Loading...

Thursday, September 18, 2014

Craftivism: The Art of Craft and Activism





Bahagia sekaligus bangga, bisa terpilih untuk memberikan kontribusi tulisan pada buku tentang craftivism ini. Sementara aku pasang review dan endorsment terlebih dahulu. Untuk resensinya akan aku publikasikan dalam terbitan yang berbeda. 

------


Editor Betsy Greer
Arsenal Pupl Press

Craftivism is a worldwide movement that operates at the intersection of craft and activism; Craftivism the book is full of inspiration for crafters who want to create works that add to the greater good. In these essays, interviews, and images, craftivists from four continents reveal how they are changing the world with their art. Through examples that range from community embroidery projects, stitching in prisons, revolutionary ceramics, AIDS activism, yarn bombing, and crafts that facilitate personal growth, Craftivism provides imaginative examples of how crafters can be creative and altruistic at the same time.
Artists profiled in the book are from the US, Canada, the UK, Australia, and Asia, and their crafts include knitting, crocheting, sewing, textiles, pottery, and ceramics. There’s the Brooklyn writer who creates large-scale site-specific knitted installations; the British woman who runs sewing and quilting workshops for community building and therapy; the Indonesian book maker and organizer of a DIY craft center; and the Oxford, UK, cultural theorist and designer dressmaker. A wonderful sense of optimism and possibility pervades the book: the inspiring notion that being crafty can really make the world a better place.

Reviews

Not a book of instruction but of inspiration, Greer's follow-up to Knitting for Good is a compelling survey of the global, little-known world of crafting as activism ... The photos and interviews are astounding and powerfully inspiring. —Publishers Weekly
Socially conscious crafters who enjoy the efforts of Faythe Levine (Handmade Nation) and Leanne Prain (Yarn BombingHoopla) will be inspired by these activists' thought-provoking work. —Library Journal

A richly illustrated compendium of voices ... The book is part manifesto and part philosophical inquiry. Best of all, it presents a peaceable army of crafters who have taken to the streets to Occupy (yes!) a new place in the cultural landscape. Through interviews with a broad array of artisans with unique artistic visions, we learn how crafting can transform public spaces, inspire young people to make their own things and (wait for it) make the world a better place. Too good to be true? No! Instead, too true to be good. These makers of things are wicked! They are subversive, outraged and ready to make trouble in the most beautiful ways. —BookPage

Craftivism puts the optimism and whimsy back in activism. —Rabble.ca

Craftivism explores the power of being meaningful with our head and hands. Making with active intention is a political act no matter how big or small your intention is. Making is scary, and Craftivism gives permission to craftivists to be loud, to be quiet, to make with meaning, and most importantly, to share and create a difference. 
—Kate Bingaman-Burt, author of Obsessive Consumption 

Sharing stories of how people make changes in the world through creative acts of making, Betsy Greer reminds us that revolutions are small before they are grand. In the spirit of craftivism, she gives voice to others, sharing their stories to demonstrate how collaboration - as much as action and listening - can effect change. 
—Namita Gupta Wiggers, Director and Chief Curator, Museum of Contemporary Craft and Co-Founder, Critical Craft Forum

Betsy Greer has collected an impressive line-up of experts, and their essays both informative and delightful. This is a book for anyone who's into craft or activism -- or are simply curious about either. 
—Perri Lewis, author of Material World and creative director of Mastered

Greer's book documents and celebrates the revolutionary potential of craft as a vessel for change ... Craftivism is an incredibly engaging conversation with the broadest range of folks using craft as political activism. It explores the fullest breadth of contemporary practice encompassing knitting, cross stitch, mending, fashion design, upcycling and quilting. It expands the reader's expectations of what is possible whilst at the same time demonstrating the power of the smallest action. —Needle and Spindle

The book features the work both whimsical - like Guerrilla Kindness, a campaign centered around leaving works of art in public places for people to enjoy - and more intense, like the groups of Chilean arpilleristas who embroider and collage the tragedy their families suffered under the totalitarian Pinochet regime. There are projects that will bring tears to your eyes, like The Blood Bag Project and Quilts of Valor, and some that will inspire and excite you, like Mila Burcikova\\\'s recycled clothing company. —Hey Mishka

Beyond the projects, the contributors give readers a glimpse into their inspirations, motivations, process, and results both intended and unexpected. The enthusiasm of the book's participants over their individual efforts and their resulting effects on their community will leave you wanting to find your own craftivism project. If you in any way enjoy or are interested in crafts, activism, or community/public art projects, then you definitely need to pick up Craftivism. —Canada Arts Connect

Even those who are not especially crafty will find this book compelling because it doesn't just focus on the craft projects themselves, but on the social impact that these projects have on others. For those who are of the crafty persuasion, this book may supply the necessary motivational fodder to mobilize your crafting efforts and make an impact on the world. —Makezine



Purchase this book: Amazon.com

Harga Jargon Kota Kreatif

Tulisan ini dipublikasikan di halaman Teropong Pikiran Rakyat, 7 April 2014. Tulisan yang dipublikasikan di blog ini adalah versi sebelum di edit oleh redaksi. 

" Warga Indonesia yang suka, desain, musik, arsitektur, film, ke Bandung aja, nanti kantornya, sewanya saya murahin, pajaknya saya kurangin, PBBnya saya kurangi, yang penting datang ke Bandung anak-anak muda yang gaul, yang produktif,  karena Bandung ini 2,6 juta, 60%nya di bawah 40 tahun, cuacanya nyaman, jadi berbisnis yang ekonomi kreatif itu  cocok," begitulah 'Jualan' walikota Bandung, Ridwan Kamil di sebuah acara talkshow televisi nasional, baru-baru ini (12/3/2014).

Tahun 2007, British Council menobatkan Bandung sebagai salah satu kota kreatif di Asia. Sejak saat itu jargon Bandung Kota Kreatif menjadi identitas Bandung yang baru. Usaha-usaha yang dirintis komunitas anak muda di pertengahan tahun 90-an, kemudian menjadi sektor andalan dari pengembangan industri dan ekonomi kreatif di Kota Bandung. Kreativitas anak muda ini menjadi ladang ekonomi baru yang seolah-olah tidak akan habis dieksploitasi.

Namun pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari komoditas kreatif anak muda Bandung ini bukanlah tanpa konsekuensi. Masih tertancap dalam ingatan, peristiwa tragis 9 Februari 2008, ketika 10 orang meninggal dalam konser musik di gedung AACC, Bandung. Peristiwa tragis ini merupakan benturan keras dari pergeseran cara melihat kreativitas anak muda Bandung, dari komunitas menjadi komoditas (penulis pernah menuliskan hal ini di Pikiran Rakyat, 18/2/2008 ‘Dari Militansi Ke Komodifikasi’). Ketika di pertengahan 90-an kegiatan konser musik seperti ini diusung dengan semangat kolektivitas, komunalitas dan kemandirian komunitas, satu dekade kemudian kegiatan seperti ini menjadi komoditas ekonomi baru, dimana komunitas pendukungnya dianggap sebagai target pasar oleh para sponsor, benturan sosial dari perubahan karakter yang memakan korban jiwa pun tak bisa dihindari.

"Usaha-usahanya ini kan awalnya muncul dari komunitas musik, clothing-clothing ini awalnya muncul untuk mendukung komunitas musik. Tapi ketika akhirnya berdiri sendiri, si komunitas musiknya sendiri di tinggalkan. Dan ketika usaha ini mengalami penurunan, mereka ramai-ramai mendekati kembali komunitas musik. Akhirnya ikatan yang terbangun ya sebatas sponsorship.  Jadi modelnya hanya bisa endorsment doang, karena usaha ini ga ada keterikatan dengan fans base si komunitas musik. tujuannya hanya menjadikan fans base itu sebagai pasar," ungkap Iit yang mendirikan Omuniuum, toko dan brand di tahun 2003 bersama suaminya Tri Juniantoro. Omuniuum juga menjadi titik distribusi merchandise band, tiket pertunjukan musik dan juga 'konsultan' untuk beberapa band lokal di Bandung.

Usaha yang dibangun oleh komunitas pun bergeser ketika dilihat dalam bingkai yang disebut industri kreatif. Usaha skala komunitas, bergeser menjadi usaha skala industri dengan konsekuensi hukum suplly dan demand. Pasar dan kekuatan kapital mengambil alih kendali. Komunitas lantas menjadi target pasar, hubungan antara anggota komunitas lambat laun menjadi hubungan transaksional ketimbang hubungan saling berbagi. Pola komunikasi dan interaksi di dalam dan antar komunitas pun berubah. Pola interaksi tatap muka, kini lebih banyak diperantarai teknologi dan sosial media. Ruang-ruang pertemuan dan pertukaran ide serta gagasan pun menjadi semakin terbatas. Ada bahasa non verbal yang kemudian hilang. Komunitas pun mengalami pendangkalan makna ketika hanya dilihat dari sebesar apa jumlah pengikut mereka di sosial media. Dan militansi yang menjadi sikap, perlahan-lahan luntur oleh tuntutan pertumbuhan yang kerap kali di nilai dari besaran nilai ekonominya.

 “ Seringkali brand yang merintis dari kecil dengan semangat komunitas, ketika usahanya berkembang dan menjadi besar, sifatnya berubah dan menjadi seperti kemapanan yang dulu pada awalnya mereka lawan.” Jelas Siscarose  yang mendirikan usaha vendor dan brand/merek clothing MoKaw bersama suaminya Danu Purwoko di tahun 2008.

Pertumbuhan diperjelas oleh data yang  dikemukakan Arief Anshory Yusuf dalam artikel opininya di Pikiran Rakyat  (8/1/2014). Dalam tulisan itu Arief mempertanyakan: Kota Bandung (Sebenarnya) Untuk Siapa? Sebuah pertanyaan yang didasarkan pada angka pertumbuhan ekonomi Bandung dalam 5 tahun terakhir sekitar 8% per tahun, namun pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga di Kota Bandung secara riil hanya meningkat 4,1 % saja. Termasuk juga peningkatan jumlah orang miskin di Kota Bandung dari 103.000 menjadi 111.000 orang. Arief membahas ketimpangan angka pertumbuhan dan konsumsi rumah tangga ini karena dua faktor. Pertama karena meningkatnya kepemilikan aset-aset produksi  dan kedua adanya ketimpangan dimana pertumbuhan itu hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

Sebagai contoh, laju peningkatan harga properti di Kota Bandung, banyak dikeluhkan oleh usaha-usaha yang berasal dari komunitas ini. Harga sewa setiap tahun bisa naik sampai 100%. Bahkan kecenderungan yang ada saat ini, pemilik propertilah yang mengendalikan usaha-usaha seperti ini.

Sebagai vendor sekaligus pemilik brand, Siesca menjelaskan bahwa hingar bingar pemberitaan media, Bandung sebagai Kota Kreatif, berdampak pada laju peningkatan harga properti di Bandung. “ Sebenarnya di satu sisi, cukup terbantu dengan pemberitaan di media tentang Bandung Kota Kreatif dan liputan-liputan tentang pertumbuhan distro dan nilai ekonomi dari usaha ini, tapi di sisi lain, ketika itu dibaca oleh pemilik properti, harga sewa toko dan tempat produksi jadi naik berkali-kali lipat karena mereka melihat ini sebagai bisnis yang menguntungkan.  Kalau tempat produksi bisa tetap low profile maksudnya tidak harus di lokasi yang strategis, tapi itu juga harga sewanya selalu mengalami kenaikan, sementara toko yang menjual brand, karena lokasinya mesti strategis, kenaikan harga sewa tempatnya seringkali gila-gilaan dan ga masuk akal. Padahal yang seringkali di diliput pendapatannya sampai ratusan bahkan milyaran rupiah, itu sebetulnya nilai omset bukan keuntungan bersihnya. Jadi ya pemberitaan itu bisa berdampak negatif dan positif juga. Dan sekarang ini kecenderungannya yang jadi pemodal distro itu yang punya tempat dan biasanya bagi hasil."

"Bayangkan jika harga sewa toko kecil saja 150 juta setahun, dan itu bisa naik lagi harganya di tahun berikutnya, mana mampu usaha ini membayarnya. Akhirnya banyak pemilik properti atau vendor dengan modal besar yang bayarin sewanya dan mereka jadi pemilik modal utamanya. Sekarang justru kecenderungnya, vendor yang buka outlet dan bikin brand sendiri. Kalau vendor punya satu jenis kain, semua brand kecenderungannya akan pakai kain yang sama, " Ungkap Tri. "Bahkan ada vendor yang menawarkan produk yang sudah jadi dan tinggal dipasangin brand aja, jadi kreativitas sekarang ini lebih banyak ditentukan oleh vendor yang punya modal besar," tambah Iit.


Konsekuensinya menurut Arief Anshory Yusuf, Kota Bandung dalam 10 sampai 20 tahun ke depan akan mengalami runtuhnya ikatan sosial dan ketimpangan ekonomi ini akan menjadi sumber dari berbagai penyakit sosial dan meningkatnya angka kejahatan. Dan Ini semua akan membuat Bandung semakin tidak nyaman untuk ditinggali.

Ketika Mereka Memilih Tidak Ingin Tumbuh Tergesa-gesa

Tulisan ini dipublikasikan di halaman Teropong Pikiran Rakyat, 7 April 2014. Tulisan yang dipublikasikan di blog ini adalah versi sebelum di edit oleh redaksi.


Pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung yang dibahas Arief Anshory Yusuf (Pikiran Rakyat,  Kota Bandung (Sebenarnya) Untuk Siapa? 8/1/2014), membawa konsekuensi semakin gencarnya tawaran modal investasi terhadap usaha-usaha yang bangun dengan pendekatan komunitas. Nilai tawar dari usaha ini kemudian yang menentukan, apakah tawaran modal investasi itu bisa dilihat sebagai peluang atau sekaligus ancaman.

“Tawaran dari pihak yang ingin memberi modal itu ada, tapi coba saya tolak secara halus. Bukan ga butuh uang, tapi karena ada paham-paham yang sulit disambungkan antara saya dan yang punya uang. Jadi untuk sementara, ga dulu lah. Jadi kalaupun berkolaborasi atau bekerjasama dengan yang punya modal ya harus yang ngerti gimana roots kita, biar kerjasamanya enak. Tapi sebenernya kalau dari sisi modal, kita lebih berusaha bisa sendiri. “ungkap Dimas Ginanjar Merdeka atau yang akrab dipanggil Bob Merdeka, pendiri brand keripik pedas Maicih.

Tawaran menggiurkan ini juga dihadapi Ageng Purna Galih, pemilih brand wawbaw yang akrab dipanggil Age. Awalnya Age membuat gambar coretan tangan yang dijadikan profil picture (avatar) untuk sepasang temannya. Setelah itu permintaan membuat avatar terus bergulir, sampai Age mendapat tawaran dari perusahaan pengembang software untuk membuat aplikasi avatar dari gambar yang dibuatnya. Namun tawaran itu ditolaknya. "Kalau sudah jadi software, itu sudah bukan Wawbaw lagi, sentuhan tangannya jadi hilang dan keluar dari konsep Wawbaw," ujar bapak beranak satu ini.

Age juga mengaku pernah ditawari oleh brand sepatu dari koorporasi multinasional, untuk memakai brand visual Wawbaw. Jika kolaborasi ini sebatas untuk kepentingan eksibisi, Age tidak berkeberatan, namun jika kemudian diproduksi dalam skala besar, ia berkeberatan.

"Ini dampaknya sangat besar, pembajakan karya dan wawbaw jadi tidak lucu lagi, karena semua orang lantas akan membuat yang seperti itu. jadinya wawbaw tidak lagi ekslusif," papar Age.
"Biasanya yang menawarkan modal, teman-teman Bankir yang ingin cari usaha sampingan buat jaga-jaga. Mereka biasanya ga mau hanya jadi pemodal pasif, mereka juga suka punya ide macem-macem padahal mereka ga paham dengan semangat dari usaha ini, jadinya tawaran kaya gini biasanya terpaksa di tolak, papar Keni Soeriaatmaja, Pendiri usaha makanan Bin Ukon dan juga pengelola program kegiatan UNKL 347.Penolakan-penolakan ini semata-mata karena usaha-usaha ini tidak mau tumbuh tergesa-gesa. Mereka memilih untuk berkembang secara bertahap sesuai dengan kemampuan sendiri yang mereka miliki.

Age mengakui, bahwa usaha yang dia miliki, bukan usaha yang bisa di paksakan untuk tumbuh besar seperti harapan sebagian orang. Meskipun apa yang dia buat sangat berpotensi dikembangkan ke arah itu, namun bukan tumbuh membesar yang ia inginkan. "Ya karena ini kerajinan tangan, kalau saya nyimpen modal 2 M di usaha ini ya namanya sudah bukan kerajinan tangan lagi.  dan kalau skala besar juga pasti sudah punya aturan main sendiri. Jadi ini sebetulnya sekat-sekat yang saya buat sendiri, untuk menjaga apa yang saya buat. Karena saya sadar produk wawbaw ini tentunya ada yang suka dan yang tidak, jadi disitulah batasan-batasan itu saya buat. Saya cukup tau diri dengan keterbatasan yang saya miliki. "

 “Ketika kapital bertambah, kita memang tidak bisa tarik lagi ke belakang. Ketika membesar memang ada syarat-syarat yang harus di ikuti. Ketika makin besar, tuntutannya juga makin banyak. Ketika semuanya dimulai dengan semangat asal ada, asal jadi keripik, asal gurih asal pedes. Setelah makin besar, kemudian ada syarat harus ada izin depkes, label halal, yang tadinya ga ada badan usaha, harus ada badan usaha. Laporan pajak dan yang awalnya acuh tak acuh terhadap pembukuan, sekarang jadi hal penting untuk memperhatikan cash flow. Sekarang ya harus mensikapinya seperti perusahaan pada umumnya, padahal awalnya cuma main-main, karena saya hobi makan keripik dan menularkannya ke teman-teman dan akhirnya ga bisa jadi sekedar hobi tapi akhirnya jadi hal yang serius," tambah Bob Merdeka yang saat ini sedang mempersiapkan pembangunan Maicih Kafe di Jalan Soka, Bandung.

“ kalau kita sendiri akhirnya kita bagi, jadi kita ngerjain kerjaan dari mulai levelnya starter up, komunitas yang biasanya orderannya jumlahnya kecil dan dari perusahaan besar. Dan sejak awal tahun ini, proyek dari starter up makin banyak,” Ungkap Siscarose . MoKaw sendiri menurut Sisca jadi punya kesempatan untuk  tetap menjaga bisnisnya berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan.
 "Beberapa brand bermodal besar, sudah mulai melirik vendor produksi di Cina, tapi sebetulnya kalau mau bersetia pada brand skala kecil, peluangnya tetap ada dan biasanya mereka lebih loyal. Dan brand kecil ini biasanya lebih punya banyak manuver untuk terus menjalankan usahanya. Lebih fleksibel juga. Dan kecenderungan produksi sekarang ini, modelnya makin banyak, quatitynya makin sedikit. Selain itu, muncul kecenderungan bikin desain yang di luar template. Dan biasanya vendor kecil lebih bisa  diajak eksperimen,“ Danu Purwoko menegaskan.

 “Idealnya sih di usaha vendor itu ada divisi yang memang  ngerjain pesanan-pesanan yang sifatnya lebih eksperimental dan satu lagi divisi yang memang jadi mesin uangnya, dan ngerjain kerjaan-kerjaan reguler, biar kemampuan si vendor juga berkembang dan punya kesempatan terus belajar, sekaligus cash flow bisnisnya terjaga, ” tambah Sisca lagi.

Para pelaku usaha ini menyadari, bahwa ada banyak cara dan pilihan untuk membangun usaha dan semua itu mengandung resiko. Semua pada akhirnya kembali ke kemampuan masing-masing untuk mengukur kemampuan dan keterbatasan untuk menjalaninya.


Bagi Danu Purwoko, "Daripada besar gara-gara kapasitas, lebih baik memperbesar posri untuk riset yang sebenernya bisa jadi modal kita untuk bersaing kedepannya. Maju itu tidak perlu selalu menjadi besar. “

Dari Komunitas, Kembali Ke Komunitas

Tulisan ini dipublikasikan di halaman Teropong Pikiran Rakyat, 7 April 2014. Tulisan yang dipublikasikan di blog ini adalah versi sebelum di edit oleh redaksi. 

Pergeseran situasi sosial, politik selama dua dekade terakhir ini, memberi dampak yang sangat besar pada usaha-usaha yang dibangun oleh komunitas. Jika di pertengahan dan akhir 90-an komunitas-komunitas ini membangun usahanya dengan semangat resistensi dan mencari alternatif terhadap sistem kekuasaan Orde Baru yang saat itu baru saja tumbang. Setelah era reformasi dimana situasi sosial, politik serta perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesatnya, membawa konsekuensi pada kemapanan baru dari kelompok-kelompok yang tadinya resisten dan alternatif.

"Usaha-usahanya ini kan awalnya muncul dari komunitas musik, clothing-clothing ini juga muncul untuk mendukung komunitas musik. Tapi ketika akhirnya clothing-clothing ini berdiri sendiri, si komunitas musiknya sendiri di tinggalkan. Dan ketika usaha ini mengalami penurunan, usaha-usaha ini ramai-ramai mendekati kembali komunitas musik. akhirnya ikatan yang terbangun ya sebatas sponsorship.  Jadi modelnya hanya bisa endorsment doang, karena usaha ini ga ada keterikatan dengan fans base si komunitas musik. Tujuannya hanya menjadikan fans base itu sebagai pasar. 

Mereka menyasar si fans base tanpa tau sejarahnya seperti apa dan bagaimana si band ini berproses, " jelas Iit. Selama ini, band-band lokal baru maupun yang sudah bertahan lebih dari satu bahkan dua dekade, kerap mengeluhkan hal itu, ketika mereka berkumpul di Omuniuum.
Meski tidak semua usaha yang berasal dari komunitas, lantas menjadi lupa dan meninggalkan komunitasnya. Sebagian justru menyadari pentingnya mendukung komunitas yang telah membesarkan mereka. 

“Selama ini maicih didukung oleh komunitas anak muda yang punya kreativitas dalam artian anak-anak musik di bandung yang peduli sama culture, sama art, karena orang-orang ini punya sisi popularity, itu yang membuat maicih jadi ‘boom’ karena sisi popularitas mereka berpengaruh. Dan ketika usaha kita semakin besar, ya kita berusaha give back dengan membuatkan konser, kolaborasi dengan membuatkan event wayang golek, kerjasama dengan saung udjo, musik indie, hal-hal seperti ini kita tempuh, biar rootsnya Maicih tetap terjaga. Meskipun secara personal saya berteman dengan komunitas-komunitas itu, meski ada juga yang saya ga kenal, tapi karena saya mendukung isunya tetap saya dukung. Misalnya dukungan terhadap teman-teman Efek Rumah Kaca. Secara personal saya ga kenal, tapi karena mereka mau rekaman di Lokananta dan Lokananta adalah studio rekamanan pertama di Indonesia ya hal kaya gitu yang akhirnya kita dukung. Karena ada kesamaan pada ketertarikan isu. Ya karena secara pribadi, sebagai owner saya punya ketertarikan isu ke sana, ke scene indie, culture, lingkungan, karena saya ownernya itu jadi roots perusahaan, " Papar Bob Merdeka.

Pergeseran pola interaksi yang lebih komunal dan tatap muka, menjadi lebih individual dan bergantung pada teknologi, menjadi tantangan tersendiri bagi banyak pelaku usaha ini. Internet di satu sisi dapat memperluas pasar dari produk-produk mereka, namun di sisi yang lain, juga memecah pasar menjadi lebih 'segmented'. Membangun 'fans base online dan offline' menjadi penting dilakukan. Fans base yang bersasal dari follower di jejaring sosial media dan simpatisan kegiatan yang hadir secara langsung inilah yang kemudian menjadi komunitas pendukung usaha-usaha yang dibangun dari komunitas. Hubungannya pun bukan sekedar transaksional, namun ada ikatan emosional yang perlu di bangun dan dijaga.

Hal ini di tegaskan pula oleh Bob Merdeka, “Dulu kita datang dari keterbatasan, dari keterbatasan itu, kita bisa tumbuh dengan baik. Ketika perusahaan sharing proses behind the scenenya ke konsumen, justru itu akan  jadi brand yang bisa membangun empati ke konsumennya. Misalnya pas pabrik kita mengalami kebakaran dan sayangnya belum diasuransikan. Dan kita share di sosmed. Dan dukungan dari konsumen kita luar biasa. Dan saya kira maicih punya modal berharga yang tak terhitung yaitu keluarga konsumen. Itu yang membuat kita pede karena ada keluarga konsumen yang mendukung di belakang kita.”

"Yang penting juga adalah mengelola 'fan base' kita, ga perlu berjuta-juta jumlahnya, biar sedikit asal dikelola dengan baik dan dijaga, mereka bisa jadi loyal dengan kita," tambah Tri Juniantoro dari Omuniuum.

Jika dicermati lebih jauh, menurut Keni Soeriaatmaja, pendiri Bin Ukon dan pengelola program komunitas UNKL/347, ada tiga macam karakter 'fans base'. pertama adalah fans yang mendukung brand yang ditawarkan karena memahami nilai-nilai dan gagasan yang dibawa oleh brand yang bersangkutan. Kedua, fans yang mendukung brand karena ingin terlihat keren dan berbeda dengan yang lain dan yang ketiga, fans yang mendukung karena mengikuti arus disekitarnya. "Semua tetap penting untuk dirangkul, bagaimanapun juga mereka yang menghidupi brand kita," ungkap Keni.

Sementara bagi vendor seperti Mokaw,  justru usaha ini punya kesempatan untuk mendukung upaya-upaya komunitasnya untuk lebih mandiri. Lebih jauh Siesca memaparkan:
”Kita bisa mendukung produksi yang dilakukan komunitas ketika mereka ingin berdikari dengan jualan merchandise. Dan kalau buat kita, justru jadi satu kebanggaan, ketika di company profile kita, kerjaan-kerjaan yang bukan template dan juga ada klien-klien dari komunitas juga. Gimanapun juga, lebih memberi arti, ketika yang kecil-kecil saling mendukung dan bisa berjalan bersama-sama dari pada jalan sendiri-sendiri. Ya semua itu balik lagi ke soal pilihan sih. Tapi menurut gua, penting untuk menjadi tetap kecil, meski punya kapasitas modal yang memadai, kenapa? Karena dengan skala yang tidak terlalu besar, itu bisa meminimalisir resiko dan membuat produk yang dihasilkan juga jadi lebih tepat sasaran. Lebih penting lagi, bisa tetap menjaga kedekatan dengan konsumennya.“


Bagi Age, tidak ada rumus khusus untuk mengelola jejaring sosial dan komunitas pendukungnya. "Tidak perlu mengada-ngada, ya apa adanya, seperti merawat sebuah hubungan pertemanan."

Menjadi Kecil Itu Pilihan

Tulisan ini ditulis ulang dari tulisan lama dengan judul yang sama, untuk dipublikasikan di halaman Teropong Pikiran Rakyat, 7 April 2014. Tulisan yang dipublikasikan di blog ini adalah versi sebelum di edit oleh redaksi. 

 Saya sering sekali mendapat pertanyaan, apakah suatu hari nanti Tobucil (Toko Buku Kecil) akan menjadi besar? dan seringkali pula saya menjawab Tobucil akan tetap menjadi kecil dan memilih untuk tetap menjadi kecil. Sebagaian yang mendengar jawaban saya berhasil dibuat terheran-heran dengan jawaban itu, bagaimana mungkin sebuah usaha berbasis komunitas yang dibangun selama 13 tahun tidak punya cita-cita menjadi besar, bukankah kesuksesan sebuah usaha seringkali dinilai ketika usaha tersebut membesar_ baik dari segi tempat, omset, aset, karyawan dan lain-lainnya yang bertambah banyak dan besar nilainya. Namun jika dijalani, memilih tetap kecil itu, bukanlah pilihan yang mudah.


Dalam menjalankan usaha, waktu akan membawa pada masa pertumbuhan dan tempaan. Tahun-tahun pertama (tobucil dua tahun pertama) adalah masa bulan madu, dimana semangat masih menggebu-gebu, energi masih melimpah ruah, kesulitan dan masalah belum menjadi hantaman berarti, kerjasama masih terasa manis dan romantis. Ketika masa bulan madu berakhir, masa tempaanpun dimulai. Usaha yang dibangun seperti dipaksa masuk ke dalam kawah candradimuka. Kongsi yang bubar, modal habis keuntungan belum juga nampak, mulai bosan karena usaha seperti jalan di tempat, tuntutan kebutuhan pragmatis (apalagi bagi yang sudah berkeluarga), jika tak tahan dengan tempaannya, apa yang sedang dirintis bubar di tengah jalan dan mungkin malah bikin kapok seumur-umur.

Sementara jika berhasil menjalani semua tempaan itu, apa yang sedang dirintis, akan memasuki tahap berikutnya, karena formula untuk 'lulus dalam ujian tingkat pertama telah ditemukan, pintu-pintu menuju kesempatan yang lebih besar tiba-tiba terbuka lebar. Dan jalan yang membentang di depan terlihat lebih mudah dan menggiurkan.

Dari pengalaman menjalankan Tobucil ini adalah fase yang justru sangat berbahaya. kalau tidak hati-hati dalam memilih dan mengambil kesempatan, resikonya adalah kehilangan fokus. Semangat yang muncul biasanya adalah semangat aji mumpung: 'mumpung ada kesempatan, mumpung ada tawaran, mumpung, mumpung dan mumpung..' Kesalahan yang seringkali adalah lupa mengukur diri. Seperti orang yang puasa hanya menahan lapar dan haus. Ketika waktu berbuka puasa tiba, segala makanan dan minuman yang ada di meja masuk mulut. Akibatnya kekenyangan dan malah sakit perut. Ketika kaki baru menapaki anak tangga kedua, tiba-tiba saja ingin buru-buru loncati lima anak tangga sekaligus, tanpa menyadari bahwa langkah yang paling lebar yang bisa dilakukan hanya untuk melewati dua anak tangga sekaligus, bukan lima.

Dalam hal ini, saya termasuk yang percaya apa yang diperoleh dengan cara cepat, akan mudah lepas atau hilang, tapi apa yang diperoleh dengan susah payah, akan bertahan lebih lama. Pada titik ini, sebenarnya komunitas atau sebuah usaha akan dihadapkan pada pilihan menjadi besar dengan segera atau menjadi besar sesuai dengan kecepatan alami? Dua-duanya mengandung resiko.

Ketika memilih menjadi cepat dengan segera, banyak hal mengalami percepatan pertumbuhan. Menjadi besar secara revolusioner ini, bukan hanya persoalan resiko saja yang perlu dihitung, tapi juga persoalan percepatan sesudahnya. Jika biasanya mengerjakan pekerjaan dengan skala 1 sampai dengan 10, lalu secara revolusioner meningkatkan kapasitas menjadi 10.000 sampai 100.000 itu artinya akan sulit untuk kembali lagi pada skala 1 sampai 10. Pada level berikutnya, harus bertahan pada skala 10.000 sampai 100.000 atau menaikkannya menjadi 1.000.000. Semakin besar skalanya, semakin besar pula bebannya.

Biasanya pilihan percepatan seperti ini akan membuat kewalahan menjaga passion karena target kuantitas menjadi lebih penting daripada persoalan passion dalam kualitas. Pada titik ini persoalannya bukan takut atau tidaknya mengambil resiko, tapi kemampuan untuk menghitung resiko mejadi lebih penting.

Dalam menjalankan usaha, tidak semua hal bisa dijawab dengan hitung-hitungan matematis. Intuisi dan kata hati tidak dapat diabaikan begitu saja. Pertanyaan-pertanyaan tadi bisa mendapat jawaban yang akurat, jika mau jujur mendengarkan intuisi yang didukung oleh kemampuan menghitung resiko itu tadi. Jika memang sanggup menanggung lompatan resiko yang paling besar, maka jangan ragu memilih jalan menjadi besar secara revolusioner.


Jika tidak, biarkan semuanya tumbuh secara gradual dan organik 'Padi tidak tumbuh tergesa-gesa'. Kesabaran adalah kuncinya. Memang akan memakan waktu yang lebih lama untuk sampai di tingkat berikutnya di bandingkan dengan yang menjadi besar dengan cara cepat, tapi ketahanan ketika menjalaninya akan lebih terjaga.

***

Lalu dimanakah letak kesulitannya memilih untuk tetap menjadi kecil? saya bisa menjelaskannya dengan analogi orang yang berdiet untuk menjaga kesehatan. Dia tau dia bisa memakan apapun yang ada di hadapannya, tapi dia memilih untuk menseleksi dan membantasi porsinya. Apa yang akhirnya dipilih untuk dimakan, semata-mata demi kesehatan dan hidup yang lebih baik.

Bagi Tobucil yang 13 tahun memilih untuk tetap menjadi kecil, tantangannya adalah bagaimana untuk tidak menjadi silau atas tawaran-tawaran menggiurkan. Memilih tetap kecil bukan karena anti kemajuan, karena kemajuan tidak harus selalu menjadi besar. Memilih menjadi kecil seperti hidup dan membuktikan keyakinan bahwa segala yang besar ada, ketika yang kecil hadir untuk memulainya.



Tuesday, August 19, 2014

Leo Allenda Bertimbang Taruh


Pameran Tunggal: Bertimbang Taruh 
Leonardiansyah Allenda 

Opening: 14 August 2014, 7.30 PM 
Exhibition: 15 August -  6 September 2014, 9 AM - 5 PM 
Closed on Sunday & Monday 
Discussion: 5 September, 7.30 PM 

Cemeti Art House D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta 

Tulisan ini untuk pengantar Pameran Bertimbang Taruh

Bagaimana menyamakan harga atau nilai dari sebuah pertaruhan, jika yang dipertaruhkan bukanlah uang, melainkan sesuatu yang memiliki ukuran serta tafsir berbeda, namun keduanya sama penting, sama-sama bernilai, sama-sama punya bobot. Ukuran apa yang lantas pantas untuk membuat keduanya bertaruh setimbang? 

Pertanyaan itulah yang saya temukan dalam karya-karya Leo yang di pamerkan di Cemeti, Yogjakarta, Agustus 2014. Sembilan karya yang ditampilkan seperti sedang mencari cara 'Bertimbang Taruh' atas nilai-nilai yang membentuk dan meruang dalam diri dan kekaryaan Leoandriansyah Allenda.


Leo lahir dan dibesarkan dari keluarga Cina dan Arab pedagang di Banyuwangi dimana pertukaran nilai dan pertaruhan menjadi nafas hidup sehari-hari. Tidak hanya uang yang menjadi nilai yang dipertukarkan dan dipertaruhkan, namun lebih dalam lagi nilai-nilai budaya yang berbeda, terus menerus bernegosiasi untuk menemukan nilai pertukaran dan pertaruhannya. Situasi seperti itulah yang membuat Leo terus menerus mempertanyakan, mencari cara untuk menakar dan mengukur nilai-nilai itu lewat karya-karyanya.

Bagaimana menentukan yang satu lebih berharga dari yang lain ketika keduanya sama-sama berharga. Bagaimana menentukan keduanya sama-sama berharga ketika salah satu justru menunjukkan sisi kekurangannya. Dalam keseharian Leo dengan latar belakang kultural dan sistem nilai yang rumit juga kompleks, ukuran terejawantahkan dalam simbol-simbol materialisme (benda-benda dan juga uang) yang lebih mudah terukur serta terlihat. Kekayaan materi seringkali menjadi penentu bobot atau nilai sebuah simbol bahkan status sosial dalam masyarakat, daripada kedalaman makna yang terkandung dari nilai budaya itu sendiri.


Bagi saya menengok dan mencoba memahami dialektika latar belakang budaya serta tegangan nilai-nilai itu, justru menjadi modal penting untuk berkomunikasi dengan karya-karya Leo. Di sela-sela dialektika itulah, saya seperti menemukan pertentangan sekaligus peluang. Di balik bentukan-bentukan karya yang rigid, kaku, sistematis, presisi dan seolah tidak bisa ditawar, saya justru menemukan peluang negosiasi dan kesepakatan karena alat ukur serta satuan ukuran yang Leo gunakan, memiliki kelenturan dan relativitasnya sendiri. 

Misalnya saja pada karya timbangan. Leo menyusun lima timbangan mulai dari timbangan seukuran manusia (bisa mengukur berat tubuh manusia) hingga yang terkecil (milligram). Kelimanya disusun dalam satu titik keseimbangan dengan material besi, kayu dengan karakter yang kaku, keras, solid. Ketika karakter material itu menjadi alat ukur, justru menemukan dinamikanya sendiri, sehingga ketika menambah sedikit beban pada yang terkecil atau yang mana saja, semua akan ikut bergerak. Timbangan menjadi hal yang mewakili cara Leo berpikir tentang nilai materi dan nilai atas tubuhnya (keberadaan dan kehadirannya). Keterikatan dan kait berkait setiap unsur dan materi dalam timbangan menjadi satu kesatuan yang membentuk kesetimbangan itu sendiri. Satuan ukuran dalam timbangan, seolah menjadi acuan untuk lebih presisi dalam memberikan penilaian atas apa yang berkecamuk dalam diri dan pikirannya.

Karya ayakan (saringan) mencoba mewakili bagaimana kawat-kawat besi terjalin membentuk kisi-kisi, menjadi kesatuan penanda ukuran, bergerak dalam kebakuannya, seperti mencoba mencari berapa nilai terbaik yang bisa ditakar. Ketika menyaring, kita dapat melihat semua materi bergeser kesana-sini, memisahkan tubuhnya dengan tubuh lain dan menemukan definisi baru sebagai yang terpilih dan yang tidak terpilih. Realitas dua dimensi yang di proyeksikan lewat video melengkapi karya ini, seolah ingin memberikan gambaran utuh bahwa soal menakar ini bukan sekedar hitung menghitung di atas kertas atau penyederhanaan subjek ke dalam satuan ukuran atau pengkategorian 'terpilih' ataupun 'tidak terpilih', namun juga bagaimana takaran itu menubuh dan menjadi laku keseharian dan bergerak menemukan keseimbangannya diantara takaran-takaran yang berbeda.

Kain merah dan putih dengan lampu kuning yang meleburkan bias cahaya dari kedua warna itu, mewakili kehidupan nyata bahwa pada jarak tertentu, semua takaran, satuan ukuran, juga nilai-nilai yang diterakan, bisa saja melebur menghilangkan sekat-sekat pembedanya. Namun jika kembali didekati, serat kain linen menjadi penyaring (ayakan) cahaya lampu dan membentuk bayangan baru yang ditangkap mata. Pendaran cahaya yang menembus serat-serat linen itu seolah menyadarkan bahwa tak ada satupun di dunia ini yang telepas dari saringan nilai yang membuat satu benda atau hal yang sama akan selalu memiliki nilai berbeda-beda bagi setiap orang. Dan tanpa disadari, setiap hari adalah proses menyaring apapun yang bergulir dalam kehidupan kita. Persis seperti kerja sebuah ayakan.

Secara metafor Leo sepertinya ingin ‘menyerap angka-angka dalam tubuh’, menciptakan ruang dan membekukan waktu dengan cara mengambil yang tersaring dan membuang yang tidak tersaring, untuk merasakan pengalaman 'menjadi kosong'. Dalam kekosongan itulah seringkali ukuran, nilai-nilai, takaran justru menjadi nampak jelas, menemukan satuannya.

 ***

Ketika memberi nilai pada benda-benda mati, tidak bergerak, statis dan memiliki berat jenis, lebih mudah menemukan kesepakatan satuan nilai untuk menghitungnya, karena apa yang dinilai relatif tidak berubah dan konstan. Namun persoalan yang kerap muncul dan membuat gamang, ketika yang dinilai adalah konsep dan kesepakatan itu sendiri. Bagaimana kesepakatan dinilai oleh 'konsep yang juga hasil dari kesepakatan'. Dimana setiap kesepakatan selalu membawa konsekuensi lahirnya kesepatakan-kesepakatan lain. Kesepakatan dengan karakternya yang jamak, majemuk dan tidak tunggal, menimbulkan persoalan ketika mesti menentukan cara dan ukuran untuk menilainya. Untuk itu, uang dengan nilai nominalnya, seringkali menjadi alat ukur yang 'dianggap' sebanding dan memudahkan pada saat nilai itu harus ditetapkan. Padahal nilai nominal uang, seringkali tidak menjawab secara presisi pertanyaan yang ada. Justru uang seringkali mengabaikan dan mendangkalkan kedalaman nilai imaterial (yang juga sulit diukur seberapa dalam).

Kerumitan yang sama, ketika Leo berusaha menemukan jawaban dari pertanyaan 'Apakah seni itu?'. Selama ini, Institusi menjadi satuan ukuran nilai untuk menimbang apakah sebuah karya dapat disebut sebagai seni atau bukan. Bermacam orang dan kepentingannya lantas membuat ruang-ruang seni dan menjadikannya wakil dari institusi untuk membentuk persepsi orang tentang apa yang disebut seni. Dalam kerangka pertukaran nilai, Apakah seni itu adalah sebuah karya yang kemudian mendapatkan nilai nominal lebih besar daripada yang lain?
Rasanya soal memberi nilai pada yang dianggap seni dan yang bukan, masih membingungkan bukan hanya Leo, tapi juga kebanyakan dari kita.

 ***

Mencermati karya-karya Leoadriansyah Allenda, membawa saya pada pemahaman bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang bisa lepas dari penilaian dan pengukuran. Bahkan hal-hal yang tidak dapat terukurpun selalu mencari cara untuk dapat menemukan alat ukurnya. Namun ketika alat ukur itu sendiri mengandung ketidak pastian nilai, saya jadi bertanya-tanya: 'Seperti apakah nilai yang bertimbang ?' Bagaimana menemukan nilai pertaruhan yang sama, jika uang tidak lagi menjadi alat ukurnya? .


LinkWithin

Related Posts with Thumbnails