berbagi pengalaman 'zero point' mereka masing-masing. Jujur saja, aku akui, pada titik terendah kami masing-masing, sesungguhnya kami begitu ketakutan. Ketakutan yang sedemikian rupa yang membuat kami putus asa untuk bisa menghadapinya. Namun setelah, kami bisa cukup terbuka untuk membagi pengalaman itu, aku pribadi merasa seperti sekumpulan penakut yang sedang belajar jadi pemberani. Berani menghadapi hidup.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails