Sunday, September 17, 2006

Katanya, "Life Begin at Forty!"



Kata banyak orang, laki-laki baru mulai merasa hidup ketika masuk usia 40. Mmm.. benarkah? Ketertarikanku pada laki-laki 40 tahun ke atas, membuatku membuka-buka apa yang ditulis Elizabeth B. Hurlock dalam buku Psikolologi Perkembangan. Bukan sok mau membuktikan anggapan banyak orang itu secara ilmiah. Buatku sangat menarik untuk mencocokan hasil metode ilmiahnya Hurlock, dengan apa yang diamati dan dirasakan langsung dampaknya olehku. Siapa tau, beberapa teman yang terlalu over estimate, menilaiku expert dalam hal omonology, ternyata salah menilai. Bisa jadi aku yang ominizer pemula ini, terlalu cepat mengambil kesimpulan. Karena itu, aku sendiri lagi belajar menyelami psikologi usia 40-50an ini. Hehehe mungkin karena terlalu intens ngikutin Tony Soprano, padahal.......

Kalau mau lebih ilmiah, Hurlock menyebut usia 40-50 dengan sebutan usia madya dini. Dan aku akan mulai mempelajari dan memahaminya dari ciri-ciri stres yang mereka alami dalam kategori usia madya dini ini. Ada empat kategori stres: pertama, Stres Somatik, disebabkan oleh keadaan jasmani yang menunjukkan usia tua. Kedua, Stres Budaya, yang berasal dari penempatan nilai yang tinggi pada kemudaan, keperkasaan, kesuksesan oleh kelompok budaya tertentu. Ketiga, Stres Ekonomi, yang diakibatkan oleh beban keuangan dari mendidik anak dan memberikan status simbol bagi seluruh anggota keluarga. Keempat, Stres Psikologis, yang mungkin diakibatkan oleh kematian atau perceraian suami atau istri, kepergian anak dari rumah, kebosanan terhadap perkawinan, atau rasa hilangnya masa muda dan mendekati ambang kematian.

Sambil menulis kategori stres tadi, aku jadi teringat pada forty something men yang cukup intens aku amati. Aku ingat, bagaimana mereka mengeluhkan badan yang cape-cape karena udah ga kuat lagi kalo harus begadang tiga hari berturut-turut untuk menyelesaikan pekerjaannya. Juga saat curhat, betapa ga nyamannya ketika kesuksesan yang berhasil diraihnya, malah membuatnya merasa hidup di menara gading, kesepian di tengah keramaian. Kemudian sosoknya menjadi untouchable, dekat tapi jauh. Orang mendekat, bukan karena dirinya, tapi karena kesuksesannya. Padahal dia ingin sekali dikenal sebagai sosok ‘manusia biasanya’ bukan sosoknya yang sukses.

Sementara yang merasa dirinya belum terlalu sukses, selalu dalam kondisi serba salah. Antara being loser atau masih berusaha keras untuk membuktikan sesuatu. Yah, begitulah, hidup didunia yang serba materialistik, tolak ukur kesuksesan seringkali sangat-sangat superfisial. Hal-hal sublim dan sejatinya, seringkali terlupakan. Keadaan seperti ini, diperburuk jika lingkungan sosial pergaulannya memang punya standar kesuksesan yang superfisial itu. Seberapa mahal karya atau desain yang kamu bikin. Apalagi ketika ada dalam posisi kepala keluarga. Beban sosial bahwa kepala keluarga sudah seharusnya memberikan nafkah dan status pada keluarganya, melengkapi syarat untuk mengalami stres budaya.

Masalah duit, seringkali jadi huru hara besar dalam hidup para lelaki usia madya dini. Aku malah pernah diceritai temanku, bahwa tidak sedikit lelaki yang impoten karena gajinya lebih sedikit daripada istrinya. Stres ekonomi ini biasanya emang berhubungan dengan stres budaya. Lagi-lagi dunia yang sedemikian superfisial yang menerapkan standar keberhasilan dari ukuran materi, membuat dua stres ini seperti kembar siam dempet kepala yang sulit dipisahkan. Ketiga kategori stres ini semakin buruk jika sampai menyentuh aspek psikologi. Karena itu berarti krisisnya semakin dalem dan seperti pasir hisap. Seringkali bikin frustasi dan ga tau lagi harus gimana. Salah seorang yang kukenal, sempat mengalami penyakit takut ketinggian. Bahkan naik mobil di jalan layangpun, dia bisa panas dingin. Aku yang sok tau ini ngeliat, bahwa secara psikologis, mungkin kenalanku itu ga siap dengan beban sosial dari kesuksesan dan keterasingannya hidupnya di menara gading. Ketika dalam waktu yang lebih singkat dari orang lain, dia mencapai kesuksesan dalam karirnya. Bukan hanya itu, secara sosialpun dia kemudian dikenal luas. Untungnya, dia orang yang cukup humble dan ga terlalu jaim dalam kesehariannya. Juga karena dia orang yang cukup dernawan dan punya istri yang luar biasa hebat. Karenanya semakin ke sini, aku ngeliat sikapnya dan juga dukungan orang-orang disekitarnya, membantunya mengatasi ketidaksiapannya untuk menikmati kesuksesannya.

Kenalanku yang lain yang bercerai justru diusia madya dini ini, di saat karirnya dan pengakuan sosial justru mulai dia dapatkan. Pekerjaan kemudian jadi satu-satunya pegangan yang bisa membuatnya ‘lupa’ pada kegagalan rumah tangga. Padahal, sampai usia berapa dia akan terus menerus bekerja tak kenal waktu? mungkin dengan kondisi fisik yang dipaksa terus menerus, sepuluh tahun, kurasa udah hebat kalo dia bisa bertahan sampe usia 60 untuk terus bekerja. Saat badan masih merasa kuat, pekerjaan bisa jadi pengalihan luka spiritual dia dari perceraian atau kegagalan rumah tangga. Tapi kebayang ga sih, ketika badan tiba-tiba ngadat dan beneran ga bisa dipake kerja lagi dan luka spiritual lupa untuk disembuhin.. Mmm.. aku ga bisa membayangkan betapa hampa hidupnya.. (makanya jangan lupa istirahat.. nanti sakit :P)

Bayangkan, betapa beratnya hidup para pria usia 40 keatas. Dunia seperti memberinya misi suci yang harus dipenuhi untuk menjadi contoh beginilah manusia yang sukses sempurna itu. Ya kukira ini adalah resiko ketika dunia tempat kita hidup adalah dunia yang maskulin. Dunia yang sengaja secara sosial dikonstruksi dengan sangat semena-mena dan terobsesi pada sosok manusia (baca laki-laki) yang sempurna itu. Sebagai kepala rumah tangga, dia harus bisa membawanya keluarganya dalam gambaran keluarga harmonis dengan karir yang sukses, kematangan psikologis yang memancar, kesehatan prima dan status sosial yang tanpa cacat. Dan sebisa mungkin mendapatkan sosial recognition yang luas alias eksis disegala penjuru. Wow pokoknya jaim selalu.. dengan miris aku bisa bilang: kasian deh lu..

***

Rentang usia ini, kemudian bagi para pria menjadi usia serba salah. Karakteristik yang disebut Hurlock, bisa menjelaskan hal ini. Pertama, Usia madya adalah usia yang paling ditakuti. Mengapa bisa? bukan hanya pria, perempuan pun ketika memasuki usia ini, mereka ga percaya bahwa mereka telah sampai diusia kepala empat. Kerinduan akan masa muda kemudian muncul. Penyesalan-penyesalan atas kesalahan di masa muda mulai bermunculan. Hal-hal yang diinginkan di masa muda dan ga kesampaian, seringkali coba diwujudkan di rentang usia ini.

kedua, Usia madya merupakan masa transisi. Ngga heran usia ini orang seringkali menyebutnya dengan masa puber kedua. Perubahan fisik, untuk pria menurunnya keperkasaan dan perempuan menurunnya tingkat kesuburan, mau ga mau menuntut perubahan perilaku secara ekstrem dan radikal. Beberapa kebiasaan dimasa muda yang menuntut kondisi fisik yang prima, kemudian harus berubah, karena kondisi fisik ga mendukung lagi. Transisi ini juga membawa perubahan psikologis. Gawatnya, dalam konteks pasangan, seringkali masing-masing tidak menyadari perubahan itu. Kenalanku yang lain lagi, pernah mengeluhkan, tiba-tiba ketika bangun tidur, dia merasa sangat-sangat asing pada pasangannya. Dia tau pasangannya telah banyak berubah, hanya saja dia tak menyadari prosesnya. Padahal pasangannya juga menilai dia seperti itu. Tiba-tiba masing-masing menjadi asing satu sama lain, karena masa transisi yang terjadi, dijalani sendiri-sendiri dan tak pernah dibicarakan bersama. Dalam tingkat ini relasi menjadi kehilangan makna. Mereka perlu memaknainya kembali, tapi seringkali tak tau harus seperti apa. Sahabatku dengan besar hati membiarkan suaminya dekat dengan perempuan lain. Ia menyadari pada masa transisi ini, suaminya membutuhkan figur lain yang bisa mengisi kekosongan dan definisi baru baru, yang tidak sepenuhnya bisa dipenuhi oleh sahabatku itu.

Ketiga, Usia madya adalah usia stres. Semua stres yang aku sebutkan sebelumnya, resiko yang harus dihadapi direntang usia ini.

Keempat, Usia madya adalah usia yang berbahaya. Serem ga sih, maap ya bukannya bikin tambah stres, tapi jika stres di rentang usia ini tak bisa dipecahkan atau diantisipasi, resikonya tiba-tiba berbagai penyakit yang bermunculan, paling ekstremnya ya bunuh diri atau yang lebih ringan seperti menjadi alkoholic atau holic yang yang lain (workaholic termasuk loh).

Kelima, Usia madya adalah usia yang canggung. Hurlock bilang, usia ini seperti berdiri di antara generasi yang memberontak yang lenih muda dan generasi warga senior. Mereka secara terus menerus menjadi sorotan karena mau tidak mau harus menanggung perilaku memalukan dan negatif dua generasi di antaranya itu. Karenanya kecenderungan menjadi konservatif dalam berpakaian dan selera, menjadi pilihan yang aman bagi mereka. Disatu sisi mereka menghindari sorotan sosial, tapi disisi lain, kebutuhan untuk mendapat pengakuan sosial, memposisikan mereka dalam situasi yang serba canggung.

Keenam, Usia madya adalah masa berprestasi. Aku banyak ketemu ‘bapak-bapak’ yang galau di usia 40-50an gitu karena merasa dirinya belum melakukan pencapaian apa-apa. Karir udah mentok, prestasi sulit dikejar, sementara fisik dan mental udah ga lagi muda. Semangat mulai menurun yang muncul kemudian perasaan gagal. Perasaan gagal karena ga bisa jadi sosok yang ideal yang bisa dibanggakan oleh keluarga dan anak-anak karena prestasinya. Sementara yang berhasil mencapai jenjang karir tertinggi dan prestasi yang membuatnya mendapatkan social recognition, seringkali juga lupa kalo prestasi itu ga selamanya ada dalam genggaman. Makanya, selain usia madya adalah masa berprestasi, di rentang usia ini, pendewasaan yang sesungguhnya juga terjadi. Apakah nanti setelah masa pensiun tiba, dia akan jadi sosok yang merasa diri pecundang, atau mengalami post power syndrome. Prestasi di rentang usia ini juga perlu diikuti dengan pencapaian tujuan hidup yang sesungguhnya.

Ketujuh, Usia madya adalah masa evaluasi. Proses pendewasaan ga pernah lepas dari evaluasi. Tapi dalam rentang usia ini, evaluasinya jadi evaluasi yang paling dalem, paling klimaks. Karena usia ini adalah masa yang paling menentukan seperti apa hidup seseorang akan berakhir. Dan di rentang usia inilah, sesorang kemudian dituntut untuk jujur pada dirinya sendiri. Melepaskan semua penyangkalan-penyangkalan, selama kurang lebih empat puluh tahun hidup di dunia. Mmm.. kedengerannya kaya harus mengaku dosa ya..? mungkin memang begitu. Mungkin lebih tepatnya berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri berarti juga, memaafkan banyak hal yang seharusnya di maafkan. Bisa berhubungan dengan orang lain maupun diri sendiri. Bahkan berdamai dengan kegagalan-kegagalan dan semua hal yang menyebabkan luka-luka dalam kehidupan seseorang.

Kedelapan, Usia madya dievaluasi dengan standar ganda. Memang, gimana rentang usia ini ga akan memancancarkan daya tarik kematangan yang luar biasa. Secara proses psikologis yang membentuk karakter seseorang di usia ini sungguh-sungguh berat. Bukan cuma tuntutan untuk mengevaluasi diri sendiri oleh diri sendiri, tapi lingkungan sosial tentunya ga mau ketinggalan untuk melakukan evaluasi. Bayangkan ya.. tuntutan berprestasi harus dipenuhi, tuntutan untuk menjadi dewasa sepenuhnya harus dipenuhi, tuntutan untuk jadi role model di lingkungan sosialnya juga harus dipenuhi, tuntutan menjadi figur ideal kepala keluarga harus dipenuhi. Gila ternyata jadi om-om teh susah ya.. Makanya sekalinya lulus evaluasi, mereka akan meletek seperti dunian mateng di pohon.. nyam nyam... hahahaha..

Kesembilan, Usia madya merupakan masa sepi. Pasti ga kaget dong dengan istilah om-om atau tante-tante kesepian. Gimana ga sepi, di rentang usia ini biasanya anak-anak mereka udah mulai tumbuh remaja dan punya kehidupan masing-masing. Fokus perhatian yang tadinya untuk ngurusin anak-anak, tiba-tiba hilang. Suami yang sibuk, biasanya menjadikan pekerjaan sebagai gua untuk menyembunyikan diri dari proses adaptasi keluarga yang berubah. Sementara istri yang biasa sibuk dengan urusan rumah tangga dan anak-anak, seperti kehilangan pegangan. Perubahan dan masa adaptasi seperti ini, seringkali menimbulkan perasaan kesepian yang dalam. Karena tiba-tiba, anak-anak yang biasanya jadi center, sekarang seperti terlepas dari orang tuanya. Keluarga kemudian harus menemukan orientasi baru, bukan hanya adaptasi dalam tingkat keluarga, dalam tingkat individupun masing-masing sedang menjalani proses adaptasinya sendiri, dan rasa sepi muncul ketika tiba-tiba masing-masing merasa tidak lagi memahami satu sama lain. Kehilangan orientasi bersama. Karena itu, dalam rentang usia ini, perceraian dan kehadiran orang ketiga yang bisa mengisi kesepian itu sangat mungkin terjadi.

Kesepulun, Usia madya merupakan masa jenuh. Rasa sepi yang tak teratasi seringkali menimbulkan kejenuhan dalam hidup. Karena perasaan yang muncul kemudian adalah hidup seperti berhenti. Stuck di satu titik. Perkawinan terasa membosankan. Pekerjaan tidak memberikan sesuatu yang mencerahkan. Persoalan-persoalan kehidupan seperti menemukan jalan buntu. Kehidupan seperti berada di titik nadir. Jika kondisi seperti ini tak dapat di atasi, kondisi yang paling buruk adalah keinginan untuk bunuh diri kemudian muncul. Namun jika semangat hidup masih sangat tinggi, sebenernya inilah saat yang tepat untuk putar haluan dan menentukan arah hidup yang baru. Rebut kembali hidup yang hilang kerena pekerjaan, keluarga, tuntutan dan beban sosial. Beri diri sendiri waktu dan penuhi keinginan abadi yang selama ini dipendam dan diredam. Perubahan besar dalam hidup, inilah saatnya. Take back your life. Everyday is a festive. Kejenuhan seringkali muncul manakala, kita melupakan hal-hal yang esensial dari aktivitas keseharian kita. Jadi ya jangan biarkan titik nadir berakhir dengan kemungkinan terburuk: bunuh diri.

Yeah Yeah Yeah....! Jadi gimana, masih berminat mengambil resiko mencintai pria-pria dimasa-masa krisis ini? Kematangan mereka yang menggiurkan itu, ternyata dihasilkan dari proses panjang dan berat yang harus mereka jalani loh.. jadi ya apakah kita tetap memutuskan mendampinginya menjalani proses itu? Mmm... Yeahh...(maksudnya maju terus pantang mundur)!!!

sumber: Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Elizabeth B. Hurlock, Edisi Kelima

untuk melengkapi tulisan paling sok tau ini, aku nemu link yang ditulis oleh oleh pria 40-an.. jadi bisa lebih akurat dan otentik... A Man of Forty
Oleh: John Schoneboom

The Ballad of Jack and Rose



Entah kenapa aku senang sekali mengulang dan mengulang dan mengulang menonton film The Ballad Jack and Rose. Kisah bapak dan anak, hidup di sebuah tempat terpencil dengan idealisme tinggalan jaman hippies, sebagai environmentalis. Sampai akhirnya realitas berkata, “Rose, ayahmu Jack Slavin, sekarat sayang. Kau tak akan hidup selamanya bersamanya. Dia akan mati, dan kau harus terima kenyataan itu.” Yeah right, apakah aku pernah membayangkan bapakku mati? tentu saja tidak. Bahkan Rose sekalipun, meski dikisah itu, Rose tau, kondisi paru-paru Jack sudah sedemikian parahnya. Tapi saat kematian itu datang, rasanya terlalu berat untuk bisa menerima itu. Diriku sendiri, di detik-detik terakhir kematiannya, sulit mempercayai bahwa hal itu terjadi di depan mataku. Kukira, semua anak perempuan yang sangat-sangat sangat menyayangi bapaknya, tak pernah membayangkan bapaknya kan mati suatu hari nanti. Begitu pula sundea temanku, si anak bapak, yang tak bisa membayangkan, bahwa suatu hari nanti dia akan berpisah dengan bapaknya.

Ketika kamu begitu dicintai oleh bapakmu, dipuja melebihi pemujaannya terhadap ibumu sendiri, kau pasti mengira, kau hidup di benteng yang begitu nyaman, kokoh dan tak bisa diruntuhkan oleh apapun. Tak ada seorangpun yang bisa merebut rasa nyamanmu dalam benteng itu. Membayangkan kematiannya, seperti mimpi buruk yang ketika kau membuka mata, kau akan berusaha keras melupakannya. Kau akan terus menerus mencoba meyakinkan dirimu, bahwa bapakmu itu akan hidup terus selama-lamanya. Saat hidupmu berakhir bahagia selamanya, seperti dongeng fairy tales, barulah kau bisa membiarkan bapakmu mati.. maaf.. maksudku membiarkan bapakmu menghilang dalam kisah hidupmu. Tapi apa yang terjadi jika ternyata, benteng yang begitu nyaman dan kuat itu tiba-tiba runtuh? bukan hanya runtuh, tapi menghilang? seperti kisah tidur di rumah jadi-jadian. Kamu pikir kamu tinggal di sebuah rumah yang nyaman, tapi ternyata keesokan harinya, ketika terbangun, kau ada di emperan jalan.

“If you die, i die,” itu yan g Rose bilang saat Jack, mencoba mengingatkan bahwa sakit paru-parunya itu, bisa merengut nyawanya kapanpun malaikat pencabut nyawa menginginkannya. Dan aku tak mengatakan apapun saat hembusan nafas terakhir benar-benar terlepas dari raga bapakku. Bahkan aku tak menangis sama sekali saat penguburannya. “tough luck, huh?” Rosie menganggapnya seperti itu. Dan aku? Yah, selamat membangun kembali sesuatu yang tiba-tiba hilang. Masih bisakah aku mememukan model yang sama persis untuk menggambarkan kembali bapak yang hilang itu? Mungkin saat bapakmu tiba-tiba mati, yang kau perlukan adalah mencari bapak yang lain untuk mendefiniskan bagaimana bapakmu yang hilang itu.. ya mungkin..

Aku berbicara atas nama anak-anak perempuan yang pernah atau masih memiliki bapak yang begitu sayang dan memuja putrinya sendiri sedemikian rupa. Sehingga, kau menganggap hanya bapakmulah lelaki yang begitu mengerti dirimu, satu-satunya pemuja setiamu. Saat menonton Ballad Jack and Rose, aku selalu berpikir dan menduga-duga, mungkin bagi seorang anak perempuan, ketika manusia di bumi ini punah dan yang tersisa hanyalah seorang anak perempuan dan ayahnya, kukira kehidupan akan berjalan seperti biasa. Karena rasa nyaman seorang ayah yang begitu sayang pada putrinya seperti jalan yang bisa dilalui dan ditapaki dengan jaminan kau akan baik-baik saja, tak akan ada satupun yang bisa membuatmu merasa terancam.

Jadi bisa kau bayangankan, bagiamana kau bisa menapaki jalan yang kemudian kau sadari, penjamin rasa nyaman itu sudah tak ada lagi. Kau tak bisa menggenggam tangannya saat kau merasa tak yakin dengan jalan yang kau lalui.

Memang, saat bapakmu mati, bukan berarti hidupmu berakhir dan dunia jadi kiamat. Kau bisa seperti Rose yang kemudian mengubur bapaknya dengan membakar semua hal yang menjadi artefak kesejarahan kalian, lalu pergi ketempat yang baru dan memulai hidup baru sama sekali. Atau kau bisa mencari sosok yang nyamannya terasa seperti bapak, lalu your new guardian angel itu, membantumu mengumpulkan kembali dirimu yang berantakan dan membantumu menatanya kembali. Atau kau juga bisa bersikap pura-pura semuanya berjalan dengan baik tanpa bapakmu, padahal saat kau sendiri, kau begitu merana karena ada lubang besar mengangga di hatimu, karena kau tiba-tiba kehilangan makna dari rasa nyaman yang sesungguhnya dan kau harus berusaha keras mendefinisikannya kembali.

Yeah,aku jadi bertanya apa jadinya jika bunda Maria ternyata melahirkan seorang anak perempuan, bukan anak laki-laki?

gudang selatan, 17 agustus 2006
01:48

Perjalanan Ke "Ujung Dunia"

photo by tarlen

"Kok ngga nyampe-nyampe ya?" pertanyaan itu diulang-ulang sepanjang perjalanan Bandung –Ujung Genteng. Saya dan empat orang teman yang lain, sampai tak tahu lagi harus melontarkan joke apa lagi, karena semua joke dan cerita-cerita ngga penting sudah habis dari perbendaharaan kami berlima, bahkan diulang sampai beberapa kali.

Dua puluh liter pertama sejak kami isi tanki di bandung, habis dimakan jalan. Dua puluh liter berikutnya kami isi di pom bensin terakhir yang kami jumpai di daerah Jampang Kulon. Sempat bertanya pada penduduk setempat, berapa lama lagi kira-kira perjalanan yang akan kami tempuh. Salah satu orang yang kami tanyai menjawab "satu jam lagi kira-kira!". Sementara senja mulai turun. Langit berangsur-angsur gelap.

Setelah menempuh tujuh jam perjalanan dengan rute Cianjur Selatan, Jampang Kulon, Surade _ Ujung Genteng, tibalah kami ke tempat tujuan. Jam menunjukkan pukul 19.30 malam. Saya masih menebak-nebak, seperti apa kira-kira Pantai Ujung Genteng yang ingin sekali saya kunjungi sejak sepuluh tahun yang lalu itu.

Karena hari gelap dan malam menjelang, kami mencari penginapan di sekitar pantai yang tampak gelap gulita. Hanya suara angin laut dan ombak yang begitu keras terdengar. Beberapa tukang ojeg yang kami lalui, menawari tumpangan untuk pergi ke Pantai Pangumbahan kurang lebih 6 KM dari pantai Ujung Genteng, untuk melihat penangkaran penyu. Tapi saat itu yang kami pikirkan adalah merebahkan diri di kamar penginapan. Tujuh jam perjalanan, meski menyenangkan namun secara fisik cukup melelahkan.

Tidak banyak penginapan di sekitar pantai. Hanya beberapa saja yang nampak layak. Ada Pondok Adi, Pondok Hexa, Pondok Mamas, Pondok Deddy. Harga penginapan berkisar antara tiga ratus lima puluh ribu sampai empat puluh ribu permalam, tergantung dari besar kecil dan fasilitas kamar yang disediakan. Kebanyakan bangunan kamar berupa pondok dari bilik bambu yang berisi dua tempat tidur single dan kamar mandi, namun ada juga bangunan permanen dan ber AC. Tidak bisa dibilang mewah, tapi cukup lah untuk beristrirat dan bermalas-malasan. Saya dan teman-teman memilih Pondok Hexa, karena cukup murah, pelayanannya cukup ramah, lokasinya enak dan tepat di sebarang pantai. Sayangnya kami tak membawa perlengkapan barbeque, seandainya ada, akan sangat menyenangkan barbeque di halaman pondok tempat kami menginap.

Niat ingin menikmati sunrise, ternyata gagal. Matahari tak terlihat, mendung menggelantung dan sempat gerimis sebentar. Karena badan masih terasa lelah, kami memilih melanjutkan tidur. Udara panas di kamar penginapan membuat kami terbangun. Begitu keluar kamar, tercium bau laut yang terasa begitu segar.

Langit begitu biru jernih dan pantai Ujung Genteng yang semalam gelap gulita, tampak begitu indah. Pasir putih, jernihnya air di pesisir pantai dan ombak terlihat menakjubkan. Empat orang teman saya yang lain memilih untuk berenang-renang di tepi pantai. Sedangkan saya lebih memilih memotret sebanyak mungkin karena cuaca begitu cerah.

Arus laut saat itu terasa deras. Belakangan kami tau dari berita televisi, permukaan air laut di pesisir pantai selatan pulau Jawa memang naik, termasuk Ujung Genteng. Bahkan di dekat Pangandaran, ada kapal karam karena ombak pantai selatan lebih besar daripada biasanya. Untungnya saat itu teman-teman saya hanya berenang-renang di tepi pantai. Saya tak bisa membayangkan apa jadinya jika mereka berenang ke tengah laut, tanpa tau bahwa laut selatan sedang pasang dan deras arusnya. Seperti kebanyakan pantai di Indonesia, saya tak melihat life guard di pinggir pantai.

***

Terletak di bagian selatan Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Ciracap dan Kecamatan Waluran, Ujung Genteng berjarak tempuh 127 KM dari kota Sukabumi. Saat ini baru desa Gunung Batu dan Desa Pangumbahan yang telah dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Ombak Ujung Genteng, termasuk ombak yang disukai para surfer karena salah satu yang terbaik di dunia. sayangnya saat itu hanya dua orang turis asing saja yang terlihat asyik surfing di pantai Ujung Genteng.

Kondisi pantai yang bisa dibilang belum seramai Pangandaran atau pantai wisata lainnya ini, membuat Ujung Genteng relatif terlihat lebih bersih dan sepi. Meski di dekat kampung nelayan, penduduk setempat mulai banyak mendirikan warung-warung makanan. Transportasi menuju pantai Ujung Genteng pun bisa dibilang relatif mudah. Biasanya angkutan umum terakhir sampai pukul 17.00 WIB. Jadi lebih baik jika hendak menuju Ujung Genteng dari kota Bandung tercinta ini, sebaiknya perjalanan dimulai sepagi mungkin, sebelum Pk. 07.00 WIB. Selain ada angkutan umum, ojeg bisa digunakan sebagai sarana transportasi, meskipun ongkos ojeg relatif cukup mahal. Untuk rute Ujung Genteng-Pangumbahan, mereka memasang tarif sampai empat puluh ribu rupiah.

Bekas reruntuhan dermaga peninggalan Jepang, berada di tengah-tengah kampung nelayan. Jika air surut, orang bisa berjalan ke tengah laut lewat reruntuhan dermaga itu. Sekilas, saya sempat memperhatikan ada ciri fisik yang spesifik dari penduduk Ujung Genteng. Mata mereka kebanyakan sipit dengan garis wajah yang tegas. Meski kulit terlihat keling karena cuaca pantai yang panas, mereka mengingatkan saya pada orang-orang Jepang atau Korea. Dan thanks God! Karena ada pemancar operator selular di situ. Jadi meski jauh 'di ujung dunia', sinyal hand phone cukup kuat. Cukup bisa menghubungi teman-teman yang tak bisa ikut berlibur dan bikin iri mereka yang tak bisa menikmati keindahan Ujung Genteng.

Jika mau bersusah payah sedikit, pantai Pangumbahan layak dikunjungi. Namun tempat berkembang biaknya populasi penyu hijau ini hanya bisa dikunjungi malam hari di atas pukul 21.00. Disaat pantai gelap dan sunyi, penyu-penyu naik ke darat untuk bertelur dan menguburnya di dalam pasir sampai telur-telur itu menetas. Menurut cerita tukang ojeg setempat, warga di pantai Pangumbahan cukup ketat menjaga kenyamanan penyu-penyu ini berkembang biak. Pengunjung tak boleh menyalakan api dan bersuara keras yang bisa mengganggu penyu-penyu yang sedang bertelur. Sayangnya saya dan teman-teman tidak punya cukup waktu untuk mengunjungi Pangumbahan dan melihat penyu-penyu naik ke darat. Mengingat populasi penyu yang semakin berkurang, keberadaan Pangumbahan memang perlu dijaga dari kerusakan eskosistem.

***

Rasanya saya tak akan pernah bosan untuk kembali lagi ke Ujung Genteng. Selain pantainya yang sepi dan indah, saya sangat menyukai perjalanannya. Saat pulang kembali menuju Bandung dan melakukan perjalanan siang hari, banyak sekali pemandangan alam, landscape Jawa Barat yang bisa dinikmati. Hamparan padang rumput, pohon kelapa yang tersambung dengan pesisir pantai dan sapi-sapi merumput, menjadi pemandangan yang menyenangkan. Perkebunan teh Surangga dan hutan pinus menjadi pemandangan kontras yang berkesinambungan antara Ujung Genteng, sampai dataran tinggi Cianjur Selatan - Sukabumi. Belum lagi, jika sore mendung menggantung, kabut akan menyelimuti perkebunan teh dan hutan-hutan pinus. Jarak tempuh yang cukup jauh kemudian tak jadi masalah bagi saya dan teman-teman, karena sebanding dengan kepuasan menikmati keindahan alam yang kami rasakan. Seandainya bisa kembali setiap hari, dengan senang hati saya akan melakukannya.

Tulisan ini pernah dimuat di Bandung Beyond

Lord of Dogtown Sepenggal Nostalgia Legenda Z-Boys



Beginilah ketika seorang Stacy Peralta, skater pro menuliskan kembali awal perjalanan karirnya. Apa yang dia tulis di Lord of Dogtown, bukanlah sebuah narsisme nama besar ketika melihat kesuksesannya sendiri. Lord of Dogtown adalah kisah persahabatan dibalik legenda Dogtown and Z-Boys (sebutan skater asal Santa Monica dari generasi 70’an) yang ditulis dengan kerendahan hati Stacy Peralta dan garapan apik Catherine Hardwicke, sang sutradara.

Mengambil setting waktu pertengahan tahun 70an, cerita berfokus pada tiga nama besar yang merubah skateboard menjadi seperti yang dikenal sekarang. Bagi Tony Alva (Victor Rasuk), Jay Adams (Emile Hirsch) dan Stacy Peralta (John Robinshon), skateboard bukan hanya kegiatan pengisi waktu senggang tapi skateboard adalah gaya hidup dan sikap yang mereka lakoni sehari-hari.

Dibuka dengan adegan ketika ketiganya di tengah malam pergi diam-diam membawa papan surfing dan memulai hari menari bersama ombak pantai Venice di antara reruntuhan dermaga Pasific Ocean Park (POP). Sebagai kelompok surfer junior, mereka bertiga seringkali harus tunduk pada aturan main senior seperti Skip Engblom (Heath Ledger), Craig Stecyk (Pablo Schreiber) dan kawan-kawan. Namun ketika ‘pantai mereka’ diusik oleh pendatang dari luar Dogtown, mereka kompak mengusir para pendatang. Mencopot dan menenggelamkan karburator mobil sampai merusak papan surfing demi mempertahankan status ‘Local Only’.

Skip Engblom, surfer dan pemilik toko papan surfing, Zephyr shop, di film ini selalu digambarkan tak lepas dari botol minuman merupakan tokoh penting dalam legenda Dogtown. Skip lah yang pertama kali mengumpulkan dua belas orang dan membentuk tim yang kelak melahirkan para skater legendaris yang merubah wajah skateboard dunia.
Tim yang diberi nama Zephyr sesuai dengan nama tokonya terdiri dari Shogo Kubo, Bob Biniak, Nathan Pratt, Stacy Peralta, Jim Muir, Allen Sarlo, Chris Cahill, Tony Alva, Paul Constantineau, Jay Adams, Peggy Oki dan Wentzle Rum.

Cinta segitiga antara Jay Adams, Stacy Perlata dan Kathy Alva (Nikki Reed), saudara perempuan Tony Alva, muncul di film, bukan sekedar bumbu cerita yang mengada-ngada. karakter Stacy yang tidak seagresif teman-temannya, membuat dirinya merelakan ketika akhirnya Kathy lebih memilih Jay daripada dirinya.

Kompetisi skateboard di Del Mar, California, April 1975, menjadi kompetisi pertama bagi z-Boys dan juga Zephyr team untuk menunjukkan siapa mereka. Di kompesitisi inilah gaya skate tahun 60an, dibabat habis oleh Z-Boys. Spontanitas mereka dan kelenturan mereka diatas papan luncur seperti layaknya mengendarai ombak, membuat hadirin tercengang. Mereka belum pernah melihat gaya seperti yang dilakukan Z-Boys sebelumnya. Bahkan juri tak tau bagaimana harus memberi penilaian kepada mereka. kompetisi Del mar ini menjadi kompetisi paling bersejarah dalam legenda Z-Boys.

Penampilan Z-Boys mejadi sesuatu yang selalu dinantikan di setiap kompetisi. Juri terpaksa melakukan revolusi standar penilaian lomba. Kemunculan Z-Boys sebagai cover majalah skateboarding, melambungkan nama mereka dan membuat skateboard kembali menjadi olah raga yang digemari di seluruh Amerika.

Hype membuat Z-Boys membuka sejarah baru dalam perkembangan skateboard dunia. semua perusahaan skateboard, berlomba-lomba memperebutkan Z-Boys untuk kepentingan komersil mereka. Tony Alvalah yang pertama kali menyadari, bahwa dia bisa menjadi bintang sebagai skater pro. Dia yang pertama meninggalkan skip dan Zephyr tim demi kepentingan komersial. Satu persatu pergi dan Skip terpaksa menerima karena masalah keuangan yang dia hadapi, membuatnya tak mampu memberikan profit bagi Z-Boys.

Jay Adams lah yang paling tak peduli dengan semua tawaran-tawaran itu. Prinsip apapun yang dia bukan karena kendali orang lain, membuat Jay tampak begitu kuat sebagai ikon anti mainstream. Jika akhirnya Jay meninggalkan Skip, itu dia lakukan karena terpaksa. Dia harus membantu ibunya membayar uang sewa rumah, bukan karena alasan menjadi terkenal dan kaya seperti teman-temannya yang lain.

Tokoh Sid (Michael Angarano) muncul sebagai salah satu Z-Boys yang memiliki masalah dengan pendengarannya dan akhirnya meninggal karena kanker otak. Sid muncul sebagai karater yang menghibur. Keluguannya di antara teman-temannya, justru menjadi figure pemersatu, ketika perseteruan di antara Tony, Jay dan Stacy mulai meruncing.

***

Dogtown merupakan sebutan sebuah daerah slum tepi pantai, perbatasan antara Santa Monica dan Venice, California. Di tempat inilah Z-Boys berasal. Tahun 2001, sebelum menulis naskah Lord of Dogtown, Stacy Perlata menggarap sebuah dokumenter Dogtown and Z-Boys. Di film ini Stacy mendapat penghargaan sebagai sutradara sekaligus film terbaik pilihan pemirsa di Sundace Film Festival tahun 2001. Film yang berisi wawancara dengan para legenda z-boys , Tony Hawk _skater pro beberapa generasi di bawah z-boys, beberapa musisi seperti Ian Mckey dan Jeff Ament yang melihat Z-boys lahir dengan karakternya yang khas yang tak dijumpai di belahan Amerika manapun pada jamannya.

Dokumenter yang sangat kaya dengan footage perjalanan Z-Boys dari kompetisi ke kompetisi, memberi gambaran yang cukup lengkap bahwa Z-boys bukan sekedar menemukan gaya dan trik-trik baru pada permainan skateboard, tapi Z-Boys mampu menampilkan attitude yang memberi nafas dan jiwa pada permainan skateboard itu sendiri. Itu sebabnya, dokumenter ini menjadi ‘kitab suci’ Catherine Hardwicke dalam menyutradarai Lord of Dogtown. Cathrine banyak menghadirkan kembali beberapa beberapa gambar yang mirip sekali dengan footage aslinya dan membuat ‘original z-boys’ seperti dibawa kembali ke masa lalu. Seperti reruntuhan POP dan suasananya, Del Mar Competition, kolam-kolam renang berbentuk mangkuk yang kini tak lagi digemari oleh warga Santa Monica dan adegan-adegan yang nyaris sama persis dengan footage aslinya. Bagi Catherine, kesulitan dalam penggarapan film ini, bukan bagaimana mengambarkan seperti apa Dogtown pada saat itu, tapi bagaimana menghadirkan kembali apa yang terekam dalam Dogtown and Z-Boys seakurat mungkin.

Tak kurang dari Tony Alva, Stacy Perlata, Jay Adams sendiri yang mengcasting para pemain yang memerankan diri mereka masing-masing. Mereka pun turun tangan langsung, melatih para skater pro yang menjadi pemeran pengganti untuk mendapatkan karakter mereka di atas skateboard. Emile Hirsch, Victor Rasuk, John Robinson mendapat supervisi langsung dari Jay Adams, Tony Alva dan Stacy Perlata untuk menampilkan kepribadian masing-masing ketika berada di atas papan luncur.

Di antara kepribadian Tony yang egosentrik dan rockstar wanna be, Stacy yang republikan berambut panjang terawat, karakter Jay Adams terasa begitu kuat. Karekternya yang begitu spontan dan agresif, penuh kemarahan, diperankan dengan sangat baik oleh Emile Hirsch. Ia berhasil menerjemahkan karakter Jay dengan intensitas emosi yang kuat dan bisa dirasakan penonton. Emile sebelumnya dikenal bermail di The Dangerous Lives of altar Boys, Imaginary Heroes. Jay Adams, tokoh yang diperankannya dalam kehidupan nyata sempat di penjara karena masalah obat-obatan dan tuduhan pembunuhan. Jay di film ini menjadi sosok ikonik anti mainstream yang sangat sadar dengan resiko dari pilihannya. Perlu digaris bawahi pula kemampuan improvisasi Heath Ledger dalam memerankan Skip Engblom, memberikan jiwa dari legenda Dogtown dengan sikap semau gue-nya, senioritas sekaligus sosok bersahabat bagi z-boys.

’The Original Z-Boys’ muncul sebagai cameo. Cathrine mengaku dirinya didatangi Original Z-Boys yang menawarkan diri mereka untuk tampil di Lord of Dogtown. Bagi mereka, tampil di Lord of Dogtown seperti moment penting untuk mengenang masa lalu. salah satu adegan cameo yang cukup menarik, ketika ibu Jay Adams menyelenggarakan pesta di rumahnya. Emile yang memerankan Jay, berhadapan langsung dengan ‘the real Jay Adams’ yang di adegan itu berperan sebagai teman ibunya. Juga ‘the real Tony Alva’ di dandani memakai kumis dan baju koboi yang juga hadir di pesta itu. Adegan menarik lainnya, ketika ‘the real’ Stacy Perlata muncul sebagai sutradara Charlie Angeles yang mendirect Stacy perlata (John Robinson) dalam salah satu adegan Charlie Angeles muncul sebagai pemain skateboard. Skip Engblom pun muncul sebagai penarik pelatuk pistol tanda kompetisi skateboard di Seattle di mulai. Tak ketinggalan Tony Hawk juga muncul sebagai Astronot.

Secara proses Lord of Dogtown menjadi sangat istimewa, karena Cathrine melibatkan bukan hanya original z-boys dalam proses penggarapannya, tapi juga generasi skater di bawah Z- Boys seperti Steve Badillo, Christian Hosoi, Tony Hawk. Keterlibatan mereka mulai dari penggarapan artistik, skateboard camera operator, pelatih sampai cameo. Meski cerita ditulis oleh Stacy Perlata tentang dirinya, Stacy nampak sangat berhati-hati untuk tidak menjadikan dirinya center of the story. Apa yang ditulis Stacy terasa sebagai bentuk penghargaan atas kekagumannya pada sosok Jay Adams, sahabatnya yang memilih jalan berbeda dengannya dan Tony Alva, karena Jay muncul sebagai karakter yang lebih kuat daripada yang lain.

Tak boleh luput untuk disimak adalah movie soundtrack yang mengisi Lord of Dogtown.
Tak kurang dari Cher, David Bowie, Neil Young, Social Distortion, Nazareth, Joe Walsh, Iggy Pop, Black Sabbath, Jimi Hendrix, Stevie Worder, sampai The Stooges memperkuat atmosfer subkultur lewat penggarapan sinematografi yang cukup baik. Skateboard di sini bukan sekedar tempelan atau sekedar X-treme sport, namun jadi gaya hidup yang menyatu dengan karakter tokoh-tokohnya.

Bagi penonton yang tak kenal sejarah Dogtown and Z-Boys dan tak memahami permainan skateboard, film ini tetap tampil menarik sebagai sebuah cerita tiga anak muda yang memilih skateboard sebagai jalan hidupnya. Namun bagi para penggemar skateboard dan mengetahui legenda Dogtown and Z-boys, film ini menyuguhkan sisi lain Z-Boys, disaat kenakalan dan agresifitas masa muda, justru menancapkan tonggak sejarah baru perkembangan skaterboard yang melegenda.

Menonton Lord of Dogtown, kita seperti disadarkan, tentang proses sebuah persahabatan. Bagaimana kemudian kesuksesan datang kepada mereka dengan caranya masing-masing dan menguji sekuat apa persahabatan yang telah terjalin di antara mereka. Meski pandangan mereka tentang kesuksesan berbeda, satu hal yang tak pernah luntur: persahabatan. Selalu. Dari sahabat kembali pada sahabat.

Tulisan ini untuk Outmagz edisi 11

Somewhere Over the Rainbow


Somewhere, over the rainbow, way up high,
There's a land that I heard of once in a lullaby.

Somewhere, over the rainbow, skies are blue,
And the dreams that you dare to dream really do come true.

Someday I'll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me,
Where troubles melt like lemon drops.
Away above the chimney tops
That's where you'll find me.

Somewhere over the rainbow, bluebirds fly,
Birds fly over the rainbow,
Why then, oh why can't I?

If happy little bluebirds fly
Beyond the rainbow,
Why oh why can't I?

***

Lagu itu tiba-tiba bergema dikepalaku, saat kegalauan muncul semalam. Gimana ga galau, temanku lewat YM bilang, ada lowongan sebagai media campaigner full time-nya Greenpeace. Dan dia bilang 'coba len,' dalam hati aku mulai bimbang. Pengalamanku banyak sekali berhubungan dengan media campaign. Dan yang paling bikin galau adalah Greenpeace.

Aku inget, kurang lebih empat belas tahun lalu. Waktu aku kelas 2 SMU. Saat aku dapet balasan surat dari Greenpeace Amsterdam, seneng banget. Karena cita-citaku waktu itu pengen jadi 'rainbow warrior'nya Greenpeace. Bapakku aja ikut seneng. Karena dia paham banget, aku bercita-cita gabung di Greenpeace. Bapakku malah sempet bilang sama tanteku soal ini dengan antusiasme yang jarang dia perlihatkan sebelumnya. Greenpeace yang membuatku membaca buku-buku lingkungan yang tebal dan untuk banyak orang membosankan. Greenpeace yang mendorongku mengenal banyak persoalan yang menjadi mata rantai masalah lingkungan. Greenpeace yang membuatku mengkliping banyak hal dan terutama persoalan-persoalan lingkungan. Greenpeace pula yang membuatku tertarik pada hal-hal filantropi. Greenpeace adalah horizon utopiaku saat itu.

'Wah ternyata cita-cita kita sama ya,' kata Sandy temenku yang jurnalis Tempo Newsroom itu. Dialah yang membawa pesan tentang dicari media campaigner Greenpeace. 'Saya juga pernah kirim surat ke mereka, dan nanya: gimana caranya kalo pengen jadi rainbow warrior?' sama sepertiku, rainbow warrior adalah horizon utopianya sebelum terjebak pada industri media.'Trus mereka jawab di suratnya: untuk jadi rainbow warrior, kamu bisa memulainya dengan membuat zona bahagia untuk orang lain minimal satu meter persegi disekelilingmu.'

Zona bahagia? semudah itukah untuk menjadi rainbow warrior? hanya sebuah zona bahagia satu meter persegi?

***

Zona bahagia, Greenpeace, media campaigner, full timer..... hayalanku langsung melambung.. gila ya.. Greenpeace gitu loh.. dan aku jadi media campaignernya.. bayanganku langsung dipenuhi guntingan-guntingan koran liputan-liputan aksi-aksi mereka. Bayangin.. ini aku loh yang bakal merancang semua itu (padahal masukin aplikasi aja engga :D).. hasrat menjadi dona corleone sekaligus rainbow warrior bisa tercapai sekaligus... semua hayalan-hayalan masa sma, tiba-tiba ada di depan mata..

Trus common room? tobucil? pertanyaan ini tiba-tiba muncul dan memecahkan balon sabun yang berisi hayalan-hayalanku yang menggelembung. Bagaiamana komitmenku dengan tobucil dan common room? karena menjadi tenaga full time berarti aku harus memilih salah satunya. Tiba-tiba aku dihadapkan pada kenyataan jalan menuju cita-cita yang bercabang. Jalan mana yang harus aku pilih?

***

'Untuk jadi rainbow warrior, kamu bisa memulainya dengan membuat zona bahagia untuk orang lain minimal satu meter persegi di sekelilingmu.'

Apakah aku telah menjadi rainbow warrior dengan membangun tobucil dan common room? pertanyaan yang kutanyakan pada diriku sendiri, untuk meredam kegalauanku memilih jalan.
'Ya, tarlen. Kamu sedang menjadi rainbow warrior di kapalmu sendiri,' temanku itu membantuku menemukan kembali keyakinanku untuk memilih, setelah aku histeris di YM karena galau untuk memilih.

Ya... ya. Tobucil dan common room, adalah rainbow warriorku yang belayar menjelajah samudraku yang mungkin hanya satu meter persegi itu. Malaikat kebaikan yang muncul kadang-kadang dalam diriku ikut membulatkan kembali keyakinanku. 'Meski cuma satu meter persegi, itu kan yang membuatmu bertahan pada apa yang kamu pilih, kamu bangun, kamu pertahankan dan kamu kembangkan bersama teman-temanmu saat ini. Apa yang membuat kamu mempertahankannya? selain karena kamu bahagia ketika orang lain juga merasakan kebahagiaan berada di rainbow warriormu. Percayalah, kau tak akan membuat bapakmu kecewa karena dengan sangat menyesal kau lebih memilih jalanmu sekarang, daripada hijrah ke kapal yang lain. Keteguhanmu akan membuat samudramu_zona bahagiamu_ jauh lebih luas daripada yang kau kira sekarang.'

***

Dokumenter perjalan masa hidupku tiba-tiba terputar secara otomatis. Sejak kecil, aku yang senang sekali berganti cita-cita, dari Arsitektur sampai ahli ekologi dan diseling pilot pesawat tempur, desainer mode, agen intelejen... perjalanan cita-citaku itu... mulai dari berjualan baju boneka barbie saat kelas empat SD seharga empat ratus perak, mengayuh sepeda berkeliling menjajakan buku, mencoba membangun perpustakaan keliling sejak kecil, dengan koleksi buku apa adanya. Berjalan kaki di tengah hujan, memenuhi pesanan-pesanan kartu nama, hanya untuk bisa mendapatkan uang saku yang layak dan membantu membayar uang kuliahku sendiri sambil merelakan paru-paruku mengisap racun aerosol demi pesanan. Juga ketika aku terjatuh, turun dari bis di terminal ubung, Denpasar, di tengah hujan deras, membawa sekantung besar buku yang terlalu berat untuk aku bawa sendiri ... hey.. STOP IT! berhenti ngawawaas diri sendiri ah...!

Tak ada satupun cita-cita yang terwujud tanpa kerja keras bukan. Dan setiap kerja keras mencatat kisahnya sendiri. Kisah duka maupun suka. Jadi lebih baik, kuingat saja kisah-kisah suka ketika semua kedukaan yang pernah ada, sekarang terasa jauh menyenangkan, karena dia memberi warna seperti warna pelangi di horizonku. Dan ketika warna-warna pelangi itu aku zoom in, ternyata dia tersusun dari kepingan-kepingan kisah yang menempel seperti kolase. Dan saat kucermati, di bagian warna hijau ada kepingan kisah, cita-citaku jadi bagian Greenpeace di situ.

Tiba-tiba aku merasa seperti rainbow warrior kecil, hiawata kecil, yang belajar menemukan esensi. Bukan Greenpeacenya yang menjadi penting sekarang, tapi zona bahagianya itu. Bagaimana rasa bahagia itu aku temukan dalam pelangi di horizon utopiaku. Dan setiap detik yang berlalu dalam hidupku adalah perjalanan mengarungi samudra itu. Jika aku perlu memperluasnya sesenti demi sesenti, aku akan selalu bahagia melakukannya. Aku sedang menggali terusan suezku, untuk membuat rainbow warriorku bisa berlayar menembus samudra luas.. sampai zona bahagia itu menembus pelangi di horizon utopiaku..

If happy little bluebirds fly
Beyond the rainbow,
Why oh why can't I?


Kyai Gede Utama 8

Memento in My Everydaylife

“you can erase someone from your mind. Getting them out of your heart is another story.”
–eternal sunshine of the spotless mind-

I

10 juni 1995. sabtu.
Saat itu aku hanya bisa menuliskan dalam buku harianku, bahwa aku kehilangan dia untuk selamanya. Aku hanya menangis dalam hati. Bahkan ketika jasadnya ditimbun tanah. Aku hanya menatapnya, tanpa air mata. Tanpa raungan histeris. Juga ketika aku menatap detik demi detik nyawanya berpisah dari tubuhnya. Setelah memberikan pesan terakhirnya padaku dengan nafas tersenggal-senggal ‘jangan lupa solat, kalau punya anak ajarin dia ngaji dan yang akur ya sama adikmu.’ Ada lubang yang tiba-tiba menganga dalam hatiku. Pikiranku temporary black out. Seperti komputer yang tiba-tiba blank. Kosong. Kamar yang ditinggal penghuninya. Semua barangnya masih tetap di tempatnya tapi orangnya tak ada dan tak pernah kembali. Sepi.


***

Keesokan pagi dirimu terbangun. Jendela kamarmu masih tetap sama. Langit pagi yang biasa kau pandangi masih tetap sama. Kehangatan matahari pagi yang menerobos jendela kamarmu, masih sama hangatnya. Kau pandangi sekelilingmu, tak ada yang berubah dari tempatnya. Baru saat kau bercermin, kau sadari, dirimu berubah. Terurai dalam kepingan-kepingan ingatan yang kehilangan bentuk. Semua seperti saat kau gagal menyelesaikan susunan balok-balok kayu masa kecilmu menjadi bentuk yang kau inginkan. Lalu dirimu meruntuhkannya dan menyusunnya kembali dari awal. Saat kau merestartnya, kau berada dalam perpindahan waktu, sebelum kematian dan sesudah kematian bapakmu Before Christ (B.C.) berpindah ke Anno Domini (A.D.).

***

II

YK, Saturday, January 01, 2005
Hari pertama di tahun ini, aku terbangun di tengah hari di rumah ini lagi. Mencoba meredakan badai migrain yang tiba-tiba menyerang kepalaku dalam tiga hari terakhir dan mengosongkan isi kepalaku yang penuh sesak oleh banyak persoalan. Meski bangun dengan kepala sakit sebelah, tapi hatiku sudah merasa sedikit lega. Entah masalah mana yang menguap duluan. Tapi sedikit kelegaan cukup membantu untuk memberi ruang bagiku untuk berpikir kembali apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi atau kuhadapi. Maaf kalau aku terkesan melarikan diri. Tapi aku memang sudah tak tahan lagi. Aku butuh jeda sebentar.

***

Lalu kau menghela nafas panjang dalam jedamu. Menghembuskannya kembali bersama semua kepenatan dirimu. Menyusun bagian demi bagian dirimu yang tercerai berai. Mencoba komposisi yang berbeda untuk menemukan dirimu yang baru. Ingatan demi ingatan yang kau catat dalam ribuan lembar buku harianmu seperti balok-balok kayu yang kau susun ulang dalam project besar menyusun vitarlenologymu (ilmu kehidupannya tarlen). 'We are also what we have lost'. Begitulah Alejandro Gonzales Innarittu, sutradara muda mexico kesukaanmu, menulis dalam penutup Amores Perros, film pertamanya yang menang di banyak festival. Kau adalah kehilangan yang pernah kau alami.


III

(Before Christ..)

Mmm, coba aku ingat-ingat ...

Aku selalu bertanya: ‘Pak kalo itu pohon apa ya? Kalo yang sebelah sana?’ Trus itu yang dibelakangnya?’.. bapakku selalu menjawab. Dan aku tak tau apakah jawabannya benar atau karangan dia saja untuk menutup mulutku yang tak mau diam jika jpergi ke luar kota dengan Opel Record kesayangannya.

Dia pernah melecutkan sabuk kulitnya ke udara sambil mendelik, menyuruhku berhenti merengek minta dibeliin boneka. Sangking ketakutannya, aku ngga bisa menangis tapi meringkuk ketakutan di sudut lemari. Itulah pertama kali sekaligus untuk yang terakhir kali dia memintaku mematuhi perintahnya dengan cara seperti itu. Dan sepanjang hidupnya, dia tak pernah memukulku.

Dia suka memberiku hadiah diam-diam. Membelikanku pin, memberi uang-uang kuno, membelikan album perangko, memberikan benda-benda kecil yang membuatku senang tanpa sepengetahuan ketiga saudaraku yang lain. Dan ketika kutanya, ‘Pak ini berapa harganya?’ dia jadi bete. Sedikit membentakku, dia menjawab: ‘ Ga usah tanya harga, simpen aja sama kamu dan jangan beri tahu adikmu.’

O ya, aku pernah sangat terheran-heran padanya. Ketika itu adikku hampir membakar gudang perkakas di bagian depan rumahku. Dia menjatuhkan lilin dan membakar rak rotan tumpukan baju-baju tak terpakai. Ibuku sibuk menarik rak rotan itu keluar dari gudang perkakas dan dibantu tetangga, memadamkan api yang membakar hampir seluruh rak rotan. Sementara bapakku yang masih belepotan oli, karena memperbaiki Opel Recordnya yang jago mogok itu, malah sibuk memarahi adikku yang nangis-nangis ketakutan melihat api yang berkobar-kobar. Aku menyaksikan ibuku, tetanggaku, api yang akhirnya berhasil dipadamkan, bapakku yang marah-marah, adikku yang nangis-nangis, sambil menjilati es lilin 10 rupiah yang kubeli di tukang es lilin yang biasa mangkal di dekat rumahku. Aku terheran-heran dengan bapakku yang memutuskan memarahi adikku terlebih dulu daripada membantu ibuku memadamkan api.

Setiap pergantian caturwulan, bapakku sibuk merautkan seratus batang potongan bambu sepanjang 15cm untukku belajar berhitung. Setiap kenaikan kelas pula, dia akan mengajakku ke toko buku dan alat tulis langganannya dan membiarkanku membeli kotak pensil baru, penghapus karet dengan bentuk-bentuk yang fancy. Dan dia akan merautkan semua pensil baruku sampai runcing sempurna.

Hal yang paling senang kami lakukan bersama adalah berkhayal bersama. Kami akan berbaring bersama menatap langit-langit. Dan dia akan mulai bercerita tentang laut, tentang samudra dan mengarunginya. Khayalan masa kecilku dengan mudah mengkhayalkan itu. Semua buku cerita yang pernah kubaca, membantu mengembangkan khayalanku. Belakangan setelah dia pergi, aku baru menyadari, saat seperti itu baginya adalah saat mengenang sepenggal perjalanan hidupnya yang konon pernah dia jalani sebagai pelaut.

Dia akan duduk di teras loteng rumah untuk memandangi bintang-bintang atau melihatku dan adikku giliran bernyanyi untuknya. aku senang bernyanyi dengan gaya didepannya. karena dia adalah apresiator yang baik untuk semua karya anak-anaknya.

kadang aku menjumpainya duduk di teras sendirian, setelah dirinya bertengkar dengan ibuku. Dia akan pura-pura tidur jika ada orang mendekatinya. Aku biasanya akan langsung duduk dipangkuannya tanpa bicara apa-apa. Hanya ingin menemaninya saja.

Pertengakarannya dengan ibuku, biasanya disebabkan karena ketidak ekspresifannya untuk menunjukkan perhatiannya pada ibuku, soal uang belanja yang kurang, soal sikapnya yang memberi keleluasaan pada ibu untuk mengambil keputusan dalam keluarga, sehingga ibuku bosan terus menerus mendominasi dan merasa cape sendiri. Soal ketidak mengertian ibu pada sikap dan apa yang ada dipikiran bapak. Banyak.

Aku senang, jika dia pulang dari tugas luar kotanya, terutama Cianjur, dia selalu membawa kacang asin Cap Beringin. Sesudah mandi dan beristirahat, dia akan mengajakku dan adikku berlomba makan kacang.

Kadang kami mendengarkan kaset Trio Los Pancos kesukaannya dengan lagu-lagu latin. Bapakku akan ikut-ikutan bernyanyi dengan gaya seriosanya yang fals. Aku dan adikku pasti tergelak-gelak sampai terkencing-kencing melihat gayanya yang kocak.

Dia punya kumis yang begitu baplang. Anak-anak kecil tetangga rumahku, selalu memanggilnya dengan sebutan Pak Raden. Suatu ketika aku menemukan fotonya tanpa kumis dan aku tak mengenalinya. aku bertanya pada ibuku dengan polosnya: ‘Bu ini siapa sih, bapak-bapak pake kaca mata hitam, lagi baca koran, kok kaya copet ya?’

Jika aku sakit, dia selalu membelikanku bubur ayam di restoran Cina Pasar Kosambi atau di Jalan Naripan, lengkap dengan buah apel. Itu adalah makanan yang selalu kuminta jika aku jatuh sakit.

Dia membiarkanku mengengemut permen sambil tidur, karena itu adalah kebiasaan masa kecil yang kusukai. Ketika gigiku sakit, ibuku marah-marah dan dia yang akan meneteskan minyak cengkeh yang amit-amit rasanya itu pada gigi-gigiku yang berlubang.

Dia akan mengatakan, betapa beruntungnya aku bisa makan, sementara banyak anak kelaparan di Ethiopia jika aku tak menghabiskan nasiku. Saat aku bosan dengan kata-katanya itu, aku akan menjawabnya: ‘Untung aku ga tinggal di Ethiopia.’

Dia punya koleksi baut, mur, dalam berbagai ukuran, berkaleng-kaleng. Punya segala macam kunci peralatan montir. Punya tool box besi yang keren banget menurutku waktu aku kecil, dan aku tak pernah boleh memakainya untuk kotak baju boneka-bonekaku.

Dia senang sekali mengajak keluarganya piknik ke alam terbuka. Ke pantai, ke gunung, berendam di kolam air panas, kebun teh, kemanapun yang penting pergi piknik. Kepalanya akan pusing-pusing dan mengeluh badannya pegal-pegal, jika sebulan tak ada acara dinas keluar kota. Begitu ada di belakang kemudi dan mencium jalan raya antar kota, badannya akan kembali segar dan bersemangat.

Kira-kira tiga tahun sebelum dia jatuh sakit, ketika anak-anak beranjak dewasa, ketika dia dan ibuku punya lebih banyak waktu untuk berdua dan lebih memahami satu sama lain, setiap hari minggu pagi, dia dan ibuku pergi belanja ke pasar bersama. Selalu setiap minggu pagi.

.....

(Anno Domini...)

‘Bu kok, sekarang seringnya ke pasar sendirian? Bapak kok jarang keliatan?’ Mang Ganda, tukang oncom di pasar kosambi langganan ibuku bertanya seperti itu, tak lama setelah bapakku meninggal. Aku ingat kesedihan ibuku ketika menceritakan itu padaku, sepulang ia dari pasar.

Masih ada satu koper kulit, tersimpan rapi hingga kini, berisi bermacam ijasah, catatan otentik sepenggal kisah hidupnya yang terekam. Fotonya yang begitu tampan dari kanak-kanak sampai menjelang dewasa.

Mungkin semua surat-surat itu, bisa memberi sedikit gambaran tentang siapa lelaki yang pernah memiliki nama baptis Johanes Bergman itu. Bapakku.

Aku tak pernah tahu dengan pasti mengapa dia tak pernah mau bercerita banyak tentang masa kecilnya yang tidak bahagia itu?

aku tak pernah tau silsilah keluarganya dengan jelas. Aku tak sempat bertanya apa yang membuatnya bahagia. Aku tak sempat bertanya mengapa dia memutuskan pindah agama. Aku tak sempat bertanya mengapa dia memutuskan menikahi ibuku. Aku tau ayahnya, ayah tirinya. Ibu kandungnya. Ibu tirinya. Tapi tak mengenal kakek dan nenekku itu dengan baik. Begitu pula dengan saudara tirinya dan adik perempuan kandungnya yang misterius yang konon kabarnya meninggal semasa ia kecil.

Hanya kamus bahasa Indonesia susunan Adinegoro yang tersisa dari semua koleksi buku-buku yang pernah dia ceritakan padaku. Jam tangan Rolex imitasi, semua KTP, SIM, kartu pegawai. Agenda catatannya. Manset. Satu kotak negatif film dan foto-foto dirinya dengan keluarganya, anak-anaknya, teman-temannya, masa mudanya. Sarung-sarungnya, jaket kulitnya, jaket armynya. Kaos oblong terakhir yang dia pakai dengan bekas guntingan, ketika teman-teman masjidnya harus melucuti bajunya dan menggantinya dengan kafan.

Bagaimana suaranya, bagaimana dekapannya, bagaimana belaiannya, bagaimana ciumannya, bagaimana ekspresi kemarahnya, bagaimana ekspresi gembiranya, bagaimana makiannya jika ada supir angkot menyalip mobilnya, bagaimana dirinya.. semua menorehkan ingatan pada diriku, aku mengingatnya yang mencatat bukan hanya otakku dan panca indraku, tapi dengan hatiku.

IV

Kini kau memasuki tahun kesebelas, hidup dengan semua kenangan atas dirinya. Kau pikir kau tak mampu hidup tanpa dirinya, tapi nyatanya kau malah menapaki hidupmu lebih jauh dari yang kau kira. Semua memori yang membekalimu. semua kepingan-kepingan memorimu bersamanya, seperti potongan-potongan kain yang terjahit jadi satu, membentuk quilt yang menyelimuti hidupmu. Melindungi perjalanan hidupmu.

Awalnya, semua kenangan manismu bersamanya berubah getir ketika kau kehilangan dirinya. Setiap kali kau memutarnya kembali seperti sebuah slide show, reaksimu selalu berubah.

Dua tahun pertama setelah kematiannya, kau selalu menangis ketika mengingatnya. Kau meratapi waktu yang kemudian hilang bersama jasadnya. Kau kehilangan kesempatan untuk menorehkan lebih banyak memori hidup bersamanya. Kau marah pada dirimu sendiri, karena merasa tak mampu menyelesaikan buku catatan dan album kenangan sesuai ending yang kau inginkan. Perasaanmu seperti seorang penonton yang kecewa karena actor soap opera mu tiba-tiba mati dan tak akan muncul di serial berikutnya.

Tapi hidup terus berjalan bersama semua kehilangan yang kau rasakan. Semakin sering kau memutarnya, semakin kuat dirimu menghadapi perjalanan barumu tanpa dirinya. Kemudian kau sadari bahwa kau pernah punya sepenggal waktu yang begitu indah dalam hidupmu ketika bersamanya. Semuanya seperti album foto-foto lama yang kau simpan dengan baik untuk menandai waktu yang terus bergerak. Memori itu yang kemudian membentuk dirimu sekarang.

V

Hidupku mungkin tak seseru buku harian Zlata Filipovik atau Anna Frank yang keduanya sama-sama mencatat kekejaman hidup bernama perang.

Perangku adalah dengan diriku sendiri. Bagaimana setiap hari aku bergelut dengan pikiran bagaimana membuat hari ini lebih baik dari hari sebelumnya. Bagaimana melihat semua memori dalam perspektif yang baru setiap hari. Hidup senantiasa bergerak bersama waktu. Semua artefak hidupku, semua memoriku yang tersimpan maupun sengaja kusimpan, menandai sebuah langkah kecil dari diriku yang jadi atom dalam keseluruhan kisah sejarah besar manusia.

Semua ingatanku menjejak menjadi lingkaran tahun pada batang pohon.. momentum saat lingkar batang bertambah, kulalui setiap hari. Semua kenangan itu menjadi pupuk yang menyuburkan pertumbuhannya.

Everything change, but nothing really lost.
I am also What I have lost.

Tulisan ini ga jadi untuk Outmagz edisi 11, karena terlalu serius katanya ... hehehe dan aku juga gagal memenuhi deadlinenya.. :P

Surat Untukmu

surat ini biasa aku pakai untuk membalas surat-surat yang ditujukan padaku dan bertanya tentang tobucil. surat ini juga pernah dimuat dibuku revolusi semut yang diterbitkan oleh if community'

Salam,
Sebelumnya aku sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas surat yang dikirimkan kepada ku. Surat tersebut membuat aku merasa tidak sendirian, karena ternyata banyak orang memiliki cita-cita yang sama dan alangkah senangnya jika aku dapat berbagi. Permohonan maaf juga aku sampaikan karena aku begitu lama membalas surat yang dikirimkan kepadaku.

Jika dilihat dari hitungan waktu, apa yang aku lakukan tidaklah berarti apa-apa. masih panjang jalan dan waktu yang harus aku tempuh untuk membuktikan bahwa aku bisa konsisten terhadap apa yang aku cita-citakan sejak kecil.

Izinkan aku berbagi cerita tentang bagaimana aku mengawali apa yang aku lakukan sekarang ini. Seperti yang tertulis di KOMPAS, 7 Maret 2004, sejak kecil aku memang senang buku. Keinginan aku banyak sekali, sampai-sampai orang tua aku seringkali kewalahan menghadapi aku. sering kali aku disebut penghayal dan anak yang telalu banyak keinginan. Aku sendiri lahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, dari orang tua yang dua-duanya bekerja. Kehidupan keluarga dan orang tua aku tidaklah berlebihan tapi juga tidak berkekurangan. Cukup untuk sekolah sampai perguruan tinggi, tapi tidak untuk membiayai kesenangan anak-anaknya. Untuk itu sejak kecil aku dan saudara-saudara aku, terbiasa berusaha keras untuk bisa memenuhi kebutuhan sekunder kami, seperti buku atau hobi. Latar belakang itu pulalah yang kemudian membentuk dan menggembleng aku dan tentunya menjadi bekal yang sangat berharga ketika aku memutuskan untuk membuka toko buku.

Jika ditanya bagaimana memulainya, seringkali aku kebingungan untuk menjawabnya. Karena yang aku alami, memulainya begitu mudah. Sebenarnya, embrio tobucil - klab baca, dimulai sejak tahun 1999. Awalnya adalah kegiatan kumpul-kumpul dari rumah ke rumah anggotanya yang pada waktu itu berjumlah kurang lebih 10 orang. Kami berkumpul membahas satu cerita dari karya sastra penulis dalam dan luar negeri. Tapi kegiatan ini hanya bertahan kurang lebih 1,5 tahun. Tahun 2000 (pertengahan) kegiatannya terhenti, karena kesibukan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya. Tahun 2001, tepatnya 2 Mei 2001, Connie Chysania, Rani E. Ambyo dan Tarlen, mendapat kesempatan untuk membuka sebuah Toko Buku Kecil di Bandung (sampai 1 Mei 2002, toko buku ini bernama Pasar Buku Bandung dan sejak 2 Mei 2002 sampai sekarang berganti nama menjadi Toko Buku Kecil. Baru September 2002, kegiatan klab baca yang pertama yaitu Klab baca minggu sore, di mulai. Belum satu tahun berjalan, ternyata kegiatan yang dilaksanakan klab baca cukup berkembang, dan memunculkan klab-klab lain sesuai dengan minat orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Pada saat memulai kami bisa dikatakan tak punya uang. Hanya bermodal jaringan dan hubungan pertemanan yang baik, kami bisa mendapat koneksi ke para penerbit, mendapat tempat gratis yang cukup strategis (di Jl. Dago – bandung) dan dukungan dari teman-teman. Seperti yang aku katakan, bahwa memulai sesuatu adalah hal yang mudah, mempertahankan apa yang sudah dimulai, itulah bagian yang paling sulit. Selama tiga tahun berjalan, aku harus mengalami banyak pengalaman pahit. Dua orang pendiri tobucil Connie Chysania dan Rani E. Ambyo, pada akhirnya harus pergi meninggalkanku. Di tengah jalan, kami tak bisa menjalani apa yang kami cita-cita, bersama-sama. Belum lagi orang yang seharusnya bisa aku percaya untuk membantu mengelola toko buku kecil, melakukan penyelewengan keuangan yang jumlahnya bisa membuat bangkrut tobucil. Pengalaman seperti ini bagi aku tidak mudah untuk dihadapi, aku sempat nyaris putus asa dan berhenti. Tapi kemudian aku menyadari bahwa apa yang aku lakukan ini adalah keinginan aku juga, cita-cita aku sejak kecil. Dalam kondisi nyaris putus asa, dukungan dari teman-teman bermunculan. Sampai kemudian semangat aku bangkit kembali, dan aku bertekat memulainya kembali dari awal. Saat itu tobucil memasuki tahun ketiga bertepatan juga dengan kepindahan tobucil ketempat baru. Saat ini yang aktif terlibat mengelola kegiatan di klab baca – tobucil adalah aku (Tarlen), Dhini, Elvi, Bram, Arief, Mirna, Pam, Ima. Di tempat baru (jl. Kyai gede utama) aku juga mendapatkan teman-teman yang sangat mendukung apa yang aku lakukan, ada reina & gustaff (pasangan suami istri pemilik tempat di kyai gede utama 8), juga tanto yang juga mengelola sebuah organisasi bernama bandung center for new media arts. Tobucil pindah ke kyai gede utama, pada bulan april 2003.

Setelah satu tahun menjalani hidup satu atap di kyai gede utama 8, bulan juli 2004, bandung center for new media art dan tobucil –klab baca, sepakat untuk membuat organisasi payung yang akan memayungi kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di kyai gede utama 8 (KGU 8). payung organisasi itu bernama Common Room. Karena di KGU 8, kami punya ruangan sebaguna yang biasa digunakan untuk pemutaran film, pameran, diskusi dan juga sebuah perpustakaan yang dikelola bersama.

Semua dukungan dan bantuan dari teman-teman yang seringkali tak terduga sebelumnya, aku anggap sebagai hikmah, berkah dan sesuatu yang sangat berharga yang memberi aku kekuatan untuk terus menjalani apa yang aku cita-citakan. Aku kira hal penting yang untuk memulai sebuah toko buku/komunitas/perpustakaan/taman bacaan adalah kebulatan tekat dan kesungguhan hati. Yakinkan diri sendiri bahwa memang kita melakukannya karena kita memang suka dan ingin melakukannya dan menjadi sesuatu yang kita cita-citakan. Tanpa kebulatan tekat, rasanya sulit sekali ya untuk menjaga konsistensi dan semangat untuk bisa bertahan.

Bagaimana pun juga hal lain yang perlu disadari adalah membuka sebuah toko buku tidak bisa disamakan dengan membuka usaha lain, apalagi jika ada idealisme yang menjadi landasan usaha. Jangan lupa untuk mempertajam visi dan misi yang akan kita bawa lewat toko buku/komunitas/perpustakaan/taman bacaan yang akan kita bangun. Sejak awal, kepedulian aku dan teman-teman adalah masalah budaya membaca yang masih sangat rendah. Dan sesuai dengan kepercayaan yang aku anut, membaca menjadi hal yang sangat penting, karena perintah pertama dari Tuhan kepada manusia adalah membaca (iqra), bukan beriman. Logikanya bagaimana mau beriman jika tidak bisa membaca apa yang diciptakan Sang Maha Pencipta. Dari situ kemudian aku menerjemahkan kembali bahwa apa yang disebut melek baca dan tulis (arti literacy secara harfiah) bukan hanya membaca dan menulis teks atau buku. Tapi juga membaca lingkungan sekitarnya, memahami apa yang terjadi disekeliling kita, membaca alam, membaca hal-hal di luar teks bisa disebut literacy. Untuk memperjelas visi dan misi tersebut, akhirnya dirumuskan bahwa tobucil – klab baca membawa misi mendukung gerakan literasi lokal (SUPPORTING LITERACY MOVEMENT!).

Dan sejak awal, sudah diniatkan bahwa tobucil merupakan pintu masuk untuk membangun gerakan literasi tingkat lokal. Karena itulah tobucil adalah komunitas yang berbasis toko buku. Toko bukunya sendiri dibangun karena pertimbangan perlu adanya badan yang bisa memberi dukungan finansial untuk membangun komunitas, sehingga komunitasnya bisa berkegiatan secara mandiri. Jadi faktor bisnis bukan motif utama berdirinya toko buku kecil (tobucil). Karena bagi aku pribadi, jika ingin pure bisnis dan mendapat keuntungan yang banyak, membuka toko buku bukanlah pilihan yang tepat, apalagi jika modal terbatas dan idealisme yang dikedepankan.

Di Bandung, situasi dan kondisinya relatif lebih mudah ya jika di bandingkan dengan di Bali dan di Balikpapan (sejauh yang aku amati). Mungkin karena aku lahir dan besar di Bandung, jadi aku paham betul bagaimana kondisi sosial masyarakatnya. Jadi lebih mudah untuk melakukan pendekatan yang tepat supaya visi dan misi yang kita tuju bisa tercapai. Jadi selain membuat perencanaan sangat penting untuk membuat analisis situasi dan kondisi sosial masyarakat di tempat kita akan mulai membangun toko buku/komunitas/ taman bacaan/perpustakaan.

Setelah bulat tekat, barulah kita bisa membuat perencanaan. Penting untuk dilakukan adalah menganalisis terlebih dahulu modal/potensi apa yang kita miliki dan apa yang tidak kita miliki. Saat pertama kali aku akan memulai tobucil dan klab baca, aku sadar betul bahwa aku tidak punya modal uang yang memadai. Tapi aku sadari betul bahwa aku punya banyak teman-teman yang bisa membantu. Ketertarikan aku kepada seni dan budaya membawa aku kedalam lingkungan tersebut. Kemudian banyak teman-teman di lingkungan seni dan budaya yang bersedia membantu tobucil-klab baca. Kemudian aku melihat itu sebagai sebuah potensi. Untuk itu kegiatan –kegiatan yang diselenggarakan pun kegiatan seni dan budaya. Jadi yang aku lakukan adalah membuat strategi berdasarkan apa yang aku miliki dan apa yang tidak aku miliki. Karena aku tidak memiliki uang, berarti aku harus pandai-pandai mengelola uang yang masuk/pendapatan untuk membiayai operasional toko dan promosi kegiatan. Disini terasa jaringan pertemanan yang aku miliki menjadi sangat penting. Teman-teman banyak sekali membantu membuat acara dan aku hanya menyediakan tempat untuk berkegiatan saja. Untuk itu biaya yang aku keluarkan untuk promosi, tidak terlalu besar.

Dari kegiatan-kegiatan yang telah diselenggarakan itulah, akhirnya berkembang dan membentuk komunitasnya sendiri. Selama ini aku sengaja membiarkan komunitas yang terbentuk dibiarkan terbuka dan cair dalam artian tidak ada keanggotaan, siapa pun boleh mengikuti kegiatan tanpa paksaan. Karena tujuannya adalah menyebarkan gagasan tersebut seluas-luasnya. Lama-lama terbangun juga hubungan saling membutuhkan yang membuat komunitasnya bisa dikelola bersama-sama dengan melibatkan partisipasi dari para sukarelawan.

Ya, semuanya memang ngga mudah dan butuh waktu ya… aku selalu menganggap keberhasilan aku sama besarnya dengan kegagalan yang aku alami. Jadi jangan takut untuk memulai. Jangan putus asa jika menemui kesulitan. Yakinlah bahwa apa yang kita lakukan adalah dengan niat yang baik. Dan selalu ada jalan keluar dan pertolongan untuk sesuatu yang didasari niat baik.

Untuk melengkapi apa yang bisa aku sampaikan, aku sertakan pula informasi lain yang semoga bisa membantu. Jangan segan-segan untuk menghubungi aku dan berbagi cerita suka maupun duka. Perjalanan akan terasa menyenangkan jika kita tahu bahwa kita tidak berjalan sendirian. Mengetahui ada teman-teman lain yang memiliki cita-cita yang sama akan membuat kita tetap bersemangat.

Dari hati yang paling dalam terima kasih banyak untuk perhatian dan dukungannya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena terlambat membalas.


Salam hangat,
tarlen

Just Do It

“Everything Change, But Nothing Really Lost” - Morpheus, Lord of Dreams -

Jika ditanya, hal apa yang paling membuat saya takut sekaligus exciting, jawabnya adalah perubahan. Ya. Perubahan selalu membuat saya nervous. Seperti ketika pertama kali saya harus meniti canopy bridge yang menghubungkan pohon bangkirai yang satu dengan yang lain di hutan Kalimantan beberapa waktu lalu.

Canopy bridge di bangun di batang pohon bangkirai paling tinggi dengan ketinggian 40 meter dari permukaan tanah menggunakan tambang baja dan kayu sebagai tapaknya. Persis seperti jembatan gantung di film Indiana Jones. Saya harus meniti tangga yang begitu tinggi untuk bisa sampai ke mulut jembatan. Begitu sampai badan saya seperti kehilangan bobot dan kaki saya lemas hampir-hampir tak bisa digerakan. Keringat dingin tiba-tiba membasahi telapak tangan dan kening. Saya benar-benar ketakutan setengah mati. Tapi meniti canopy bridge adalah hal penting yang harus saya lakukan untuk mengobati phobia ketinggian yang saya rasakan selama ini.

Saya berusaha keras mengumpulkan keberanian saya yang tersisa untuk memulai langkah pertama meniti canopy bridge. Meski lutut saya gemetar dan tubuh kehilangan bobot untuk menyangga kesimbangan, langkah pertama pertama meniti canopy bridge berhasil saya mulai. Angin sore berhembus lumayan kencang, mengoyang jembatan yang hanya bisa ditapaki seorang demi seorang itu. Pikiran buruk muncul dikepala saya, resiko paling buruk mungkin saya jatuh dari canopy bridge dan mati. Ajaibnya, tubuh saya ternyata cepat beradaptasi dengan ketakutan itu. Sampai saya berani membuka mata. Pemandangan disekeliling saya sungguh menakjubkan. Saya melihat hamparan sebagian kecil hutan tropis Kalimantan yang katanya paru-paru dunia, di sekeliling saya. Matahari sore membuat pucuk-pucuk pohon dan beberapa orang utan yang bergelayutan dari pohon ke pohon, nampak seperti pemandangan di tayangan televisi National Geographic. Kekagumanan luar biasa atas pemandangan di sekeliling saya, membuat saya lupa dengan semua ketakutan saya sebelumnya. Tiba-tiba langkah saya terasa begitu ringan menyelesaikan titian canopy bridge yang pertama. Saya tak lagi gugup ketika harus meniti canopy bridge yang kedua dan ketiga. Ketakutan yang saya alami, berganti dengan kegairahan luar biasa untuk menikmati sensasi petualangan yang sebelumnya belum pernah saya rasakan.

Ternyata untuk mendapatkan pengalaman baru dalam hidup saya, hanya satu yang dibutuhkan: keberanian untuk memulai. Dan setelah langkah pertama dimulai, saya tak bisa lagi membendung semua perubahan yang membentang di depan.

***

Saya ingat betul bagaimana rasanya, saat bangun keesokan harinya setelah sidang skripsi usai dan saya dinyatakan lulus. Rasanya ada sebagian bobot tubuh saya yang selama 7 tahun di bangku kuliah saya pikul tiap hari tiba-tiba hilang lenyap entah kemana. Padahal ketika menjalani masa 7 tahun itu terutama 3 tahun terakhir, saya harus terus menerus berhadapan dengan orang-orang yang bertanya-tanya, ‘kapan skripsinya selesai?, atau kapan diwisuda?’ sampai saya merasa sangat muak dan bosan mendengarnya. Saat itu saya merasa kedua kaki saya seperti terbenam di dalam lumpur yang mengering, tak bisa digerakan. saya seperti dipaksa diam di tempat. Menyelesaikan pilihan saya untuk kuliah.

Sempat terpikir oleh saya untuk meninggalkan semuanya, berhenti kuliah dan melakukan hal lain yang saya suka. Saya bisa saja tak peduli pada kekecewaan orang tua saya yang telah bersusah payah mengupayakan itu. Tapi ternyata saya tak bisa mengabaikan hati saya, bahwa saya akan jadi orang yang tidak bertanggung jawab pada diri saya sendiri, karena saya tidak menyelesaikan jalan yang telah saya pilih. Dan ketika waktunya tiba, akhirnya saya bisa menyelesaikannya, bukan diri saya saja yang berubah, tapi juga seluruh hidup saya telah bergeser dari satu titik ke titik lain. Dari dunia kampus, ke dunia nyata. Perubahan itu tak bisa saya hindari, Jika saya ingin selangkah lebih maju, tentu saja harus bergeser dari tempat saya berpijak sebelumnya.

***

Apa yang saya bayangkan tentang perubahan, seringkali sesuatu yang drastis dan revolusioner. Padahal setiap hari, disadari atau tidak hidup saya selalu berubah. Setiap bangun dari tidur, pandangan hidup saya tentang apa yang saya jalani, pastilah berubah. Setiap kali menatap wajah saya di cermin, seringkali saya bertanya, siapa wajah di dalam cermin itu. Setiap hari adalah tantangan untuk mencari kebaruan dalam menjalani hidup yang seringkali terasa rutin dan monoton. Sesekali memang ada kejutan-kejutan yang tiba-tiba memberikan warna mencolok dalam hidup, tapi sering kali, perubahan yang terjadi seperti air yang menetes melubangi batu. Setetes demi setetes selama bertahun-tahun sampai akhirnya membuat lubang menganga. Seperti setiap hari yang terus terlewati. Begitu terus, sampai akhirnya umur tak lagi belia. Dan tiba-tiba saat bangun tidur, saya merasa asing, bertanya-tanya, dimana saya? Bagaimana saya bisa ada disini? Mengapa saya jadi begini?

Perubahan kecil yang terjadi setiap hari seperti langkah-langkah kecil yang terus menerus di jalani dan sampai suatu saat, tanpa terasa saya sampai di satu titik yang belum pernah saya capai sebelumnya. Saat itulah kemudian saya sadari, semua yang telah saya lewati, tak mungkin berulang lagi. Ketika dirunut kembali ke belakang, seringkali saya terheran-heran dengan diri saya sendiri, kok bisa saya melalui semua itu? Pada kenyataaannya kehidupan saya seringkali berjalan tak seperti yang saya rencanakan dan saya harapkan. Banyak hal ketika di jalani terasa begitu berat dan saya berkeluh-kesah, ngomel pada diri saya sendiri: kenapa saya harus menjalani ini semua? Sama saat saya sudah begitu muak dengan skripsi tapi saya dituntut untuk menyelesaikannya. Segala keluh kesah itu akhirnya membuat saya malah kehilangan cara untuk menikmati hidup yang saya jalani.

Mmm.. saya tak tahu diumur berapa saya akan mati. Dan saya tak bisa membiarkan hidup saya berjalan begitu saja tanpa jejak-jejak perubahan yang bisa saya nikmati dan saya pahami. Untuk bisa menikmati dan memahami jejak itu, saya mesti terbuka pada diri saya sendiri untuk menerima setiap kejutan dan perubahan sekecil apapun itu setiap harinya. Mudah dikatakan, tapi sulit untuk dijalankan. Tapi saya selalu mengingat kata-kata seorang teman, ‘ketika kamu belum temukan dimana nikmatnya perubahan itu, bukan berarti kamu berhenti menjalaninya. Yakin bahwa perubahan itu adalah bagian dari kehidupan kamu, kemudian jalani. Seperti kamu menjalani hari-harimu.’ (thx to dxt)

ga jadi buat jargon, tapi saya kirimin ke outmagz buat edisi desire

Temanku, Meja Bundar, Kekosongan, dan Apa yang Kalian Cari?

Tiba-tiba terlintas di pikiranku, bagaimana jika temanku, si psikolog yang merasa terganggu oleh keramaian jalan Dago di malam minggu, berdiri di atas sebuah meja bundar di perempatan jalan Dago –Sulanjana, lalu berteriak: ‘HEY APA YANG KALIAN CARI DIKERAMAIAN?????’ Aku tergelitik untuk menduga-duga apakah orang-orang yang memadati jalanan Dago akan menoleh padanya? Apakah obivan-obivan radio-radio gaul Bandung itu akan menghentikan suara-suara yang dibuatnya? Apakah setiap kendaraan yang lewat akan berhenti dan terpaku padanya? Apakah waktu akan berhenti sejenak dan memberi kesempatan pada semua yang ada di ruas jalan itu untuk menjawab pertanyaannya? Jangan-jangan malah sebaliknya. Sekuat apapun temanku itu meneriakan pertanyaannya, tak ada yang mempedulikannya, tak ada yang menoleh sedikitpun padanya. Obivan-obivan itu malah semakin keras meneriakkan musik-musik pengiring tari kejang. Karena temanku bertanya pada ‘ruang kosong’. Orang-orang memadati sekeliling meja bundar itu. Dalam kebundarannya ada ruang kosong. Dan temanku berdiri di tengah-tengah kekosongan itu. Jadi pertanyaan, ‘Apa yang kalian cari’ seperti bertanya pada ruang kosong itu. Tak terjawab.

Kami berdua melintasi sepenggal keramaian Dago. Temanku dengan wajah lelahnya, seperti anak hilang ditinggal ibunya di perempatan. Aku dengan bayangan meja bundar dan temanku yang berdiri di atasnya, menerobos kerumunan orang-orang yang khusyu menonton tari kejang dan pertunjukan musik. Lalu kami berpisah di perempatan jalan Sulanjana. Aku kembali ke Gudang Selatan dan dia ke Jatinangor. Sepanjang perjalanan angkot Abdul Muis Dago, aku memikirkan meja bundar dan kekosongan itu. Kata-kata temanku menggema di kepalaku: ‘keramaian ini membuktikan, setiap orang butuh mata untuk dilihat’. Kenapa? Apa itu berarti menjadi bagian keramaian jalan Dago, berarti aku ada? Mengapa harus dilihat? Bagaimana jika aku memutuskan menjadi Invisibleman-nya Ralp Ellison. Bagaiman jika ternyata orang-orang yang memadati jalan Dago sesungguhnya buta dan tidak bisa melihat.? Apa kemudian mata mereka menjadi kekosongan itu sendiri? Aku mencoba menghubung-hubungakan banyak hal, membuat asumsi-asumsi yang mungkin bisa menjawab pertanyaan temanku itu, apa yang kalian cari dikeramaian?

Sepanjang perjalanan, kuperhatikan mata orang-orang, siapa tahu di antara mereka ada yang bisa memperlihatkan jawaban pertanyaan temanku tadi. Tapi sia-sia. Aku tak melihat apa-apa pada mata-mata itu. Ketika angkot berhenti di perempatan jalan Jawa, pikiranku terhenti sejenak. Sebuah becak yang kuharap bisa mengantarku pulang ke Gudang Selatan, ternyata tak mau kutumpangi karena tukang becaknya sibuk bertukar nomer kode togel dengna penjudi lain yang masih muda dan berpakaian necis. Terpaksalah aku berjalan kaki melintasi jalan Jawa yang remang-remang oleh penerangan jalan ala kadarnya. Pikiranku kembali disibukkan dengan pertanyaan yang belum terjawab tadi, juga meja bundar dan persoalan kekosongan, juga pertanyaan temanku. Entahlah. Di satu sisi meja bundar memberi kesempatan rauang yang sama bagi siapapun yang cepat mengambil tempat di tepinya. Tak tersudut atau tepinggirkan. Tapi di sisi lain, ruang di tengah meja kosong tak berpenghuni. Jika temanku, si psikolog itu, duduk di tengah-tengah meja seorang diri saja. Dan orang-orang berjejal-jejal memadati tepi si meja bundar itu (yang semakin besar diameternya, semakin lebar juga jarak antara kerumunan orang dan temanku yang duduk ditengahnya), maka yang tampak olehku, dia seperti dipertunjukkan sirkus di acara sekatenan bersama Akum dan Gendis yang kulihat tempo hari (dimana para penonton juga seperti duduk ‘mengitari’ meja bundar karena arena lumba-lumbanya berbentuk lingkaran). Kalau pun temanku bertanya pada orang-orang itu, ‘hai kalian, apa yang kalian cari di keramaian?’ mungkinkah mereka menjawab, kami sedang mencari ruang kosong (di tengah meja) seperti yang kamu tempati itu, atau bisa jadi jawabannya, ‘kami sedang menonton kekosongan, bahkan bukan tak mungkin juga, mereka balas bertanya ‘lalu apa yang juga kamu cari dnegna bertanya apa yang kami cari di tengah keramaian?’ bagiku kemudian memikirkan hal itu seperti memutar gula menjadi aromanis. Kusut, lengket tapi manis.

Gudang selatan, 21 juni 2003

How To Get What You Want

Akhir-akhir ini saya banyak berpikir tentang apa yang sudah saya jalani dalam kehidupan saya. Sejak saya kecil sampai detik ini. Saya selalu bertanya-tanya, apakah saya telah mendapatkan apa yang saya inginkan? Tapi apa yang sebenarnya saya inginkan? Jika saya masih percaya bahwa keinginan itu seperti garis cakrawala, saat mendekatinya lima langkah, dia menjauhi kita sepuluh langkah, apa sebenarnya keinginan itu? Akankah dia benar-benar teraih? Bisa saya pegang? Tercapai seperti garis finish? Apakah keinginan itu sesungguhnya? Jika keinginan-keingan itu sesuatu yang bisa kita pilih, bagaimana dia bisa kita sebut sebagai sesuatu yang benar-benar kita inginkan? Kenapa selalu ada yang lebih kita inginkan dari pada yang lain? Dan mengapa kita merasa yakin bahwa itulah yang benar-benar kita inginkan? Is this what I want? Buat Macan_teman saya yang paling dia inginkan sekarang adalah menyelesaikan skripsinya lalu dirinya akan terbebas dari tekanan orang tua dan lingkungannya. Keinginan itu begitu kuat, karena ada target yang mengejar-ngejar dia: waktu yang sudah melampaui batas, omelan orang tua yang selalu dia dengar setiap hari. Mulai bangun tidur sampai mau tidur.

Target dan tekanan. Itulah yang seringkali membuat setiap orang menyerah pada sesuatu yang sebenarnya bukan keinginan dia yang sesungguhnya, tapi kemudian kerena tekanan dari semua orang yang bilang bahwa hal itulah yang harus jadi keinginannya, orang-orang seperti Macan, saya (pada saat tertentu), pasrah pada keadaan. Menjalani hal –hal semacam skripsi sebagai ‘sebuah’ keinginan, padahal kami tak pernah suka menjalaninya. Skripsi bukan keinginan tapi kewajiban. Atau skripsi bukan kewajiban tapi konsekuensi. Pertanyaan yang paling mendasar muncul: apakah ini yang saya inginkan? Bagaimana dia muncul sebagai sesuatu yang saya inginkan? Seringkali keinginan besembunyi pada ceruk hati yang paling dalam. Tersembunyi dan terselip di balik kewajiban-kewajiban dan rutinitas hidup. Keinginan seringkali terlihat seperti air yang berbentuk sesuai dengan wadahnya. Bagi para pendaki dan petualang, apa yang sebenarnya jauh lebih menyenangkan Apakah mencapai puncak Mount Everest? Atau perjalanan panjang mengahadapi badai salju, ancaman frozebites, buta salju, kekurangan oksigen, kemungkinan bertemu Yeti di perjalanan? Atau mungkin rasa lega ketika berhasil kembali sebagai satu-satunya anggota tim yang selamat? Saya ngga tahu. Antara proses mencapai dan pencapaian, seperti satu paket. Mungkin sama halnya dengan aksi reaksi, ada ying ada yang. Meski tidak juga selalu seperti itu. Sering kali setelah jauh berjalan, ternyata belum mendapatkan apa yang ingin dicapai, keburu cape, menyerah, atau ganti haluan. Lalu apa gunanya bersetia pada keinginan atau impian? Jika sampai detik terakhir, pencapaian itu hanyalah impian belaka? Revolution in everyday’s life Katanya, untuk dapat apa yang kamu inginkan, kamu harus setia sama keinginan atau yang jadi impian kamu. Ya, mungkin itu benar. Setidaknya saya sedang membutikan hipotesa itu. Katanya juga, jika kamu teguh dan pantang menyerah berusaha meraih impian-impianmu, seluruh alam semesta akan serta merta mendukungmu. Mmm.. yang ini butuh analisis lebih dalam untuk membuktikan kebenaran pernyataan itu.

Dari yang saya jalani, semua hal yang saya inginkan, ketika saya memang benar-benar menginginkannya dan menjalani apa yang saya inginkan, sesulit apapun dan semustahil apapun keinginan itu, ternyata selalu ada ‘pintu-pintu’ yang yang kemudian terbuka dan memberi saya jalan, seperti mempersilahkan saya untuk terus dan terus menerus berjalan sejauh saya bisa bersetia pada apa yang memang saya impikan dan saya cita-citakan. Banyak kejutan bersembunyi dibalik pintu-pintu yang kemudian terbuka. Dan ketika kita memilih salah satu dari pintu itu dan menapakinya, banyak hal berubah dalam hidup kita seringkali hanya dalam kedipan mata, satu kejadian yang hanya terjadi sekejap, tapi merubah arah dan kehidupan yang kita jalani.

Dan semuanya ngga bisa dikalkulasi, ngga bisa dihitung dengan pasti. Jika kita mengira bahwa kita bisa dengan pasti memiliki sesuatu, ternyata itu salah. Apa yang semula kita kira tak pernah bisa hilang atau berubah, ternyata bisa lepas kapanpun dan merubah segalanya. Kehilangan sama seperti kelahiran, merubah banyak hal memberi banyak kejutan dan warna dalam hidup kita setiap harinya. Lalu apa itu keinginan jika setelah kita dapatkan bisa saja hilang dan berubah tanpa kita sadari sebelumnya? Ya, kita memang ngga mungkin mendapatkan hal yang sama persis dua kali dalam hidup kita. Mmmm… sepertinya sesuatu yang kita inginkan dan kita dapatkan, rasanya tidak benar-benar seperti yang kita bayangkan. Mungkin itu juga sebabnya kebahagiaan dari semua pencapaian kita, tak ada sama rasanya. Kebahagiaan selalu datang dengan rasa yang berbeda-beda. Tapi pikirkan jika setiap hari, hidup yang kita jalani selalu berjalan dengan cara dan rasa yang sama, betapa membosankannya hidup kita. Betapa segala impian dan keinginan menjadi tak ada artinya.

Sesuatu yang kita impikan dan kita inginkan, pada saat dirasai sebagai pengalaman nyata akan selalu terasa berbeda. Itu sebabnya ada ungkapan, kenyataan tak seindah impian. Dan kebanyakan orang memilih mimpi daripada menjalani impian itu menjadi kenyataan. Seperti pedagang kristal pada kisah Sang Alkemis. Dia lebih memilih tetap bermimpi pergi ke tanah suci, daripada sungguh-sungguh pergi ke tanah suci. Padahal jika dia mau, dia bisa mewujudkannya kapanpun dengan semua uang yang dia miliki. Si penjual kristal beralasan, jika ia merubah mimpinya atau keinginannya jadi kenyataan, tak ada lagi yang tersisa dari mimpinya. Apa lagi yang harus dia mimpikan dan dia inginkan? Si pedagang kristal pikir, hidupnya akan berakhir, saat semua yang dia impikan berhasil dia capai. Mmmm, padahal keinginan manusia itu selalu tanpa batas. Satu tercapai, akan muncul seribu keinginan yang lain. Semakin kita menjalani banyak hal yang kita inginkan dan menjadikannya kenyataan, semakin banyak perbendaharaan kita mengenai rasa yang berbeda-beda itu dan semakin tumbuh subur keinginan-keinginan kita yang baru.

Pengalaman ini seperti tinta yang diteteskan pada air. Dia akan menyeruak, merubah, mengembang kedalam warna air yang bening. Sampai akhirnya berubah warna menjadi pekat dan tidak akan pernah menjadi bening kembali. Meski kita tidak mendapatkan pencapaian yang kita bayangkan, mungkinkah jejak perjalanan mencapai sesuatu itu, benar-benar bisa kita hapus? Karena kita punya banyak pilihan untuk hidup kita. Mau dibikin garing bisa, mau dibikin seru juga bisa. Setiap pintu yang kita pilih untuk kita masuki punya resikonya sendiri-sendiri. Kalau semua pilihan dan apa yang kita inginkan ternyata memang beresiko, mengapa takut memilih salah satunya dan menjalaninya? Toh semuanya pasti berubah meski kita akui atau tidak, revolusi dalam hidup kita selalu kita alami setiap hari. Jadi mengapa takut menjalani apa yang sesungguhnya kamu inginkan? 2/2/05 2:00 AM

tulisan ini untuk D-side, Free Magazine

Ya Sudahlah, Lupakan!

(Aku Hanya Ingin Memanggilmu Bapak)


artwork: Agus Suwage

Kau yang duduk di sudut itu duduk dalam temaramnya sinar kuning lampu gantung dan bangku kayu di sudut ruang bertembok putih kusam, menanti teman tuamu, tempat dirimu berbagi sekarang. Dua jam menunggu dalam janji jumpa tepat waktu dalam semangat berbagi duka. Gelisah berpacu dengan waktu yang membawa malam. Segelas Ekspresso dan Risso de Polo tak lagi menggelitik lidah dan menghibur dirimu. Malah jejak rasa mual naik ke kerongkongan berlomba dengan gelisah yang kian sangat, berharap dirinya segera datang menjumpaimu. Seresta mengalun dari speaker yang tergantung disudut-sudut ruangan. Denting banjo Bela Fleck dan lengking harmonica Howard Levi, mengantar kelanamu, melalang menyusuri arti dirinya dalam hidupmu kini.

: Semua ini hanya ilusi
Semua ini hanya obsesi
Tentang sosokmu dalam hidupku
Imajiku tentangmu. Menggedor-gedor relung jiwaku. Lamat-lamat semakin dekat. Dirimu menari di ruang khayalku. Membuai. Tentang bapak yang kucari darimu. Tentang kenangan dalam kisaran waktu yang kini ingin kuhadirkan kembali.

Menarilah dikau dalam sentimentalitasku. Semburat senyummu memberi darah baru, ketika jiwa terlalu lelah bangkit dari puing-puing kehancuran. Sapamu menyiram luka, dalam lantunan nada yang sama yang dulu pernah menyirami ranting-rantingku. ‘Tumbuhlah jiwa baru, manisku: kematian bukanlah akhir. Kematian adalah kehidupan yang dilahirkan kembali.’ Kau memupuk harapanku. Mengubur duka laraku.Maka ku kan berhenti menangis. Keluh kesah hilang bersama hatiku yang menggelembung, ditiup lembut tutur sapamu.

Menarilah dikau dalam kenanganku Kedamaian yang kau tawarkan, sebening mata air merambati lorong kerongkonganku yang kering. Hingga kupuaskan dahaga rindu bapak dari dirimu. Bawalah ruang hampaku bersamamu. Ayunkan kemanjaanku dalam senyum bijakmu. Berputarlah wahai kau ‘bapak’, bawakan kembali tarian itu, hantarkan aku dalam waktu, menembus kerinduan pada orang sepertimu. Orang yang pernah ku panggil bapak.

Menarilah dikau dalam kelanaku. Temani aku melalanglang jauh, menggapai mimpi membangun istana nyata. Gantikan ia dengan kasihmu. Baluri aku dengan doamu.bekali aku dengan pengertianmu: tentang sebuah dunia luas berwarna-warni. Mendekatlah padaku. Mendekatlah. Rengkuh diriku, dalam mimpi buruk kelanaku, ketika lelaki tua yang pernah kupanggil bapak, tak lagi hadir menemaniku. Lindungi aku dalam bayangmu. Berikan tanganmu, genggam erat diriku kini disaat ku tak mampu menarikan hidup dalam putaran waktu, sementara waktu telah memulainya. Seperti yang pernah kau katakan: “jalanmu masih panjang manisku, kau harus kembali mulai melangkah. Tempaan menghadangmu di depan, kau harus siap menghadapinya . karena itulah sebenarnya hidup, bertemu para pandai besi yang akan menempamu, membentukmu, menjadikanmu berguna.”kau benar bapak, lelaki yang ingin kupanggil bapak. Perjalananku yang masih teramat panjang. Jangan biarkan aku patah dan berhenti di tengah jalan. Berikan tuntunanmu, manakala ku tahu ku tersesat. Tularkan jiwa senimu manakala ku harus mewarnai hidup, biar ku dapatkan sebuah lukisan indah tentang hidupku.

Menarilah dikau dalam batinku. Rambati aku dengan kesejukan. Pada saat jiwa terasa kering. Mendamba figur yang dapat kuraih manakala ku berduka. Bantulah aku mencari jawab tentang makna yang memberi arti dalam hidupku. Redakan galau masa mudaku. Beri aku kekuatanmu, manakala seisi dunia menganggapku tak mampu melepaskan diri dari bayang lelakiu tua yang pernah ku panggil bapak. Hanya itu yang kuinginkan darimu. Menutup album kenangan seorang lelaki yang pernah kupanggil bapak. Lepaskan aku dari bayangnya. Dan mencari makna spiritualitas bapak lewat kamu, lelaki yang ingin kupanggil bapak.

Semua ini hanya mimpi
Semua ini hanya semu
Tentang dirimu menjadi bapak dalam hidupku

Ku kan tau waktu mengobati semua luka. Ketika waktu jua yang mempertemukan kita dalam sebuah kebetulan yang menyenangkan. Di ruang ini setengah tahun yang lalu, di saat kita sama-sama bersuka merayakan perjumpaan kembali kawan lama kita. Kau hadir sebagai tetua yang tahu bagaimana membahagiakan anak-anak muda seperti kami. Keramahanmu dan keinginanmu untuk mau mendengar cerita-cerita kami, kau mau tertawa untuk kekonyolan kami, kau mau mengerti kebandelan kami. Kau membuatku terharu, karena kau sama seperti lelaki yang pernah kupanggil bapak. Kau yang nampak jauh lebih muda dari usiamu, menggelitik kenanganku akan kebaikan seorang bapak. Meski kau cukup pantas untuk digoda dan juga menggoda sosok yang mendambakan figur matang seperti aku. Lalu kita sesekali bertemu, memuaskan kerinduanmu akan kerenyahan orang-orang muda dan aku memanfaatkan kemudaanku sambil menyelami sosok kebapakanmu. Menafsir-nafsir setiap kata-katamu dalam frame bapakku yang dulu.
Lantas, dirimu belakangan menguasai jagat khayaliku, menjadi arsitek, membangun kepingan bapak dalam diriku. Meski kau nyata, bangun seorang bapak dalam diriku, semu belaka. Kau ada, tapi bukan untukku. Aku hanya bisa menangkap bias-bias bayangmu. Dan memungut remah-remah kebapakanmu yang memberiku tenaga manakala waktunya terbang bebas telah tiba.

Menarilah dikau dalam tawaku. Setelah duka itu berlalu. Setelah tawa mengembang bersama kenangan tentang bapakku. Ketika bisa kuceritakan kisah-kisah kebapakannya padamu tanpa aku perlu menangis. Karena kau akan tertawa-tawa menyadari bahwa kalian para bapak kadang-kadang berbuat hal-hal konyol di saat waktu beranjak dalam hitungan setengah abad. Tutuplah album kenanganku, lalu kita berputar dan berputar, menari dan tertawa, seraya menyongsong waktu yang menempa hidup. ‘Hapus air matamu, hidup bukan untuk ditangisi tapi tertawakanlah ia, selagi kau bisa terwakan hidup dan kehidupanmu. Kau akan merasakan, ringannya ayun langkahmu, dan kau bisa berputar dan terus berputar, menarikan tarian hidup.’

Menarilah . Ayunkan kaki bersama. Lambungkan aku jauh dalam angan, tembuslah batas lukaku. Lepaskan aku dalam pasak dan talimu hingga ku kan terus berputar seperti gasing mencari hakikat makna seperti para Darwin yang tak lelah untuk terus berputar dan berputar. Tepuki aku bilaku menari dengan baik. Karena ku tahu hanya itu yang bisa kau lakukan: menonton di tepi panggung. Memberi jarak di antara kita dan membiarkanku untuk mampu menari sendiri.

Semua ini angan
Semua ini hanya rindu
Tentang sosokmu dalam hidupku
Yang kucari bapak
Mungkin itu ada dalam dirimu
Tapi kau bukan bapakku
Yang dulu pernah hidup dan juga kupanggil bapak
Yang sosoknya tak bisa tergantikan, bahkan olehmu

Kemudian, waktu mendekati tengah malam dan dirinya tak kunjung hadir menjumpaimu. Seresta usai. Kau memutuskan untuk bangkit melepaskan aura ruangan bergaya country Itali dan membebaskan diri dari sudut favorit, sobat tuamu. Meninggalkan Ekspresso dan Risso de Polo yang habis setengah. Lalu memberi maaf pada waktu yang terbuang juga rasa kecewamu.

: Tapi ya sudahlah. Lupakan
Aku hanya ingin memanggilmu bapak.

Gudang Selatan, 5 Juli 2001
(Aku hanya ingin memanggilmu bapak)

Tulisan ini ditulis berdasarkan irama lagu Seresta
Howard Levy & Manfredo Fest
Bela Fleck & The Flecktones
UFO TOFU

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails