Wednesday, December 12, 2007

Mengkritisi Gerakan Literasi Lokal

Bral Geura Miang, karya Titarubi


"Jika gerakan literasi sekadar ajakan membaca, saya kira semua orang sepakat. Namun, ada apa di balik ajakan itu dan bagaimana implementasinya, itu yang sulit," hal itu terlontar dari Puthut E. A., penulis dan aktivis komunitas Tanda Baca, dalam diskusi "Gerakan Literasi Lokal dan Peluang Membangun Jaringan", beberapa waktu lalu di UGM, Yogyakarta. Apa yang disampaikan Puthut menjadi gugatan atas persoalan klasik negeri ini bahwa gerakan-gerakan sosial seringkali berhenti sebatas jargon belaka.

PADA tahun 2003, UNESCO mendefinisikan literasi sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, mengomunikasikan, dan kemampuan berhitung melalui materi-materi tertulis dan tercetak termasuk juga variasi bahan yang sesuai dengan konteks definisi literasi itu sendiri. Dari definisi tersebut, Koiichiro Matsuura, Director-General UNESCO menjelaskan bahwa literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis. Melainkan juga mencakup bagaimana kita berkomunikasi dalam masyarakat. Karena literasi berarti juga praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.

Dalam lima tahun terakhir ini, masyakarat yang diwakili oleh individu, kelompok, maupun kolektif, secara aktif mendorong lahirnya gerakan literasi di tingkat lokal. Indikatornya dapat dilihat dari bermunculannya toko-toko buku "independen" di berbagai kota besar di Indonesia. Peta Komunitas Literer yang diterbitkan Tobucil dan Komunitas Dipan Senja mencatat, pada tahun 2005 terdapat 40 toko buku dan komunitas literer yang tersebar di seluruh Bandung.

Jumlah ini membuat Bandung menjadi inspirasi pendekatan baru dari gerakan literasi bagi banyak kota di Indonesia. Pendekatan komunitas yang ditawarkan toko-toko buku independen di Bandung ini membawa semangat kemandirian komunitas dalam gerakannya. Hal ini dapat disimak dari liputan media nasional maupun lokal dalam kurun waktu 2003-2005 yang ramai membicarakan soal toko buku independen di Bandung sebagai gerakan literasi.

Ironisnya, semangat gerakan literasi di Bandung ini harus mengahadapi kenyataan pahit. Pada tahun 2007, jumlah toko buku independen menyusut drastis. Dari 40 yang tercatat, kini tinggal 8 saja yang tersisa; Rumah Buku, Omuniuum, Tobucil & Klabs, Komunitas Nalar, Reading Light, Lawang Buku, Ultimus, dan Baca-baca.

Gerakan sosial

Jika apa yang dilakukan oleh komunitas literer di Bandung ini mau disebut sebagai sebuah gerakan sosial, setidaknya menurut sosiolog Amerika, Charles Tilly, ada tiga elemen yang harus dipenuhi sebagai syaratnya. Pertama, melakukan kegiatan kampanye. Kedua, sebagai sebuah gerakan politik. Ketiga, mengandung unsur keterwakilan dari anggota masyarakat.

Aktivitas literasi yang muncul, hampir semuanya menyuarakan ajakan untuk meningkatkan minat baca dengan berbagai macam strategi dan pendekatan serta sasaran yang berbeda. Syarat pertama terpenuhi. Meski belum merata dirasakan masyarakat, upaya untuk mengubah kebijakan politik di bidang pendidikan dan khususnya regulasi perbukuan, terus-menerus dilakukan. Termasuk upaya untuk terus memperjuangkan kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat yang sesungguhnya dijamin oleh UUD 1945.
Persoalan keterwakilan pun menjadi pilihan dari strategi gerakan yang dibuat oleh masing-masing individu maupun kelompok. Dengan demikian, syarat kedua dan ketiga juga dipenuhi oleh komunitas literer di Bandung.

Berdasarkan pengamatan penulis, ada beberapa masalah yang selama ini membuat gerakan literasi yang muncul di Bandung timbul tenggelam. Pertama, pemaknaan literasi menentukan bentuk, tujuan, target gerakan literasi itu sendiri.

Sejauh ini, pemahaman literasi seringkali dibatasi pada dunia perbukuan sesuai dengan pemaknaan harfiahnya. Sehingga gerakan-gerakan literasi identik dengan pameran buku dan berhenti pada ajakan meningkatkan minat baca. Sementara hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya tidak banyak dieksplorasi dalam kerangka pendekatan gerakan literasi. Terus-menerus mengidentikkan literasi dengan dunia perbukuan membuat gerakan literasi menjadi mandeg karena dunia perbukuan sendiri selama ini bergelut dengan rumitnya persoalan regulasi, produksi, distribusi, dan konsumsi.

Membuka sekat dan memperluas koridor pemahaman literasi akan membantu gerakan literasi menemukan bentuk-bentuk dan pendekatan yang baru untuk mencapai tujuannya. Gerakan literasi masyarakat dapat berarti mendorong keterlibatan aktif masyarakat untuk memperoleh hak pendidikan yang layak. Selain itu, tingkat literasi juga berhubungan dengan kesadaran politik atas hak-hak politiknya sebagai warga negara.

Karenanya penting membuka sekat pemahaman literasi, serta menjadikannya sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup keseharian.

Bias kelas

Kedua adalah persoalan bias kelas menengah dalam gerakan literasi. Sebagai sebuah gerakan, inisiatif gerakan, seringkali muncul dari kelompok menengah. Di Bandung, misalnya, toko buku dan komunitas literasi ini diinisiasi oleh kelompok pendidikan tinggi yang menjadikan itu sebagai bagian dari aktualisasi diri. Ini terbukti dari latar belakang pendidikan dan ekonomi para pelakunya.

Akses bagi kelas menengah bukan lagi persoalan yang cukup serius untuk diperjuangkan. Karena itu, kelas menengah memiliki banyak kemudahan dan kelimpahan akses untuk mencapai tingkat literasi yang lebih tinggi. Gerakan literasi seperti juga banyak gerakan sosial lain, seringkali dikritik karena tidak memiliki kepekaan pada banyak persoalan masyarakat di tingkat bawah dengan akses justru menjadi persoalan utama mereka.

Bias kelas menengah membuat gerakan literasi sulit menentukan skala prioritas persoalan dan terjebak pada eksklusivitas gerakan. Standar kepentingan dan kebutuhan sangat ditentukan oleh perspektif karena apa yang penting bagi pelakunya belum tentu tepat sasaran. Kecuali, gerakan literasi ini memang ditujukan untuk pemberdayaan kelas menengah untuk mendorongnya menjadi agen-agen perubahan di masyarakat. Untuk tujuan ini pun, gerakan literasi perlu memiliki strategi dan capaian yang jelas.

Ketiga, tidak adanya strategi gerakan yang menyeluruh. Terkait dengan persoalan kedua, gerakan literasi di tingkat lokal bahkan nasional, seringkali tidak memiliki strategi gerakan yang jelas kerena tidak adanya koordinasi antarpihak terkait serta tidak adanya tujuan dan strategi yang menjadi kerangka acuan gerakan.
Akibatnya, gerakan terfragmentasi dan terjebak dalam kotaknya masing-masing. Menjadi eksklusif dan asyik sendiri, karena tidak bersentuhan dengan gerakan-gerakan lain yang sesungguhnya saling mendukung. Sehingga pemetaan jaringan dan potensi sumber daya tidak dilihat dalam perspektif multidisiplin untuk mencapai tujuan gerakan literasi.

Persoalan keempat menyangkut perspektif kemandirian. Selama ini, inisiatif gerakan justru bermunculan di kalangan muda di banyak kota di Indonesia, terutama Kota Bandung. Hal ini membawa semangat independensi dan kemandirian yang kuat dalam gerakan literasi.

Namun, semangat ini seringkali diterjemahkan dalam perspektif yang sempit. Independensi dan kemandirian seringkali dimaknai sebagai sikap berjibaku sampai mati, tanpa berpikir panjang mengenai strategi bertahan hidup yang berkelanjutan. Pihak-pihak yang bisa menjadi sponsor seringkali dianggap sebagai pihak yang dapat mengkooptasi semangat gerakan. Padahal, pondasi penting dari semangat kemandirian dan independensi ini adalah proses membangun posisi tawar ketika bernegosiasi dengan banyak pihak yang dapat mendukung gerakan literasi.

Terbatas

Kelima adalah terbatasnya sumber daya pendukung. Selama ini, gerakan literasi yang mewujud dalam bentuk toko buku komunitas dibangun dengan keterbatasan sumber daya. Baik sumber daya kapital, maupun sumber daya manusia. Modal utamanya lebih pada semangat untuk melakukan perubahan.

Dengan modal kapital yang terbatas dan kemampuan manajerial usaha yang sangat terbatas, toko buku komunitas atau disebut juga toko buku independen ini, menanggung banyak beban operasional. Sebagai sandaran utama pendukung gerakan literasi, toko buku komunitas atau independen ini bertanggung jawab pada pembiayaan operasional toko, pengembangan bisnis, dan pembiayaan komunitas.

Perhitungan modal seringkali tidak memasukkan unsur pembiayaan komunitas dan perhitungan risiko trial and error ketika mencari bentuk manajemen pengelolaan yang tepat. Akibatnya, modal yang dimiliki seringkali terkuras habis justru bukan untuk pengembangan aspek bisnisnya, namun untuk membiayai komunitas dan risiko belajar yang harus ditanggung.

Dari identifikasi sejumlah persoalan di atas, gerakan literasi di tingkat lokal tampaknya perlu meninjau kembali implementasinya. Mendefinisikan dan memaknai kembali gerakan, membantu memperjelas arah dan capaian gerakan literasi itu sendiri. Sehingga gerakan literasi tidak berhenti melulu pada sebuah ajakan membaca, namun bergerak menjadi semacam gerakan penyadaran sosial untuk, katakanlah, meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. ***

Penulis, sehari-hari bekerja untuk Tobucil & Klabs 

Tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat, 13 Desember 2007

Thursday, November 29, 2007

Beyond Horizon


Sembilan hari (sejak tanggal 21 November 2007) lalu, diriku dipenuhi dengan pertanyaan itu: Ada apa di balik horison? Sebuah berita besar bagi hidupku. Kuterima dengan segenap kebahagiaan. Aku menginginkannya sejak SMA dulu. Lalu berjuang untuk mendapatkan kesempatan itu dan lolos seleksi, sampai akhirnya aku mendapatkannya. Sebuah perjuangan panjang bagiku. Ya, aku sangat menginginkannya: pergi ke jantungnya metropolitan dunia_NYC. Rasanya beberapa waktu lalu, keinginan itu masih terasa sebagai impian. Karena aku tau, aku ga mampu untuk menyengaja pergi piknik kesana. Aku harus memperjuangkan kesempatan untuk membuat mimpi itu jadi kenyataan.

Ketika aku mendapatkan kabar gambira ini, tiba-tiba langkahku begitu lebar. Aku seperti melompat masuk ke dalam lingkaran impianku itu. Kakiku menjejak di dalamnya dan membuktikan bahwa semuanya bukan lagi mimpi, tapi nyata. Tanganku seperti menyentuh horizon NYCku. Merabanya dan merasakannya.

***

Aku ingat perasaan seperti itu pernah ku rasakan saat menjejakkan kakiku di sebuah kapal bernama Mirad dan kapal perlahan melaju, membawaku menyusuri sungai Mahakam. Membelah arusnya. Menyongsong anginnya. Dan aku merasakannya. Semua impian masa kecilku tentang perjalanan ke pedalaman Kalimantan, menjejak nyata bersama deru mesin kapal. Ada perasaan yang mengembang dan melebar, seperti sebuah garis yang perlahan bergerak menghubungkan satu titik dengan titik yang lain. Rasanya seperti menyelam ke dalam setiap halaman buku River of Gems_buku yang menceritakan tentang perjalanan Lorne Blair dan Rio Helmi mengupas belantara Kalimantan. Buku itu kubeli 12 tahun lalu dengan jerih payahku berdagang kartu nama, karena aku ingin memancang mimpiku pada setiap foto-foto Rio Helmi sambil berjanji pada diriku sendiri: Aku akan sampai di tempat-tempat ini suatu hari nanti. Sebelas tahun kemudian, ternyata aku sampai pada horizonku. Menelusurinya, merasakannya dari setiap belaian angin sungai Mahakam, kemilau perak airnya dan gumpalan awan yang menari-nari seperti formasi tarian yang berubah setiap 15 menit sekali. Menatap langsung gunung batu karang dan mengagumi langitnya. Aku menikmatinya. Sangat. Setiap jengkal penelusuranku atas garis horizon Mahakamku saat itu.

Ku kirimkan pesan pada bapakku di surga, "Pak, aku sudah sampai disini. Di tempat yang pernah sama-sama kita hayalkan. Lewat cerita-ceritamu di masa kecilku dulu. Aku sampai dan menjejakan diriku disini meski tidak denganmu, tapi aku sudah sampai disini." Enam hariku menyusuri Mahakam dan anak sungainya, mengunjungi perkampungan Dayak, bersalaman dengan kepala suku Dayak untuk pertama kalinya, menjumpai dukun Dayak dan kehidupan mereka, seperti meraba tekstur mimpiku yang kemudian nyata berwujud. Saat kapal Mirad membawaku kembali ke Balikpapan untuk kembali pulang, Aku bilang pada diriku sendiri. Horizon Mahakamku telah ku lampaui. Setelah ini lalu apa? Apa yang kurasakan setelah menggapainya dan melewatinya?


***
Aku membayangkan seandainya aku yang duduk di bangku Central Park, menunggu Sihar yang berjanji pada Laila menemuinya di New York, seperti yang Ayu Utami tulis di kisah Saman. Atau membayangkan seandainya akulah si Carrie Bradshaw di Sex n The City, menulis kolom tentang lika liku hubungan dari pengalaman kesehariannya sebagai New Yorker. Atau membayangkan, seandainya aku saat 9/11, aku ada disana. Menyaksikan bagaimana gedung kembar itu hancur bersama dengan hancurnya hati orang-orang yang terpaksa kehilangan rasa nyaman pada kotanya. Aku tentunya sering sekali membayangkan bisa menonton konsernya Pearl Jam atau Tom Waits di kota ini. Membayangkan berpapasan dengan Steve Buscemi di Subway Brooklyn atau papasan di jalanan Manhattan dengan Daniel Day Lewis. Banyak.. banyak sekali yang kubayangkan tentang kota ini.

"Kamu harus pergi kesana. Nikmati cafe-cafe kecil pinggir jalan, sambil rasakan interaksimu dengan kota itu, dengan penghuninya, dengan hiruk pikuknya. Kau akan mengalami kegairahan ketika mengalami New York, aku yakin kamu akan sangat menyukainya", matanya berbinar-binar penuh semangat, mengenang kembali pengalamannya sendiri ketika berinteraksi dengan kota itu. Saat itu, tepatnya empat bulan lalu, ketika aku mengabarkan padanya aku masuk 4 besar kandidat yang tepilih untuk berangkat kesana. Menjelang akhir perjumpaan kami , dia menatapku optimis "Kamu pasti berangkat," katanya yakin.

Sampai tanggal 21 Nov 2007 lalu, aku meneleponnya sebagai orang pertama yang kuberi tau..
"... aku jadi pergi.. aku hepi banget.."

***

Satu persatu apa yang pernah ku impikan di masa kecil menjelma nyata. Tuhan selalu mengabulkannya meski tidak langsung pada saat keinginan itu muncul. Semua keinginan itu ada waktunya sendiri untuk bisa terwujud, karena setiap keinginan membutuhkan waktu untuk membangun jalannya sendiri untuk sampai pada kesiapannya mewujud jadi nyata. Tugasku adalah menjaga keinginan itu dengan keyakinanku. Bersetia padanya. Keyakinan dan kesetiaan itu yang membukakan jalan dan mengantar keinginan sampai pada horisonnya dan wujud nyatanya, juga mengantarku menemukan kesiapan diri ketika sampai untuk meraihnya.

Lalu apa setelah sampai dan mencapai horison keinginan itu? selesaikah semua mimpi itu? Yang kemudian kurasakan setelah satu persatu horizon itu ku gapai, duniaku melebar. Di balik horison itu ternyata ada horison lain yang menungguku untuk sampai dan menggapainya. Seperti juga langit yang bertingkat-tingkat. Apakah ini semata-mata gambaran ketidak puasan manusia dengan segala keinginannya? Aku tidak sepenuhnya setuju. Ketidakpuasan mendorong manusia untuk terus mencari. Dan setiap hidup manusia adalah proses pencarian itu sendiri. Mencari sesuatu yang bisa di gapai.

Aku percaya, perjalanan menggapai horisonku adalah bagian dari proses diriku membangun kosmologiku sendiri. Ruang yang melingkupi diri dan kehidupanku. Kesetiaanku dan keyakinanku pada impianlah yang menentukan seluas apa kosmosku. Perjalanan hidup berarti juga perjalanan membangun kosmos itu terus menerus. Menyambungkan satu horison dengan horison yang lain, membentang seluas keinginan yang tumbuh dan berkembang dalam diriku.

Aku ingin membangun kosmosku seluas dan selebar yang aku mampu. Seperti payung yang lebar. Bukan hanya menaungi diriku, tapi juga bisa menaungi siapapun yang ingin masuk kedalamnya.

terima kasih untuk pemberi hidup
terima kasih untuk semua yang menemaniku menggapai horison itu.
terima kasih untuk kamu, kamu dan kamu..
terima kasih.

Saturday, November 10, 2007

Kebahagiaan Satu Meter Persegi

Tuhan Tak Sampai,2005, karya Agus Suwage


"Apakah Tuhan membiarkan hambanya mencapaiNya dengan mengabaikan hambanya yang lain?" Sebuah pertanyaan yang muncul di tengah perbincangan akrab kami_aku dan seseorang yang spesial dan banyak membuatku tersadar 'everyday is a new day'. Ia mengajarkanku bagaimana mengalami kota tempat tinggalku. Ini kali kedua kami sarapan pagi di tempat yang sama-sama kami suka_Warung Kopi Purnama. Tempat dimana interaksi komunitas sangat terasa. Di sana dan kami bisa mengamati setiap pelanggan yang datang dan duduk di tempatnya. Sama seperti kami yang untuk kali kedua duduk di meja yang sama dan dengan posisi duduk yang sama.

Pembicaraan soal spiritualitas di pagi hari, di antara hiruk pikuk Purnama yang ramai dengan pengunjung. "Rasanya umat mayoritas ini merasa insecure, sehingga harus selalu berteriak, terus menerus minta dimengerti dan tidak lagi cukup toleran pada sekelilingnya, atau kah ini cerminan kerinduan spiritual yang dalam dan tak tergapai?" lontarnya di tengah seruputan kopi dan telur setengah matang. "Ya, sangking keterlaluan rindunya sampai ga tau gimana menggapai Tuhan, akhirnya frustasi, marah-marah dan menyalahkan semua orang," aku menimpalinya. Kami memang sama-sama terganggu dengan situasi ini, dimana beragama menjadi sesuatu yang mengerikan dan penuh ketegangan. Kami merindukan semangat cinta kasih dan besar hati untuk toleran pada perbedaan itu.

"Keseharian itu penting, kualitas keimanan seseorang menurutku diukur dari bagaimana keseharian itu dijalani," katanya lagi. Kami berdua sama-sama percaya pada keseharian yang dijalani dengan kebaruan. "Jika untuk mencapai Tuhan, aku mesti mengorbankan saudaraku sendiri (dengan mengabaikannya), aku lebih baik tidak sampai kesana," mimiknya tampak sungguh-sungguh. Aku tersenyum. "Kayanya Tuhan ga seegois itu deh, hanya karena Ia ingin didekati hambaNya, terus memperbolehkan hambanya dengan berbagai macam cara.." Giliran dia yang tersenyum... "Iya.. aku percaya itu.."

Seruput- seruput. Aku susu murni. Dia kopi. Sisa-sisa telur setengah matang dan roti telur mata sapi masih ada. Kami kembali menelusuri sekeliling. Seperti mengabsen para pelanggan yang biasa muncul di minggu pagi. Ada beberapa yang baru kami lihat minggu ini dan tidak di minggu lalu.

"Apa artinya atribut penanda identitas, jika itu hanya menciptakan jarak dan menjadi pembeda bahwa yang satu lebih beriman daripada yang lain? jangan-jangan itu cerminan krisis identitas," kegelisahannya kembali muncul. "Apakah aku yang berpenampilan seperti ini.." katanya sambil menunjuk pada polo shirt E-Sprit dan sweater coklat Lacoste yang dia pakai, ".. menjadi kurang beriman, di banding dengan semua yang bersorban itu?" Sebuah pertanyaan yang menyadarkan adanya jarak saat keyakinan kami kemudian dibedakan oleh atribut dan perbedaan pemahaman ritual. Bagi kami, ritual adalah upaya pendisiplinan dan bukan tujuan akhir yang bisa beranak pinak menjadi tujuh kali lipat imbalannya. Pendisiplan diri untuk sadar dan rela atas keyakinan yang kami anut. Kerelaan dan kesadaran itulah yang membuat kami nyaman dan feel secure dengan jalan spiritualitas kami.

"Kenapa keyakinan itu tidak termanifestasikan dalam kepedulian pada hal-hal kecil dan sehari-hari? bagaimana dalam keseharian memperlakukan sampah, berkontribusi pada hal-hal kecil disekitarnya.." dia terlihat semakin semangat dengan persoalan keseharian ini. "mungkin dalam benak banyak umat, manifestasi keimanan itu harus sesuatu yang besar dan heroik, angkat senjata, hancurkan yang berbeda. Semua hal besar yang dikiranya itulah yang bakal mengesankan di mata Tuhan, padahal mungkin itu hanya mengesankan buat sesama manusia aja... heroisme itu.." timpalku mengomporinya. "itu mengerikan..." katanya kehilangan kata-kata.

Kami diam dan berpikir. Banyak yang muncul dibenakku dan mungkin juga dibenaknya. "Hey, aku ingat apa yang greenpeace bilang waktu ada yang bertanya, bagaimana caranya menjadi aktivis lingkungan. Kamu pasti ga menduga jawabannya," aku mengiterupsinya. Dia memandangku ingin tau. "Katanya jika ingin menjadi pahlawan bagi planet bumi ini, pastikan bahwa setiap hari dalam jarak 1 meter persegi di sekelilingmu, kamu menyebarkan kebahagiaan untuk orang lain.. hanya satu meter persegi saja setiap hari.. mulai dulu dengan itu.." kataku lagi. Dia menatapku. Senyuman mengembang dari wajahnya. "Ya, indah sekali. kebahagiaan satu meter persegi itu. Seandainya semua orang memulainya dari itu..." dia terdiam sejenak. "Satu meter persegi itu bukan hal yang mudah.. tapi itu paling realistis dan mungkin.. " ia seperti bergumam pada dirinya sendiri. Kami kembali terdiam memikirkan kebahagiaan satu meter persegi kami sendiri yang jelas pada detik itupun kami bahagia saat bisa membincangkan kegelisahan spiritual seperti ini dengan hati dan pikiran terbuka.

Lalu sisa-sisa susu murni, roti telur mata sapi, kopi, telur setengah matang, dan sebatang rokok mild yang belum habis setengah, mengakhiri perjumpaan kami. "yukk.. nampaknya banyak yang antri untuk makan.." dia mengajakku beranjak setelah hampir 2.5 jam duduk di situ.

"Jadi kapan kita ngobrol serius lagi?" tanyanya sebelum kami berpisah menuju kendaraan kami masing-masing.
"Pada sarapan berikutnya ya.." kataku renyah.
Dia mengangguk.."kontak-kontak aja.."

Bandung, 11 November 2007

(Percakapan di tulisan ini adalah hasil rekonstruksi dari hasil obrolan yang sesungguhnya)

Monday, November 05, 2007

Tiga Hari Bertanya Gambang Kromong Punya Siapa?

Altar Arwah Klenteng Keluarga Liem, Pecinan Semarang, Foto by tarlen

Dari Catatan Awal Penggarapan Film Dokumeter Anak Naga Beranak Naga, 2005. Tulisan ini pernah dimuat di Bandung Beyond Magazine, Edisi Chinese Parade Bisa diakses juga di http://anaknagaberanaknaga.com/catatan/index.html.
Di blog ini judulnya aku tambahin. Tulisan ini aku posting untuk mengantarkan tulisan yang sedang kubuat soal pendokumentasian seni tradisi menanggapi tulisan Farida Indriastuti di Kompas, 'Dari Kemitren ke Hollywood'


***

Mencari jawab atas pertanyaan Gambang Kromong punya siapa? Mungkin tak sesederhana ketika menanyakannya. Keragaman pengaruh yang membentuk musik Gambang Kromong, sangat menarik untuk ditelusuri. Itu sebabnya, ketika ditawari Ariani Darmawan untuk telibat dalam proyek penggarapan film dokumenter Anak Naga Beranak Naga, saya begitu exciting. Sebuah film dokumenter mengenai akulturasi kebudayaan Tionghoa dan Betawi yang melahirkan musik Gambang Kromong, tak mungkin saya tolak. Ketertarikan saya terhadap budaya Tionghoa dan bagaimana bentuk-bentuk kebudayaan yang berbeda bisa saling mempengaruhi satu sama lain, telah menarik perhatian saya sejak guru SD mengatakan nenek moyang kita berasal dari Cina Selatan. Selama ini saya mengenal Gambang Kromong identik dengan Lenong dan budaya Betawi.

Dari wawancara awal dengan Tan Deh Seng, seorang musikolog yang menetap di Bandung, saya mengetahui, bahwa Gambang Kromong pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang merantau ke Betawi sekitar abad ke 18. Titilaras yang kemudian dikenal dengan sebutan salendro Cina, kemudian menjadi pakem utama musik Gambang Kromong, bercampur dengan pengaruh kebudayaan Jawa, Sunda, Melayu, Deli yang akhirnya membentuk karakter yang khas dari musik Gambang Kromong itu sendiri. Keragaman unsur dan bagaimana akulturasi berbagai macam bentuk kebudayaan bisa melahirkan musik Gambang Kromong, tak urung membuat saya terpukau. Namun, ketika menyaksikan langsung bagaimana proses akulturasi itu secara langsung, menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya.

23 April 2005,
Yang saya lakukan dua hari ini bersama Ariani atau biasa saya panggil Cik Rani dan teman saya Peter, seorang arsitek, cukup menarik. Survey Gambang Kromong ke Tanggerang. menemui Ang kang lan di belakang Kota Fantasi Bumi Serpong Damai, di desa bernama Jelupang. Ang kang lan, Cina Peranakan keling, hidup di antara benteng yang membatasi Kota Fantasi dan desa-desa yang semakin tergusur. Lahir dan berkembang sebagai Cina Betawi peranakan, semula nampak ragu untuk membuka diri, tapi setelah menyadari kami bukan ancaman, dia mulai menerima kami dengan baik. Ia menunjukkan VCD yang sengaja direkam dari pertunjukan Gambang Kromong ketika Ang Kang Lan mengawinkan anaknya. VCD sederhana tapi cukup bisa diniknmati. Kesadaran mendokumentasikannya yang sebenarnya patut dipuji meski untuk alasan yang sederhana.

Saat bertemu Ang Kang Lan, saya belum 'ngeh' dengan apa dan bagaimana Gambang Kromong itu. Apalagi untuk menarik benang merah antara wacana mengenai Gambang Kromong dan para pelakunya yang salah satunya tersembunyi di balik Kota Wisata seperti Bumi Serpong Damai. Ang Kang Lan, gambang kromong, meja sembah, juga kota fantasi yang di bangun di tengah-tengah native people yang lebih dulu tinggal dan menetap membangun cara hidupnya sendiri. Mungkin dari titik ini saya bisa menemukan pemahaman tentang apa dan bagaimana gambang kromong dari dulu hingga kini, dari kontras itu.

Dari desa Jelupang, perjalanan berlanjut ke Teluk Naga. Saya menemukan situasi sureal yang sulit dideskripsikan. Apakah ini mimpi atau realitas yang berlebihan? Rani, Peter dan saya mengunjungi lokasi survey kami berikutnya, melihat Gambang Kromong yang dimainkan di rumah kawin. Begitu masuk dan menjura memberi hormat pada tuan rumah yang punya hajat, kami bertiga langsung di sodori piring dan memilih makanan Tionghoa atau Betawi. yang membedakan keduanya adalah daging babi di masakan Tionghoa dan daging sapi di masakan betawi. Kesan sureal saya peroleh bukan karena saat itu adalah kali pertama saya melihat secara langsung Gambang Kromong yang dimainkan lengkap bersama cokek-cokeknya, tapi suasana keseluruhan. Rumah kawin membawa saya ke suasana kehidupan Cina peranakan tahun 30-an, encim-encim yang masih bersarung dan berkebaya nyonya dengan rokok kretek klepas klepus dari mulutnya. Cokek-cokek yang bergoyang mesra dengan encek-encek Cina Betawi. Suasana bener-bener seperti mimpi.

Petang menjelang. Kami telah kembali di ibukota. Memilih makan malam sate ayam dan otak-otak di Toko Es Krim Ragusa. Belum cukup merasai jejak masa lalu, kami bertiga nongkrong dan minum kopi di Bakoel Koffie Cikini. Dari obrolan ngalor ngidul sampe pembahasan serius tentang benturan nilai dan siapa yang berhak menentukan nilai-nilai itu baik atau buruk, lebih tinggi atau lebih rendah. Sangat filosofis. Apakah ini seperti de javu? suasana seperti saat meneer-meneer minum kopi sambil ngobrol soal-soal inlander dan kehidoepan kaoem boemi poetra. Kami memperbincangkan Ang Kang Lan, Rumah Kawin, Cina Betawi peranakan dan pandangan tentang apa yang disebut seni tradisi atau bukan. Mungkin kami tak ada bedanya dengan meneer-meneer itu dulu. Membicarakan the other. Sesuatu yang berada di luar diri kami, sambil mencoba mencari jarak pandang dan cara pandang yang pas untuk melihat yang lain itu tanpa terjebak pada cara pandang yang eksotis. Mungkin kami sedang berusaha untuk tidak berlebihan memandang kenyataan, tapi tanpa sadar menciptakan hiperealitas yang lain, mengulangi de javu yang seabad lalu tak mungkin dilakukan oleh kami yang pribumi dan cina peranakan ini.

24-25 April 2005
Kembali ke Serpong. Menyambangi Ang Kang Lan dan grup Gambang Kromongnya dalam sebuah pesta pernikahan Cina Betawi peranakan di Bonang Dasana Indah, sebuah kompleks perumahan baru di daerah Serpong. Segan mendekat, karena merasa tak kenal dengan keluarga pengantin. Akhirnya kami cuma memandangi dari jarak jauh. Sambil memperbincangkan perpaduan perkawinan moderen dan Gambang Kromong. Pikiran saya campur aduk. Tiba-tiba Gambang Kromong, menjadi isu yang penting buat hidup saya akhir-akhir ini. Sementara di satu sisi, perkenalan saya dengan Gambang Kromong, baru saja terjadi. Semua informasi, referensi dan fakta yang saya saksikan tentang Gambang Kromong, seperti kepingan puzzle yang harus saya susun untuk menjawab pertanyaan besar yang menggembung semakin besar: Gambang Kromong punya siapa?

Friday, October 26, 2007

Creative Treatment of Actuality

Foto by tarlen

Kira-kira itulah persepsi John Gierson, pada tahun 1930-an tetang dokumenter. Sejarah panjangnya dimulai sebelum tahun 1900, tepatnya ketika teknologi sederhana gambar bergerak ditemukan. Dari mulai definisi sederhana untuk apapun yang bersifat nonfiksi, sampai perdebatan tentang objektivitas.

Jika berbicara tentang film dokumenter, orang seringkali berdebat panjang tentang untuk apa membuat dokumenter. Karena jika tujuannya merekam realitas seobjektif mungkin, sekarang ini pandangan positivistik tentang obejektivitas digugat banyak orang. Ketika seseorang melakukan kegiatan dokumentasi, sesungguhnya realitas yang direkam adalah realitas yang disusun berdasarkan world of view dan background orang yang melakukan aktifitas dokumentasi tersebut.

Saya teringat perdabatan panjang antara saya dan beberapa orang dalam tim penulis film dokumenter Anak Naga Beranak Naga *). Kami sepakat bahwa upaya-upaya pendokumentasian itu perlu dilakukan. Apa lagi ketika dokumentasi itu menyangkut hal yang menurut banyak orang telah terpinggirkan dan bisa saja dia punah sewaktu-waktu tanpa kita sadari. Perdebatan yang sangat fundamental waktu itu adalah menyangkut persoalan sudut pandang mana yang akan kita pakai untuk melihat kepentingan kita dalam membuat dokumentasi. Apakah kami waktu itu akan memakai kacamata seorang konservatoris yang sarat dengan muatan konservasi atau kah kami hanya melakukan pencatatan semata. Jika suatu obeject yang kami catat hiland musnah, kami tidak terlalu merasa bersalah karena setidaknya kami telah melakukan pencatatan itu. Tapi apakah memang seperti itu dilema yang muncul bagi dokumentator?

Memang bukan hal yang mudah untuk menentukan bingkai apa yang cocok untuk sebuah proses kehidupan yang telah berjalan dalam rentang waktu tertentu dan kemudian waktunya hampir habis lalu semuanya akan hilang atau berganti. Dokumentator seperti dikejar waktu, jika tidak sekarang kapan lagi. Tapi untuk menentukan titik pijak pada saat ini untuk kemudian ditarik kebelakang, lalu menempatkan objek dokumenter kita dalam konteks yang lebih luas, juga bukan persoalan mudah. Jika dokumenter kemudian adalah persoalan bagaimana kekinian itu diperlakukan, tentunya seorang dokumentator adalah orang yang selayaknya memahami konteks persoalan dalam skala mikro sampai skala makro.

Seorang teman pernah mengatakan pada saya suatu hari pendapatnya tentang sesuatu yang berada di ambang kepunahan. Dia bilang: “Jika sudah waktunya punah ya punah saja, mungkin dia memang memiliki keterbatasan sumber daya untuk bertahan hidup.” Jika demikian adanya, saya kira pertanyaan yang harus dijawab oleh dokumentator ketika melakukan kegiatan dokumenter adalah bagaimana menempatkan saat ini ketika apa yang kita catat dalam aktivitas dokumenter adalah rentang proses yang begitu panjang yang sebagian besar telah terjadi di masa lalu. Menghadirkan kembali sesuatu yang telah lalu dan menyingkatnya dalam babakan waktu yang kita tentukan dalam durasi film dokumenter yang akan kita buat, seperti halnya membuat sebuah simulasi sejarah. Dan sejauh mana kita bisa memperlakukan kekinian dalam simulasi sejarah itu, saya kira pertanyaan itulah yang harus dijawab terlebih dahulu, sebelum sibuk berdebat dengan tehnik dan cara apa kita akan mencatat.

Tulisan ini dibikin untuk buletinnya Kinoki Yogja

Thursday, October 18, 2007

Forgiven Not Forgotten

Nisan bapak, foto by 'kamu'

Di hari seperti lebaran ini, hampir setiap orang sibuk merangkai kata, mencari kata-kata indah untuk mengucap maaf. Dan begitulah kejadiannya setiap tahun. Maaf demi maaf, lalu khilaf lagi kemudian maaf lagi, lalu khilaf lagi, maaf lagi.. terus.. seperti siklus yang tak jelas ujung pangkalnya.

Tahun ini, aku sendiri ga tau, kata-kata apalagi yang harus kususun untuk mengucap maaf, pada semua kekhilafan yang berulang itu. Aku ga pandai merangkai kata-kata manis, apalagi untuk sebuah ucapan maaf yang sangat ingin kuucapkan dengan ketulusan. Kebingunan ini membuatku memikirkan lagi kata maaf itu. Belum lagi beberapa kejadian yang kualami dan yang beberapa temanku alami membuat perenungan kata maaf itu menjadi sangat relevan buatku.

Saat aku sadar diriku ini berbuat salah, sebenarnya tindakan yang kulakukan sendiri telah lewat dan dalam hitungan waktu, kejadian itu ga bisa di putar mundur. Rasa bersalah yang terjadi kemudian karena aku terus menerus kejadian itu, menginggatnya bahkan berusaha melupakannya. Saat kesalahan itu aku lakukan pada diriku dan aku meminta maaf padanya, yang menjadi bagian dari proses memaafkan itu adalah bagaimana aku kemudian mengingat kejadian itu lagi. Dugaan ini membuatku berpikir, jangan-jangan maaf itu adalah persoalan bagaimana kita mengingat.

Bagaimana mengingat sebuah kesalahan? biar ga jadi trauma, penyangkalan atau malah kutukan. Bagaimana mengingat dengan memaafkan ingatan itu? Dan ketika kesalahan itu harus di tebus, bagaimana sebenarnya menebus ingatan itu? Pertanyaan yang sungguh-sungguh sulit buatku.

Jika melihat sejarah kehidupan manusia, ternyata ruang-ruang untuk kesalahan itu selalu ada. Berbagai macam tragedi kemanusiaan yang terjadi di muka bumi ini, terjadi juga karena kesalahan-kesalahan itu. Aku ga akan ngebahas soal itu disini, karena pada tingkat individu pun setiap orang mengalami tragedi kemanusiaannya sendiri. Itu juga sebabnya ada pemahaman bahwa sejarah adalah perjuangan melawan lupa. Sementara memaafkan juga seringkali dimaknai dengan melupakan segala kesalahan. Namun adakah kesalahan yang benar-benar di lupakan?

Dalam kehidupanku, kesalahan-kesalahan di masa lalu, sering muncul sebagai kilasan-kilasan seperti sambaran kilat di angkasa. Ketika kecil aku takut melihat kilat. Namun lama kelamaan setelah belajar sains, kilat tak lagi menakutkan. Karena hukum sebab akibatnya sedikit demi sedikit mulai dipahami. Kini saat ada kilat, aku bisa melihatnya meski tetap dalam jarak aman. Karena bagaimanapun juga, saat aku melanggar jarak amannya, siap-siap aja mati kesamber gledek.

Mungkin mengingat kesalahan itu, seperti proses mengingat kilat. Waktu pertama kali setelah mengalaminya, ketakutan merajai diriku. Dan setiap kali ingatan itu muncul yang terjadi seperti proses mengingat dan memahami kilat. Ketika sampai pada titik mengerti mengapa kilat itu muncul, aku jadi tau bahaya sekaligus juga manfaatnya. Hal kemudian aku ingat dari proses ini adalah sulit bagiku memperkirakan, seberapa besar sesungguhnya kekuatan dari 'kilat' itu bisa mempengaruhi hidupku. Sejarah mengajarkan banyak tragedi kemanusiaan besar berawal dari kesalahan-kesalahan kecil. Karena kesalahan-kesalahan kecil perlu diberi ruang untuk menemukan kesadarannya..

Temanku pernah bilang bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk ltetap menjaga kesadaran. Dan kesalahan justru membuka ruang-ruang baru untuk proses menemukan kesadaran-kesadaran baru itu. Dalam bahasa yang lebih spiritual, mengingat adalah proses menemukan hikmah dari kesalahan. Setelah hikmah itu ditemukan, barulah maaf menemukan maknanya.

Jadi maafkan, tapi jangan dilupakan...

Friday, September 21, 2007

Perjumpaan di Lorong Hati



setiap orang pasti punya lorong panjang dalam hatinya. sebuah lorong yang bisa saja gelap, bisa saja terang benderang, bisa saja berwarna, bisa saja hanya satu warna saja. lorong itu bukanlah tempat yang cukup besar untuk bisa ditapaki oleh siapa saja, karena dia lebih mirip 'sanctuary' bagi setiap orang ketika ingin menjenguk dirinya yang paling dalam.

aku punya lorong itu di hatiku. sebuah tempat dimana aku bisa menengok diriku dan menyapanya dengan banyak rasa dan asa. 'hai diri apakabarmu hari ini?' begitu biasanya aku menyapanya. lorongku itu akan membalasnya dengan gema 'apakabarmu' yang bunyinya memantul dari dinding-dindingnya.

aku biasa mendatangi lorong itu. melepas lelah, penat, kesedihan dan menorehkan bahagiaku. tidak banyak yang pernah datang mengunjunginya dan biasanya mereka tidak lama. hanya satu dua saja, yang menetap cukup lama bahkan membangun lorong itu kembali, saat gempa merubuhkan seluruh bangunannya. dia membangunnya kembali sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa tegak kembali. dia sengaja membangun ruang dalam lorong itu, khusus untuk dirinya. 'masuklah kesana, karena sebagian diriku, kutaruh disana untukmu, manakala kau merindukan aku,' begitu dia berpamitan saat ia harus pergi untuk kehidupannya sendiri. 'aku tidak akan bilang selamat tinggal, karena kita masih akan sering bertemu. datanglah kapanpun kau mau.' begitulah kami masing-masing bersepakat.

beberapa tahun berlalu. hidupku dan hidup orang-orang yang pernah datang ke lorongku, berubah. aku datang sesekali menjenguk diriku, dirinya yang lama-lama melesap dalam kekosongan ruang yang ia bangun untukku. 'aku ingin membangun kembali lorong ini, menatanya dan menjadikannya sancturyku yang lebih nyaman dari sebelumnya.

***

sejak dia membangun kembali sanctuary itu, sulit bagiku menemukan orang lain yang bisa menatanya kembali. bangunannya sedemikian khas. perlu orang mengerti dia, untuk menata ulang, tanpa menghilangkan jejaknya dalam rongga-rongga dindingnya. tanpa sengaja, kutemukan ia di ruang terbuka, di antara hiruk pikuk keramaian. seorang yang tak pernah mengaku lurus, saat ia memilih untuk hidup dengan kelurusannya dan belajar iklas atas apa yang harus hilang saat dia berusaha untuk terus yakin pada pilihannya. aku menghampirinya saat ia duduk kelelahan. 'jangan lupa istirahat, nanti sakit,' begitu aku menyapanya. ia tersenyum. menggeser duduknya dan memberikan sedikit tempat untukku duduk di sampingnya. kami saling diam dan lebih banyak diam menikmati kehiruk pikukan itu. 'kamu lihat, gedung pencakar langit itu,' katanya sambil menunjuk sebuah gedung pecakar langit yang dinding-dindingnya memantulkan apa yang bisa ia pantulkan.'gedung itu seperti seseorang yang berusaha mencapai langit, mencari dan mencoba menemukan kerinduan spiritualnya,' suaranya yang merdu dan lirih itu menyapa keheningan di antara kami.

sesekali kami bercakap. memperbincangkan hal-hal yang ringan,.. me, and you, and everyone we know.. tanpa perlu menakar, baik aku maupun dirinya sama-sama tau kalau kami dua orang yang kelelahan. begitulah. setiap kali bertemu dengannya di tengah hiruk pikuk itu, selalu ada hal baru yang bisa aku bawa ke lorongku. begitu pula dengan kelelahannya. aku tak lagi menyapanya dengan kata-kata ,'jangan lupa istrirahat nanti sakit, aku cukup menyapanya dengan diriku dalam perjumpaan-perjumpaan di keramaian itu dan itu cukup membuat secercah keceriaan memancar pada dirinya yang lelah.

'rasanya aku telah jatuh cinta padanya. jatuh cinta dengan berani padanya.' kusadari itu saat aku kembali ke lorongku lagi dan menemukan diriku yang lain. sampai satu saat, dia, si pembangun sanctuaryku itu datang dan berkata: 'biarkan ia masuk dan beristirahat dalam ruangku. ia bisa memakainya kapanpun ia mau. aku akan baik-baik saja. ruang itu kurelakan untuknya.' ku tau itu bukan hal mudah bagi orang yang telah bersusah payah membangun dan setelah selesai, dia justru membiarkan orang lain masuk dan mengisi ruang yang selama ini dia bangun untukku.

dalam beberapa kali pertemuan dengannya aku mengundangnya masuk. 'silahkan beristirahat di dalam lorongku. lebih nyaman, meski bau penghuni lama masih begitu kuat,' undangku padanya. 'tidak sekarang, aku masih belum terlalu lelah,' ia mengaku padaku 'lagipula aku menemukan diriku dan kamu disini, dan orang-orang yang kita tau, di tengah hiruk pikuk ini. terima kasih untuk tawaranmu,' katanya sopan. 'kapanpun kamu mau masuk, masuklah. ruang itu telah ku siapkan untukmu,' balasku. aku menghargai keputusannya. lagi pula darinya aku belajar untuk tidak selalu menyembunyikan diriku dalam sanctuary itu. ia mengajakku keluar, menemukan harmoni dalam keriuhan. ia justru mengajakku melihat banyak keindahan dari banyak hal yang selama ini kulewati sehari-hari. semakin sering perjumpaanku dengannya, semakin banyak keseharian kusadari sebagai hal baru.

***

sampai baru-baru ini, seseorang datang tak terduga, menginterupsi keseharian dan kebaruan-kebaruanku. dia datang langsung mengetuk lorong hatiku. permisi karena ingin masuk kedalamnya. aku menyambutnya seperti layaknya tuan rumah menyambut tamu.

'bolehkah aku masuk?' tamuku berkata. 'aku ingin menemanimu berjalan menjenguk dirimu,' ungkapnya berterus terang. aku menatapnya curiga. siapakah gerangan dia, tiba-tiba datang dan ingin menjenguk diriku. 'boleh-boleh aja,' jawabku. 'tapi kau tengok dulu lah sebentar, sebelum kau menyusurinya. aku tak mau kau masuk lalu merasa terjebak di dalamnya,' aku menakarnya.tamuku itu kemudian masuk, menengok lorongku dan kemudian menakar akan seperti apa perjalanan menyusurinya. 'kurasa aku akan menemukan banyak hal dari perjalanan ini.' katanya padaku. 'bagaimana jika tidak?' aku tidak sedang mematahkan keyakinannya, tapi memberinya peringatan. 'kurasa jika pun tidak ada yang kutemukan aku akan tetap menemanimu,' jawabnya yakin.

seorang teman di lorong ini, Mmm.. mengapa tidak? seorang teman mungkin bisa mengusir rasa kosong yang kadang membuat ngilu. lagi pula aku merasa bisa mempercayainya. 'kalau begitu, sering-seringlah datang kemari, bercakap-cakaplah dulu denganku sebelum memutuskan benar-benar berjalan menemaniku,' saranku padanya.

lalu, tamuku itu datang dan datang. setiap hari. mencoba bercakap dan menggali perjalanan seperti apakah yang akan di hadapi. dia membayangkan bahwa dia sanggup. meski di luar sana, ada kehidupan nyata yang dia jalani. bagiku, tak ada salahnya memberinya kesempatan padanya. dalam waktu yang singkat kami bercakap banyak. aku menjawab apa yang ingin dia tau, begitu pula sebaliknya. apakah itu berarti aku telah mengenalnya? atau dia juga menjadi mengenalku? jangan-jangan tidak.

sampai suatu hari, ketika kami duduk dan berbincang di depan altar bapakku, dia membuat pengakuan. 'sebenarnya aku sedang berjalan di lorong lain, bisakah aku menjalaninya bersama sekaligus dengan perjalanan menyusuri lorongmu?' tanyanya kemudian. aku terdiam, berpikir, lalu balik bertanya padanya: 'sejauh mana perjalanan yang telah kau lakukan di lorong yang lain itu?'
'jauh, sudah sangat jauh,' jawabnya. 'bisakah aku berjalan dilorongmu juga?' tanyanya lagi.'apa yang kau cari di lorongku? jika ternyata kau telah sedemikian jauh berjalan di lorong lain?' aku tidak menjawabnya, tapi kembali bertanya padanya. 'aku hanya ingin menemanimu..' jawabnya

aku menatapnya, mencoba memeriksa kembali keyakinannya. 'mungkin dia bisa jadi teman bergandengan tangan, tapi bagaimana mungkin dia bisa bergandegan dengan dua orang di dua tempat yang berbeda dengan jarak perjalanan yang berbeda pula?' tanyaku dalam hati dan mulai menyangsikan keinginannya menemaniku. aku mencoba memeriksa kembali.
'bagaimana dengan lorongmu yang lain, jika kau masuk kedalam lorongku menemaniku, tapi pada saat yang sama, kau juga menapaki lorong yang lain lorong yang sebelumnya sudah sedemikian intim denganmu dan telah jauh kau telusuri, kau tak mungkin berjalan di dua tempat sekaligus kan?' aku berharap menemukan keyakinannya disana.
'aku hanya ingin menemanimu..' jawabnya. ' terserah kamu, apakah aku diizinkan masuk atau tidak. aku hanya ingin menemanimu,' katanya lagi.

aku berpikir lama. menatapnya berulang. aku tak perlu membuatnya memilih. karena keinginan untuk memilih itu adalah hak dia sepenuhnya, bukan karena aku yang memaksa. namun aku pun tak bisa mengusir pertanyaanku 'bagaimana bisa ia menjalani keduanya sekaligus? lorong yang terpisah jarak dan waktu. pasti ada yang ditinggalkan dan meninggalkan dan jika dia ingin menemaniku, aku tak suka saat dia harus meninggalkanku untuk menjenguk lorong yang lain yang lebih intim itu. jika aku sepenuhnya mengizinkan dia masuk. aku pasti akan memberikan ruang satu-satunya yang telah kusiapkan untuk yang lain. sekuat apa keinginannya? lagipula aku ga mau mendengar penyesalannya, saat ternyata dia tidak menemukan apa yang ingin dia temukan di dalam perjalanan itu nanti, lalu diam-diam pergi ke lorong yang lain, meneruskan perjalanan panjangnya disana. aku akan merasa di khianati nantinya dan aku sulit memaafkan jika merasa di khianati. Tapi, apakah adil menempatkannya pada situasi harus memilih? jika ternyata dia sudah sedemikian jauh di lorongnya sedangkan di lorongku, dia baru saja masuk. sama dengan rasa keadilan seperti apa, jika aku membiarkan dia masuk, lalu seseorang di lorong yang lain menunggunya dan mungkin juga akan merasa di khianati, karena dia pergi diam-diam ke lorongku.

'cukup sampai disini saja ya. aku tak bisa membiarkanmu masuk lebih jauh lagi. lebih baik, kau kembali ke lorong yang lain itu,' kataku padanya. 'selesaikan apa yang seharusnya diselesaikan, jangan mulai denganku, jika yang lain belum selesai,' tambahku dalam hati. kami saling bertatapan. ' baiklah jika itu keputusanmu, katanya. 'senang bisa berjumpa dengamu, meski aku belum lagi mengenalmu. selamat tinggal' katanya lagi. 'aku pun senang bisa bertemu denganmu' balasku. 'selamat tinggal. terima kasih sudah datang,' bisikku dalam hati.

***

saat bangun di keesokan harinya, ternyata aku masih bangun di lorong yang sama. lorong yang menyisakan ruang khusus untuk lelaki kelelahan itu yang selama ini selalu kuisi dengan doaku untuknya setiap hari.'Ya Tuhan, berilah dirinya kekuatan dan mudahkanlah jalannya'. sesekali ditengah doa, bau si pembangun sanctuaryku mengambang disana. jejak-jejak tamuku yang baru saja pergi itu juga masih ada disitu, belum lagi kering apalagi kubereskan. apa yang terjadi kemarin? siapa dia bagiku? siapa aku baginya? siapa yang seharusnya memutuskan? apa ada kesedihan? apa ada kekecewaan? apa ada kelegaan? apa ada luka yang baru? apa ada apa? apanya yang selamat tinggal? perjumpaan singkat itu menyisakan banyak tanya. haruskah kucari jawabnya? itupun sebuah tanya..

***

lalu selalu ada pertemuan kembali dengan si pembangun sanctuaryku, yah..untuk sekedar bertukar kabar masing-masing...
saat menjenguk ke keramaian, si lelaki itu masih ada di tempatnya dan sedikit ruang masih ia sisakan untukku duduk, ia menungguku disana..

mmm.. yang kemudian bisa kulakukan adalah kembali menyapa diriku. 'hai diri, apakabarmu hari ini?'

Gudang selatan - aceh 56, 22 september 2007

buat kamu, kamu dan kamu..

Wednesday, September 19, 2007

Kota Kreatif, Bukan Jargon

WACANA industri kreatif yang ramai akhir-akhir ini dibicarakan, membawa Bandung pada posisi penting dalam pembicaraan ini. Sebagai kota kosmopolit berpenduduk sekitar 2,5 juta jiwa ini, Bandung dikenal memiliki potensi kreatif yang besar. Mulai dari produk-produk penunjang gaya hidup kaum muda, makanan sampai teknologi informasi yang muncul dari Bandung dan menyebar ke seluruh Indonesia. Wacana industri kreatif sendiri mulai mengemuka di tingkat global dalam lima tahun terakhir ini, ketika negara-negara seperti Inggris mulai mencari sumber-sumber perekonomian baru untuk menggantikan sektor industri manufaktur. Pengembangan industri kreatif ini dianggap menjadi pilihan yang bisa mengakomodasi hak intelektual setiap individu berdasarkan kreativitasnya.

UNESCO tahun 2003, mengeluarkan rilis resmi mengenai definisi industri kreatif ini sebagai suatu kegiatan yang menciptakan pengetahuan, produk dan jasa yang orisinal, berupa hasil karya sendiri. Nilai ekonomis dari hasil penciptaan ini menjadi berlipat ganda ketika diadopsi dan dikomersialisasikan oleh industri jasa dan pabrik. Demikian pula dengan definisi yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris bahwa industri kreatif adalah industri yang berbasis kreativitas, keterampilan dan bakat individual.


Industri tersebut juga memiliki potensi untuk menciptakan kesejahteraan dan pekerjaan melalui pengembangan dan eksploitasi intelektual. Melalui British Council, pemerintah Inggris gencar melakukan pemetaan pontensi kreatif di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia. Sektor industri yang termasuk ke dalam wilayah industri kreatif ini adalah advertising, arsitektur, craft, desain/desain komunikasi, fashion, film/video, software, musik, visual art, seni pertunjukan, penerbitan, media (televisi/radio/web/cetak).


Bandung termasuk salah satu kota di Indonesia yang masuk dalam pemetaan potensi industri kreatif tersebut. Hal ini disambut baik oleh banyak kalangan. Beberapa sektor industri yang selama ini sudah berjalan dan memberi kontribusi ekonomi, kemudian di telisik kembali apakah ini termasuk industri kreatif atau bukan. Pemilahan pun tak dapat dihindari untuk menemukan definisi yang sesuai dengan situasi dan potensi Bandung. Upaya pemetaan ini, semakin serius dilakukan, salah satunya yang dilakukan oleh Pusat Studi Urban Desain ITB ketika menyelenggarakan Artepolis yang mengangkat tema "Creative Culture and The Making of Place", tahun 2006 yang lalu.


"Saat itu kita masih malu-malu dalam mendefinisikan apa itu industri kreatif, karena itu kita mulai dari pemetaan budaya kreatifnya dulu, " jelas Dr. Woerjantari Soedarsono yang akrab disapa Ririn, ketua penyelenggara Artepolis dan juga staf pengajar di jurusan Arsitektur ITB. "Setahun setelah Artepolis pertama, terjadi perkembangan wacana yang cukup pesat. Di ITB sendiri selama ini banyak orang menganggap bahwa kekuatan ITB ada pada sains dan teknologi, padahal ITB juga punya kekuatan desain dan desain ini bukan hanya sebatas desain yang berhubungan dengan seni rupa, tapi juga ITnya juga. Setahun terakhir ini banyak penelitian-penelitan yang mengarah ke industri kreatif itu," tambah Ririn.


Jika dibandingkan dengan tempat lain, Indonesia termasuk yang terlambat menyadari potensi ini. Meskipun dalam beberapa kesempatan pemerintah pusat mulai memberi perhatian yang serius pada sektor industri kreatif ini. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat melalui Deperindag mulai melakukan strategi pengembangan industri kreatif ini. Dari data yang dikeluarkan oleh BPS, 2006, dari 41 juta penduduk Jawa Barat, 54,8% berusia 15 sampai 45 tahun dan 7% nya berpendidikan minimal D-1. Dari jumlah ini dapat diindikasikan bahwa potensi tenaga kerja kreatif di Jawa Barat cukup memadai. Pada tahun 2004 di Jawa Barat, industri desain ini mampu menyerap tenaga kerja sebesar 2% atau sekitar 344.244 orang dan menyumbang pendapatan daerah sebesar 11%, sedangkan industri kreatif lainnya yaitu industri penerbitan, percetakan, produksi media rekaman, radio, dan televisi menyerap tenaga kerja sebesar 43.775 orang dan dapat menyumbang pendapatan daerah sebesar 12%. Potensi ini menjadi modal utama dari pengembangan industri kreatif yang dapat memberi kontribusi besar dalam meningkatkan indeks pembangunan manusia Jawa Barat. Meskipun nilai ekonomi yang dihasilkan oleh industri kreatif ini belum dapat dihitung dengan pasti.


Batu sandungan yang dirasakan oleh para pelaku industri kreatif, selama ini justru datang dari pemerintah kota. Selama ini pemerintah kota masih melihat potensi industri kreatif ini dalam kaca mata pengembangan pariwisata. "Padahal kalau pemerintah kota bisa membenahi sektor industri ini, sisi pariwisatanya otomatis akan terangkat," lanjut Ririn.


Hal lain yang dilihat oleh Ridwan Kamil, urban designer yang juga pendiri biro arsitektur urbane dan pemenang International Young Creative Entrepreneur of the Year (IYCEY) British Council, 2006 mengatakan "Kalau image Bandung cuma sebatas kota seni budaya saja, itu rawan. Bandung punya banyak saingan." Menurut Ridwan, Bandung memenuhi syarat sebagai sebuah kota kreatif Indonesia. Sebagai kota yang kosmopolitan, Bandung memiliki stabilitas sosial politik. Jumlah perguruan tinggi di Bandung cukup banyak. 

Dua hal ini cukup kondusif bagi iklim kreativitas di Bandung. "Bedanya Bandung dengan Yogja, kreativitas Bandung ini lebih bisa diserap oleh global. Sehingga banyak orang-orangnya yang dapat bertahan tanpa mengandalkan bantuan pemerintah," papar Ridwan.

Menurut Ridwan, Bandung mempromosikan dirinya sebagai kota kreatif di Indonesia, bahkan di dunia internasional. "Dukungan yang kita perlukan dari pemerintah kota support perizinan, support ideologis bahwa mereka sepakat dengan ide ini, karena ide-ide yang bisa memunculkan potensi ekonomi itu bisa kita bantu. Tapi kan semua itu perlu support dari pengelola kotanya," lanjut Ridwan. Namun selama ini, dukungan itu sulit didapat, karena pemerintah kota seperti sulit diajak berkomunikasi. "Terus terang, kita ini sulit mengakses pemerintah kota untuk mensosialisasikan hal ini. Selama ini kita masih sulit ngobrol dengan pengelola kota. Ngobrolnya masih underground, masih sesama kita saja. Susah sekali ngobrol dengan pemda," jelas Ridwan.

Sulitnya berkomunikasi dengan pengelola kota, membuat banyak persoalan yang dihadapi para pelaku industri ini jauh dari sentuhan regulasi yang mendukung perkembangannya. Karenanya, pemetaan potensi kreatif Bandung pun selama ini, masih didasarkan pada kesiapan organik dari setiap sektor yang termasuk dalam industri ini. Karena itu dari hasil pemetaan sementara sektor industri kreatif Bandung yang dianggap lebih siap adalah sektor fashion yang diwakili oleh clothing distro, musik dan IT. Dari ketiga sektor unggulan ini industri clothing jauh lebih terekspose sehingga lebih terlihat. Sementara sektor industri kreatif lain perlu diindentifikasi lebih jelas lagi karena selama ini berada di bawah permukaan dan sering kali tidak mendapat perhatian yang cukup.


Kontribusi kalangan akademisi dalam hal ini menjadi penting untuk melakukan pemetaan yang lebih cermat mengenai siapa dan apa yang termasuk ke dalam sektor industri kreatif ini. Artepolis II yang akan diselenggarakan tahun 2008, sebagai event internasional akan berfokus pada tema Industri Kreatif dan Pembangunan Komunitas. Diharapkan melalui hal kegiatan ini, rekomendasi riset dari kalangan akademisi dapat membantu pihak-pihak terkait dalam hal ini pemerintah kota, untuk menyusun strategi pengembangan yang tepat. (Tarlen Handayani)***

Tulisan ini bagian dari suplemen Selisik, Pikiran Rakyat 16 September 2007

Ridwan Kamil: "Potensi, Reputasi, & Kompetensi Sudah Tinggi"


Ridwan Kamil, Foto atas kebaikan Islaminur Pempasa

DI taman belakang "kantor"-nya, Ridwan Kamil bersama beberapa rekannya tampak asyik berdiskusi. Dari kantor yang lebih mirip rumah di kawasan Sumur Bandung, Urbane Indonesia, sebuah agensi arsitektur menangani berbagai projek arsitektur bernilai triliun di Dubai, Cina, dan selain kota-kota besar di Indonesia. Emil --panggilan akrabnya-- belum lama ini mendapatkan juara dalam perancangan museum tsunami di Aceh dan mendapat International Young Creative Entrepreneur of the Year (IYCEY) British Council, 2006. Berkaitan dengan wacana kota kreatif, Tarlen Handayani dan Wartawan "PR" Islaminur Pempasa mewawancarainya, Sabtu (15/9). Berikut petikannya.

Kenapa Bandung yang dipilih sebagai kota kreatif?

Ini Bandung banget, ini contoh (Emil menunjuk suasana taman yang menjadi tempat diskusi bersama rekan-rekannya). Ini tidak didapat di kota lain. Di Bandung itu lebih inspiratif, suasana intelektualitas tinggi. Ini di Jakarta nggak dapet. Kantor kita walaupun di Bandung, 30 persen projeknya di luar negeri. Kemarin kita (mendapat projek) di Dubai Timur Tengah, dan Cina. Yang begini itu, cukup banyak (di Bandung), tetapi tidak terlalu terekspose. Saya punya teman, di (Universitas) Maranatha, di sana projeknya di Malaysia dan India. Itu baru satu bidang, arsitektur. Padahal, definisi industri kreatif itu adalah industri atau ekonomi yang lahir dari pemikiran yang menghasilkan intellectual property. Jadi dunia desain, baju kayak distro, sepatu, furnitur, grafis, interior, arsitek, media, musik, new media, art and craft, macam-macam. Kemudian software, IT, itu kan dari berpikir menghasilkan. Seperti BHTV (Bandung High Tech Valley). Itu satu. Kedua, ciri-ciri kota kreatif itu, kotanya kosmopolitan. Bandung memenuhi syarat kita. Kotanya kosmopolitan, zaman yang lain rusuh, kita kan stabil secara sosial. Di sini pembauran sangat kencang, itu bagusnya. Jumlah universitas pun lebih dari 30. Jadi dari rumusnya sendiri statusnya sudah dapet. Dengan banyaknya tempat pendidikan, kreatif dan seni berkembang. Kota yang mirip kita, misalnya Yogya. Bedanya di Bandung kreatifnya itu lebih mengglobal sehingga banyak dari mereka hidup dan sukses atau survive. Maksud saya sudah saatnya kita mengonsolidasi semua yang berserakan itu. Berkumpul. Menjual image kita ke luar negeri sebagai kota apa. Ga bisa lagi pake kata berhiber, itu terlalu politis, bukan strength ekonomi. Baiknya profesinya dulu. Kreatifnya dulu. Harus spesifik.

Tagline kota kreatif ini berarti strategi "branding" internasional?

Goal-nya itu internasional. Saya kemarin agak khawatir, kan mau dicanangkan sebagai kota seni budaya. Seni budaya itu kita bisa kalah oleh Bali. Bisa kalah oleh Yogya. Kalau kreatif itu mencakup dunia IT, fashion, yang kota lain ga punya. Makanya kalo bisa "PR" jadi partner kita dalam mengampanyekan. Kenapa berkampanye, karena tahun depan, mau ada acara internasional yang digiring ke Bandung.

Bagaimana dukungan pihak-pihak yang sebenarnya berkepentingan terhadap Bandung sebagai kota kreatif?

Masalahnya kita belum banyak ngobrol. Ngobrolnya baru underground, sesama kita, susah ngakses ke pemda. Sebenarnya, "PR" bisa menjembatani itu.

Dukungan yang paling penting yang bisa didapat dari pemda?

Sebenernya support perizinan, support secara ideologis bahwa kita sepakat. Lain-lain mereka bisa survive sendiri. Kalau ide-ide sih ga usah, ide-ide kita banyak, yang aplikatif, yang menghasilkan ekonomi. Misalnya ke mana-mana kalau ngomong kreatif Indonesia itu Bandung yang harus dibicarakan. Saya sudah bawa Bandung ini ke Jepang, ada konferensi kota kreatif se-Asia. Jadi kita sudah berteman dengan Singapura, Kuala Lumpur, Auckland Selandia Baru, Hong Kong, Taipei, Brisbane, dan Manila. Bandung yang dipilih.

Apakah belum ketemu bahasanya atau ada agenda lain?

Kesulitannya sejauh ini adalah akses. Jadi banyak gerakan-gerakan yang tidak terorganisasi, BHTV (Bandung High Tech Valley) satu hal, BHTV masih satu keluarga, anak dari namanya industri kreatif. Arsitektur-desain anak dari industri kreatif. Nah, alangkah menariknya semua berkumpul sepakat. Wah itu bisa powerfull. Nanti aplikasinya si masyarakat internasional yang kreatif Asia itu sudah menggandeng Bandung, itu bisa membuka pasar. Itu dari segi bisnis ya. Dari event, misalnya kita bisa buat, Februari forum desain se-Asia Tenggara di Bandung, bulan lainnya forum fashion atau distro. Bayangkan kita tiap bulan ada kegiatan penuh. Tiap bulan tiap anak dari industri kreatif ini mengisi kegiatan. Seru tuh. Ini yang belum ketemu.

Dari pemetaan sektor-sektor industri kreatif, yang mana yang sudah siap?

Yang paling terdata yang baik adalah kelompok fashion-distro. Itu seru, berapa permodalannya, berapa jumlah karyawan, market ke mana aja. Poin saya itu baru seperdelapan dari kelompok lain kalau sisa yang tujuh ini bergabung sekuat distro, terorganisasi, ga ada yang bisa mengalahkan kita se-Indonesia. Kita paling lengkap dan paling kuat.

Dari segi arsitektur sendiri?

Arsitektur juga sama, kita ini paling kreatif. Tapi nadanya jangan terdengar sombong. Maksudnya gini, prestasi arsitektur itu diukur dari kualitas desain. Kualitas desain di dunia itu diukur dari sayembara. Sayembara itu kan open semua ikutan. Kalau saya punya projek, orang lain bisa lebih keren, tetapi tidak dapat projeknya sehingga tidak bisa membuktikan. Nah sayembara kan umum, dari 20-an sekian sayembara, 80 persen orang Bandung terus (pemenangnya). Itu nasional lho. Yang menang dari Bandung terus, kenapa, karena suasana kita itu, lebih open terhadap wacana, lebih kosmopolitan, lebih mendiskusikan hal-hal filosofi, budaya, jadi tidak kacamata kuda, melihat arsitektur hanya bangunan. Kedua, British Council menyelenggarakan design entrepreneur yang menyeleksi seluruh potensi-potensi dalam bidang desain, seluruh Indonesia. Saya menang 2006, Gustaff (H. Iskandar) 2007, dua kali dan dua-duanya dari Bandung. Levelnya sudah di nasional nih. Jadi dari segi potensi, reputasi, kompetensi Bandung sudah tinggi. Hanya forumnya (belum ada).

Apa yang harus dibangun Bandung sebagai kota kreatif?

Ya, infrastruktur kota harus diperbaiki, diperbanyak galeri seni, dan galeri desain. Ada ruang terbuka, tempat orang mengekspresikan puisi, pameran patung. Perlu banyak ruang terbuka. Kedua, memotivasi industri ini dengan kredit dari bank yang mudah didapat. Juga perlu ada satu tempat khusus. Di Inggris pemerintahnya siap ada badannya, creative council, kumpulan profesor yang memberi advice. Kamu butuh pabriknya, ini nih buku kuningnya. Di Thailand sudah ada, namanya Thailand Design Centre. Orang datang ke sana, mau belajar sejarah, mau ke perpustakaan, mau pinjem tempat buat pameran. Kita tidak ada. Idealnya kan ada tempat begitu; duh saya ga punya duit, tapi butuh meeting dengan calon klien saya, ada tempat yang murah. Saya mau cari inspirasi, ada perpustakan. Ah saya mau pameran, ada tempatnya. Nah, kalau bisa pemerintah itu men-support itu dengan satu pusat kreatif, yang ujung-ujungnya menghasilkan ekonomi juga. Di negara lain disediakan. Di kita belum.

Jika dibuat skala persoalan, untuk menuju Bandung kota kreatif itu, mana dulu yang harus diselesaikan?

Persoalan dulu lebih ke politis, disepakati bahwa Bandung kota kreatif oleh pemda dan komunitas. Kalau itu sudah ada, komunitas itu punya legitimasi untuk melobi internasional untuk ke sini, karena klaim kota kreatif ini didukung oleh pemda. Sekarang saya ke Jepang (dan menyatakan) Bandung is very creative city, tapi saya 10 persen tidak pede, karena si pemdanya mungkin tidak 100 persen di belakang saya.

Jadi ini juga adalah upaya agar pemerintah untuk mendukung secara politis?

Melihatnya begini, dunia itu adalah penuh persaingan, itu termasuk kota. Apa yang harus dibawa? Kita ingin menonjolkan Bandung kota kreatif, kan memang kreatif. Indikatornya ada dan menghasilkan uang.***

Tulisan ini bagian dari suplemen Selisik, Pikiran Rakyat, 16 September 2007


Persaingan, Pembajakan, Hingga ”Copy-Paste”

”We are the original one,” ujar Fiki C. Satari, Direktur Airplane sekaligus ketua KICK (Kreative Independent Clothing Kommunity) yang merupakan organisasi pengusaha clothing Bandung yang berdiri tahun 2006. Potensi usaha clothing mulai dilirik oleh pemerintah daerah sebagai sumber pendapatan daerah. Pencanangan pondasi ekonomi kreatif Jawa Barat tahun 2008-2012, diakui Fiki memberi dampak pengakuan terhadap para pelaku industri clothing dan menempatkan sektor ini sebagai salah satu primadona andalan dalam pengembangan pondasi ekonomi kreatif Bandung.


Namun jika ditelisik lebih jauh, perkembangan beberapa sektor industri kreatif di Bandung bukan tanpa masalah. Persoalan yang dihadapi oleh para pelakunya seperti gunung es. Sektor industri fashion misalnya. Selama ini perkembangannya masih dilihat secara parsial. Perkembangannya seringkali tidak dilihat secara utuh dari hulu ke hilir, sebagai satu siklus perkembangan yang saling terkait.


Sebagai contoh, industri clothing Bandung atau lebih dikenal sebagai distro yang merupakan bagian dari industri fashion ini secara keseluruhan, berkembang secara sporadis. Sebagian distro yang muncul dimulai dari aktivitas kultural yang menjadi gaya hidup anak muda Bandung, kemudian melahirkan produk-produk penunjang aktivitas tersebut untuk komunitasnya sendiri. Namun lambat laun, saat produk-produk tersebut dapat diserap oleh pasar, pelaku-pelaku baru bermunculan dengan motivasi bisnis dan kesiapan modal yang lebih jelas. Hal ini menimbulkan banyak ketegangan saat memperebutkan pasar yang sama.


”Selama ini banyak pengusaha yang besar-besar, bikin clothing juga, ini kan bisa bikin pasar jadi jenuh dan mereka mampu membuat mass product secara kuantitas, itu kan bisa bikin pasar jenuh. Masalah kayak gitu yang kita hadapi sehari-hari,” Fiki menambahkan.


Pada mulanya, usaha clothing yang berkembang di kalangan anak muda ini, memang tidak memperhitungan ekspansi pasar melalui kuantitas produk yang besar. Mereka memilih mempertahankan ekslusivitas produk, melalui jumlah produk yang terbatas dan tawaran desain yang beragam. Namun, ketika masuk pada wilayah industri dengan persaingan pasar yang cukup ketat, mereka bersaing dengan pemain-pemain besar dengan modal yang jauh lebih besar. ”Padahal kalau kita bicara industri, kita berada di sektor yang sama,” tambah Fiki.


Kesenjangan pun dirasakan di tingkat vendor produksi clothing. Pada mulanya, produksi clothing ini dilakukan oleh lingkaran teman-teman sendiri. Namun ketika industrinya mulai berjalan, terjadi kesenjangan antara vendor produksi dan distro itu sendiri. Eka Permadi, salah satu vendor produksi untuk beberapa distro di Bandung menjelaskan, bahwa selisih margin keuntungan bisa sangat jauh. ”Kita ditekan untuk tidak lebih dari 20 persen, sementara distro bisa ambil untung sampai 300 persen.”


Hal ini dibenarkan Fiki, ”yang 200 persen itu harga kreativitasnya, harga desain, promosi, dan kemasan.”

Eka memaparkan bahwa persoalan yang yang sering dihadapi oleh vendor produksi seperti dirinya adalah perputaran uang yang lambat. Hal ini karena distro melakukan pembayaran mundur dan harga produksi yang ditekan serendah mungkin. ”Semua bahan baku selama ini masih impor dan harganya enggak stabil. Otomatis itu kan berpengaruh pada pada biaya produksi. Sementara sistem pembayaran dari klien distro, pakai giro dan bisa mundur sampai 3 bulan, kita yang pusing memutar modal untuk memenuhi pesanan itu. Akhirnya saya enggak bisa terima semua pesanan,” jelas Eka.


Tidak adanya standardisasi harga di antara sesama vendor produksi, membuat persaingan menjadi tidak sehat. Setiap vendor bisa menentukan sendiri harga mereka sesuai dengan kekuatan modal yang mereka miliki. Pabrik atau distributor bahan baku, tentunya akan mampu membeli bahan dalam jumlah yang lebih banyak. Sementara vendor produksi skala kecil yang tidak mampu membeli bahan lebih banyak, akan mendapat harga bahan yang jauh lebih mahal. Padahal harga jual kepada distro, baik pemodal kecil dan besar dituntut untuk bisa serendah mungkin.


Ketidakjelasan aturan pemerintah dalam pengembangan sektor usaha kecil dan menengah ini, membuat para pelakuknya harus mencari caranya sendiri untuk bertahan hidup. ”Makanya banyak terjadi jual beli PO (surat pesanan) dari klien, karena vendor tidak punya cukup modal untuk memenuhi pesanan klien. Margin keuntungan yang kecil itu, akhirnya mau enggak mau harus dibagi lagi dengan pembeli PO yang menalangi modal pesanan klien,” ungkap Eka.

Selain itu, margin keuntungan yang tipis tersebut, membuat para pekerja di vendor produksi ini, masih jauh dari upah yang layak. Sistem kerja yang kemudian diterapkan adalah borongan di mana pekerja dituntut bekerja siang malam untuk memenuhi pesanan klien. ”Jangankan asuransi kesehatan, bisa bayar gaji karyawan setiap bulan dengan lancar saja, sudah Alhamdulillah,” jelas Eka.

Persoalan lain yang seringkali mengemuka adalah pembajakan dan penjiplakan desain. Sebagai vendor produksi, Eka mengakui dirinya seringkali merasa serbasalah, saat ada kliennya yang memesan padanya, dengan desain yang sama persis dengan kliennya yang lain. ”Mau ditolak harus mengejar setoran, mau diterima enggak enak sama klien yang lain, akhirnya saya bersikap sebagai produsen saja dan enggak bertanggung jawab pada materi yang dipesan,” jelas Eka.


Fiki juga mengaku bahwa kini produknya juga dijiplak dan diproduksi dengan harga murah. ”Tapi saya sudah punya bukti-buktinya, dan mau mencoba memproses lewat jalur hukum, tapi saya sadar sih, prosesnya akan panjang,” kata Fiki.


Masalah pembajakan ini diakui pula oleh Andry Moch yang lebih suka menyebut dirinya kuli visual di label dan distro Firebolt. ”Banyak juga desainer clothing di sini yang asal comot dari internet terus tinggal dikasih merek sendiri. Memang kelihatan sih, mana distro yang desainnya matang, mana yang enggak. Ada juga yang membajak dari sesama distro,” papar Andry.


Sebagai desainer clothing, Andry termasuk yang mendapat gaji bulanan. Dilabel tempat dia bekerja, sebulan target rata-rata 30 desain yang harus di hasilkannya. Untuk itu ia mendapat gaji 1,7 juta per bulan. ”Tapi rata-rata harga per desain yang berlaku Rp 50.000,00 per desain, itu tuh, mau tiap desain dibikin 1 kaos, atau 1 juta kaos, harganya sama Rp 50.000,00. Pengennya sih ada sistem royalti, misalnya untuk setiap desain kalau dia bisa terjual melebihi jumlah tertentu, desainernya dapat royalti dari situ, tapi belum ada sih distro yang menerapkan itu”. (Tarlen Handayani)***

Tulisan ini bagian dari suplemen, Selisik, Pikiran Rakyat, 16 September 2007

Kreativitas Sebaiknya tak Distrukturkan

SUDAH setahun terakhir, Center for Innovation, Enterpreneurship & Leadership (CIEL) yang merupakan bagian dari Sekolah Bisnis Manajemen ITB, melakukan pemetaan terhadap industri kreatif. Lembaga ini bekerja sama dengan Deperindag Provinsi Jawa Barat untuk merancang stategi pengembangan industri kreatif di Jawa Barat.


”Kalau melihat karakter secara umum dari usaha kecil ini, sebenarnya kan lebih ke bagaimana mereka survive, bagaimana hidup hari ini sehingga tidak banyak pengembangan dari sisi kreativitasnya dalam rangka mengembangkan produk-produk yang unik dan bisnisnya,” tambah Direktur CIEL, Dwi Larso.


Salah satu upaya yang dilakukan CIEL dalam mengatasi persoalan mendasar ini adalah menggagas pusat pengembangan desain untuk membantu para pelaku industri kecil mengembangkan produk-produknya. ”Cuma yang masih belum jelas metodenya adalah bagaimana transfer pengetahuannya kepada para pelaku ini,” ungkap Dwi Larso.


Bagian Research dan Services CIEL, Leo Aldianto memandang ada dua kondisi berbeda dalam bidang ini. ”Apa yang kita teliti belakangan ini justru ekstrem satunya, yaitu industri yang dikembangkan oleh anak-anak muda Bandung yang justru tidak kekurangan kreativitasnya, semangat itu yang kita lihat dari anak-anak muda itu,” ujarnya.


Dwi Larso juga menambahkan, ”Untuk teman-teman yang indie ini kalau menurut saya tidak perlu direcoki. Tinggal bagaimana memikirkan caranya bersinergi apa yang bisa saling membantu, tapi kalau kreativitasnya jangan sampai distrukturkan, karena begitu distrukturkan nanti akan repot.”


”Sebenarnya untuk kondisi Bandung saya tidak ragu. Karena yang penting adalah bagaimana para pelaku-pelaku ini terkait dan pemerintah bisa memberikan keleluasaan untuk ruang gerak mereka juga,” kata Dwi Larso. ”Yang tidak kalah penting juga, bagaimana kreativitas itu dipertahankan, karena faktor-faktor seperti manajemen itu sebenarnya mengikuti. Manajemen diperlukan ketika usaha itu akan dikembangkan,” tambah Dwi.


Berdasarkan pengukuran daya saing Jawa Barat yang dilakukan oleh CIEL SBM-Institut Teknologi Bandung (ITB), bekerja sama dengan Dinas Perindag Jabar dan Senada-USAID 2006, ternyata peringkat daya saing Provinsi Jabar (bila menjadi sebuah negara tersendiri) berada di urutan ke-85 dari 118 negara.


Indonesia saja yang dirasa tingkat korupsinya masih tinggi, daya saingnya berdasarkan WEF ada di urutan ke-50 dari 125 negara. Bila melihat ”negara” Provinsi Jawa Barat yang berada di urutan 85, menunjukkan betapa tidak kompetitifnya iklim usaha di Jabar. Karena itu studi ini dirancang untuk mengambil foto atas kondisi daya saing Jabar.


Hal yang menurut Leo Aldianto perlu disepakati bersama dalam pengembangan industri kreatif ini adalah kreativitas sebagai modal utamanya. ”Kreativitas ini penting kalau kita mau bersaing dengan negara-negara yang sudah lebih dulu bergerak di industri kreatif. Berapa jauh kita harus menyusul kalau kita ingin bersaing di bidang teknologi, rasanya masih jauh. Tapi kalau bersaing dalam hal seni atau kerajinan, Asia atau Indonesia kan punya kekuatan itu, jadi sekarang ini kesempatan bagi kita untuk bisa menunjukkan kekuatan itu.” (Tarlen Handayani)***

tulisan ini bagian dari suplemen Selisik, Pikiran Rakyat, 16 september 2007

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails