Tuesday, November 14, 2006

That's Why I Like You...!

picture by ross halfin

Ngikutin pembuka tulisan Hagi Hagoromo di edisi sebelumnya, saya juga mau bilang, kalau jadi penggemar sebuah band bukanlah hal yang kelihatannya mudah. Kenapa saya bilang gitu? proses menyukai sebuah band hingga bisa jadi fan-nya selama bertahun-tahun, ternyata butuh komitmen dan kepercayaan, persis kaya orang pacaran. Berlebihan kah saya? mungkin. Bagi saya, ketika saya menggemari sesuatu, seringkali saya harus kenal seperti apa yang saya gemari itu. Bukan cuma musiknya, seringkali attitude malah jadi faktor yang cukup penting bagi saya untuk memutuskan, terus menyukainya, atau ya sudahlah, mereka tak ada bedanya dengan band-band lain yang terkena rockstar syndrome.

Saya mau cerita tentang rasa suka saya pada Pearl Jam. Band asal Seattle di era 90-an yang sampai saat ini, mereka jadi last band standing untuk generasinya. Sama seperti kebanyakan anak SMU yang hidup di tahun 1990-an, saya juga terkena demam grunge. Waktu itu saya lebih dulu menyukai Red Hot Chili Pepers, karena kegilaan mereka dalam bersikap (selain itu John Frusciante muda.. siapa sih yang ga suka sama dia ? :D). Ketika era grunge muncul, kisah hidup Kurt Cobain mengundang simpati saya, selain musiknya yang juga mewakili fase psikologis saya pada jaman SMU yang sering marah-marah ga jelas. Namun, saya kecewa berat, saat Kurt Cobain bunuh diri. Bagi saya keputusan Kurt Cobain untuk bunuh diri, tidak memberi inspirasi yang tepat, ketika sebagai fans, pada saat itu, lebih membutuhkan ‘spoke person’ untuk bisa mewakili apa yang saya dan mungkin jutaan fans nya rasakan. Lalu, Eddie Vedder dengan sepenggal kisah hidupnya dalam salah satu hits mereka, Alive, menggugah saya kemudian. Mengobati kekecewaan saya atas kehilangan figur Kurt Cobain.

Saya seringkali berpikir, sebenarnya, mana yang lebih menggugah saya sebagai fan, bagaimana Pearl Jam bermusik? atau bagaimana kisah hidup di balik proses bermusiknya? Saya kira untuk Pearl Jam, dua-duanya menjadi penting. Seringkali saya lebih menunggu kejutan apalagi dari Pearl Jam sebagai band yang pernah dijuluki The Most Elusive Band in The World (band paling susah di mengerti). Sebagai fan ternyata saya juga ga bisa dengan mudah begitu saja menerima keputusan mereka ketika menentang Ticket Master yang menurut mereka, menjual tiket dengan harga yang terlalu mahal untuk fans mereka. Hey, sebagai fan sebenernya, berapapun harga tiket konser yang mereka jual, tentunya dengan sukarela kami pasti akan membelinya. Setelah tiga album hits (Ten, Versus, Vitalogy), Pearl Jam mengeluarkan album yang membuat mereka ditinggalkan banyak sekali penggemarnya. Dan bagi saya, album No Code (album ke 4 pearl jam), adalah album paling sulit diterima, kerena secara musik mereka berubah drastis. Bukan hanya itu. Mereka pun memutuskan, menutup diri pada media, tidak mau membuat video klip, sampai-sampai penjualan album mereka hanya 500 ribuan keping saja di seluruh dunia. Saya ga bermaksud membahas kenapa No Code yang secara musikal lebih kontemplatif dan kemarahan Vedder di album-album sebelumnya tak terdengar di sini. Yang menarik bagi saya, sebagai penggemar, saya kemudian dipaksa oleh PJ, untuk menerima kenyataan bahwa sebagai manusia biasa mereka juga berubah.

Selama ini, sebagai fan, PJ adalah ilusi buat saya. Saya mengenal PJ lewat karya-karyanya, karena itu saya punya kebebasan berimajinasi, berfantasi, berilusi tentang mereka. Sehingga yang saya sukai kemudian adalah imajinasi saya tentang PJ. Sebagai fan pula, saya seringkali otoriter, hanya mau menerima image mereka yang sesuai dengan yang saya inginkan, selain itu saya ga mau menerimanya. Buruk-buruknya saya akan meninggalkan mereka, ketika mereka berubah tidak seperti yang saya inginkan. Dengan kejam, saya bisa bilang, mereka udah ga asyik..eddie vedder pun udah tampak tua dan gemuk. tidak se ganteng dan se keren dulu. Ketka imajinasi tentang mereka di hancurkan oleh kenyataan bahwa mereka pun tumbuh dan senantiasa berproses dan berubah, sebagai fan rasanya saya sulit menerima itu.

Muncul pertanyaan dalam diri saya, bagaimana caranya tumbuh dan berkembang bersama band yang kita kagumi? Apakah dengan mengimitasi apapun yang mereka lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari? Bagaimana caranya menjalin pemahaman satu arah yang sehat antara kita dan band atau sosok idola kita? Bagaimanapun ada jarak yang yang sangat besar antara saya dan PJ. Saya tak pernah kenal mereka secara langsung, jika saya menganggap mereka teman, itu adalah pertemanan yang imajiner. Pertemanan terabsurd yang pernah dijalani. Mereka bisa mempengaruhi bahkan merubah hidup saya, tapi hidup mereka mungkin tak pernah saya pengaruhi. Ini seperti kepakan sayap kupu-kupu di Afrika, bisa menimbulkan badai di Alaska. Hubungan saling mempengaruhi yang seringkali sulit diterima oleh rasio.

Kebutuhan dasar manusia yang membutuhkan role model untuk mengisi kehidupannya, nampaknya bisa menjawab pertanyaan saya tadi. Ketika role model itu tak bisa kita dapatkan dari orang-orang yang kita kenal dekat, kita biasanya mencarinya dari orang lain yang bahkan jauh dari kita atau tidak kita kenal sama sekali. Karena manusia senantiasa mendambakan kesempurnaan yang mustahil. Untuk itu, ilusi-ilusi tentang kesempurnaan, mengisi sebagian besar imajinasi manusia. Musik dengan segala kekuatannya menjadi pengantar yang juga ‘sempurna’ untuk mengantarkan manusia membangun ilusi kesempurnaan itu. Lalu musisi dengan karya dan solah tingkahnya, seolah-olah menjadi seperti dewa yang menyebarkan gambaran tentang kesempurnaan itu. Seperti sebuah bayangan yang ketika di dekati ternyata sosoknya tidak sebesar wujud aslinya.

Bagi saya kemudian, attitude ketika mengemari sebuah band_seperti PJ_menjadi penting. Attitude lah yang kemudian membuat PJ bukan sekedar imajinasi yang saya bayangkan tentang mereka. Attitude membuat PJ tak lagi seperti dewa yang terlihat jauh lebih hebat dari wujud aslinya. Seperti layaknya pertemanan, ‘Pertemanan imajiner’ saya dengan merekapun, mengalami pasang surut. Adakalanya saya sepakat dengan mereka dan kadang saya tidak sepakat sama sekali. Proses seperti itulah yang kemudian membuat saya merasa bisa menyukai Pearl Jam dengan lebih sehat. Rasa suka dan kekaguman yang tetap didasari oleh sikap kritis terhadap karya mereka. Bukan rasa suka dan kekaguman buta yang justru membuat mereka terkurung dalam menara gading ketenarannya yang membuat mereka tak berani keluar dari batasan-batasa mereka dalam berkarya. Tentunya rasa suka saya terhadap Pj, membuat saya senantiasa berharap mereka bisa menghasilkan karya yang lebih baik. Menjadi penggemar yang baik, saya kira juga berarti, bisa memberikan kontribusi pada perubahan mereka terhadap karya yang lebih baik. Tidak menjadikan mereka dewa yang terbebas dari kesalahan dan mengkritisi mereka dengan semangat pertemanan, bisa membuat hubungan idola dan penggemarnya bisa mutualisme dan saling mempengaruhi. Dan seperti layaknya pertemananyang memancarkan pengaruh positiflah yang layak dipertahankan sebagai teman.

tulisan ini buat majalah encore

Sunday, November 12, 2006

Tenjojaya for The First Time

Tenjojaya diliat dari rumah ibu Rum, photo by tarlen

Ini adalah observasi lapangan pertama, yang saya lakukan untuk kepentingan penelitian justice for the poor. Observasi ini bertujuan untuk mencari kejelasan kasus perceraian ibu Rum di daerah Tenjojaya, Sukabumi. Selain itu, moment rapat koordinasi para koordinator lapangan dari 4 daerah PEKKA (Sukabumi, Cianjur, Subang dan Karawang), menjadi moment berharga bagi saya untuk mengerti dan memahami lebih jauh lagi kerja para PL PEKKA di wilayah binaan mereka masing-masing.

Perjalanan menuju Ds Cibadak, tempat Mipna, PL PEKKA wilayah Sukabumi, bagi saya jadi perjalanan yang cukup panjang. Berangkat dari terminal Leuwi Panjang, Bandung Pk. 15.00, saya harus mampir ke Cianjur terlebih dahulu, karena harus bertemu Oemi, PL PEKKA wilayah Cianjur. Dari Cianjur barulah melanjutkan perjalanan ke Cibadak, Sukabumi. Alhasil, sampai di Cibadak hampir Pk. 22.30. Perjalanan yang melelahkan. Sampai kosan Mipna,, para PL PEKKA, langsung melakukan rapat koordinasi, dengan balutan piyama mereka masing-masing. Rupanya, saya tak bisa lama-lama jadi pendengar, karena kecapean, saya langsung pulas tertidur.

Namun beberapa persoalan dilapangan dari para PL di wilayah masing-masing, menyangkut persoalan bagaimana ibu-ibu yang menjadi kader hukum itu mengorganisasi diri. Intrik dan karakter personal, serta minimnya pemahaman isu dan pengalaman beroganisasi menjadi kendala yang yang seringkali harus dihadapi oleh para PL PEKKA di wilayah mereka masing-masing. Misalnya: kurangnya pehamanan tentang makna dan arti korupsi, membuat beberapa ibu tidak sadar, bahwa dalam skala dan tingkat tertentu ketika mereka mencantumkan nama fiktif untuk mengakses bantuan beasiswa sekolah, itu juga bisa dikategorikan sebagai tindak korupsi. Selama ini, beberapa ibu mengira, itu adalah hal yang biasa dan wajar, karena mereka juga melihat praktek tersebut terjadi pada tingkatan yang lebih tinggi, penglelola desa misalnya. Karena itu, tantangan besar yang dihadapi PL PEKKA di lapangan adalah bagaimana melahirkan inisiatif dalam pengorganisian kelompok dengan meminimalisir intervensi PEKKA, sebisa mungkin. Biarkan masyarakat mengatur dirinya sendiri.

Bangun keesokan harinya, ternyata rakor masih berlanjut. Mipna, mengkontak salah satu kader hukum, teh Wita untuk mengantar saya ke Tenjojaya, ke tempat Ibu Rum. Memakan waktu kira-kira 30 menit untuk sampai ke Tenjojaya. Perjalanan dilakukan dengan menggunakan angkot dan ojeg. Jalan menuju rumah Ibu Rum, sungguh luar biasa jelek. Menurut pengakuan tukang ojeg, jalanan yang mereka lalui setiap hari untuk mencari nafkah, membuat sepeda motor yang mereka gunakan bertahan enam bulan saja, setelah itu, mereka harus mengganti onderdil motor yang rusak karena karena kondisi jalanan yang begitu parah.

Ds. Tenjojaya bukan desa seperti di lukisan Mooi Indie, yang hijau gemah ripah loh jinawi. Tenjojaya terasa gersang. Saya tidak melihat ataupun merasakan sesuatu yang ‘jaya’ di desa ini. Gersangnya pegunungan kapur yang melingkupi desa ini, kental terasa, sampai ke debu jalanan yang mengepul ketika ojeg melewatinya. Desa Jembatan kayu menghubungkan Ds. Tenjojaya yang di pisahkan oleh sungai besar yang pada saat itu, batu-batu di dasar sungai terlihat jelas, karena volume air menyusut drastis disaat hujan yang tak kunjung turun selama beberapa bulan terakhir.

Sesampai di tempat Ibu Rum, ternyata yang bersangkutan tidak ada di rumah, sedang pergi ke ladang. Untungnya teh Wita, di pesan oleh Mipna, ‘Jika Ibu Rum tak ada di rumah, maka carilah ibu Ayi.’ Akhirnya, kami pergi ke rumah ibu Ayi. Bu Ayi ada di rumah. Anaknya yang belakangan kami tau, masih duduk di kelas 3 SMEA, membukakan pintu. Tak lama, perempuan yang saya taksir usianya belum empat puluh tahun, berperawakan langsing, berambut pendek dan berkulit gelap, muncul menyambut kami. Meski terlihat sederhana, namun perempuan yang dipanggil Ibu Ayi, terlihat rapi dan berdandan, terlihat dari lipstik merah menyala yang menghiasi bibirnya.

Ibu Ayi sudah 3 tahun bergabung di PEKKA. Ia punya dua anak. Yang paling besar kelas 3 SMEA dan sedang Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Bogor. Sedangkan anak bungsunya selepas SMP tidak melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya.. Di bandingkan dengan rumah ibu rum yang nampak belum selesai di bangun, rumah ibu Ayi lebih layak. Dengan lantai kramik putih, rumahnya terlihat lebih mencolok di bandingkan dengan rumah-rumah lain disekitarnya.

Saya memperkenalkan diri, sebagai periset yang akan melakukan penelitian untuk kasus ibu Rum. Ternyata ibu Ayi sudah mengetahuinya, karena mba Hanna telah terlebih dulu berkunjung. kurang lebih 30 menit berbincang, ibu Rum muncul di rumah ibu Ayi, sekembalinya dari ladang. Saya memperkenalkan diri kepada ibu Rum. Perbincangan kami pada perkenalan pertama ini, berkisar pada kisah saudara Ibu Ayi yang melakukan kawin kontrak. Bahkan ibu Ayi pun sempat ditawari, ‘timbang luntang-lantung, lumayan 5jt seminggu mah..’ begitu kata bu Ayi menirukan bujukan sodaranya. Menurut Ibu Ayi, sodaranya ini cukup sukses dengan kehidupan kawin kontraknya. Standar kesuksesannya, menurut ibu Ayi bisa dilihat dari ‘rumah arab’ yang dimiliki oleh sodaranya itu. Ketika diminta menjelaskan apa yang dimaksud dengan rumah arab, ibu Ayi menjelaskan ‘Iya modelnya kaya rumah-rumah di arab. Barang-barangnya mewah.’ Di benak saya langsung terbayang, gaya bling-bling serba emas dan glamor tipikal rumah-rumah timur tengah yang banyak saya saksikan di film-film.

Ternyata tawaran kawin kontrak juga dialami ibu Rum. Namun baik ibu Ayi maupun ibu Rum, ketakutan dengan tawaran itu. Karena mereka juga banyak mendengar kisah-kisah gagal dari sebuah kawin kontrak. Lagi pula untuk melakukan kawin kontrak, orang-orang Arab yang mencari istri kontrakan itu, tidak mau sembarangan juga. Mereka menuntut calon istri kontrakannya harus menjalani tes kesehatan dan bentuk fisik serta penampilanpun sangat menentukan kriteria istri kontrakan.
Dari persoalan kawin kontrak, pembicaraan beralih ke masalah persoalan perceraian yang dialami ibu Rum. ada perubahan mimik muka Ibu Rum. Perasaan sakit dari perceraian itu, masih tergambar jelas di . Saya sengaja tidak memancing lebih jauh mengenai persoalan itu. Saya kira akan lebih baik, masalah itu digali pada pertemuan berikutnya yang dimana hanya saya dan ibu Rum saja yang berbincang. Ibu Rum sempat menjelaskan proses perceraian yang dilakukannya memakan waktu sampai 3 bulan, untuk 10 kali sidang perceraian. Dengan waktu yang cukup lama itu, Ibu Rum tetap tidak mendapatkan apa yang disebut surat janda. Ibu Rum sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan surat itu tidak dia dapatkan. Karena itu, hingga kini, suaminya belum bisa menikah lagi dengan kekasih barunya. Di satu sisi, ibu Rum merasa cukup beruntung, karena suaminya masih mau membiayai dirinya dan anaknya.

Menurut keterangan ibu Rum dan ibu Ayi, hampir 75 % laki-laki di desa Tenjojaya bekerja di Jakarta. Sisanya menjadi buruh tani dan buruh pemecah batu. Sedangkan perempuannya yang bisa mendapatkan pendidikan sampai SMU, biasanya bekerja di pabrik garmen yang ada di sekitar Tenjojaya. Sedangkan yang mengenyam pendidikan sampai SMP, biasanya menjadi pembantu rumah tangga.

Hampir satu jam saya dan teh Wita mengunjungi ibu Rum dan ibu Ayi. Saya berjanji akan mengunjungi Ibu Rum setelah lebaran ini. Kunjungan berlanjut dari Ds. Tenjojaya ke Ds. Warnajati di tempat tinggal teh Wita. Meski tak ada kasus yang di teliti, bagi saya, menarik untuk melihat tempat lain. Ds. Warnajati terletak bersebelahan dengan PT. Perkebunana Nusantara VIII Sukamaju yang dulunya merupakan perkebunan karet, dan kini berubah menjadi perkebunan sawit.

Menurut teh Wita, karakter orang-orang di desanya, lebih tertutup. Padahal banyak pula kasus KDRT yang tidak terangkat ke permukaan karena yang bersangkutan tidak ingin memperkarakan hal itu. Di bandingkan dengan Ibu Ayi dan Ibu Rum, teh Wita mengaku tidak nyaman dengan pembicaraan tentang kawin kontrak. Dari pengakuannya, teh Wita tidak terbiasa memperbincangkan hal-hal seperti itu disecara terbuka.

Kunjungan saya yang pertama ke Ds. Tenjojaya, lumayan memberi gambaran tentang situasi kasus yang akan saya gali lebih jauh.

19 & 20 Oktober 2006

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails