Loading...

Tuesday, August 19, 2014

Leo Allenda Bertimbang Taruh


Pameran Tunggal: Bertimbang Taruh 
Leonardiansyah Allenda 

Opening: 14 August 2014, 7.30 PM 
Exhibition: 15 August -  6 September 2014, 9 AM - 5 PM 
Closed on Sunday & Monday 
Discussion: 5 September, 7.30 PM 

Cemeti Art House D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta 

Tulisan ini untuk pengantar Pameran Bertimbang Taruh

Bagaimana menyamakan harga atau nilai dari sebuah pertaruhan, jika yang dipertaruhkan bukanlah uang, melainkan sesuatu yang memiliki ukuran serta tafsir berbeda, namun keduanya sama penting, sama-sama bernilai, sama-sama punya bobot. Ukuran apa yang lantas pantas untuk membuat keduanya bertaruh setimbang? 

Pertanyaan itulah yang saya temukan dalam karya-karya Leo yang di pamerkan di Cemeti, Yogjakarta, Agustus 2014. Sembilan karya yang ditampilkan seperti sedang mencari cara 'Bertimbang Taruh' atas nilai-nilai yang membentuk dan meruang dalam diri dan kekaryaan Leoandriansyah Allenda.


Leo lahir dan dibesarkan dari keluarga Cina dan Arab pedagang di Banyuwangi dimana pertukaran nilai dan pertaruhan menjadi nafas hidup sehari-hari. Tidak hanya uang yang menjadi nilai yang dipertukarkan dan dipertaruhkan, namun lebih dalam lagi nilai-nilai budaya yang berbeda, terus menerus bernegosiasi untuk menemukan nilai pertukaran dan pertaruhannya. Situasi seperti itulah yang membuat Leo terus menerus mempertanyakan, mencari cara untuk menakar dan mengukur nilai-nilai itu lewat karya-karyanya.

Bagaimana menentukan yang satu lebih berharga dari yang lain ketika keduanya sama-sama berharga. Bagaimana menentukan keduanya sama-sama berharga ketika salah satu justru menunjukkan sisi kekurangannya. Dalam keseharian Leo dengan latar belakang kultural dan sistem nilai yang rumit juga kompleks, ukuran terejawantahkan dalam simbol-simbol materialisme (benda-benda dan juga uang) yang lebih mudah terukur serta terlihat. Kekayaan materi seringkali menjadi penentu bobot atau nilai sebuah simbol bahkan status sosial dalam masyarakat, daripada kedalaman makna yang terkandung dari nilai budaya itu sendiri.


Bagi saya menengok dan mencoba memahami dialektika latar belakang budaya serta tegangan nilai-nilai itu, justru menjadi modal penting untuk berkomunikasi dengan karya-karya Leo. Di sela-sela dialektika itulah, saya seperti menemukan pertentangan sekaligus peluang. Di balik bentukan-bentukan karya yang rigid, kaku, sistematis, presisi dan seolah tidak bisa ditawar, saya justru menemukan peluang negosiasi dan kesepakatan karena alat ukur serta satuan ukuran yang Leo gunakan, memiliki kelenturan dan relativitasnya sendiri. 

Misalnya saja pada karya timbangan. Leo menyusun lima timbangan mulai dari timbangan seukuran manusia (bisa mengukur berat tubuh manusia) hingga yang terkecil (milligram). Kelimanya disusun dalam satu titik keseimbangan dengan material besi, kayu dengan karakter yang kaku, keras, solid. Ketika karakter material itu menjadi alat ukur, justru menemukan dinamikanya sendiri, sehingga ketika menambah sedikit beban pada yang terkecil atau yang mana saja, semua akan ikut bergerak. Timbangan menjadi hal yang mewakili cara Leo berpikir tentang nilai materi dan nilai atas tubuhnya (keberadaan dan kehadirannya). Keterikatan dan kait berkait setiap unsur dan materi dalam timbangan menjadi satu kesatuan yang membentuk kesetimbangan itu sendiri. Satuan ukuran dalam timbangan, seolah menjadi acuan untuk lebih presisi dalam memberikan penilaian atas apa yang berkecamuk dalam diri dan pikirannya.

Karya ayakan (saringan) mencoba mewakili bagaimana kawat-kawat besi terjalin membentuk kisi-kisi, menjadi kesatuan penanda ukuran, bergerak dalam kebakuannya, seperti mencoba mencari berapa nilai terbaik yang bisa ditakar. Ketika menyaring, kita dapat melihat semua materi bergeser kesana-sini, memisahkan tubuhnya dengan tubuh lain dan menemukan definisi baru sebagai yang terpilih dan yang tidak terpilih. Realitas dua dimensi yang di proyeksikan lewat video melengkapi karya ini, seolah ingin memberikan gambaran utuh bahwa soal menakar ini bukan sekedar hitung menghitung di atas kertas atau penyederhanaan subjek ke dalam satuan ukuran atau pengkategorian 'terpilih' ataupun 'tidak terpilih', namun juga bagaimana takaran itu menubuh dan menjadi laku keseharian dan bergerak menemukan keseimbangannya diantara takaran-takaran yang berbeda.

Kain merah dan putih dengan lampu kuning yang meleburkan bias cahaya dari kedua warna itu, mewakili kehidupan nyata bahwa pada jarak tertentu, semua takaran, satuan ukuran, juga nilai-nilai yang diterakan, bisa saja melebur menghilangkan sekat-sekat pembedanya. Namun jika kembali didekati, serat kain linen menjadi penyaring (ayakan) cahaya lampu dan membentuk bayangan baru yang ditangkap mata. Pendaran cahaya yang menembus serat-serat linen itu seolah menyadarkan bahwa tak ada satupun di dunia ini yang telepas dari saringan nilai yang membuat satu benda atau hal yang sama akan selalu memiliki nilai berbeda-beda bagi setiap orang. Dan tanpa disadari, setiap hari adalah proses menyaring apapun yang bergulir dalam kehidupan kita. Persis seperti kerja sebuah ayakan.

Secara metafor Leo sepertinya ingin ‘menyerap angka-angka dalam tubuh’, menciptakan ruang dan membekukan waktu dengan cara mengambil yang tersaring dan membuang yang tidak tersaring, untuk merasakan pengalaman 'menjadi kosong'. Dalam kekosongan itulah seringkali ukuran, nilai-nilai, takaran justru menjadi nampak jelas, menemukan satuannya.

 ***

Ketika memberi nilai pada benda-benda mati, tidak bergerak, statis dan memiliki berat jenis, lebih mudah menemukan kesepakatan satuan nilai untuk menghitungnya, karena apa yang dinilai relatif tidak berubah dan konstan. Namun persoalan yang kerap muncul dan membuat gamang, ketika yang dinilai adalah konsep dan kesepakatan itu sendiri. Bagaimana kesepakatan dinilai oleh 'konsep yang juga hasil dari kesepakatan'. Dimana setiap kesepakatan selalu membawa konsekuensi lahirnya kesepatakan-kesepakatan lain. Kesepakatan dengan karakternya yang jamak, majemuk dan tidak tunggal, menimbulkan persoalan ketika mesti menentukan cara dan ukuran untuk menilainya. Untuk itu, uang dengan nilai nominalnya, seringkali menjadi alat ukur yang 'dianggap' sebanding dan memudahkan pada saat nilai itu harus ditetapkan. Padahal nilai nominal uang, seringkali tidak menjawab secara presisi pertanyaan yang ada. Justru uang seringkali mengabaikan dan mendangkalkan kedalaman nilai imaterial (yang juga sulit diukur seberapa dalam).

Kerumitan yang sama, ketika Leo berusaha menemukan jawaban dari pertanyaan 'Apakah seni itu?'. Selama ini, Institusi menjadi satuan ukuran nilai untuk menimbang apakah sebuah karya dapat disebut sebagai seni atau bukan. Bermacam orang dan kepentingannya lantas membuat ruang-ruang seni dan menjadikannya wakil dari institusi untuk membentuk persepsi orang tentang apa yang disebut seni. Dalam kerangka pertukaran nilai, Apakah seni itu adalah sebuah karya yang kemudian mendapatkan nilai nominal lebih besar daripada yang lain?
Rasanya soal memberi nilai pada yang dianggap seni dan yang bukan, masih membingungkan bukan hanya Leo, tapi juga kebanyakan dari kita.

 ***

Mencermati karya-karya Leoadriansyah Allenda, membawa saya pada pemahaman bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang bisa lepas dari penilaian dan pengukuran. Bahkan hal-hal yang tidak dapat terukurpun selalu mencari cara untuk dapat menemukan alat ukurnya. Namun ketika alat ukur itu sendiri mengandung ketidak pastian nilai, saya jadi bertanya-tanya: 'Seperti apakah nilai yang bertimbang ?' Bagaimana menemukan nilai pertaruhan yang sama, jika uang tidak lagi menjadi alat ukurnya? .


Wednesday, January 15, 2014

Terberkati Seperti Walter Mitty

Machapuchare, Himalaya from Sarangkot, Pokhara, Nepal,  31/3/2013
I feel blessed like Walter Mitty, to see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other, and to feel. That is the purpose of life.

Untuk semua moment 'terdiam terpaku' 
ketika kebahagian hanya dirasakan bukan dipikirkan,
ketika semua udara yang terhirup, menggenapi kepenuhan diri.. 
Aku hanya bisa berbisik lirih pada diriku sendiri: Aku terberkati, aku orang yang sangat beruntung.

(Nonton The Secret Life of Walter Mitty memanggil semua rasa penuh pada semua perjalanan yang telah terlampaui, dan membuatku ingin berjalan lagi dan penuh lagi.. )

Friday, November 22, 2013

Sokola Rimba (2013): 'Kisah Guru Menemukan Murid'




* * * *

Sutradara: Riri Riza

Apalah artinya guru tanpa murid dan murid tanpa guru. Keduanya bisa saling menemukan dan saling mengisi.

Setelah sekian lama, akhirnya menemukan juga film Indonesia yang cukup menggugah. 'Sokola Rimba', film garapan sutradara Riri Riza dan di produseri oleh Mira Lesmana ini diangkat dari kisah perjuangan 'guru anak rimba' Butet Manurung dengan Prisia Nasution sebagai pemerannya dan anak-anak Suku Anak Dalam yang tampil begitu natural sebagia murid-muridnya.

Sokola Rimba mengisahkan suka duka Butet Manurung merintis Sakola Rimba untuk anak-anak Suku Anak Dalam yang tinggal di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, Sumatera yang dimulainya sejak tahun 1999. Mulanya Butet bekerja untuk sebuah LSM yang mengurusi perluasan Taman Nasional dimana tugas yang diemban Butet adalah melakukan pendampingan pada masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Nasional. Namun pada prakteknya, pekerjaan itu membawa Butet pada kenyataan bahwa pendidikan menjadi hal penting yang dibutuhkan bagi masyarakat Suku Anak Dalam atau yang lebih dikenal dengan sebutan Orang Rimba untuk bisa berhadapan dengan perubahan dan kebijakan pemerintah tentang Taman Nasional.

Dengan mengajarkan membaca dan menulis pada Nengkabau, Nyungsang Bungo, Beindah serta anak-anak rimba di hilir Sungai Makekal yang harus ditempuhnya dalam 7 jam perjalanan, Butet meyakini hal itu akan menjadi bekal bagi mereka untuk menghadapi perubahan. Selama ini Orang Rimba tidak memiliki akses terhadap pendidikan dan pengalami pembodohan oleh sistem yang tidak berpihak pada mereka dan pada akhirnya Orang Rimba menjadi pihak yang banyak dirugikan oleh kebijakan pemerintah mengenai Taman Nasional. Mereka sering dibodohi dalam perjanjian kerjasama para pengelola aset Taman Nasional dengan masyarakat adat. Akibatnya, ruang hidup mereka seringkali tergusur dan akses mereka terhadap Sumber Daya Alam menjadi sangat-sangat terbatas. Padahal masyarakat Suku Anak Dalam, seperti halnya masyarakat adat lainnya, mengambil sumber daya alam hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Kearifan lokal membuat mereka sangat paham apa arti 'cukup'.

Upaya mendirikan Sokola Rimba, tidak hanya mendapatkan tentangan dari pemimpin LSM tempat Butet bekerja, namun dari sebagian Orang Rimba sendiri yang masih percaya bahwa sekolah itu adalah kutukan. Butuh waktu dan pengorbanan ketika akhirnya Orang Rimba dapat menerima akses pendidikan yang Butet tawarkan.  Pada perjalanannya, Butet justru merasa dialah yang belajar banyak dari Orang Rimba yang selama ini selalu dianggap terbelakang dan bodoh. Mereka justru memiliki kepintaran dan kecerdasan yang tidak dimiliki orang-orang kota yang hidup dalam moderenitas.

***

Selama ini tidak banyak film Indonesia yang mencoba memotret kehidupan masyarakat adat yang ada di pelosok Indonesia. Sokola Rimba, menurutku menjadi film yang cukup penting yang mencoba memotret itu. Dengan mengambil lokasi di Taman Nasional Bukit Duabelas dan menampilkan Orang Rimba sebagai aktor dan aktris di film ini, penonton seperti disuguhi 'dokumenter' keseharian Orang Rimba dengan cerita yang tidak dilebih-lebihkan.

Memang ada sosok Butet Manurung yang sosoknya sudah sedemikian terkenal sebagai tokoh utama dalam film ini, namun anak-anak rimba yang menjadi aktor dadakan dan berperan begitu alami di film ini, membuat film ini menjadi utuh dan Butet menjadi tokoh yang berusaha tampil apa adanya tanpa bertendensi menjadi superhero  pembawa cahaya bagi anak-anak rimba. Menurutku, mengangkatnya ke layar lebar dapat menjadi upaya memperkenalkan Butet kepada khalayak yang lebih luas dan memberi inspirasi serta semangat perubahan bagi para penontonnya. Atau sekedar memberi sekelumit gambaran kenyataan hidup Orang Rimba, itu pun cukup penting sekalian perkara memberi inspirasi.

Meski tampil tidak terlalu mendalam, kritikan terhadap kebijakan Taman Nasional yang seringkali melupakan masyarakat adat sebagai penghuninya, desakan industri kelapa sawit, laju modernitas yang sulit dibendung ketika merangsek masuk sampai ke pedalaman, juga persoalan bagaimana sosok seperti Butet dapat hadir dan bertahan dengan misinya berkat dukungan lembaga donor asing, menjadi realitas yang di potret berhadap-hadapan dengan kepolosan dan kesederhanaan hidup Orang Rimba. Dan sepertinya di film ini Riri Riza dan Mira Lesmana, cukup berhati-hati untuk tidak memberi porsi 'kepahlawanan' yang berlebihan pada sosok Butet Manurung, karena mungkin Butet Manurung sendiri tidak mengingingkan hal itu.

Bagiku pribadi, ketika sosok peneliti asing yang mengatakan 'Kitalah yang butuh mereka, bukan mereka yang membutuhkan kita,' justru menjadi kenyataan yang menampar. Ketika 'kita (sebagaian masyakarat Indonesia yang beruntung mendapat akses pendidikan, ekonomi dan pengetahuan dan memiliki akses untuk melakukan perubahan)  selalu harus disadarkan oleh 'orang lain (baca: bangsa lain)' tentang betapa berharganya apa yang bangsa ini miliki. Juga kenyataan lembaga donor asinglah yang pada akhirnya mau membiayai cita-cita Butet Manurung atau perusahaan air minum multinasional (yang disisi lain memonopoli sumber-sumber air masyarkat) yang justru mau mendukung film seperti ini. Pertanyaan klasik dan dilematis yang selalu muncul;  mengapa harus mereka? mengapa harus bangsa lain? mengapa tidak bangsa ini sendiri yang lebih memberikan mendukung dan menyemangati cita-cita anak bangsa seperti Butet Manurung. Atau para filantropi Indonesia yang kelebihan duit dan punya idealisme mendukung perfilman Indonesia. Ironisnya lagi, sosok atasan Butet (yang aku lupa namanya) menjadi tipikal gambaran pekerja LSM yang bekerja hanya berdasarkan pesanan sponsor.

Yang ampuh dari film seperti ini pada akhirnya memang 'gangguan pertanyaan' yang ditimbulkan setelah menontonnya. Karena aku meyakini sebuah karya yang baik adalah karya yang setidaknya mampu mengusik penikmatnya untuk mempertanyakan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang ingin disampaikan lewat karya itu. Demikian pula dengan Sokola Rimba, yang menurutku berhasil menggangguku dengan pertanyaan klasik dan dilematis yang sesungguhnya bisa diubah subjek pertanyaannya menjadi; mengapa bukan aku? mengapa bukan kamu? yang mau mendukung cita-cita dan inspirasi perubahan seperti ini.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails