Loading...

Wednesday, January 15, 2014

Terberkati Seperti Walter Mitty

Machapuchare, Himalaya from Sarangkot, Pokhara, Nepal,  31/3/2013
I feel blessed like Walter Mitty, to see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other, and to feel. That is the purpose of life.

Untuk semua moment 'terdiam terpaku' 
ketika kebahagian hanya dirasakan bukan dipikirkan,
ketika semua udara yang terhirup, menggenapi kepenuhan diri.. 
Aku hanya bisa berbisik lirih pada diriku sendiri: Aku terberkati, aku orang yang sangat beruntung.

(Nonton The Secret Life of Walter Mitty memanggil semua rasa penuh pada semua perjalanan yang telah terlampaui, dan membuatku ingin berjalan lagi dan penuh lagi.. )

Friday, November 22, 2013

Sokola Rimba (2013): 'Kisah Guru Menemukan Murid'




* * * *

Sutradara: Riri Riza

Apalah artinya guru tanpa murid dan murid tanpa guru. Keduanya bisa saling menemukan dan saling mengisi.

Setelah sekian lama, akhirnya menemukan juga film Indonesia yang cukup menggugah. 'Sokola Rimba', film garapan sutradara Riri Riza dan di produseri oleh Mira Lesmana ini diangkat dari kisah perjuangan 'guru anak rimba' Butet Manurung dengan Prisia Nasution sebagai pemerannya dan anak-anak Suku Anak Dalam yang tampil begitu natural sebagia murid-muridnya.

Sokola Rimba mengisahkan suka duka Butet Manurung merintis Sakola Rimba untuk anak-anak Suku Anak Dalam yang tinggal di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, Sumatera yang dimulainya sejak tahun 1999. Mulanya Butet bekerja untuk sebuah LSM yang mengurusi perluasan Taman Nasional dimana tugas yang diemban Butet adalah melakukan pendampingan pada masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Nasional. Namun pada prakteknya, pekerjaan itu membawa Butet pada kenyataan bahwa pendidikan menjadi hal penting yang dibutuhkan bagi masyarakat Suku Anak Dalam atau yang lebih dikenal dengan sebutan Orang Rimba untuk bisa berhadapan dengan perubahan dan kebijakan pemerintah tentang Taman Nasional.

Dengan mengajarkan membaca dan menulis pada Nengkabau, Nyungsang Bungo, Beindah serta anak-anak rimba di hilir Sungai Makekal yang harus ditempuhnya dalam 7 jam perjalanan, Butet meyakini hal itu akan menjadi bekal bagi mereka untuk menghadapi perubahan. Selama ini Orang Rimba tidak memiliki akses terhadap pendidikan dan pengalami pembodohan oleh sistem yang tidak berpihak pada mereka dan pada akhirnya Orang Rimba menjadi pihak yang banyak dirugikan oleh kebijakan pemerintah mengenai Taman Nasional. Mereka sering dibodohi dalam perjanjian kerjasama para pengelola aset Taman Nasional dengan masyarakat adat. Akibatnya, ruang hidup mereka seringkali tergusur dan akses mereka terhadap Sumber Daya Alam menjadi sangat-sangat terbatas. Padahal masyarakat Suku Anak Dalam, seperti halnya masyarakat adat lainnya, mengambil sumber daya alam hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Kearifan lokal membuat mereka sangat paham apa arti 'cukup'.

Upaya mendirikan Sokola Rimba, tidak hanya mendapatkan tentangan dari pemimpin LSM tempat Butet bekerja, namun dari sebagian Orang Rimba sendiri yang masih percaya bahwa sekolah itu adalah kutukan. Butuh waktu dan pengorbanan ketika akhirnya Orang Rimba dapat menerima akses pendidikan yang Butet tawarkan.  Pada perjalanannya, Butet justru merasa dialah yang belajar banyak dari Orang Rimba yang selama ini selalu dianggap terbelakang dan bodoh. Mereka justru memiliki kepintaran dan kecerdasan yang tidak dimiliki orang-orang kota yang hidup dalam moderenitas.

***

Selama ini tidak banyak film Indonesia yang mencoba memotret kehidupan masyarakat adat yang ada di pelosok Indonesia. Sokola Rimba, menurutku menjadi film yang cukup penting yang mencoba memotret itu. Dengan mengambil lokasi di Taman Nasional Bukit Duabelas dan menampilkan Orang Rimba sebagai aktor dan aktris di film ini, penonton seperti disuguhi 'dokumenter' keseharian Orang Rimba dengan cerita yang tidak dilebih-lebihkan.

Memang ada sosok Butet Manurung yang sosoknya sudah sedemikian terkenal sebagai tokoh utama dalam film ini, namun anak-anak rimba yang menjadi aktor dadakan dan berperan begitu alami di film ini, membuat film ini menjadi utuh dan Butet menjadi tokoh yang berusaha tampil apa adanya tanpa bertendensi menjadi superhero  pembawa cahaya bagi anak-anak rimba. Menurutku, mengangkatnya ke layar lebar dapat menjadi upaya memperkenalkan Butet kepada khalayak yang lebih luas dan memberi inspirasi serta semangat perubahan bagi para penontonnya. Atau sekedar memberi sekelumit gambaran kenyataan hidup Orang Rimba, itu pun cukup penting sekalian perkara memberi inspirasi.

Meski tampil tidak terlalu mendalam, kritikan terhadap kebijakan Taman Nasional yang seringkali melupakan masyarakat adat sebagai penghuninya, desakan industri kelapa sawit, laju modernitas yang sulit dibendung ketika merangsek masuk sampai ke pedalaman, juga persoalan bagaimana sosok seperti Butet dapat hadir dan bertahan dengan misinya berkat dukungan lembaga donor asing, menjadi realitas yang di potret berhadap-hadapan dengan kepolosan dan kesederhanaan hidup Orang Rimba. Dan sepertinya di film ini Riri Riza dan Mira Lesmana, cukup berhati-hati untuk tidak memberi porsi 'kepahlawanan' yang berlebihan pada sosok Butet Manurung, karena mungkin Butet Manurung sendiri tidak mengingingkan hal itu.

Bagiku pribadi, ketika sosok peneliti asing yang mengatakan 'Kitalah yang butuh mereka, bukan mereka yang membutuhkan kita,' justru menjadi kenyataan yang menampar. Ketika 'kita (sebagaian masyakarat Indonesia yang beruntung mendapat akses pendidikan, ekonomi dan pengetahuan dan memiliki akses untuk melakukan perubahan)  selalu harus disadarkan oleh 'orang lain (baca: bangsa lain)' tentang betapa berharganya apa yang bangsa ini miliki. Juga kenyataan lembaga donor asinglah yang pada akhirnya mau membiayai cita-cita Butet Manurung atau perusahaan air minum multinasional (yang disisi lain memonopoli sumber-sumber air masyarkat) yang justru mau mendukung film seperti ini. Pertanyaan klasik dan dilematis yang selalu muncul;  mengapa harus mereka? mengapa harus bangsa lain? mengapa tidak bangsa ini sendiri yang lebih memberikan mendukung dan menyemangati cita-cita anak bangsa seperti Butet Manurung. Atau para filantropi Indonesia yang kelebihan duit dan punya idealisme mendukung perfilman Indonesia. Ironisnya lagi, sosok atasan Butet (yang aku lupa namanya) menjadi tipikal gambaran pekerja LSM yang bekerja hanya berdasarkan pesanan sponsor.

Yang ampuh dari film seperti ini pada akhirnya memang 'gangguan pertanyaan' yang ditimbulkan setelah menontonnya. Karena aku meyakini sebuah karya yang baik adalah karya yang setidaknya mampu mengusik penikmatnya untuk mempertanyakan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang ingin disampaikan lewat karya itu. Demikian pula dengan Sokola Rimba, yang menurutku berhasil menggangguku dengan pertanyaan klasik dan dilematis yang sesungguhnya bisa diubah subjek pertanyaannya menjadi; mengapa bukan aku? mengapa bukan kamu? yang mau mendukung cita-cita dan inspirasi perubahan seperti ini.

Monday, June 24, 2013

Catatan Dua Belas Tahun Tobucil



Jika ditanya bagaimana rasanya menjalani Tobucil selama 12 tahun? aku pasti menjawab, biasa-biasa saja. Biasa karena, masa-masa sulit  membangun pondasi Tobucil sudah terlampaui di sepuluh tahun pertama. Sepuluh tahun berikutnya adalah menjawab masa pertumbuhan, mau tumbuh seperti apa?

Ketika menengok kembali perjalanan Tobucil selama 12 tahun, aku tidak pernah membayangkan Tobucil seperti saat ini. Aku hanya berusaha menjalaninya sebaik yang aku mampu. Setelah ditinggalkan oleh dua pendiri lainnya, aku hanya berusaha menjawab tantangan pada diriku sendiri: 'jika setelah ditinggalkan aku berhenti, aku tidak akan pernah bisa menjalani persoalan hidup yang lebih besar dari Tobucil'. Dan upaya menjawab tantangan itu  kemudian mengantarkanku sampai waktu 12 tahun. 

Aku ingat, di awal tahun 2000 an, ketika Tobucil baru saja berdiri, banyak orang melabeli Tobucil sebagai  'Toko Buku Alternatif' atau 'Ruang Alternatif'. Tobucil pada saat itu, hadir sebagai alternatif  dari cara memaknai sebuah gerakan literasi. Sejak awal Tobucil menyatakan diri 'mendukung gerakan literasi di tingkat lokal'. Literasi bagi Tobucil bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis, namun juga kemampuan membaca diri, lingkungan dan persoalan di sekeliling kita. Pemaknaan literasi seperti ini yang menjadi semangat dari perjalanan dua belas tahun Tobucil. Itu sebabnya kegiatan Tobucil tidak melulu teks dalam bentuk buku, namun lebih luas daripada itu. Tobucil menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan, pemikiran dan penafsiran, semuanya bisa bertemu dan saling mengasah dan mematangkan. Meski pun proses mengasah dan mematangkan itu seringkali harus dimulai dari diri sendiri dan lingkaran yang paling dalam terlebih dahulu. 

Dua belas tahun juga mengajarkan tentang apa arti komitmen dan berjalan bersama. Jika bubarnya perkongsian dengan para pendiri atau organiasi mitra bisa disebut sebagai salah satu hal yang sulit yang harus dilalui, aku mengiyakan itu. Masa-masa ditinggalkan dua pendiri lain dan perpindahan Tobucil dari Kyai Gede Utama ke Jl. Aceh (2003-2007) menjadi soal belajar bahwa membangun sebuah cita-cita bersama itu jauh lebih sulit daripada sekedar menyusunnya sebagai konsep. Setiap orang menafsir mimpi bersama secara berbeda. Memaksakan tafsir yang sama hanya akan merusak mimpi itu sendiri. Pada akhirnya memang sulit mempercayai bahwa mimpi yang benar-benar sama itu ada. Yang ada adalah kesepakatan dan komitmen untuk menjalani sebuah impian secara bersama-sama. Karena sebuah mimpi memiliki banyak dimensi, memiliki banyak tafsir. Setiap dimensi, setiap tafsir akan membawa pada cara yang berbeda. Komitmen dan kelegaan hati menjadi penting untuk menerima perbedaan cara, sepanjang semua itu bertujuan mewujudkan impian yang telah disepakati. Komitmen berarti sama-sama bekerja keras mewujukan mimpi dan idealisme sesuai dengan tafsirnya masing-masing. 

Tahun 2007, ketika pindah ke jalan Aceh (tempat ketiga), Tobucil mereposisi diri dengan menjadikan literasi sebagai bagian dari keseharian. Proses membaca diri dan lingkungan bergerak lebih jauh melalui kegiatan aktualisasi diri. Kegiatan dan pendekatan hobi menjadi pilihan. Lewat hobi seseoarang lebih mudah berinisiatif,  tidak takut untuk mencoba dan gagal lalu mencoba lagi. Lewat hobi pula seseorang bisa dengan senang hati berbagi dan menularkan ilmu, semangat serta pengalamannya. Menjadikan literasi menjadi bagian dari keseharian artinya menjadikan aktualisasi diri sebagai bagian dari proses berkontribusi pada perubahan. Karena setiap perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil di tingkat individu. Itu sebabnya Tobucil tidak akan pernah menjadi Tobusar (Toko Buku Besar), karena Tobucil percaya setiap hal besar selalu berawal dari hal kecil. Tobucil memilih perannya menjadi tempat memulai hal-hal kecil itu. Di tengah definisi 'kemajuan dan kesuksesan adalah menjadi besar', pilihan menjadi kecil selama dua belas tahun ini justru mengajarkan Tobucil bagaimana mendefinisikan kemajuan dan kesuksesannya sendiri dengan menjaga komitmen dan konsistensi. Istiqomah dengan tujuan, pilihan dan cara. 

Membangun kemandirian finansial, termasuk soal yang sulit untuk dikerjakan, namun akhirnya menemukan cara menyelesaikannya. Pertanyaan yang paling mendasar dari persoalan ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat substansial: 'Bagaimana mungkin seseorang bisa mandiri dalam berpikir dan bertindak, jika untuk makan saja masih minta sama orang lain, bukan dari hasil keringat sendiri ?'. Pertanyaan substansial ini ketika berusaha untuk di jawab oleh  Tobucil sebagai sebuah ruang, menjadi berkali lipat sulitnya. Karena ada sistem untuk mencapai kemandirian yang harus dibangun, ada ketetapan hati untuk berkata tidak pada para sponsor yang menawarkan kemudahan tapi melumpuhkan semangat untuk mandiri dan juga perhitungan dimana investasi pendiri bukanlah investasi seumur hidup (alias nombok selamanya), tapi sebuah modal awal yang harus dikembalikan. 

Dua belas tahun ternyata waktu yang cukup singkat untuk menemukan sistem kemandirian itu, mengujinya termasuk  juga memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Kemandirian finansial bagi tobucil adalah alat yang substansial untuk sampai pada tujuan literasi yang dimaksud oleh Tobucil. Bagaimana sebuah tujuan bisa tercapai jika alat atau caranya justru berlawananan dengan tujuan itu sendiri. Mungkin keyakinan Tobucil ini akan terasa naif untuk sebagian orang, karena Tobucil tidak melihat dukungan donor atau sponsor sebagai sebuah peluang. Namun bagi Tobucil ini adalah persoalan menjadi diri sendiri secara organik, membangun harga diri dan keyakinan bahwa kita mampu. 

'Kenaifan' itu akhirnya di kompromikan ketika memasuki dasawarsa kedua, koperasi menjadi pilihan yang diambil. Meski koperasi ini berdiri di luar Tobucil, namun keberadaannya seperti jaring pengaman di masa trial and error membangun sistem kemandirian finansial Tobucil tanpa melemahkan tujuan kemandirian finansial yang berusaha di capai oleh Tobucil. 

Upaya membangun kemandirian finansial juga yang membuat Tobucil enggan menjawab pertanyaan: 'berapa banyak orang yang pernah atau terlibat dalam kegiatan Tobucil selama dua belas tahun ini?' Pertanyaan ini biasanya diajukan untuk menilai 'tingkat kesuksesan' Tobucil sebagai sebuah ruang berkomunitas. Di jaman superfisial seperti sekarang ini, jumlah follower seolah-olah menentukan nilai dan kredibilitas sebuah gerakan. Padahal seringkali banyaknya follower hanya memberi gema pada apa yang kita lakukan dan tidak juga membuat esensi dari gagasannya tertangkap dengan jelas. Seperti nilai baik buruk yang makin lama makin ditentukan oleh suara mayoritas.

Meski memiliki datanya, aku selalu menjawab 'banyak' tanpa mau menyebutkan jumlah angkanya. Bagiku, setiap orang yang berinisiatif bergabung dalam program yang ditawarkan oleh Tobucil, terlalu berharga jika harus disederhanakan dalam angka dan statistik yang biasanya penting untuk menyakinkan para sponsor atau lembaga donor. Lebih jauh lagi, jumlah pengikut ini seringkali dianggap menentukan sejauh mana apa yang kita lakukan berdampak dan berpengaruh pada khalayak luas. Itu sebabnya jika ditanya, seberapa jauh Tobucil telah membuat perubahan pada masyarakat? dengan santai aku pasti menjawab: silahkan tanya pada orang-orang yang pernah berkegiatan di Tobucil. 

Dua belas tahun ini seperti sebuah perjalanan untuk tetap menyakini hal-hal yang sederhana. Tobucil memilih perannya di sini dan setiap orang bebas memilih perannya masing-masing. Ketika semuanya di jalankan sepenuh hati dan suka cita, aku yakin sebesar dan sekecil apapun itu, pasti akan memberi dampak pada sekelilingnya. 


LinkWithin

Related Posts with Thumbnails