Sunday, December 31, 2006

Nu Year, Nu Me?

foto by tarlen "first km. simones"

Kebohongan terbesarku selalu dimulai di tahun baru. Sederet resolution buat diriku sendiri, menjadi daftar panjang yang kubuat diawal tahun, tapi ketika akhir tahun aku menengoknya kembali, sebanyak itu pula kebohongan yang kulakukan (yang terdaftar tentunya, yang tidak terdaftar pastinya lebih banyak lagi). Karena aku ga menepati apa yang kujanjikan pada diriku sendiri. Lantas di pergantian tahun seperti ini, aku akan membuat daftar yang tak terealisasi itu, menjadi resolution baruku di awal tahun, begitulah seterusnya. Yang artinya, aku ga pernah buat resolution baru sesungguhnya. Dan kalo aku bilang, tahun baru menandai kebaruan diriku, yeah omong kosong.

***

Aku berhenti beresolusi sejak beberapa tahun terakhir ini, saat aku sadar, aku hanya menambah daftar kebohonganku sendiri. Tahun baru datang, ya biarkan dia datang, karena demikian tugas waktu. Berputar dari hari kehari, dari tahun ke tahun, mengantar pertambahan usiaku. Seperti lingkaran tahun pada batang sebuah pohon.

Tahun ini, aku melewati pergantian waktu, di tempat yang dulu pernah membuatku nyaman, tapi kini aku ga merasa seperti itu lagi. Aku sadari aku bukan lagi bagian dari tempat ini lagi. Waktu telah mengantarku pada satu titik, dimana aku mesti mencari tempat pijakan baru untuk diriku sendiri. Aku seperti seorang anak yang tiba-tiba menyadari tumbuh besar, lalu rumah menjadi terlalu kecil untuk tempat mainku. Mungkin kesadaran ini muncul, karena 2007 ini aku genap berusia 30 tahun. Wow.. 30 tahun. Waktu berulang tahun yang ke 27, aku mengira, aku ga bakal hidup lebih dari 27 tahun. Ternyata, aku bisa masuk ke usia 30 tahun. Perjalanan yang panjang. Wajar kalo tiba-tiba aku ngerasa ruang bermainku selama ini jadi terlalu sempit.

Jadinya masuk tahun 2007, aku justru mikirin apa yang udah kulewati selama 29 tahun. Aku menandai beberapa waktu penting dalam hidupku. Sekarang setelah aku melihatnya kembali, ternyata ga semengerikan ketika aku menjalaninya.
  • 1977, lahir ke dunia. Menurut ibuku, aku satu-satunya anak yang ga sabar untuk lahir ke dunia. Hampir lahir di jalan. Selain itu, selama dalam kandungan, kakek dan bapakku mencurahkan perhatian khusus pada ibuku, karena ibuku masih sangat terpukul dengan kematian nenekku dua tahun sebelumnya. Bagiku, situasi ini kemudian menjelaskan kenapa aku lebih deket sama bapak daripada sama ibu.
  • 1977-1995, tumbuh dan berkembang. Merasa di dunia ini ga ada yang bisa mengerti aku kecuali bapak. Dia adalah sahabat setia dan sahabat terbaikku. Duniaku ada dalam dekapannya. Aman dan nyaman. Meski pada rentang waktu ini, diriku dibentuk oleh ibu dengan cara aku banyak menentang dia, dan dibentuk oleh bapak karena dukungan dan persahabatannya. Aku melihat kembali rentang waktu ini dan menyadari, betapa beruntungnya aku. Apapun yang ibuku berikan, adalah yang terbaik yang dia upayakan untuk aku dan anak-anaknya yang lain. Aku berterima kasih untuk itu.
  • 1995, tahun yang tak pernah aku lupakan dalam sejarah kehidupanku. Kehilangan sahabat terbaik, bapak yang memberi rasa nyaman dan penuh. Selain bangun jiwaku runtuh, ini adalah titik nadir dalam hidupku, ketika aku harus belajar menemukan jalan hidupku sendiri. Saat itu aku seperti anak kecil yang ditinggal di terminal sendirian. Ketakutan, kebingungan, karena ga tau tujuan hidupku mau kemana.
  • 1995-2001, belajar hidup dalam gelap. Mencari-cari tujuan yang bisa aku tempuh. Seringkali jatuh dan tersesat, tapi lama-lama sadar, bahwa ga pernah ada yang bener-bener gelap total dalam hidup ini. Dalam kegelapan pun masih banyak yang bisa dilihat. Justru mungkin lebih banyak.
  • 2001-2006, reshape of my soul. Kalo jiwaku itu luluh lantak karena kehilangan, fase ini, adalah fase membangun dan membentuk kembali jiwaku yang kehilangan bentuk. Ada tobucil, ada orang lain yang kemudian banyak berperan dalam menyusun kembali cetak biru diriku. Ini adalah fase dimana aku menguji rute perjalanan hidupku yang aku susun dari semua pengalaman yang telah kujalani. Banyak kegagalan, tapi banyak juga pencapaian. Trial and error. Fase ini memberiku kesadaran: jika aku berhenti di titik ini, aku tak akan pernah bisa menjalani titik yang lebih jauh dari ini. Terima kasih untuk orang-orang yang menjadi role model untuk mendefinisikan ulang, apa itu rasa nyaman, apa artinya merasa penuh, apa arti memiliki, apa arti kehilangan, apa arti mencintai sekaligus membebaskan. Terima kasih telah mengantarku sampai ke titik ini. Tugas kalian telah selesai. Terima kasih banyak.
  • 2007, selamat datang masa pembangunan (kaya orde baru aja..), tahun ini akan jadi tahun yang penting dalam fase baru kehidupanku. Sekaranglah saatnya untuk mulai membangun rumah jiwaku dengan versi baru. Jika Tuhan memang memberiku umur panjang, aku akan memasuki 30 tahun berikutnya dalam rumah jiwaku yang baru.
***

Mungkin memang tak ada yang benar-benar baru, yang lama berubah, jadinya terlihat baru. Aku ga mungkin membangun rumah jiwaku yang benar-benar baru, tanpa melihat yang jiwaku yang lama. Yang lama dan yang baru, seperti sebuah rentang warna dari hitam 100 % sampai putih. Setiap hari pengalaman, merubah komposisi warnanya.

Aku sendiri ga tau, akan seperti apa rumah jiwaku itu. Akan ada orang lain yang juga mempengaruhi seperti apa wujudnya. Dan itu bagian dari negosiasiku, ketika sadar aku ga bisa hidup sendirian dan memenuhi semua keinginanku sendiri. Aku bagian dari alam semesta, dan rumah jiwaku adalah bagian terkecil dari semesta itu sendiri. Ketika menyadari aku bagian dari yang lain, hidupku mulai saat ini adalah persoalan bagaimana aku membaginya pada yang lain. Apakah ini akan jadi kebohonganku yang berikutnya? Jika ternyata aku gagal menepatinya, yang jelas aku ga akan menyangkalnya.
"Everything change, but nothing really new and lost.." (morpheous, lord of dream)
(yk, 1 januari 2007, 11:30)

Saturday, December 30, 2006

Carut Marut Perempuan di Layar Kaca

foto by tarlen

Rasanya bukan saya saja yang mengalami perasaan schizophrenic, jika menyimak pemberitaan di layar kaca dalam sebulan terakhir ini. Sebagai pemirsa, saya menyaksikan betapa cepat drama kehidupan berganti lakon. Pemirsa televisi seolah digiring dalam satu fragmen ke fragmen lain yang semua peran utamanya adalah perempuan. Sebut saja Maria Eva dalam berita skandal seksnya dengan anggota dewan dari partai Golkar_Yahya Zaini. Belum selesai kehebohan berita itu, pemirsa digiring pada fragmen berikutnya yang tak kalah heboh. Kali ini bintang utamanya adalah teh Ninih, istri ulama kondang Abdulah Gymnastiar yang memutuskan menikah lagi dengan perempuan bernama Rini. Pemberitaan ini mengundang reaksi keras dari banyak kalangan. Sebagian sangat menyesalkan sikap Teh Ninih sebagai istri yang menerima begitu saja keputusan suaminya menikah lagi. Sebagian besar lainnya sibuk memperdebatkan boleh tidaknya poligami. Bahkan Presiden SBY pun ikut bersuara mengenai hal ini. Perdebatan poligami yang semakin panas itu, tiba-tiba di potong oleh pemberitaan, penyanyi muda Alda Risma yang ditemukan mati di sebuah hotel di Jakarta. Diduga Alda mati over dosis, belakangan muncul spekulasi, bahwa kematian Alda juga disebabkan oleh suntik diet dan kencantikan yang selama ini dia jalani.

Rasanya memang seperti itulah wajah televisi yang saya tonton sehari-hari. Sinetron, tayangan mistik dan kekerasan, seolah masih kurang dan perlu diperburuk lagi dengan infotainment dan tayangan ‘bernuansa islami’ yang tidak sensitif gender. Simak saja sepenggal adegan tayangan Hidayah dilayar kaca kita yang mengambarkan bagaiman sesama perempuan menyebarkan kebencian diantara mereka sendiri. “Dasar perempuan miskin! Jangan pernah kamu injakkan kaki lagi di rumah ini. Anakku tak pantas untukmu. Pergiii!!" teriak Ny Rossi. Dengan senyum sinis, jari tangannya menunjuk jalan ke luar rumahnya. Nurul, perempuan yang dia usir itu, dengan wajah pucat, berlari, pergi. Ny Rossi tersenyum puas.

Pemberitaan televisi, yang kian hari kian membuat saya merasa ngeri. Dunia ini seolah tak pernah mengabarkan kabar baik. Seolah kenyataan hidup hanya berisi kesedihan dan kekerasan yang memaksa saya untuk terbiasa dengan semua itu. Sebagai sesama perempuan, saya merasa ngeri ketika perempuan selalu diposisikan sebagai korban, pihak yang teraniaya, tak berdaya dan seolah-olah menjadi penyebab dari semua patologi sosial yang ada dimasyarakat.

Belum lagi tayangan infotaiment yang kian hari mengaburkan batas antara ruang private dan ruang publik. Selebritis yang kebanyakan adalah perempuan, dituntut untuk selalu memenuhi tuntutan publik atas citra diri yang sempurna. Tak ada ruang bagi sosok yang lebih manusiawi bagi seseorang berlabel selebritis. Infotaiment sebagai medium yang bisa mengangkat karir seorang artis, berperan pula sebagai hakim yang menjatuhkan hukuman ketika si selebritis keluar dari tuntutan citra yang selama ini telah terbentuk.

Simak saja jawaban-jawaban yang seringkali seragam, manakala selebriti perempuan ditanya, apa yang akan dia lakukan setelah menikah, apakah ia akan terus berkarir sebagai artis? Dengan klise mereka menjawab: “ Yang jelas saya akan mengutamakan keluarga, jika suami saya mengijinkan saya akan tetap berkarir sebagai artis.” Seorang aktor muda pendatang baru ketika ditanya apa yang dia bayangkan tetang hubungan dia dengan kekasihnya yang juga seorang artis, jika memasuki jenjang perkawinan, si aktor menjawab: “Saya ingin, istri saya nanti menjadi ibu rumah tangga, di rumah mengurus suami dan anak-anak.”

Dengan dalih hak publik untuk mendapatkan informasi, infotaiment dengan leluasa menelanjangi kehidupan pribadi selebritis. Misalnya dalam kasus perceraian. Pihak ketiga (baca: perempuan lain) selalu menjadi cara pandang si pewarta infotainment dalam mengupas masalah perceraian. Seolah harus ada perempuan lain yang menjadi kambing hitam dalam perceraian itu.

Hampir disetiap talkshow mengenai perempuan, pembicaraan mengupas persoalan kecantikan, bagaimana tips disayang suami dan keluarga, bagaimana mengurus rumah dan anak. Dan jika mengupas persoalan karir, lebih pada persoalan bagaimana kemudian karir tersebut tidak bertentangan dengan kehendak sosial.

Bagaimana perempuan dilumpuhkan dan dibuat tak berdaya dalam layar kaca kita? Siapa yang sesungguhnya berkepentingan dengan ‘ketidak berdayaan’ perempuan di layar kaca? Adakah siasat untuk melawan ketidak berdayaan itu? Bagaimana membangun daya tawar perempuan dilayar kaca?

***

Kontroversi dan sensasi, seolah jadi sajian utama tayangan televisi dalam kurun waktu terakhir ini. Perebutan kue iklan oleh sembilan televisi swasta, membuat pengelola televisi lebih mengutamakan tayangan-tayangan yang memperoleh rating tinggi menurut survey.

Sebuah hasil survey yang penting dicermati, sinetron "Rahasia Ilahi" dan "Takdir Ilahi" yang ditayangakan TPI mampu menempatkan TPI dari tujuh besar ke posisi tertinggi. Sinetron Rahasia Ilahi sempat meraih rating tertinggi share 15,8% berada di urutan pertama, berdasarkan survei AC Nielsen. Terlepas apakah hasil survey tersebut cukup valid atau tidak, namun sinetron religius ini ternyata mampu menggeser sinetron gemerlap yang selama ini mendominasi dan menuai banyak kritikan. Keberhasilan tayangan tersebut secara survey, membuat televisi swasta lain, beramai-ramai membuat program sejenis demi mendongkrak rating mereka.Itu sebabnya, televisi kemudian sangat mendewakan rating.

Secara statistik jumlah perempuan yang jauh lebih banyak dari laki-laki, membuat perempuan menjadi potensi pasar sekaligus komoditas yang luar biasa bagi industri televisi. Perilaku pertelevisian kita yang seperti ini, kemudian membuat perempuan menjadi komoditas yang strategis untuk di eksploitasi. Hampir semua tayangan di televisi kita melibatkan perempuan. Bahkan untuk acara-acara yang selama ini terkesan maskulin, seperti olah raga, petualangan, disajikan oleh pembawa acara yang juga perempuan. Namun sejauh ini, perempuan tetap saja menjadi objek dari segala persoalan yang disajikan.

Perempuan dalam sinetron selalu digambarkan sebagai tokoh/karakter yang akan menggunakan berbagai macam cara_ tubuh dan keperempuanannya serta kelemahan-kelemahannya untuk mendapatkan/mencapai tujuannya (harta atau pasangan). Dan mereka digambarkan dengan sadar menggunakan itu semua sebagai alat tipu daya. Demikian pula dalam iklan. Lewat iklan , pembentukan karakter dan nilai tawar perempuan seringkali ditentukan oleh hal-hal yang bersifat fisik dan kebendaan. Perempuan yang memiliki fisik dan materi yang lebih baik akan mendapat lebih banyak akses dan kemudahan-kemudahan sosial. Dalam stereotipe yang seperti itu, perempuan yang bekerja keras dengan mengembangkan potensi dan meraih prestasi, namun tidak memiliki kelebihan fisik dan materi yang lebih baik, menjadi perempuan yang berada di luar hitungan dan tak mendapatkan ruang sosialnya.

Hal ini tergambar jelas dalam program-program tayangan ficer berita, dimana nilai human interest dimaknai secara sempit. Human interest seringkali dimaknai sebagai penderitaan yang dapat menimbulkan belas kasihan dan air mata pemirsanya. Perempuan dengan penderitaan dan kemiskinannya kemudian menjadi objek berita yang tiada habisnya. Penderitaan dan kemiskinan digambarkan sebagai suratan nasib yang diterima begitu saja dengan kepasrahan dan sikap tanpa daya. Jarang sekali ficer berita memberi sudut pandang yang inspiratif, lewat perjuangan perempuan-perempuan itu, ketika mereka merubah nasibnya dan berjuang mendapatkan akses sosial yang lebih baik. Perempuan yang selama ini termarjinalkan dalam sistem sosial, dilumpuhkan pula karakter dan identitasnya oleh stereotipe yang dibentuk oleh televisi.

***
Eksploitasi perempuan di layar kaca pun, bukannya tanpa kepentingan. Propaganda politik selama ini tak akan berhasil tanpa dukungan dari media. Para agitator dengan sangat cerdas mengemas pesan-pesan politiknya sedemikian rupa, secara halus menyusup, sampai pemirsa tidak menyadari dirinya sedang dalam pengaruh agitasi politik. Bukan rahasia umum lagi, jika politik dan ekonomi adalah keterkaitan yang sangat erat dan mutualisme. Politik melegitimasi kepentingan ekonomi, dan ekonomi menjamin keberlangsungan politik. Perempuan selama ini harus berjuang untuk mendapatkan hak suara dan hak politiknya. Untuk mendapatkan quota jumlah wakil politik di Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Perwakilan Rakyat pun bukan hal yang mudah, apalagi hak suara yang memadai dalam proses pengambilan keputusan politik.

Dalam dunia iklan, kita bisa membandingkan jumlah produk yang dibuat untuk perempuan. Bukan hanya produk yang secara langsung memang dibutuhkan perempuan, namun iklan juga mengarahkan proses pengambilan keputusan ada pada perempuan. Lewat pesan-pesan sublim yang secara halus mempermainkan aspek kesadaran kita, kebutuhan dasar lantas dipermainkan untuk kepentingan penjualan produk. Kita dapat mencermati itu, bagaimana riset market sekarang ini ditujukan pada aspek psikografis konsumen. Pertanyaan bukan lagi sebatas berapa pengeluaran setiap bulan, barang apa saja yang dikonsumsi setiap bulannya. Namun riset market kini masuk ke wilayah yang lebih sublim. ‘Apa yang membuat anda bahagia’, ‘apa yang menurut anda keren’,’saat seperti apa anda merasa cantik?’. Kian hari kita bisa merasakan, bagaimana iklan mendefinisikan kebahagiaan, harmonisasi keluarga, apa yang keren dan tidak, apa yang membuat anda merasa cantik atau jelek. Mau tidak mau, iklan bukan hanya mengatur pola konsumsi kita, tapi lebih jauh daripada itu. Iklan mampu mendeskripsikan identitas individu sampai ke tataran yang esensial. Dan televisi menjadi media yang meligitimasi semua itu. Ketika yang muncul di televisi diyakini sebagai realita dan situasi yang ‘sewajarnya’ diterima dalam keseharian, perempuan berada dalam posisi kepanjangan tangan dari kepentingan-kepentingan tersembunyi itu.

Secara alami, televisi memiliki kekuatan sebagai media yang bisa menghegemoni. Ideologi dan kepentingan tertentu yang diwakilinya, memakai media sebagai alat untuk menyebarluaskan itu kepada permirsanya. Tentu, sebagai sebuah perangkat yang dibangun oleh kekuatan modal yang tidak dimiliki oleh setiap orang, televisi mewakili kepentingan segelintir orang yang sedemikian rupa tersembunyi, dibalik sifat jangkauannya yang luas dan fokus pada segmentasi pasar tertentu (secara terang-terangan Trans TV dan RCTI mengakui bahwa segmen penonton utama mereka adalah perempuan). Karena itu, pemirsa seringkali tak menyadari bagaimana kepentingan-kepentingan tertentu itu bermain.

Posisi perempuan yang selama ini termarjinalisasi secara politik, kemudian retan disusupi oleh kepentingan-kepentingan yang masuk ke wilayah domestik. Kepentingan-kepentingan itulah yang mengendalikan perempuan dalam pola pembagian peran, waktu, ruang, tempat domestik, pembentukan citra, kesadaran, ideologi, terbentuk lewat tayangan yang disajikan televisi setiap harinya. Karena fakta menunjukan, perempuan menonton televisi lebih banyak daripada laki-laki dan anak-anak. Stereotipe dan pencitraan yang melumpuhkan perempuan, membuat perempuan lupa bahwa sebagai pemirsa, perempuan memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya selama ini dijadikan alat dan komoditas untuk mencapai tujuan tertentu.

Tayangan-tayangan bernuasa Islam di televisi, oleh banyak kalangan justru dianggap menyempitkan pemahaman islam dan semakin merendahkan peranan perempuan dalam kehidupan beragama. Penafsiran tentang kepasrahan yang selama ini lebih banyak dibebankan kepada perempuan daripada laki-laki juga bagaimana Tuhan dicitrakan sebagai pihak yang lebih mudah mengazab perempuan daripada laki-laki. Akibatnya, perempuan secara sosial menjadi subordinasi laki-laki dalam setiap pengambilan keputusan, karena pencitraannya yang membentuk konstruksi sosial disekelilingnya. Tayangan bernuansa islami lantas, memiliki kekuatan untuk melegitimasi kondisi itu dari perspektif agama. Perempuan selalu diposisikan sebagai pihak yang harus patuh pada laki-laki, seburuk apapun kondisi laki-laki itu.

Akibat dari pencitraan tersebut, kita dapat melihat contohnya secara jelas, bagaimana istri anggota Dewan yang terlibat dalam skandal seks, membela suaminya habis-habisan bahkan menyatakan diri siap berjihad untuk membela kepentingan suami. Padahal pemirsa mengetahui skandal itu dengan jelas, ketika video adegan sex mereka beredar secara luas. Pemirsa digiring oleh media, untuk menerima peristiwa itu dengan cara berpikir dan stereotipe yang telah dikukuhkan oleh media sebelumnya: istri harus patuh dan taat pada suaminya. Suami boleh berbuat salah, namun istri harus selalu siap membela kehormatan suami, bahkan dengan cara-cara yang tidak masuk akal sekalipun.

Contoh lain yang menjadi bukti bahwa stereotipe yang dibangun oleh televisi telah melekat begitu kuat, adalah pada kasus poligami Aa Gym. Teh Ninih, sebagai istri pertama, kemudian memainkan peran sebagai sosok istri ideal. Dengan kesolehannya ia menampakkan kebesaran hati (setidaknya itu yang diperlihatkan oleh televisi), menerima perkawinan kedua suaminya dengan perempuan lain. Meski menimbulkan kecaman dari banyak pihak, namun sikap Teh Ninih yang ‘nampak menerima’ istri kedua suaminya, mampu meredam protes ibu-ibu yang selama ini menjadi mayoritas jamaah suaminya. Peran yang dimainkan Teh Ninih lewat televisi, seperti menegaskan pencitraan perempuan soleh yang berbakti pada suaminya.

Penafsiran agama yang dimaknai secara sempit melalui tayangan-tayangan televisi, semakin mempersulit pemahaman akan keberagaman dan pluralisme, yang sesungguhnya ada dan terjadi dalam masyarakat kita. Dalam pemberitaan, kita dapat mencermati bagaimana main frame berita televisi, cenderung membesar-besarkan konflik yang disebabkan oleh perbedaan yang terjadi dalam masyarakat. Dengan gambar-gambar yang bombastis, mengerikan dan berulang-ulang, perbedaan kemudian dicitrakan sebagai sesuatu yang mengerikan dan menimbulkan konflik dalam masyarakat. Televisi sepertinya memandang perbedaan sebagai sesuatu yang lebih baik dihindari. Tidak ada ruang untuk pilihan-pilihan hidup yang lain dan berbeda. Keberagaman cenderung menjadi jargon yang kemudian tidak ditawarkan sebagai sebuah kesempatan untuk menentukan pilihan. Keberagaman seringkali menjadi sajian yang telah siap untuk dikonsumsi oleh pemirsanya, yang mau tidak mau pemirsa harus menerimanya. Pemirsa tidak mendapatkan kesempatan untuk menentukan sendiri keterlibatan mereka dalam menyikapi perbedaan dan keragaman yang ada.

Sebagai kekuatan keempat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif, televisi menjalankan kemampuannya yang tidak tertandingi media lain. Televisi seperti yang disebutkan James Lull, dalam Media Komunikasi dan Kebudayaan, menjadi mata uang ideologis yang mampu memperlihatkan, mendramatisasikan dan mempopulerkan, fragmen-fragmen informasi dan budaya lalu membingkainya dalam konstruksi sosial yang melanggengkan kekuasaan politik maupun ekonomi yang ada di belakangnya.

****

Perkembangan pertelevisian Indonesia yang secara dinamis baru dimulai di awal 1990-an, membawa dampak bahwa pertelevisian kita masih mencari bentuk. Budaya visual televisi yang secara massive membombardir masyarakat kita, menciptakan kegagapan bukan hanya ditataran pemirsa namun juga pada pelaku pertelevisian sendiri. Kegagapan ini jelas terlihat, manakala setiap stasiun televisi seperti tidak memiliki keberanian untuk membangun identitasnya secara mandiri, melalui keragaman program tayangannya dan bagaimana kaidah jurnalistik dipraktekan. Ketika satu stasiun televisi menayangkan program yang memperoleh rating tinggi, dengan cepat stasiun televisi lain menduplikasi program tersebut dengan minim adaptasi dan olahan kreatif. Selain itu pemberitaan di televisi kita dinilai belum mampu mengangkat persoalan secara menyeluruh. Pemberitaan seringkali sepotong-sepotong dan sangat bergantung pada apa yang sedang marak terjadi. Berita ditelevisi belum mampu mengawal isu dari awal sampai mengantar isu tersebut menjadi satu tekanan untuk merubah kebijakan atau situasi tertentu.

Kondisi tersebut mengakibatkan, isu dan persoalan perempuan menjadi tema pelengkap. Karena untuk isu-isu high light pun, televisi masih kewalahan untuk menyajikannya secara komprehensif. Isu perempuan karena dijadikan sebagai pelengkap, akhirnya hanya dibahas hanya sebatas permukaan belaka. Meski mengaku perempuan adalah target pemirsa yang utama, namun beberpa stasiun televisi swasta, belum mampu menyajikan suguhan yang mencerdaskan pemirsanya. Pembahasan tentang gaya hidup lebih menonjolkan faktor sensasinya. Perempuan tidak diberi ruang gerak untuk membangun daya tawarnya.

Sebagai mahluk yang diciptakan dengan kemapuan multi tasking, siasat adalah kemampuan perempuan yang kekuatannya seringkali tak disadari banyak orang. Selama ini siasat perempuan, tampil di televisi sebagai stereotipe negatif. Perempuan selalu digambarkan sebagai sosok iri dengki dan tidak suka pada keberhasilan orang lain. Dan televisi selama ini menggunakan karakter negatif itu untuk mengadu domba sesama perempuan. Seolah strategi melumpuhkan perempuan oleh televisi dilakukan dengan meminjam tangan perempuan lain. Coba saja cermati, bagaimana strategi ini dijalankan lewat penciptaan karakter protagonis dan antagonis yang kelewat kontras lewat sinetron-sinetron yang ada. Seolah tak ada sisi manusiawi dalam diri perempuan. JIka dia bukan sosok yang sangat jahat, dia adalah tokoh yang sangat baik tak bercacat. Pengelola Televisi seringkali berdalih dengan legitimasi rating, mereka mengatakan bahwa tayangan seperti itu lah yang banyak diminati oleh pemirsa. Padahal di waktu-waktu prime time, pemirsa tidak disuguhi pilihan lain selain sinetron.


Oprah Winfrey, seringkali disebut sebagai contoh sukses bagaimana, perempuan minoritas di dunia hiburan, mampu membangun daya tawar melalui kreativitas dan kepekaannya membaca situasi. Oprah mampu menggunakan peluang eksploitasi untuk mengubahnya jadi kesempatan membangun daya tawar perempuan. Bagaimana daya tawar itu berhasil Oprah bangun? Selama ini Oprah membangunnya dengan menggali potensi perempuan itu sendiri. Oprah membuat penontonnya sadar atas apa yang menjadi kelebihan dan potensinya. Lewat kesadaran itu, kemudian perempuan yang menjadi target utama pemirsanya, bisa menentukan sikap terhadap banyak hal. Mainframe Oprah ketika membahas penderitaan yang dialami perempuan, Oprah memposisi perempuan tersebut sebagai survivor bukan sebagai korban. Dengan kreativitas dan kemampuan membaca peta persoalan, Oprah pada akhirnya mampu bernegosiasi dengan kepentingan ekonomi dan politik dalam posisi yang setara.

Saya kira, ditengah situasi dunia pertelevisian yang sedang mencari bentuk, dan upaya-upaya lebih fokus pada segmen pemirsa perempuan, perancang bisa mencoba melihat persoalan perempuan ini dari perspektif yang berbeda. Perspektif perempuan sebagai survivor dengan perempuan sebagai korban, saya kira menjadi penting, karena bisa jadi pijakan dan memberi perempuan ruang gerak untuk membangun posisi tawarnya. Sebagai korban, perempuan diposisiskan sebagai pihak yang tidak berdaya, powerless. Sedangkan sebagai survivor, perempuan yang semula ada pada posisi korban, mampu mengangkat dirinya untuk mendapatkan daya dan powernya kembali, ketika dia dihadapkan pada situasi sulit. Perspektif survivor inilah yang belum nampak di layar kaca kita, saat membicarakan persoalan perempuan.

Bertambahnya jumlah perempuan praktisi televisi, membuka kesempatan dan peluang untuk membangun daya tawar menjadi semakin besar. Persoalan meningkatkan posisi tawar perempuan di layar kaca, saya kira juga berkaitan dengan bagaimana kemudian sharing kekuasaan itu bisa dilakukan di tataran penentu kebijakan program tayangan televisi dengan target pemirsanya. Pembagian kekuasaan dari pengelola televisi dengan pemirsanya, memiliki implikasi besar. Pemirsa tidak lagi dijadikan target pasif yang secara masive bisa dibombardir oleh pilihan-pilihan sepihak dari pengelola televisi, namun pemirsa juga bisa berkontribusi dalam menentukan pilihan-pilihan mereka sendiri. Di sini kemudian program-program tayangan tidak lagi didasarkan pada asumsi-asumsi, namun lebih jauh lagi, program tersebut mewakili kebutuhan perempuan untuk membangun daya tawarnya. ***

(tulisan ini ga jadi buat jurnal srintil )

Wednesday, December 13, 2006

The Dark Side of The Moon



Berita poligami Aa Gym dan skandal sex Yahya Zaini, belum selesai terungkap, kehebohan berita berganti dengan ditemukannya Alda Risma, di hotel Grand Menteng, dalam keadaan tewas karena over dosis. Pemburu infotainment, sibuk mengorek keterangan dari keluarga penyanyi berusia 24 tahun itu. Yang menggelitik pikiranku kemudian adalah pernyataan dari kakeknya Alda, "Wah rasanya tidak mungkin Alda terlibat narkoba."

Aku jadi teringat, salah satu episode Oprah yang membahas rahasia hidup seseorang. Saat itu Oprah menampilkan tamu beberapa perempuan yang ternyata menjalani kehidupan ganda. Selain ibu juga bapak rumah tangga dan panutan keluarga, mereka ternyata menjalani kehidupan rahasia sebagai penjudi, pengutil dan perampok bank, selama bertahun-tahun. Rahasia terbongkar saat mereka tak dapat lagi mengontrol kehidupan rahasianya dan akhirnya terlibat masalah yang menyebabkan rahasianya terungkap.

Ketika ditanya mengapa mereka mampu menyembunyikan rahasianya selama bertahun-tahun, jawaban mereka ternyata hampir sama. Mereka tak mampu memperlihatkan sisi diri mereka yang itu. Karena itu bisa menghancurkan penilaian keluarga dan orang-orang terdekat mereka selama ini. Mereka tak sanggup jika rahasia itu dibuka. Karena resiko yang mereka takutkan adalah kehilangan keluarga dan 'semua kemapanan' yang telah mereka miliki selama bertahun-tahun.

Tapi ternyata ketakutan itu tak sepenuhnya benar. Justru saat mereka mengaku, dan memasrahkan rahasia itu pada orang-orang terdekat, keluarga bahkan anak-anak mereka, bisa menerima itu. Salah satu anak dari perempuan yang menyimpan rahasia itu, kurang lebih berkata: "Saya malah bisa mengenal ibu saya dari sisi yang lain. Seburuk apapun yang dialakukan, dia tetap ibu terbaik yang saya miliki. Dia selalu menemani dan ada disaat saya kesusahan, dan sekarang waktunya saya ada untuk ibu. Karena ibu lebih membutuhkan saya sekarang daripada sebelumnya."

Namun penolakan juga terjadi ayah yang selama ini dikenal sebagai figur teladan. Bukan hanya di keluarga, namun juga di masyakat. Selama tujuh tahun dia menjalani kehidupan ganda sebagai perampok bank dan berselingkuh dengan perempuan lain. Sampai salah satu putranya menemukan kenyataan itu di internet. Dengan perasaan terpukul, dia dan sodara-sodaranya yang lain, melaporkan ayah mereka ke polisi. Dari penjara si ayah mengaku bahwa ia tak bermaksud menyakiti hati anak-anaknya. Dia menerima resiko bahwa anak-anaknya tak mau menerima dirinya lagi sebagai ayah. Pengakuan yang cukup mengusikku adalah saat si ayah bilang " Ternyata diri saya tidak sekuat yang saya kira."

***

Aku berpikir tentang hal ini. Tentang rahasia-rahasia yang seringkali tersembunyi dari diriku maupun yang secara jelas aku sembunyikan. Rahasia yang mungkin tidak semua orang bisa menerimanya. Dan seringkali yang tidak bisa menerima dan menyangkal keras kenyataan itu adalah justru orang-orang terdekat. Keluarga, istri, suami, anak, orang tua, ketika rahasia itu terungkap, merekalah yang seringkali paling keras menyangkal dan membantah kenyataan itu.

"Tidak mungkin anak saya melakukan itu," "Suami saya orang bersih, tidak mungkin dia melakukan skandal memalukan itu, saya rela berjihad untuknya.." (yuuuuukkkk atuhh).. bla..bla..bla.. Ya, drama-drama penyangkalan itulah yang kemudian muncul disekelilingku. Dan menimbulkan tanda tanya dalam diriku, Bagaimana mungkin, dia sebagai istri, dia sebagai suami, sebagai orang tua, tak bisa mengetahui hal itu. Sejauh mana mereka saling mengenal? Bagaimana mereka mengenali orang-orang terdekatnya?

Seringkali apa yang aku kenali dari orang lain adalah frame yang aku bentuk tentang orang itu dan aku menyusun kepingan-kepingan informasi tentangnya, sesuai dengan kemauan dan keinginanku. Aku menolak informasi dan kenyataan yang tak sesuai dan tak bisa aku terima. Hasilnya, aku mengenali orang lain, sesuai dengan keinginanku bukan sebagaimana orang itu ingin aku kenal. Aku yang kemudian menentukan bingkai untuk orang lain, bukan mencoba mengenali siapa ibuku, siapa bapakku, siapa sodara-sodaraku. Rahasia apa yang mereka sembunyikan selama ini? Apa yang tak kuketahui dari diri mereka? Siapkah aku jika tiba-tiba ada rahasia mereka yang aku harus terima?

Saat meninggalkanku, bapakku menyimpan rahasia masa lalunya. Siapa dirinya, hanya kudengar samar dan dari interpretasi ibuku sebagai pihak kedua yang menceritakan siapa bapakku dari bingkainya. Lalu kukenali bapak, seperti melihat bulan di langit malam. Sisi terangnya yang terlihat, sisi gelapnya? aku hanya bisa meraba-raba. Begitu pula, ketika aku mengenali orang lain. Seperti melihat sisi bulan yang terang. Aku tak mungkin melihat bulan keseluruhan bundarnya dalam waktu yang bersamaan. Ada saatnya sisi gelapnya berubah terang dan terlihat, dan ada saatnya sisi terangnya berubah gelap. Jika aku bisa mengenali bulan dari gelap dan terangnya, mengapa tidak demikian halnya dengan orang-orang di dekatku?

Karena tak mungkin pula aku mengetahui semua rahasia. Apa gunanya juga buatku. Aku menjalani kehidupan paralel yang seringkali terlihat tak berhubungan satu sama lain. Tapi itulah aku. Aku bisa bilang pada orang lain, silahkan pilih, sisi kehidupanku yang mana yang mau kamu lihat. Tapi jika kau melihatku dengan bingkai yang telah kau punya, kau hanya bisa melihat diriku yang flat, dua demensi saja. Karena bingkai kemudian menyederhanakan seluruh detail dan bagian gelap terang kehidupanku.

Kukira yang tak kalah penting untuk kupahami adalah bagaimana melihat sesuatu dalam terang. Seringkali ketika semuanya tampak terang, aku malah silau, ga bisa liat apa-apa. Dalam gelap, justru aku bisa melihat sekelilingku bukan hanya panca inderaku yang melihatnya, tapi perasaanku juga turut merasakannya. Rahasia kehidupan seseorang kemudian bagiku seperti sisi bulan yang gelap. Suatu saat kegelapan itu akan nampak. Tinggal, siapkah aku melihatnya?

"There is no dark side of the moon really. Matter of fact it's all dark." -Pink Flyod

Kyai Gede Utama 8

Tuesday, November 14, 2006

That's Why I Like You...!

picture by ross halfin

Ngikutin pembuka tulisan Hagi Hagoromo di edisi sebelumnya, saya juga mau bilang, kalau jadi penggemar sebuah band bukanlah hal yang kelihatannya mudah. Kenapa saya bilang gitu? proses menyukai sebuah band hingga bisa jadi fan-nya selama bertahun-tahun, ternyata butuh komitmen dan kepercayaan, persis kaya orang pacaran. Berlebihan kah saya? mungkin. Bagi saya, ketika saya menggemari sesuatu, seringkali saya harus kenal seperti apa yang saya gemari itu. Bukan cuma musiknya, seringkali attitude malah jadi faktor yang cukup penting bagi saya untuk memutuskan, terus menyukainya, atau ya sudahlah, mereka tak ada bedanya dengan band-band lain yang terkena rockstar syndrome.

Saya mau cerita tentang rasa suka saya pada Pearl Jam. Band asal Seattle di era 90-an yang sampai saat ini, mereka jadi last band standing untuk generasinya. Sama seperti kebanyakan anak SMU yang hidup di tahun 1990-an, saya juga terkena demam grunge. Waktu itu saya lebih dulu menyukai Red Hot Chili Pepers, karena kegilaan mereka dalam bersikap (selain itu John Frusciante muda.. siapa sih yang ga suka sama dia ? :D). Ketika era grunge muncul, kisah hidup Kurt Cobain mengundang simpati saya, selain musiknya yang juga mewakili fase psikologis saya pada jaman SMU yang sering marah-marah ga jelas. Namun, saya kecewa berat, saat Kurt Cobain bunuh diri. Bagi saya keputusan Kurt Cobain untuk bunuh diri, tidak memberi inspirasi yang tepat, ketika sebagai fans, pada saat itu, lebih membutuhkan ‘spoke person’ untuk bisa mewakili apa yang saya dan mungkin jutaan fans nya rasakan. Lalu, Eddie Vedder dengan sepenggal kisah hidupnya dalam salah satu hits mereka, Alive, menggugah saya kemudian. Mengobati kekecewaan saya atas kehilangan figur Kurt Cobain.

Saya seringkali berpikir, sebenarnya, mana yang lebih menggugah saya sebagai fan, bagaimana Pearl Jam bermusik? atau bagaimana kisah hidup di balik proses bermusiknya? Saya kira untuk Pearl Jam, dua-duanya menjadi penting. Seringkali saya lebih menunggu kejutan apalagi dari Pearl Jam sebagai band yang pernah dijuluki The Most Elusive Band in The World (band paling susah di mengerti). Sebagai fan ternyata saya juga ga bisa dengan mudah begitu saja menerima keputusan mereka ketika menentang Ticket Master yang menurut mereka, menjual tiket dengan harga yang terlalu mahal untuk fans mereka. Hey, sebagai fan sebenernya, berapapun harga tiket konser yang mereka jual, tentunya dengan sukarela kami pasti akan membelinya. Setelah tiga album hits (Ten, Versus, Vitalogy), Pearl Jam mengeluarkan album yang membuat mereka ditinggalkan banyak sekali penggemarnya. Dan bagi saya, album No Code (album ke 4 pearl jam), adalah album paling sulit diterima, kerena secara musik mereka berubah drastis. Bukan hanya itu. Mereka pun memutuskan, menutup diri pada media, tidak mau membuat video klip, sampai-sampai penjualan album mereka hanya 500 ribuan keping saja di seluruh dunia. Saya ga bermaksud membahas kenapa No Code yang secara musikal lebih kontemplatif dan kemarahan Vedder di album-album sebelumnya tak terdengar di sini. Yang menarik bagi saya, sebagai penggemar, saya kemudian dipaksa oleh PJ, untuk menerima kenyataan bahwa sebagai manusia biasa mereka juga berubah.

Selama ini, sebagai fan, PJ adalah ilusi buat saya. Saya mengenal PJ lewat karya-karyanya, karena itu saya punya kebebasan berimajinasi, berfantasi, berilusi tentang mereka. Sehingga yang saya sukai kemudian adalah imajinasi saya tentang PJ. Sebagai fan pula, saya seringkali otoriter, hanya mau menerima image mereka yang sesuai dengan yang saya inginkan, selain itu saya ga mau menerimanya. Buruk-buruknya saya akan meninggalkan mereka, ketika mereka berubah tidak seperti yang saya inginkan. Dengan kejam, saya bisa bilang, mereka udah ga asyik..eddie vedder pun udah tampak tua dan gemuk. tidak se ganteng dan se keren dulu. Ketka imajinasi tentang mereka di hancurkan oleh kenyataan bahwa mereka pun tumbuh dan senantiasa berproses dan berubah, sebagai fan rasanya saya sulit menerima itu.

Muncul pertanyaan dalam diri saya, bagaimana caranya tumbuh dan berkembang bersama band yang kita kagumi? Apakah dengan mengimitasi apapun yang mereka lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari? Bagaimana caranya menjalin pemahaman satu arah yang sehat antara kita dan band atau sosok idola kita? Bagaimanapun ada jarak yang yang sangat besar antara saya dan PJ. Saya tak pernah kenal mereka secara langsung, jika saya menganggap mereka teman, itu adalah pertemanan yang imajiner. Pertemanan terabsurd yang pernah dijalani. Mereka bisa mempengaruhi bahkan merubah hidup saya, tapi hidup mereka mungkin tak pernah saya pengaruhi. Ini seperti kepakan sayap kupu-kupu di Afrika, bisa menimbulkan badai di Alaska. Hubungan saling mempengaruhi yang seringkali sulit diterima oleh rasio.

Kebutuhan dasar manusia yang membutuhkan role model untuk mengisi kehidupannya, nampaknya bisa menjawab pertanyaan saya tadi. Ketika role model itu tak bisa kita dapatkan dari orang-orang yang kita kenal dekat, kita biasanya mencarinya dari orang lain yang bahkan jauh dari kita atau tidak kita kenal sama sekali. Karena manusia senantiasa mendambakan kesempurnaan yang mustahil. Untuk itu, ilusi-ilusi tentang kesempurnaan, mengisi sebagian besar imajinasi manusia. Musik dengan segala kekuatannya menjadi pengantar yang juga ‘sempurna’ untuk mengantarkan manusia membangun ilusi kesempurnaan itu. Lalu musisi dengan karya dan solah tingkahnya, seolah-olah menjadi seperti dewa yang menyebarkan gambaran tentang kesempurnaan itu. Seperti sebuah bayangan yang ketika di dekati ternyata sosoknya tidak sebesar wujud aslinya.

Bagi saya kemudian, attitude ketika mengemari sebuah band_seperti PJ_menjadi penting. Attitude lah yang kemudian membuat PJ bukan sekedar imajinasi yang saya bayangkan tentang mereka. Attitude membuat PJ tak lagi seperti dewa yang terlihat jauh lebih hebat dari wujud aslinya. Seperti layaknya pertemanan, ‘Pertemanan imajiner’ saya dengan merekapun, mengalami pasang surut. Adakalanya saya sepakat dengan mereka dan kadang saya tidak sepakat sama sekali. Proses seperti itulah yang kemudian membuat saya merasa bisa menyukai Pearl Jam dengan lebih sehat. Rasa suka dan kekaguman yang tetap didasari oleh sikap kritis terhadap karya mereka. Bukan rasa suka dan kekaguman buta yang justru membuat mereka terkurung dalam menara gading ketenarannya yang membuat mereka tak berani keluar dari batasan-batasa mereka dalam berkarya. Tentunya rasa suka saya terhadap Pj, membuat saya senantiasa berharap mereka bisa menghasilkan karya yang lebih baik. Menjadi penggemar yang baik, saya kira juga berarti, bisa memberikan kontribusi pada perubahan mereka terhadap karya yang lebih baik. Tidak menjadikan mereka dewa yang terbebas dari kesalahan dan mengkritisi mereka dengan semangat pertemanan, bisa membuat hubungan idola dan penggemarnya bisa mutualisme dan saling mempengaruhi. Dan seperti layaknya pertemananyang memancarkan pengaruh positiflah yang layak dipertahankan sebagai teman.

tulisan ini buat majalah encore

Sunday, November 12, 2006

Tenjojaya for The First Time

Tenjojaya diliat dari rumah ibu Rum, photo by tarlen

Ini adalah observasi lapangan pertama, yang saya lakukan untuk kepentingan penelitian justice for the poor. Observasi ini bertujuan untuk mencari kejelasan kasus perceraian ibu Rum di daerah Tenjojaya, Sukabumi. Selain itu, moment rapat koordinasi para koordinator lapangan dari 4 daerah PEKKA (Sukabumi, Cianjur, Subang dan Karawang), menjadi moment berharga bagi saya untuk mengerti dan memahami lebih jauh lagi kerja para PL PEKKA di wilayah binaan mereka masing-masing.

Perjalanan menuju Ds Cibadak, tempat Mipna, PL PEKKA wilayah Sukabumi, bagi saya jadi perjalanan yang cukup panjang. Berangkat dari terminal Leuwi Panjang, Bandung Pk. 15.00, saya harus mampir ke Cianjur terlebih dahulu, karena harus bertemu Oemi, PL PEKKA wilayah Cianjur. Dari Cianjur barulah melanjutkan perjalanan ke Cibadak, Sukabumi. Alhasil, sampai di Cibadak hampir Pk. 22.30. Perjalanan yang melelahkan. Sampai kosan Mipna,, para PL PEKKA, langsung melakukan rapat koordinasi, dengan balutan piyama mereka masing-masing. Rupanya, saya tak bisa lama-lama jadi pendengar, karena kecapean, saya langsung pulas tertidur.

Namun beberapa persoalan dilapangan dari para PL di wilayah masing-masing, menyangkut persoalan bagaimana ibu-ibu yang menjadi kader hukum itu mengorganisasi diri. Intrik dan karakter personal, serta minimnya pemahaman isu dan pengalaman beroganisasi menjadi kendala yang yang seringkali harus dihadapi oleh para PL PEKKA di wilayah mereka masing-masing. Misalnya: kurangnya pehamanan tentang makna dan arti korupsi, membuat beberapa ibu tidak sadar, bahwa dalam skala dan tingkat tertentu ketika mereka mencantumkan nama fiktif untuk mengakses bantuan beasiswa sekolah, itu juga bisa dikategorikan sebagai tindak korupsi. Selama ini, beberapa ibu mengira, itu adalah hal yang biasa dan wajar, karena mereka juga melihat praktek tersebut terjadi pada tingkatan yang lebih tinggi, penglelola desa misalnya. Karena itu, tantangan besar yang dihadapi PL PEKKA di lapangan adalah bagaimana melahirkan inisiatif dalam pengorganisian kelompok dengan meminimalisir intervensi PEKKA, sebisa mungkin. Biarkan masyarakat mengatur dirinya sendiri.

Bangun keesokan harinya, ternyata rakor masih berlanjut. Mipna, mengkontak salah satu kader hukum, teh Wita untuk mengantar saya ke Tenjojaya, ke tempat Ibu Rum. Memakan waktu kira-kira 30 menit untuk sampai ke Tenjojaya. Perjalanan dilakukan dengan menggunakan angkot dan ojeg. Jalan menuju rumah Ibu Rum, sungguh luar biasa jelek. Menurut pengakuan tukang ojeg, jalanan yang mereka lalui setiap hari untuk mencari nafkah, membuat sepeda motor yang mereka gunakan bertahan enam bulan saja, setelah itu, mereka harus mengganti onderdil motor yang rusak karena karena kondisi jalanan yang begitu parah.

Ds. Tenjojaya bukan desa seperti di lukisan Mooi Indie, yang hijau gemah ripah loh jinawi. Tenjojaya terasa gersang. Saya tidak melihat ataupun merasakan sesuatu yang ‘jaya’ di desa ini. Gersangnya pegunungan kapur yang melingkupi desa ini, kental terasa, sampai ke debu jalanan yang mengepul ketika ojeg melewatinya. Desa Jembatan kayu menghubungkan Ds. Tenjojaya yang di pisahkan oleh sungai besar yang pada saat itu, batu-batu di dasar sungai terlihat jelas, karena volume air menyusut drastis disaat hujan yang tak kunjung turun selama beberapa bulan terakhir.

Sesampai di tempat Ibu Rum, ternyata yang bersangkutan tidak ada di rumah, sedang pergi ke ladang. Untungnya teh Wita, di pesan oleh Mipna, ‘Jika Ibu Rum tak ada di rumah, maka carilah ibu Ayi.’ Akhirnya, kami pergi ke rumah ibu Ayi. Bu Ayi ada di rumah. Anaknya yang belakangan kami tau, masih duduk di kelas 3 SMEA, membukakan pintu. Tak lama, perempuan yang saya taksir usianya belum empat puluh tahun, berperawakan langsing, berambut pendek dan berkulit gelap, muncul menyambut kami. Meski terlihat sederhana, namun perempuan yang dipanggil Ibu Ayi, terlihat rapi dan berdandan, terlihat dari lipstik merah menyala yang menghiasi bibirnya.

Ibu Ayi sudah 3 tahun bergabung di PEKKA. Ia punya dua anak. Yang paling besar kelas 3 SMEA dan sedang Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Bogor. Sedangkan anak bungsunya selepas SMP tidak melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya.. Di bandingkan dengan rumah ibu rum yang nampak belum selesai di bangun, rumah ibu Ayi lebih layak. Dengan lantai kramik putih, rumahnya terlihat lebih mencolok di bandingkan dengan rumah-rumah lain disekitarnya.

Saya memperkenalkan diri, sebagai periset yang akan melakukan penelitian untuk kasus ibu Rum. Ternyata ibu Ayi sudah mengetahuinya, karena mba Hanna telah terlebih dulu berkunjung. kurang lebih 30 menit berbincang, ibu Rum muncul di rumah ibu Ayi, sekembalinya dari ladang. Saya memperkenalkan diri kepada ibu Rum. Perbincangan kami pada perkenalan pertama ini, berkisar pada kisah saudara Ibu Ayi yang melakukan kawin kontrak. Bahkan ibu Ayi pun sempat ditawari, ‘timbang luntang-lantung, lumayan 5jt seminggu mah..’ begitu kata bu Ayi menirukan bujukan sodaranya. Menurut Ibu Ayi, sodaranya ini cukup sukses dengan kehidupan kawin kontraknya. Standar kesuksesannya, menurut ibu Ayi bisa dilihat dari ‘rumah arab’ yang dimiliki oleh sodaranya itu. Ketika diminta menjelaskan apa yang dimaksud dengan rumah arab, ibu Ayi menjelaskan ‘Iya modelnya kaya rumah-rumah di arab. Barang-barangnya mewah.’ Di benak saya langsung terbayang, gaya bling-bling serba emas dan glamor tipikal rumah-rumah timur tengah yang banyak saya saksikan di film-film.

Ternyata tawaran kawin kontrak juga dialami ibu Rum. Namun baik ibu Ayi maupun ibu Rum, ketakutan dengan tawaran itu. Karena mereka juga banyak mendengar kisah-kisah gagal dari sebuah kawin kontrak. Lagi pula untuk melakukan kawin kontrak, orang-orang Arab yang mencari istri kontrakan itu, tidak mau sembarangan juga. Mereka menuntut calon istri kontrakannya harus menjalani tes kesehatan dan bentuk fisik serta penampilanpun sangat menentukan kriteria istri kontrakan.
Dari persoalan kawin kontrak, pembicaraan beralih ke masalah persoalan perceraian yang dialami ibu Rum. ada perubahan mimik muka Ibu Rum. Perasaan sakit dari perceraian itu, masih tergambar jelas di . Saya sengaja tidak memancing lebih jauh mengenai persoalan itu. Saya kira akan lebih baik, masalah itu digali pada pertemuan berikutnya yang dimana hanya saya dan ibu Rum saja yang berbincang. Ibu Rum sempat menjelaskan proses perceraian yang dilakukannya memakan waktu sampai 3 bulan, untuk 10 kali sidang perceraian. Dengan waktu yang cukup lama itu, Ibu Rum tetap tidak mendapatkan apa yang disebut surat janda. Ibu Rum sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan surat itu tidak dia dapatkan. Karena itu, hingga kini, suaminya belum bisa menikah lagi dengan kekasih barunya. Di satu sisi, ibu Rum merasa cukup beruntung, karena suaminya masih mau membiayai dirinya dan anaknya.

Menurut keterangan ibu Rum dan ibu Ayi, hampir 75 % laki-laki di desa Tenjojaya bekerja di Jakarta. Sisanya menjadi buruh tani dan buruh pemecah batu. Sedangkan perempuannya yang bisa mendapatkan pendidikan sampai SMU, biasanya bekerja di pabrik garmen yang ada di sekitar Tenjojaya. Sedangkan yang mengenyam pendidikan sampai SMP, biasanya menjadi pembantu rumah tangga.

Hampir satu jam saya dan teh Wita mengunjungi ibu Rum dan ibu Ayi. Saya berjanji akan mengunjungi Ibu Rum setelah lebaran ini. Kunjungan berlanjut dari Ds. Tenjojaya ke Ds. Warnajati di tempat tinggal teh Wita. Meski tak ada kasus yang di teliti, bagi saya, menarik untuk melihat tempat lain. Ds. Warnajati terletak bersebelahan dengan PT. Perkebunana Nusantara VIII Sukamaju yang dulunya merupakan perkebunan karet, dan kini berubah menjadi perkebunan sawit.

Menurut teh Wita, karakter orang-orang di desanya, lebih tertutup. Padahal banyak pula kasus KDRT yang tidak terangkat ke permukaan karena yang bersangkutan tidak ingin memperkarakan hal itu. Di bandingkan dengan Ibu Ayi dan Ibu Rum, teh Wita mengaku tidak nyaman dengan pembicaraan tentang kawin kontrak. Dari pengakuannya, teh Wita tidak terbiasa memperbincangkan hal-hal seperti itu disecara terbuka.

Kunjungan saya yang pertama ke Ds. Tenjojaya, lumayan memberi gambaran tentang situasi kasus yang akan saya gali lebih jauh.

19 & 20 Oktober 2006

Monday, October 02, 2006

Puber Kedua = Kesempatan Hidup Kedua?


Beberapa waktu terakhir ini, beberapa orang temanku, berniat cerai justru memasuki usia 40 tahun. Perkawinan yang sudah berjalan 5-10 tahunan itu, terancam bubar, karena salah satu merasa ga lagi bisa mengerti apa yang diinginkan pasangannya. Gosip artis di infotainment juga mengabarkan sinyalemen yang sama. Pak mentri, Yusril yang bercerai dengan istrinya, lalu menikahi perempuan 22 tahun, wajahnya tampak berseri-seri seperti disuntik suplemen baru. Aku berkomentar pada temanku tentang pak mentri "puber kedua banget sih." Helmi Yahya, yang jarang muncul di acara gosip, tiba-tiba menyatakan dirinya akan bercerai dengan istrinya. "Di antara kami ada perbedaan prinsip yang sulit disatukan," begitu alasan Helmi kepada wartawan.

Ya, perceraian, pernikahan, hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan. Tapi bukan itu yang akan kubicarakan disini. Bukan pemakluman seperti itu yang membuat tak ada lagi alasan untuk membicarakannya. Yang menarik buatku justru, mengapa bercerai? mengapa di usia 40 ada kecenderungan, banyak hal berubah menjadi begitu asing dan sulit dimengerti. Mengapa di usia ini masing-masing dari pasangan menjelma jadi alien satu sama lain. Dan bagi banyak pasangan, perceraian kemudian menjadi jalan untuk mengambil jarak dan memahami. Tapi ada pula yang menjadikan perceraian titik nadir untuk menemukan kesempatan hidup kedua.

***

Siapapun yang memutuskan menikah, pasti menyangkal bahwa bisa jadi 5 atau 10 tahun kemudian, bisa saja mereka bercerai karena merasa sudah tidak mungkin lagi hidup bersama. Yang namanya puber kedua, pastinya ga terbayang sebelumnya, seperti apa kira-kira yang akan terjadi saat masing-masing menghadapi situasi itu. Lagi-lagi aku yang sok tau ini, mencoba membahasnya, menduga-duga, kira-kira kenapa hal itu bisa terjadi. Mungkin ini bisa membantu menguraikan sebab-sebab kegagalanku juga dalam memahami orang lain.

Merujuk pada tulisanku sebelumnya tentang 'Life Begin at Forty', secara alami, usia 40 emang usia yang mengandung sejumlah masalah. Usia yang menentukan, karena masa-masa penting untuk mengevaluasi kehidupan seseorang. Maka ga heran, istilah puber kedua kemudian muncul, karena di usia 40 seseorang kemudian mengalami fase perubahan fisik dan psikologis untuk memasuki tahapan baru dalam kehidupannya. Dan proses perubahan ini sesungguhnya alami terjadi sesuai dengan siklus kehidupan.

Penyesuaian atas perubahan fisik kukira lebih mudah diatasi daripada perubahan psikologis yang mengikutinya. Bagi pasangan yang menikah, penyesuaian psikologis ini seperti mencari irama yang sama dari dua gasing yang berputar dengan arah dan kecepatan putar yang berbeda. karena tidak semua gasing berputar dengan kecepatan awal dan daya dorong yang yang sama. Pada satu titik, pasti ada gasing yang kecapean dan berhenti berputar lebih dulu dari yang lain. Hehehe.. aku ga tau apakah analogi ini cukup nyambung atau teu nyambung..

Cuma dalam hubungannya dengan putaran gasing ini, aku jadi inget tulisan James Redfield di buku Celestine Prophecy buku pertama, James bilang banyak perempuan dan laki-laki ketika memutuskan untuk berpasangan, mereka memutuskan energi dari alam semesta dan menggantungkan diri pada energi masing-masing pasangan. Lama kelaman energi itu akan habis. Dan pada titik ini, biasanya tiba-tiba apa yang disebut cinta yang mengikat pasangan, habis terkuras. Sumber energi yang menggerakan komitmen bersama dalam ikatan pernikahan, ga ada lagi. Pernikahan menjadi hambar dan sekedar rutinitas belaka. Merit segan, cerai tak mau. Mencintai menjadi identik dengan kecenderungan untuk menguasai pasangan masing-masing. Mungkin ini akibatnya jika pernikahan dimaknai sebagai meleburnya dua pribadi menjadi satu. Bagaimanapun juga peleburan ini tak akan pernah bisa melahirkan bentukan baru. Yang terjadi malah bukan melebur, tapi menguasai itu tadi. Ada pihak yang mendominasi dan ada pihak yang didominasi. Wow.. pernikahan kemudian menjadi medan pertempuran yang seringkali harus dimenangkan oleh salah satu pihak. Mmm syereeeemmm ga sih..

Aku ga bermaksud menakut-nakuti diriku sendiri atau siapapun yang masih single dengan komitmen pernikahan. Seringkali aku malah berpikir, bagaimana pernikahan itu kemudian menjadi komitmen yang justru memberi ruang gerak yang leluasa pada keduanya untuk bisa mengembangkan dirinya satu sama lain. Saling mencintai, tapi juga sekaligus membebaskan. Kalo dalam konsepnya James Redfield, mencintai sekaligus membebaskan berarti ketika kita mencintai seseorang, kita masih berhubungan dengan energi alam semesta. Kita ga bergantung pada energi pasangan semata. Apa maksudnya tidak memutuskan energi alam semesta? ya tetep jadi diri kita sendiri. Meski menikah, masih bisa mengembangkan potensi dan kemampuan yang kita punya. Bergaul dengan sebanyak mungkin orang. Wow.. utopis banget ga sih? Karena banyak juga kan yang ketika punya pasangan, dia jadi ga mau bersosialisasi dengan sekelilingnya. Hey, aku coba menjalani itu, tapi memang itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Karena untuk menaklukan keinginan diri sendiri untuk tidak bersikap posesif pada orang lain dan meredam dorongan untuk menguasai orang lain, itu hal yang sangat sulit. Apalagi ketika keinginan dan perspektif seperti itu hanya ada pada salah satu pihak saja. Ketika yang satu menganggap pernikahan sebagai medan pertempuran yang harus ditaklukan, sementara satunya lagi menganggap, pernikahan adalah bagian dari negosiasi terus menerus untuk mencapai kesepakatan bersama. Ya jadinya ga nyambung. Mm.. tapi untuk menemukan pasangan yang berangkat dari kesamaan perspektif dalam memandang pernikahan sebagai ikatan yang menyatukan sekaligus membebaskan juga bukan hal yang mudah.

***

Lalu apa hubungan persepsi pernikahan, perceraian dan puber kedua seperti yang aku bicarakan sebelumnya? Aku mengamati, puber kedua itu seperti ‘eureka’ dalam fase kehidupan seseorang ketika mengijak umur 40. Ketika seseorang tiba-tiba menyadari perubahan besar dalam hidupnya. Perubahan yang penting, seperti perpindahan milenium yang kemudian patut dirayakan. Tapi yang sering jadi persoalan, perayaan itu seringkali dirayakan secara sepihak dan dengan cara yang tak disepakati oleh kedua belah pihak. Apalagi ketika perayaan itu justru dirayakan bersama orang lain, bukan dengan pasangan yang selama ini menjalani hidup bersama kita. Bagaimana mungkin salah satu dari pasangan, kemudian menjadi sangat ‘egois’ karena tak mau berbagi perayaan itu dengan pasangannya?

Kukira pada titik ini perspektif pernikahan menjadi penting. Semangat berbagi bersama pasangan, seringkali diidentikan dengan perngorbanan salah satu pihak. Bukan negosiasi yang sama-sama menguntungkan. Ketika salah satu pihak merasa terlalu banyak berkorban dan mengalah, pada titik tertentu, dia tak ingin ‘eureka’ dirinya, dia bagi pada orang yang menemani hidupnya. Orang yang selama ini sesungguhnya tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi kebahagiaan dirinya sebagai individu. Karena puber kedua atau ‘eureka’ diri itu, seringkali begitu personal. Sulit dimengerti oleh orang lain. Bahkan pasangan kita sendiri. Karena pernikahan kemudian dijadikan medan pertempuran dimana masing-masing berusaha saling menguasai dan mengalahkan, pada akhirnya, kehilangan kesempatan untuk menyadari apa yang sesungguhnya terjadi pada pasangan mereka. Ketika berusaha untuk mengenali, yang dikenali hanyalah titik lemahnya belaka, karena seolah-olah itulah yang paling penting harus dikenali untuk menguasai satu sama lain.

Aku ingat, omongan James, temanku. “Kalo gue, pasangan hidup gue justru harus punya kehidupan sendiri. Punya kesibukan yang jauh beda sama gue. Biar kalo kita ketemu di rumah, gue sama dia bisa tukeran cerita tentang apa yang kita jalanin masing-masing. Seru aja. Jadinya ga bosen.” Pandangan seperti ini kukira jauh lebih sehat, dibandingkan dengan pandangan bahwa “dia adalah milikku.” Karena konsep kepemilikan pada pasangan seperti itu, seringkali memenjarakan salah satu pihak, dari pada membebaskannya. Dan momentum puber kedua seringkali jadi momen pembebasan, dimana pihak yang merasa terpenjara melakukan pembalasan pada pihak yang mengekangnya selama ini. Puncak pembebasan itu, jika tak ada jalan yang disepakati bersama, ya bisa berakhir dengan perceraian. Seperti banyak pasangan, yang setelah menikah bertahun-tahun bahkan lebih dari dua puluh tahun, kemudian bercerai, karena salah satu ga bisa ngikutin perubahan yang terjadi pada pasangannya.

Bagi pasangan yang sejak semula pernikahan adalah hubungan kerjasama, yang harus memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk tetap jadi dirinya sendiri, berkembang sesuai dengan potensi masing-masing, momen puber kedua ini, justru bisa menjadi momen yang dirayakan bersama-sama. Karena seperti yang dibilang James temenku itu, dunia yang dibangun oleh masing-masing justru jadi bahan yang selalu ingin dibagi dengan pasangan. Masing-masing akan selalu berusaha bertemu dalam wilayah irisan dari dua lingkaran besar kehidupan yang dibangun oleh masing-masing. Bagi pasangan seperti ini, puber kedua seperti kesempatan untuk menjalani petualangan baru yang ga asyik kalo hanya dijalani sendiri. Akan lebih asyik kalo dijalani dengan pasangan yang mengenali diri kita bukan hanya dari kelemahan, tapi juga kekuatan apa yang kita miliki. Wow... kukira ini adalah kondisi ideal yang didambakan oleh setiap pasangan ya..

***

Mengakhiri tulisanku yang sok tau dan sangat berjarak ini, aku membayangkan, puber kedua itu, sebernernya, seperti hujan badai yang datang tiba-tiba setelah panas yang datang berbulan-bulan lamanya. Pohon-pohon yang akarnya keropos tentunya akan gugur dan tumbang. Tapi pohon yang akarnya kuat akan tetap berdiri, malahan badai yang menerpanya, menumbuhkan pucuk-pucuk daun baru. Kehidupan baru dimulai seriiring bertambahnya lingkaran tahun dibatangnya.

Seperti juga perjalanan hidup yang seringkali diwarnai banyak kesalahan dan kegagalan, jika kesempatan kedua itu datang, apa yang akan kita lakukan? tentunya berusaha lebih keras lagi membuat hidup kita lebih baik lagi.. karena siapa tau, setelah 40 tahun, kesempatan itu tak pernah datang lagi..

kgu 8

Sunday, September 17, 2006

Katanya, "Life Begin at Forty!"



Kata banyak orang, laki-laki baru mulai merasa hidup ketika masuk usia 40. Mmm.. benarkah? Ketertarikanku pada laki-laki 40 tahun ke atas, membuatku membuka-buka apa yang ditulis Elizabeth B. Hurlock dalam buku Psikolologi Perkembangan. Bukan sok mau membuktikan anggapan banyak orang itu secara ilmiah. Buatku sangat menarik untuk mencocokan hasil metode ilmiahnya Hurlock, dengan apa yang diamati dan dirasakan langsung dampaknya olehku. Siapa tau, beberapa teman yang terlalu over estimate, menilaiku expert dalam hal omonology, ternyata salah menilai. Bisa jadi aku yang ominizer pemula ini, terlalu cepat mengambil kesimpulan. Karena itu, aku sendiri lagi belajar menyelami psikologi usia 40-50an ini. Hehehe mungkin karena terlalu intens ngikutin Tony Soprano, padahal.......

Kalau mau lebih ilmiah, Hurlock menyebut usia 40-50 dengan sebutan usia madya dini. Dan aku akan mulai mempelajari dan memahaminya dari ciri-ciri stres yang mereka alami dalam kategori usia madya dini ini. Ada empat kategori stres: pertama, Stres Somatik, disebabkan oleh keadaan jasmani yang menunjukkan usia tua. Kedua, Stres Budaya, yang berasal dari penempatan nilai yang tinggi pada kemudaan, keperkasaan, kesuksesan oleh kelompok budaya tertentu. Ketiga, Stres Ekonomi, yang diakibatkan oleh beban keuangan dari mendidik anak dan memberikan status simbol bagi seluruh anggota keluarga. Keempat, Stres Psikologis, yang mungkin diakibatkan oleh kematian atau perceraian suami atau istri, kepergian anak dari rumah, kebosanan terhadap perkawinan, atau rasa hilangnya masa muda dan mendekati ambang kematian.

Sambil menulis kategori stres tadi, aku jadi teringat pada forty something men yang cukup intens aku amati. Aku ingat, bagaimana mereka mengeluhkan badan yang cape-cape karena udah ga kuat lagi kalo harus begadang tiga hari berturut-turut untuk menyelesaikan pekerjaannya. Juga saat curhat, betapa ga nyamannya ketika kesuksesan yang berhasil diraihnya, malah membuatnya merasa hidup di menara gading, kesepian di tengah keramaian. Kemudian sosoknya menjadi untouchable, dekat tapi jauh. Orang mendekat, bukan karena dirinya, tapi karena kesuksesannya. Padahal dia ingin sekali dikenal sebagai sosok ‘manusia biasanya’ bukan sosoknya yang sukses.

Sementara yang merasa dirinya belum terlalu sukses, selalu dalam kondisi serba salah. Antara being loser atau masih berusaha keras untuk membuktikan sesuatu. Yah, begitulah, hidup didunia yang serba materialistik, tolak ukur kesuksesan seringkali sangat-sangat superfisial. Hal-hal sublim dan sejatinya, seringkali terlupakan. Keadaan seperti ini, diperburuk jika lingkungan sosial pergaulannya memang punya standar kesuksesan yang superfisial itu. Seberapa mahal karya atau desain yang kamu bikin. Apalagi ketika ada dalam posisi kepala keluarga. Beban sosial bahwa kepala keluarga sudah seharusnya memberikan nafkah dan status pada keluarganya, melengkapi syarat untuk mengalami stres budaya.

Masalah duit, seringkali jadi huru hara besar dalam hidup para lelaki usia madya dini. Aku malah pernah diceritai temanku, bahwa tidak sedikit lelaki yang impoten karena gajinya lebih sedikit daripada istrinya. Stres ekonomi ini biasanya emang berhubungan dengan stres budaya. Lagi-lagi dunia yang sedemikian superfisial yang menerapkan standar keberhasilan dari ukuran materi, membuat dua stres ini seperti kembar siam dempet kepala yang sulit dipisahkan. Ketiga kategori stres ini semakin buruk jika sampai menyentuh aspek psikologi. Karena itu berarti krisisnya semakin dalem dan seperti pasir hisap. Seringkali bikin frustasi dan ga tau lagi harus gimana. Salah seorang yang kukenal, sempat mengalami penyakit takut ketinggian. Bahkan naik mobil di jalan layangpun, dia bisa panas dingin. Aku yang sok tau ini ngeliat, bahwa secara psikologis, mungkin kenalanku itu ga siap dengan beban sosial dari kesuksesan dan keterasingannya hidupnya di menara gading. Ketika dalam waktu yang lebih singkat dari orang lain, dia mencapai kesuksesan dalam karirnya. Bukan hanya itu, secara sosialpun dia kemudian dikenal luas. Untungnya, dia orang yang cukup humble dan ga terlalu jaim dalam kesehariannya. Juga karena dia orang yang cukup dernawan dan punya istri yang luar biasa hebat. Karenanya semakin ke sini, aku ngeliat sikapnya dan juga dukungan orang-orang disekitarnya, membantunya mengatasi ketidaksiapannya untuk menikmati kesuksesannya.

Kenalanku yang lain yang bercerai justru diusia madya dini ini, di saat karirnya dan pengakuan sosial justru mulai dia dapatkan. Pekerjaan kemudian jadi satu-satunya pegangan yang bisa membuatnya ‘lupa’ pada kegagalan rumah tangga. Padahal, sampai usia berapa dia akan terus menerus bekerja tak kenal waktu? mungkin dengan kondisi fisik yang dipaksa terus menerus, sepuluh tahun, kurasa udah hebat kalo dia bisa bertahan sampe usia 60 untuk terus bekerja. Saat badan masih merasa kuat, pekerjaan bisa jadi pengalihan luka spiritual dia dari perceraian atau kegagalan rumah tangga. Tapi kebayang ga sih, ketika badan tiba-tiba ngadat dan beneran ga bisa dipake kerja lagi dan luka spiritual lupa untuk disembuhin.. Mmm.. aku ga bisa membayangkan betapa hampa hidupnya.. (makanya jangan lupa istirahat.. nanti sakit :P)

Bayangkan, betapa beratnya hidup para pria usia 40 keatas. Dunia seperti memberinya misi suci yang harus dipenuhi untuk menjadi contoh beginilah manusia yang sukses sempurna itu. Ya kukira ini adalah resiko ketika dunia tempat kita hidup adalah dunia yang maskulin. Dunia yang sengaja secara sosial dikonstruksi dengan sangat semena-mena dan terobsesi pada sosok manusia (baca laki-laki) yang sempurna itu. Sebagai kepala rumah tangga, dia harus bisa membawanya keluarganya dalam gambaran keluarga harmonis dengan karir yang sukses, kematangan psikologis yang memancar, kesehatan prima dan status sosial yang tanpa cacat. Dan sebisa mungkin mendapatkan sosial recognition yang luas alias eksis disegala penjuru. Wow pokoknya jaim selalu.. dengan miris aku bisa bilang: kasian deh lu..

***

Rentang usia ini, kemudian bagi para pria menjadi usia serba salah. Karakteristik yang disebut Hurlock, bisa menjelaskan hal ini. Pertama, Usia madya adalah usia yang paling ditakuti. Mengapa bisa? bukan hanya pria, perempuan pun ketika memasuki usia ini, mereka ga percaya bahwa mereka telah sampai diusia kepala empat. Kerinduan akan masa muda kemudian muncul. Penyesalan-penyesalan atas kesalahan di masa muda mulai bermunculan. Hal-hal yang diinginkan di masa muda dan ga kesampaian, seringkali coba diwujudkan di rentang usia ini.

kedua, Usia madya merupakan masa transisi. Ngga heran usia ini orang seringkali menyebutnya dengan masa puber kedua. Perubahan fisik, untuk pria menurunnya keperkasaan dan perempuan menurunnya tingkat kesuburan, mau ga mau menuntut perubahan perilaku secara ekstrem dan radikal. Beberapa kebiasaan dimasa muda yang menuntut kondisi fisik yang prima, kemudian harus berubah, karena kondisi fisik ga mendukung lagi. Transisi ini juga membawa perubahan psikologis. Gawatnya, dalam konteks pasangan, seringkali masing-masing tidak menyadari perubahan itu. Kenalanku yang lain lagi, pernah mengeluhkan, tiba-tiba ketika bangun tidur, dia merasa sangat-sangat asing pada pasangannya. Dia tau pasangannya telah banyak berubah, hanya saja dia tak menyadari prosesnya. Padahal pasangannya juga menilai dia seperti itu. Tiba-tiba masing-masing menjadi asing satu sama lain, karena masa transisi yang terjadi, dijalani sendiri-sendiri dan tak pernah dibicarakan bersama. Dalam tingkat ini relasi menjadi kehilangan makna. Mereka perlu memaknainya kembali, tapi seringkali tak tau harus seperti apa. Sahabatku dengan besar hati membiarkan suaminya dekat dengan perempuan lain. Ia menyadari pada masa transisi ini, suaminya membutuhkan figur lain yang bisa mengisi kekosongan dan definisi baru baru, yang tidak sepenuhnya bisa dipenuhi oleh sahabatku itu.

Ketiga, Usia madya adalah usia stres. Semua stres yang aku sebutkan sebelumnya, resiko yang harus dihadapi direntang usia ini.

Keempat, Usia madya adalah usia yang berbahaya. Serem ga sih, maap ya bukannya bikin tambah stres, tapi jika stres di rentang usia ini tak bisa dipecahkan atau diantisipasi, resikonya tiba-tiba berbagai penyakit yang bermunculan, paling ekstremnya ya bunuh diri atau yang lebih ringan seperti menjadi alkoholic atau holic yang yang lain (workaholic termasuk loh).

Kelima, Usia madya adalah usia yang canggung. Hurlock bilang, usia ini seperti berdiri di antara generasi yang memberontak yang lenih muda dan generasi warga senior. Mereka secara terus menerus menjadi sorotan karena mau tidak mau harus menanggung perilaku memalukan dan negatif dua generasi di antaranya itu. Karenanya kecenderungan menjadi konservatif dalam berpakaian dan selera, menjadi pilihan yang aman bagi mereka. Disatu sisi mereka menghindari sorotan sosial, tapi disisi lain, kebutuhan untuk mendapat pengakuan sosial, memposisikan mereka dalam situasi yang serba canggung.

Keenam, Usia madya adalah masa berprestasi. Aku banyak ketemu ‘bapak-bapak’ yang galau di usia 40-50an gitu karena merasa dirinya belum melakukan pencapaian apa-apa. Karir udah mentok, prestasi sulit dikejar, sementara fisik dan mental udah ga lagi muda. Semangat mulai menurun yang muncul kemudian perasaan gagal. Perasaan gagal karena ga bisa jadi sosok yang ideal yang bisa dibanggakan oleh keluarga dan anak-anak karena prestasinya. Sementara yang berhasil mencapai jenjang karir tertinggi dan prestasi yang membuatnya mendapatkan social recognition, seringkali juga lupa kalo prestasi itu ga selamanya ada dalam genggaman. Makanya, selain usia madya adalah masa berprestasi, di rentang usia ini, pendewasaan yang sesungguhnya juga terjadi. Apakah nanti setelah masa pensiun tiba, dia akan jadi sosok yang merasa diri pecundang, atau mengalami post power syndrome. Prestasi di rentang usia ini juga perlu diikuti dengan pencapaian tujuan hidup yang sesungguhnya.

Ketujuh, Usia madya adalah masa evaluasi. Proses pendewasaan ga pernah lepas dari evaluasi. Tapi dalam rentang usia ini, evaluasinya jadi evaluasi yang paling dalem, paling klimaks. Karena usia ini adalah masa yang paling menentukan seperti apa hidup seseorang akan berakhir. Dan di rentang usia inilah, sesorang kemudian dituntut untuk jujur pada dirinya sendiri. Melepaskan semua penyangkalan-penyangkalan, selama kurang lebih empat puluh tahun hidup di dunia. Mmm.. kedengerannya kaya harus mengaku dosa ya..? mungkin memang begitu. Mungkin lebih tepatnya berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri berarti juga, memaafkan banyak hal yang seharusnya di maafkan. Bisa berhubungan dengan orang lain maupun diri sendiri. Bahkan berdamai dengan kegagalan-kegagalan dan semua hal yang menyebabkan luka-luka dalam kehidupan seseorang.

Kedelapan, Usia madya dievaluasi dengan standar ganda. Memang, gimana rentang usia ini ga akan memancancarkan daya tarik kematangan yang luar biasa. Secara proses psikologis yang membentuk karakter seseorang di usia ini sungguh-sungguh berat. Bukan cuma tuntutan untuk mengevaluasi diri sendiri oleh diri sendiri, tapi lingkungan sosial tentunya ga mau ketinggalan untuk melakukan evaluasi. Bayangkan ya.. tuntutan berprestasi harus dipenuhi, tuntutan untuk menjadi dewasa sepenuhnya harus dipenuhi, tuntutan untuk jadi role model di lingkungan sosialnya juga harus dipenuhi, tuntutan menjadi figur ideal kepala keluarga harus dipenuhi. Gila ternyata jadi om-om teh susah ya.. Makanya sekalinya lulus evaluasi, mereka akan meletek seperti dunian mateng di pohon.. nyam nyam... hahahaha..

Kesembilan, Usia madya merupakan masa sepi. Pasti ga kaget dong dengan istilah om-om atau tante-tante kesepian. Gimana ga sepi, di rentang usia ini biasanya anak-anak mereka udah mulai tumbuh remaja dan punya kehidupan masing-masing. Fokus perhatian yang tadinya untuk ngurusin anak-anak, tiba-tiba hilang. Suami yang sibuk, biasanya menjadikan pekerjaan sebagai gua untuk menyembunyikan diri dari proses adaptasi keluarga yang berubah. Sementara istri yang biasa sibuk dengan urusan rumah tangga dan anak-anak, seperti kehilangan pegangan. Perubahan dan masa adaptasi seperti ini, seringkali menimbulkan perasaan kesepian yang dalam. Karena tiba-tiba, anak-anak yang biasanya jadi center, sekarang seperti terlepas dari orang tuanya. Keluarga kemudian harus menemukan orientasi baru, bukan hanya adaptasi dalam tingkat keluarga, dalam tingkat individupun masing-masing sedang menjalani proses adaptasinya sendiri, dan rasa sepi muncul ketika tiba-tiba masing-masing merasa tidak lagi memahami satu sama lain. Kehilangan orientasi bersama. Karena itu, dalam rentang usia ini, perceraian dan kehadiran orang ketiga yang bisa mengisi kesepian itu sangat mungkin terjadi.

Kesepulun, Usia madya merupakan masa jenuh. Rasa sepi yang tak teratasi seringkali menimbulkan kejenuhan dalam hidup. Karena perasaan yang muncul kemudian adalah hidup seperti berhenti. Stuck di satu titik. Perkawinan terasa membosankan. Pekerjaan tidak memberikan sesuatu yang mencerahkan. Persoalan-persoalan kehidupan seperti menemukan jalan buntu. Kehidupan seperti berada di titik nadir. Jika kondisi seperti ini tak dapat di atasi, kondisi yang paling buruk adalah keinginan untuk bunuh diri kemudian muncul. Namun jika semangat hidup masih sangat tinggi, sebenernya inilah saat yang tepat untuk putar haluan dan menentukan arah hidup yang baru. Rebut kembali hidup yang hilang kerena pekerjaan, keluarga, tuntutan dan beban sosial. Beri diri sendiri waktu dan penuhi keinginan abadi yang selama ini dipendam dan diredam. Perubahan besar dalam hidup, inilah saatnya. Take back your life. Everyday is a festive. Kejenuhan seringkali muncul manakala, kita melupakan hal-hal yang esensial dari aktivitas keseharian kita. Jadi ya jangan biarkan titik nadir berakhir dengan kemungkinan terburuk: bunuh diri.

Yeah Yeah Yeah....! Jadi gimana, masih berminat mengambil resiko mencintai pria-pria dimasa-masa krisis ini? Kematangan mereka yang menggiurkan itu, ternyata dihasilkan dari proses panjang dan berat yang harus mereka jalani loh.. jadi ya apakah kita tetap memutuskan mendampinginya menjalani proses itu? Mmm... Yeahh...(maksudnya maju terus pantang mundur)!!!

sumber: Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Elizabeth B. Hurlock, Edisi Kelima

untuk melengkapi tulisan paling sok tau ini, aku nemu link yang ditulis oleh oleh pria 40-an.. jadi bisa lebih akurat dan otentik... A Man of Forty
Oleh: John Schoneboom

The Ballad of Jack and Rose



Entah kenapa aku senang sekali mengulang dan mengulang dan mengulang menonton film The Ballad Jack and Rose. Kisah bapak dan anak, hidup di sebuah tempat terpencil dengan idealisme tinggalan jaman hippies, sebagai environmentalis. Sampai akhirnya realitas berkata, “Rose, ayahmu Jack Slavin, sekarat sayang. Kau tak akan hidup selamanya bersamanya. Dia akan mati, dan kau harus terima kenyataan itu.” Yeah right, apakah aku pernah membayangkan bapakku mati? tentu saja tidak. Bahkan Rose sekalipun, meski dikisah itu, Rose tau, kondisi paru-paru Jack sudah sedemikian parahnya. Tapi saat kematian itu datang, rasanya terlalu berat untuk bisa menerima itu. Diriku sendiri, di detik-detik terakhir kematiannya, sulit mempercayai bahwa hal itu terjadi di depan mataku. Kukira, semua anak perempuan yang sangat-sangat sangat menyayangi bapaknya, tak pernah membayangkan bapaknya kan mati suatu hari nanti. Begitu pula sundea temanku, si anak bapak, yang tak bisa membayangkan, bahwa suatu hari nanti dia akan berpisah dengan bapaknya.

Ketika kamu begitu dicintai oleh bapakmu, dipuja melebihi pemujaannya terhadap ibumu sendiri, kau pasti mengira, kau hidup di benteng yang begitu nyaman, kokoh dan tak bisa diruntuhkan oleh apapun. Tak ada seorangpun yang bisa merebut rasa nyamanmu dalam benteng itu. Membayangkan kematiannya, seperti mimpi buruk yang ketika kau membuka mata, kau akan berusaha keras melupakannya. Kau akan terus menerus mencoba meyakinkan dirimu, bahwa bapakmu itu akan hidup terus selama-lamanya. Saat hidupmu berakhir bahagia selamanya, seperti dongeng fairy tales, barulah kau bisa membiarkan bapakmu mati.. maaf.. maksudku membiarkan bapakmu menghilang dalam kisah hidupmu. Tapi apa yang terjadi jika ternyata, benteng yang begitu nyaman dan kuat itu tiba-tiba runtuh? bukan hanya runtuh, tapi menghilang? seperti kisah tidur di rumah jadi-jadian. Kamu pikir kamu tinggal di sebuah rumah yang nyaman, tapi ternyata keesokan harinya, ketika terbangun, kau ada di emperan jalan.

“If you die, i die,” itu yan g Rose bilang saat Jack, mencoba mengingatkan bahwa sakit paru-parunya itu, bisa merengut nyawanya kapanpun malaikat pencabut nyawa menginginkannya. Dan aku tak mengatakan apapun saat hembusan nafas terakhir benar-benar terlepas dari raga bapakku. Bahkan aku tak menangis sama sekali saat penguburannya. “tough luck, huh?” Rosie menganggapnya seperti itu. Dan aku? Yah, selamat membangun kembali sesuatu yang tiba-tiba hilang. Masih bisakah aku mememukan model yang sama persis untuk menggambarkan kembali bapak yang hilang itu? Mungkin saat bapakmu tiba-tiba mati, yang kau perlukan adalah mencari bapak yang lain untuk mendefiniskan bagaimana bapakmu yang hilang itu.. ya mungkin..

Aku berbicara atas nama anak-anak perempuan yang pernah atau masih memiliki bapak yang begitu sayang dan memuja putrinya sendiri sedemikian rupa. Sehingga, kau menganggap hanya bapakmulah lelaki yang begitu mengerti dirimu, satu-satunya pemuja setiamu. Saat menonton Ballad Jack and Rose, aku selalu berpikir dan menduga-duga, mungkin bagi seorang anak perempuan, ketika manusia di bumi ini punah dan yang tersisa hanyalah seorang anak perempuan dan ayahnya, kukira kehidupan akan berjalan seperti biasa. Karena rasa nyaman seorang ayah yang begitu sayang pada putrinya seperti jalan yang bisa dilalui dan ditapaki dengan jaminan kau akan baik-baik saja, tak akan ada satupun yang bisa membuatmu merasa terancam.

Jadi bisa kau bayangankan, bagiamana kau bisa menapaki jalan yang kemudian kau sadari, penjamin rasa nyaman itu sudah tak ada lagi. Kau tak bisa menggenggam tangannya saat kau merasa tak yakin dengan jalan yang kau lalui.

Memang, saat bapakmu mati, bukan berarti hidupmu berakhir dan dunia jadi kiamat. Kau bisa seperti Rose yang kemudian mengubur bapaknya dengan membakar semua hal yang menjadi artefak kesejarahan kalian, lalu pergi ketempat yang baru dan memulai hidup baru sama sekali. Atau kau bisa mencari sosok yang nyamannya terasa seperti bapak, lalu your new guardian angel itu, membantumu mengumpulkan kembali dirimu yang berantakan dan membantumu menatanya kembali. Atau kau juga bisa bersikap pura-pura semuanya berjalan dengan baik tanpa bapakmu, padahal saat kau sendiri, kau begitu merana karena ada lubang besar mengangga di hatimu, karena kau tiba-tiba kehilangan makna dari rasa nyaman yang sesungguhnya dan kau harus berusaha keras mendefinisikannya kembali.

Yeah,aku jadi bertanya apa jadinya jika bunda Maria ternyata melahirkan seorang anak perempuan, bukan anak laki-laki?

gudang selatan, 17 agustus 2006
01:48

Perjalanan Ke "Ujung Dunia"

photo by tarlen

"Kok ngga nyampe-nyampe ya?" pertanyaan itu diulang-ulang sepanjang perjalanan Bandung –Ujung Genteng. Saya dan empat orang teman yang lain, sampai tak tahu lagi harus melontarkan joke apa lagi, karena semua joke dan cerita-cerita ngga penting sudah habis dari perbendaharaan kami berlima, bahkan diulang sampai beberapa kali.

Dua puluh liter pertama sejak kami isi tanki di bandung, habis dimakan jalan. Dua puluh liter berikutnya kami isi di pom bensin terakhir yang kami jumpai di daerah Jampang Kulon. Sempat bertanya pada penduduk setempat, berapa lama lagi kira-kira perjalanan yang akan kami tempuh. Salah satu orang yang kami tanyai menjawab "satu jam lagi kira-kira!". Sementara senja mulai turun. Langit berangsur-angsur gelap.

Setelah menempuh tujuh jam perjalanan dengan rute Cianjur Selatan, Jampang Kulon, Surade _ Ujung Genteng, tibalah kami ke tempat tujuan. Jam menunjukkan pukul 19.30 malam. Saya masih menebak-nebak, seperti apa kira-kira Pantai Ujung Genteng yang ingin sekali saya kunjungi sejak sepuluh tahun yang lalu itu.

Karena hari gelap dan malam menjelang, kami mencari penginapan di sekitar pantai yang tampak gelap gulita. Hanya suara angin laut dan ombak yang begitu keras terdengar. Beberapa tukang ojeg yang kami lalui, menawari tumpangan untuk pergi ke Pantai Pangumbahan kurang lebih 6 KM dari pantai Ujung Genteng, untuk melihat penangkaran penyu. Tapi saat itu yang kami pikirkan adalah merebahkan diri di kamar penginapan. Tujuh jam perjalanan, meski menyenangkan namun secara fisik cukup melelahkan.

Tidak banyak penginapan di sekitar pantai. Hanya beberapa saja yang nampak layak. Ada Pondok Adi, Pondok Hexa, Pondok Mamas, Pondok Deddy. Harga penginapan berkisar antara tiga ratus lima puluh ribu sampai empat puluh ribu permalam, tergantung dari besar kecil dan fasilitas kamar yang disediakan. Kebanyakan bangunan kamar berupa pondok dari bilik bambu yang berisi dua tempat tidur single dan kamar mandi, namun ada juga bangunan permanen dan ber AC. Tidak bisa dibilang mewah, tapi cukup lah untuk beristrirat dan bermalas-malasan. Saya dan teman-teman memilih Pondok Hexa, karena cukup murah, pelayanannya cukup ramah, lokasinya enak dan tepat di sebarang pantai. Sayangnya kami tak membawa perlengkapan barbeque, seandainya ada, akan sangat menyenangkan barbeque di halaman pondok tempat kami menginap.

Niat ingin menikmati sunrise, ternyata gagal. Matahari tak terlihat, mendung menggelantung dan sempat gerimis sebentar. Karena badan masih terasa lelah, kami memilih melanjutkan tidur. Udara panas di kamar penginapan membuat kami terbangun. Begitu keluar kamar, tercium bau laut yang terasa begitu segar.

Langit begitu biru jernih dan pantai Ujung Genteng yang semalam gelap gulita, tampak begitu indah. Pasir putih, jernihnya air di pesisir pantai dan ombak terlihat menakjubkan. Empat orang teman saya yang lain memilih untuk berenang-renang di tepi pantai. Sedangkan saya lebih memilih memotret sebanyak mungkin karena cuaca begitu cerah.

Arus laut saat itu terasa deras. Belakangan kami tau dari berita televisi, permukaan air laut di pesisir pantai selatan pulau Jawa memang naik, termasuk Ujung Genteng. Bahkan di dekat Pangandaran, ada kapal karam karena ombak pantai selatan lebih besar daripada biasanya. Untungnya saat itu teman-teman saya hanya berenang-renang di tepi pantai. Saya tak bisa membayangkan apa jadinya jika mereka berenang ke tengah laut, tanpa tau bahwa laut selatan sedang pasang dan deras arusnya. Seperti kebanyakan pantai di Indonesia, saya tak melihat life guard di pinggir pantai.

***

Terletak di bagian selatan Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Ciracap dan Kecamatan Waluran, Ujung Genteng berjarak tempuh 127 KM dari kota Sukabumi. Saat ini baru desa Gunung Batu dan Desa Pangumbahan yang telah dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Ombak Ujung Genteng, termasuk ombak yang disukai para surfer karena salah satu yang terbaik di dunia. sayangnya saat itu hanya dua orang turis asing saja yang terlihat asyik surfing di pantai Ujung Genteng.

Kondisi pantai yang bisa dibilang belum seramai Pangandaran atau pantai wisata lainnya ini, membuat Ujung Genteng relatif terlihat lebih bersih dan sepi. Meski di dekat kampung nelayan, penduduk setempat mulai banyak mendirikan warung-warung makanan. Transportasi menuju pantai Ujung Genteng pun bisa dibilang relatif mudah. Biasanya angkutan umum terakhir sampai pukul 17.00 WIB. Jadi lebih baik jika hendak menuju Ujung Genteng dari kota Bandung tercinta ini, sebaiknya perjalanan dimulai sepagi mungkin, sebelum Pk. 07.00 WIB. Selain ada angkutan umum, ojeg bisa digunakan sebagai sarana transportasi, meskipun ongkos ojeg relatif cukup mahal. Untuk rute Ujung Genteng-Pangumbahan, mereka memasang tarif sampai empat puluh ribu rupiah.

Bekas reruntuhan dermaga peninggalan Jepang, berada di tengah-tengah kampung nelayan. Jika air surut, orang bisa berjalan ke tengah laut lewat reruntuhan dermaga itu. Sekilas, saya sempat memperhatikan ada ciri fisik yang spesifik dari penduduk Ujung Genteng. Mata mereka kebanyakan sipit dengan garis wajah yang tegas. Meski kulit terlihat keling karena cuaca pantai yang panas, mereka mengingatkan saya pada orang-orang Jepang atau Korea. Dan thanks God! Karena ada pemancar operator selular di situ. Jadi meski jauh 'di ujung dunia', sinyal hand phone cukup kuat. Cukup bisa menghubungi teman-teman yang tak bisa ikut berlibur dan bikin iri mereka yang tak bisa menikmati keindahan Ujung Genteng.

Jika mau bersusah payah sedikit, pantai Pangumbahan layak dikunjungi. Namun tempat berkembang biaknya populasi penyu hijau ini hanya bisa dikunjungi malam hari di atas pukul 21.00. Disaat pantai gelap dan sunyi, penyu-penyu naik ke darat untuk bertelur dan menguburnya di dalam pasir sampai telur-telur itu menetas. Menurut cerita tukang ojeg setempat, warga di pantai Pangumbahan cukup ketat menjaga kenyamanan penyu-penyu ini berkembang biak. Pengunjung tak boleh menyalakan api dan bersuara keras yang bisa mengganggu penyu-penyu yang sedang bertelur. Sayangnya saya dan teman-teman tidak punya cukup waktu untuk mengunjungi Pangumbahan dan melihat penyu-penyu naik ke darat. Mengingat populasi penyu yang semakin berkurang, keberadaan Pangumbahan memang perlu dijaga dari kerusakan eskosistem.

***

Rasanya saya tak akan pernah bosan untuk kembali lagi ke Ujung Genteng. Selain pantainya yang sepi dan indah, saya sangat menyukai perjalanannya. Saat pulang kembali menuju Bandung dan melakukan perjalanan siang hari, banyak sekali pemandangan alam, landscape Jawa Barat yang bisa dinikmati. Hamparan padang rumput, pohon kelapa yang tersambung dengan pesisir pantai dan sapi-sapi merumput, menjadi pemandangan yang menyenangkan. Perkebunan teh Surangga dan hutan pinus menjadi pemandangan kontras yang berkesinambungan antara Ujung Genteng, sampai dataran tinggi Cianjur Selatan - Sukabumi. Belum lagi, jika sore mendung menggantung, kabut akan menyelimuti perkebunan teh dan hutan-hutan pinus. Jarak tempuh yang cukup jauh kemudian tak jadi masalah bagi saya dan teman-teman, karena sebanding dengan kepuasan menikmati keindahan alam yang kami rasakan. Seandainya bisa kembali setiap hari, dengan senang hati saya akan melakukannya.

Tulisan ini pernah dimuat di Bandung Beyond

Lord of Dogtown Sepenggal Nostalgia Legenda Z-Boys



Beginilah ketika seorang Stacy Peralta, skater pro menuliskan kembali awal perjalanan karirnya. Apa yang dia tulis di Lord of Dogtown, bukanlah sebuah narsisme nama besar ketika melihat kesuksesannya sendiri. Lord of Dogtown adalah kisah persahabatan dibalik legenda Dogtown and Z-Boys (sebutan skater asal Santa Monica dari generasi 70’an) yang ditulis dengan kerendahan hati Stacy Peralta dan garapan apik Catherine Hardwicke, sang sutradara.

Mengambil setting waktu pertengahan tahun 70an, cerita berfokus pada tiga nama besar yang merubah skateboard menjadi seperti yang dikenal sekarang. Bagi Tony Alva (Victor Rasuk), Jay Adams (Emile Hirsch) dan Stacy Peralta (John Robinshon), skateboard bukan hanya kegiatan pengisi waktu senggang tapi skateboard adalah gaya hidup dan sikap yang mereka lakoni sehari-hari.

Dibuka dengan adegan ketika ketiganya di tengah malam pergi diam-diam membawa papan surfing dan memulai hari menari bersama ombak pantai Venice di antara reruntuhan dermaga Pasific Ocean Park (POP). Sebagai kelompok surfer junior, mereka bertiga seringkali harus tunduk pada aturan main senior seperti Skip Engblom (Heath Ledger), Craig Stecyk (Pablo Schreiber) dan kawan-kawan. Namun ketika ‘pantai mereka’ diusik oleh pendatang dari luar Dogtown, mereka kompak mengusir para pendatang. Mencopot dan menenggelamkan karburator mobil sampai merusak papan surfing demi mempertahankan status ‘Local Only’.

Skip Engblom, surfer dan pemilik toko papan surfing, Zephyr shop, di film ini selalu digambarkan tak lepas dari botol minuman merupakan tokoh penting dalam legenda Dogtown. Skip lah yang pertama kali mengumpulkan dua belas orang dan membentuk tim yang kelak melahirkan para skater legendaris yang merubah wajah skateboard dunia.
Tim yang diberi nama Zephyr sesuai dengan nama tokonya terdiri dari Shogo Kubo, Bob Biniak, Nathan Pratt, Stacy Peralta, Jim Muir, Allen Sarlo, Chris Cahill, Tony Alva, Paul Constantineau, Jay Adams, Peggy Oki dan Wentzle Rum.

Cinta segitiga antara Jay Adams, Stacy Perlata dan Kathy Alva (Nikki Reed), saudara perempuan Tony Alva, muncul di film, bukan sekedar bumbu cerita yang mengada-ngada. karakter Stacy yang tidak seagresif teman-temannya, membuat dirinya merelakan ketika akhirnya Kathy lebih memilih Jay daripada dirinya.

Kompetisi skateboard di Del Mar, California, April 1975, menjadi kompetisi pertama bagi z-Boys dan juga Zephyr team untuk menunjukkan siapa mereka. Di kompesitisi inilah gaya skate tahun 60an, dibabat habis oleh Z-Boys. Spontanitas mereka dan kelenturan mereka diatas papan luncur seperti layaknya mengendarai ombak, membuat hadirin tercengang. Mereka belum pernah melihat gaya seperti yang dilakukan Z-Boys sebelumnya. Bahkan juri tak tau bagaimana harus memberi penilaian kepada mereka. kompetisi Del mar ini menjadi kompetisi paling bersejarah dalam legenda Z-Boys.

Penampilan Z-Boys mejadi sesuatu yang selalu dinantikan di setiap kompetisi. Juri terpaksa melakukan revolusi standar penilaian lomba. Kemunculan Z-Boys sebagai cover majalah skateboarding, melambungkan nama mereka dan membuat skateboard kembali menjadi olah raga yang digemari di seluruh Amerika.

Hype membuat Z-Boys membuka sejarah baru dalam perkembangan skateboard dunia. semua perusahaan skateboard, berlomba-lomba memperebutkan Z-Boys untuk kepentingan komersil mereka. Tony Alvalah yang pertama kali menyadari, bahwa dia bisa menjadi bintang sebagai skater pro. Dia yang pertama meninggalkan skip dan Zephyr tim demi kepentingan komersial. Satu persatu pergi dan Skip terpaksa menerima karena masalah keuangan yang dia hadapi, membuatnya tak mampu memberikan profit bagi Z-Boys.

Jay Adams lah yang paling tak peduli dengan semua tawaran-tawaran itu. Prinsip apapun yang dia bukan karena kendali orang lain, membuat Jay tampak begitu kuat sebagai ikon anti mainstream. Jika akhirnya Jay meninggalkan Skip, itu dia lakukan karena terpaksa. Dia harus membantu ibunya membayar uang sewa rumah, bukan karena alasan menjadi terkenal dan kaya seperti teman-temannya yang lain.

Tokoh Sid (Michael Angarano) muncul sebagai salah satu Z-Boys yang memiliki masalah dengan pendengarannya dan akhirnya meninggal karena kanker otak. Sid muncul sebagai karater yang menghibur. Keluguannya di antara teman-temannya, justru menjadi figure pemersatu, ketika perseteruan di antara Tony, Jay dan Stacy mulai meruncing.

***

Dogtown merupakan sebutan sebuah daerah slum tepi pantai, perbatasan antara Santa Monica dan Venice, California. Di tempat inilah Z-Boys berasal. Tahun 2001, sebelum menulis naskah Lord of Dogtown, Stacy Perlata menggarap sebuah dokumenter Dogtown and Z-Boys. Di film ini Stacy mendapat penghargaan sebagai sutradara sekaligus film terbaik pilihan pemirsa di Sundace Film Festival tahun 2001. Film yang berisi wawancara dengan para legenda z-boys , Tony Hawk _skater pro beberapa generasi di bawah z-boys, beberapa musisi seperti Ian Mckey dan Jeff Ament yang melihat Z-boys lahir dengan karakternya yang khas yang tak dijumpai di belahan Amerika manapun pada jamannya.

Dokumenter yang sangat kaya dengan footage perjalanan Z-Boys dari kompetisi ke kompetisi, memberi gambaran yang cukup lengkap bahwa Z-boys bukan sekedar menemukan gaya dan trik-trik baru pada permainan skateboard, tapi Z-Boys mampu menampilkan attitude yang memberi nafas dan jiwa pada permainan skateboard itu sendiri. Itu sebabnya, dokumenter ini menjadi ‘kitab suci’ Catherine Hardwicke dalam menyutradarai Lord of Dogtown. Cathrine banyak menghadirkan kembali beberapa beberapa gambar yang mirip sekali dengan footage aslinya dan membuat ‘original z-boys’ seperti dibawa kembali ke masa lalu. Seperti reruntuhan POP dan suasananya, Del Mar Competition, kolam-kolam renang berbentuk mangkuk yang kini tak lagi digemari oleh warga Santa Monica dan adegan-adegan yang nyaris sama persis dengan footage aslinya. Bagi Catherine, kesulitan dalam penggarapan film ini, bukan bagaimana mengambarkan seperti apa Dogtown pada saat itu, tapi bagaimana menghadirkan kembali apa yang terekam dalam Dogtown and Z-Boys seakurat mungkin.

Tak kurang dari Tony Alva, Stacy Perlata, Jay Adams sendiri yang mengcasting para pemain yang memerankan diri mereka masing-masing. Mereka pun turun tangan langsung, melatih para skater pro yang menjadi pemeran pengganti untuk mendapatkan karakter mereka di atas skateboard. Emile Hirsch, Victor Rasuk, John Robinson mendapat supervisi langsung dari Jay Adams, Tony Alva dan Stacy Perlata untuk menampilkan kepribadian masing-masing ketika berada di atas papan luncur.

Di antara kepribadian Tony yang egosentrik dan rockstar wanna be, Stacy yang republikan berambut panjang terawat, karakter Jay Adams terasa begitu kuat. Karekternya yang begitu spontan dan agresif, penuh kemarahan, diperankan dengan sangat baik oleh Emile Hirsch. Ia berhasil menerjemahkan karakter Jay dengan intensitas emosi yang kuat dan bisa dirasakan penonton. Emile sebelumnya dikenal bermail di The Dangerous Lives of altar Boys, Imaginary Heroes. Jay Adams, tokoh yang diperankannya dalam kehidupan nyata sempat di penjara karena masalah obat-obatan dan tuduhan pembunuhan. Jay di film ini menjadi sosok ikonik anti mainstream yang sangat sadar dengan resiko dari pilihannya. Perlu digaris bawahi pula kemampuan improvisasi Heath Ledger dalam memerankan Skip Engblom, memberikan jiwa dari legenda Dogtown dengan sikap semau gue-nya, senioritas sekaligus sosok bersahabat bagi z-boys.

’The Original Z-Boys’ muncul sebagai cameo. Cathrine mengaku dirinya didatangi Original Z-Boys yang menawarkan diri mereka untuk tampil di Lord of Dogtown. Bagi mereka, tampil di Lord of Dogtown seperti moment penting untuk mengenang masa lalu. salah satu adegan cameo yang cukup menarik, ketika ibu Jay Adams menyelenggarakan pesta di rumahnya. Emile yang memerankan Jay, berhadapan langsung dengan ‘the real Jay Adams’ yang di adegan itu berperan sebagai teman ibunya. Juga ‘the real Tony Alva’ di dandani memakai kumis dan baju koboi yang juga hadir di pesta itu. Adegan menarik lainnya, ketika ‘the real’ Stacy Perlata muncul sebagai sutradara Charlie Angeles yang mendirect Stacy perlata (John Robinson) dalam salah satu adegan Charlie Angeles muncul sebagai pemain skateboard. Skip Engblom pun muncul sebagai penarik pelatuk pistol tanda kompetisi skateboard di Seattle di mulai. Tak ketinggalan Tony Hawk juga muncul sebagai Astronot.

Secara proses Lord of Dogtown menjadi sangat istimewa, karena Cathrine melibatkan bukan hanya original z-boys dalam proses penggarapannya, tapi juga generasi skater di bawah Z- Boys seperti Steve Badillo, Christian Hosoi, Tony Hawk. Keterlibatan mereka mulai dari penggarapan artistik, skateboard camera operator, pelatih sampai cameo. Meski cerita ditulis oleh Stacy Perlata tentang dirinya, Stacy nampak sangat berhati-hati untuk tidak menjadikan dirinya center of the story. Apa yang ditulis Stacy terasa sebagai bentuk penghargaan atas kekagumannya pada sosok Jay Adams, sahabatnya yang memilih jalan berbeda dengannya dan Tony Alva, karena Jay muncul sebagai karakter yang lebih kuat daripada yang lain.

Tak boleh luput untuk disimak adalah movie soundtrack yang mengisi Lord of Dogtown.
Tak kurang dari Cher, David Bowie, Neil Young, Social Distortion, Nazareth, Joe Walsh, Iggy Pop, Black Sabbath, Jimi Hendrix, Stevie Worder, sampai The Stooges memperkuat atmosfer subkultur lewat penggarapan sinematografi yang cukup baik. Skateboard di sini bukan sekedar tempelan atau sekedar X-treme sport, namun jadi gaya hidup yang menyatu dengan karakter tokoh-tokohnya.

Bagi penonton yang tak kenal sejarah Dogtown and Z-Boys dan tak memahami permainan skateboard, film ini tetap tampil menarik sebagai sebuah cerita tiga anak muda yang memilih skateboard sebagai jalan hidupnya. Namun bagi para penggemar skateboard dan mengetahui legenda Dogtown and Z-boys, film ini menyuguhkan sisi lain Z-Boys, disaat kenakalan dan agresifitas masa muda, justru menancapkan tonggak sejarah baru perkembangan skaterboard yang melegenda.

Menonton Lord of Dogtown, kita seperti disadarkan, tentang proses sebuah persahabatan. Bagaimana kemudian kesuksesan datang kepada mereka dengan caranya masing-masing dan menguji sekuat apa persahabatan yang telah terjalin di antara mereka. Meski pandangan mereka tentang kesuksesan berbeda, satu hal yang tak pernah luntur: persahabatan. Selalu. Dari sahabat kembali pada sahabat.

Tulisan ini untuk Outmagz edisi 11

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails