Sunday, September 17, 2006

Katanya, "Life Begin at Forty!"



Kata banyak orang, laki-laki baru mulai merasa hidup ketika masuk usia 40. Mmm.. benarkah? Ketertarikanku pada laki-laki 40 tahun ke atas, membuatku membuka-buka apa yang ditulis Elizabeth B. Hurlock dalam buku Psikolologi Perkembangan. Bukan sok mau membuktikan anggapan banyak orang itu secara ilmiah. Buatku sangat menarik untuk mencocokan hasil metode ilmiahnya Hurlock, dengan apa yang diamati dan dirasakan langsung dampaknya olehku. Siapa tau, beberapa teman yang terlalu over estimate, menilaiku expert dalam hal omonology, ternyata salah menilai. Bisa jadi aku yang ominizer pemula ini, terlalu cepat mengambil kesimpulan. Karena itu, aku sendiri lagi belajar menyelami psikologi usia 40-50an ini. Hehehe mungkin karena terlalu intens ngikutin Tony Soprano, padahal.......

Kalau mau lebih ilmiah, Hurlock menyebut usia 40-50 dengan sebutan usia madya dini. Dan aku akan mulai mempelajari dan memahaminya dari ciri-ciri stres yang mereka alami dalam kategori usia madya dini ini. Ada empat kategori stres: pertama, Stres Somatik, disebabkan oleh keadaan jasmani yang menunjukkan usia tua. Kedua, Stres Budaya, yang berasal dari penempatan nilai yang tinggi pada kemudaan, keperkasaan, kesuksesan oleh kelompok budaya tertentu. Ketiga, Stres Ekonomi, yang diakibatkan oleh beban keuangan dari mendidik anak dan memberikan status simbol bagi seluruh anggota keluarga. Keempat, Stres Psikologis, yang mungkin diakibatkan oleh kematian atau perceraian suami atau istri, kepergian anak dari rumah, kebosanan terhadap perkawinan, atau rasa hilangnya masa muda dan mendekati ambang kematian.

Sambil menulis kategori stres tadi, aku jadi teringat pada forty something men yang cukup intens aku amati. Aku ingat, bagaimana mereka mengeluhkan badan yang cape-cape karena udah ga kuat lagi kalo harus begadang tiga hari berturut-turut untuk menyelesaikan pekerjaannya. Juga saat curhat, betapa ga nyamannya ketika kesuksesan yang berhasil diraihnya, malah membuatnya merasa hidup di menara gading, kesepian di tengah keramaian. Kemudian sosoknya menjadi untouchable, dekat tapi jauh. Orang mendekat, bukan karena dirinya, tapi karena kesuksesannya. Padahal dia ingin sekali dikenal sebagai sosok ‘manusia biasanya’ bukan sosoknya yang sukses.

Sementara yang merasa dirinya belum terlalu sukses, selalu dalam kondisi serba salah. Antara being loser atau masih berusaha keras untuk membuktikan sesuatu. Yah, begitulah, hidup didunia yang serba materialistik, tolak ukur kesuksesan seringkali sangat-sangat superfisial. Hal-hal sublim dan sejatinya, seringkali terlupakan. Keadaan seperti ini, diperburuk jika lingkungan sosial pergaulannya memang punya standar kesuksesan yang superfisial itu. Seberapa mahal karya atau desain yang kamu bikin. Apalagi ketika ada dalam posisi kepala keluarga. Beban sosial bahwa kepala keluarga sudah seharusnya memberikan nafkah dan status pada keluarganya, melengkapi syarat untuk mengalami stres budaya.

Masalah duit, seringkali jadi huru hara besar dalam hidup para lelaki usia madya dini. Aku malah pernah diceritai temanku, bahwa tidak sedikit lelaki yang impoten karena gajinya lebih sedikit daripada istrinya. Stres ekonomi ini biasanya emang berhubungan dengan stres budaya. Lagi-lagi dunia yang sedemikian superfisial yang menerapkan standar keberhasilan dari ukuran materi, membuat dua stres ini seperti kembar siam dempet kepala yang sulit dipisahkan. Ketiga kategori stres ini semakin buruk jika sampai menyentuh aspek psikologi. Karena itu berarti krisisnya semakin dalem dan seperti pasir hisap. Seringkali bikin frustasi dan ga tau lagi harus gimana. Salah seorang yang kukenal, sempat mengalami penyakit takut ketinggian. Bahkan naik mobil di jalan layangpun, dia bisa panas dingin. Aku yang sok tau ini ngeliat, bahwa secara psikologis, mungkin kenalanku itu ga siap dengan beban sosial dari kesuksesan dan keterasingannya hidupnya di menara gading. Ketika dalam waktu yang lebih singkat dari orang lain, dia mencapai kesuksesan dalam karirnya. Bukan hanya itu, secara sosialpun dia kemudian dikenal luas. Untungnya, dia orang yang cukup humble dan ga terlalu jaim dalam kesehariannya. Juga karena dia orang yang cukup dernawan dan punya istri yang luar biasa hebat. Karenanya semakin ke sini, aku ngeliat sikapnya dan juga dukungan orang-orang disekitarnya, membantunya mengatasi ketidaksiapannya untuk menikmati kesuksesannya.

Kenalanku yang lain yang bercerai justru diusia madya dini ini, di saat karirnya dan pengakuan sosial justru mulai dia dapatkan. Pekerjaan kemudian jadi satu-satunya pegangan yang bisa membuatnya ‘lupa’ pada kegagalan rumah tangga. Padahal, sampai usia berapa dia akan terus menerus bekerja tak kenal waktu? mungkin dengan kondisi fisik yang dipaksa terus menerus, sepuluh tahun, kurasa udah hebat kalo dia bisa bertahan sampe usia 60 untuk terus bekerja. Saat badan masih merasa kuat, pekerjaan bisa jadi pengalihan luka spiritual dia dari perceraian atau kegagalan rumah tangga. Tapi kebayang ga sih, ketika badan tiba-tiba ngadat dan beneran ga bisa dipake kerja lagi dan luka spiritual lupa untuk disembuhin.. Mmm.. aku ga bisa membayangkan betapa hampa hidupnya.. (makanya jangan lupa istirahat.. nanti sakit :P)

Bayangkan, betapa beratnya hidup para pria usia 40 keatas. Dunia seperti memberinya misi suci yang harus dipenuhi untuk menjadi contoh beginilah manusia yang sukses sempurna itu. Ya kukira ini adalah resiko ketika dunia tempat kita hidup adalah dunia yang maskulin. Dunia yang sengaja secara sosial dikonstruksi dengan sangat semena-mena dan terobsesi pada sosok manusia (baca laki-laki) yang sempurna itu. Sebagai kepala rumah tangga, dia harus bisa membawanya keluarganya dalam gambaran keluarga harmonis dengan karir yang sukses, kematangan psikologis yang memancar, kesehatan prima dan status sosial yang tanpa cacat. Dan sebisa mungkin mendapatkan sosial recognition yang luas alias eksis disegala penjuru. Wow pokoknya jaim selalu.. dengan miris aku bisa bilang: kasian deh lu..

***

Rentang usia ini, kemudian bagi para pria menjadi usia serba salah. Karakteristik yang disebut Hurlock, bisa menjelaskan hal ini. Pertama, Usia madya adalah usia yang paling ditakuti. Mengapa bisa? bukan hanya pria, perempuan pun ketika memasuki usia ini, mereka ga percaya bahwa mereka telah sampai diusia kepala empat. Kerinduan akan masa muda kemudian muncul. Penyesalan-penyesalan atas kesalahan di masa muda mulai bermunculan. Hal-hal yang diinginkan di masa muda dan ga kesampaian, seringkali coba diwujudkan di rentang usia ini.

kedua, Usia madya merupakan masa transisi. Ngga heran usia ini orang seringkali menyebutnya dengan masa puber kedua. Perubahan fisik, untuk pria menurunnya keperkasaan dan perempuan menurunnya tingkat kesuburan, mau ga mau menuntut perubahan perilaku secara ekstrem dan radikal. Beberapa kebiasaan dimasa muda yang menuntut kondisi fisik yang prima, kemudian harus berubah, karena kondisi fisik ga mendukung lagi. Transisi ini juga membawa perubahan psikologis. Gawatnya, dalam konteks pasangan, seringkali masing-masing tidak menyadari perubahan itu. Kenalanku yang lain lagi, pernah mengeluhkan, tiba-tiba ketika bangun tidur, dia merasa sangat-sangat asing pada pasangannya. Dia tau pasangannya telah banyak berubah, hanya saja dia tak menyadari prosesnya. Padahal pasangannya juga menilai dia seperti itu. Tiba-tiba masing-masing menjadi asing satu sama lain, karena masa transisi yang terjadi, dijalani sendiri-sendiri dan tak pernah dibicarakan bersama. Dalam tingkat ini relasi menjadi kehilangan makna. Mereka perlu memaknainya kembali, tapi seringkali tak tau harus seperti apa. Sahabatku dengan besar hati membiarkan suaminya dekat dengan perempuan lain. Ia menyadari pada masa transisi ini, suaminya membutuhkan figur lain yang bisa mengisi kekosongan dan definisi baru baru, yang tidak sepenuhnya bisa dipenuhi oleh sahabatku itu.

Ketiga, Usia madya adalah usia stres. Semua stres yang aku sebutkan sebelumnya, resiko yang harus dihadapi direntang usia ini.

Keempat, Usia madya adalah usia yang berbahaya. Serem ga sih, maap ya bukannya bikin tambah stres, tapi jika stres di rentang usia ini tak bisa dipecahkan atau diantisipasi, resikonya tiba-tiba berbagai penyakit yang bermunculan, paling ekstremnya ya bunuh diri atau yang lebih ringan seperti menjadi alkoholic atau holic yang yang lain (workaholic termasuk loh).

Kelima, Usia madya adalah usia yang canggung. Hurlock bilang, usia ini seperti berdiri di antara generasi yang memberontak yang lenih muda dan generasi warga senior. Mereka secara terus menerus menjadi sorotan karena mau tidak mau harus menanggung perilaku memalukan dan negatif dua generasi di antaranya itu. Karenanya kecenderungan menjadi konservatif dalam berpakaian dan selera, menjadi pilihan yang aman bagi mereka. Disatu sisi mereka menghindari sorotan sosial, tapi disisi lain, kebutuhan untuk mendapat pengakuan sosial, memposisikan mereka dalam situasi yang serba canggung.

Keenam, Usia madya adalah masa berprestasi. Aku banyak ketemu ‘bapak-bapak’ yang galau di usia 40-50an gitu karena merasa dirinya belum melakukan pencapaian apa-apa. Karir udah mentok, prestasi sulit dikejar, sementara fisik dan mental udah ga lagi muda. Semangat mulai menurun yang muncul kemudian perasaan gagal. Perasaan gagal karena ga bisa jadi sosok yang ideal yang bisa dibanggakan oleh keluarga dan anak-anak karena prestasinya. Sementara yang berhasil mencapai jenjang karir tertinggi dan prestasi yang membuatnya mendapatkan social recognition, seringkali juga lupa kalo prestasi itu ga selamanya ada dalam genggaman. Makanya, selain usia madya adalah masa berprestasi, di rentang usia ini, pendewasaan yang sesungguhnya juga terjadi. Apakah nanti setelah masa pensiun tiba, dia akan jadi sosok yang merasa diri pecundang, atau mengalami post power syndrome. Prestasi di rentang usia ini juga perlu diikuti dengan pencapaian tujuan hidup yang sesungguhnya.

Ketujuh, Usia madya adalah masa evaluasi. Proses pendewasaan ga pernah lepas dari evaluasi. Tapi dalam rentang usia ini, evaluasinya jadi evaluasi yang paling dalem, paling klimaks. Karena usia ini adalah masa yang paling menentukan seperti apa hidup seseorang akan berakhir. Dan di rentang usia inilah, sesorang kemudian dituntut untuk jujur pada dirinya sendiri. Melepaskan semua penyangkalan-penyangkalan, selama kurang lebih empat puluh tahun hidup di dunia. Mmm.. kedengerannya kaya harus mengaku dosa ya..? mungkin memang begitu. Mungkin lebih tepatnya berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri berarti juga, memaafkan banyak hal yang seharusnya di maafkan. Bisa berhubungan dengan orang lain maupun diri sendiri. Bahkan berdamai dengan kegagalan-kegagalan dan semua hal yang menyebabkan luka-luka dalam kehidupan seseorang.

Kedelapan, Usia madya dievaluasi dengan standar ganda. Memang, gimana rentang usia ini ga akan memancancarkan daya tarik kematangan yang luar biasa. Secara proses psikologis yang membentuk karakter seseorang di usia ini sungguh-sungguh berat. Bukan cuma tuntutan untuk mengevaluasi diri sendiri oleh diri sendiri, tapi lingkungan sosial tentunya ga mau ketinggalan untuk melakukan evaluasi. Bayangkan ya.. tuntutan berprestasi harus dipenuhi, tuntutan untuk menjadi dewasa sepenuhnya harus dipenuhi, tuntutan untuk jadi role model di lingkungan sosialnya juga harus dipenuhi, tuntutan menjadi figur ideal kepala keluarga harus dipenuhi. Gila ternyata jadi om-om teh susah ya.. Makanya sekalinya lulus evaluasi, mereka akan meletek seperti dunian mateng di pohon.. nyam nyam... hahahaha..

Kesembilan, Usia madya merupakan masa sepi. Pasti ga kaget dong dengan istilah om-om atau tante-tante kesepian. Gimana ga sepi, di rentang usia ini biasanya anak-anak mereka udah mulai tumbuh remaja dan punya kehidupan masing-masing. Fokus perhatian yang tadinya untuk ngurusin anak-anak, tiba-tiba hilang. Suami yang sibuk, biasanya menjadikan pekerjaan sebagai gua untuk menyembunyikan diri dari proses adaptasi keluarga yang berubah. Sementara istri yang biasa sibuk dengan urusan rumah tangga dan anak-anak, seperti kehilangan pegangan. Perubahan dan masa adaptasi seperti ini, seringkali menimbulkan perasaan kesepian yang dalam. Karena tiba-tiba, anak-anak yang biasanya jadi center, sekarang seperti terlepas dari orang tuanya. Keluarga kemudian harus menemukan orientasi baru, bukan hanya adaptasi dalam tingkat keluarga, dalam tingkat individupun masing-masing sedang menjalani proses adaptasinya sendiri, dan rasa sepi muncul ketika tiba-tiba masing-masing merasa tidak lagi memahami satu sama lain. Kehilangan orientasi bersama. Karena itu, dalam rentang usia ini, perceraian dan kehadiran orang ketiga yang bisa mengisi kesepian itu sangat mungkin terjadi.

Kesepulun, Usia madya merupakan masa jenuh. Rasa sepi yang tak teratasi seringkali menimbulkan kejenuhan dalam hidup. Karena perasaan yang muncul kemudian adalah hidup seperti berhenti. Stuck di satu titik. Perkawinan terasa membosankan. Pekerjaan tidak memberikan sesuatu yang mencerahkan. Persoalan-persoalan kehidupan seperti menemukan jalan buntu. Kehidupan seperti berada di titik nadir. Jika kondisi seperti ini tak dapat di atasi, kondisi yang paling buruk adalah keinginan untuk bunuh diri kemudian muncul. Namun jika semangat hidup masih sangat tinggi, sebenernya inilah saat yang tepat untuk putar haluan dan menentukan arah hidup yang baru. Rebut kembali hidup yang hilang kerena pekerjaan, keluarga, tuntutan dan beban sosial. Beri diri sendiri waktu dan penuhi keinginan abadi yang selama ini dipendam dan diredam. Perubahan besar dalam hidup, inilah saatnya. Take back your life. Everyday is a festive. Kejenuhan seringkali muncul manakala, kita melupakan hal-hal yang esensial dari aktivitas keseharian kita. Jadi ya jangan biarkan titik nadir berakhir dengan kemungkinan terburuk: bunuh diri.

Yeah Yeah Yeah....! Jadi gimana, masih berminat mengambil resiko mencintai pria-pria dimasa-masa krisis ini? Kematangan mereka yang menggiurkan itu, ternyata dihasilkan dari proses panjang dan berat yang harus mereka jalani loh.. jadi ya apakah kita tetap memutuskan mendampinginya menjalani proses itu? Mmm... Yeahh...(maksudnya maju terus pantang mundur)!!!

sumber: Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Elizabeth B. Hurlock, Edisi Kelima

untuk melengkapi tulisan paling sok tau ini, aku nemu link yang ditulis oleh oleh pria 40-an.. jadi bisa lebih akurat dan otentik... A Man of Forty
Oleh: John Schoneboom

7 comments:

moro said...

wah.. menyentuh.. sebagai manusia almost 40, tulisan ini membuat mata saya terbuka, saya akan menjalani hidup dengan lebih benar, di jalanNya..
terimakasih tarlen.. kau sudah membuka mata hati saya yang selama ini terselubungi kabut duniawi yang begitu semu

vitarlenology said...

gubrakkkkk pisan mor... ieu nya akibat singsireumeun hate teh... wakakakakak....

hijau said...

mmmm... 40. Scary number. Terutama untuk jomblo seperti aku.

Salam kenal

moro said...

wehehe.. btw, makasih udah membuat figur pria 40an terlihat dramatis, romantis dan sedikit sexy (asa nteu nya?), jadi buat para wanita, jangan ragu untuk mencintai pria 40an, mereka sudah merasakan semua manis getirnya kehidupan..
makna hidup? pleh.. kami paling tahu..

ps: ayeuna nu karasa singsireumeun 'jiwa' euy.. heee

Anonymous said...

ya ampun, thx banget.teori Hurlock yang q butuhin buat bikin tugas ketinggalan di jogja, untung ada ini.Tapi masih ada yang ga dicantumin disini nih : hubungan dengan keluarga & life style, nyari dimana lagi yah?

Anonymous said...

Tulisannya menarik...bisa saya share di facebook?

vitarlenology said...

boleh silahkan.. asal jangan lupa mencantumkan link tulisan ini..

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails